Because Alana

Because Alana
episode 16



AUTHOR POV 


Juna dan Kanaya berjalan beriringan menuju kediaman Kanaya. Tak lupa Juna menenteng sebuah paper bag berisi semangkuk bubur yang mereka buat tadi, lebih tepatnya Juna yang membuat. Sesekali mereka tertawa,bercerita atau sekedar melempar lelucon garing tapi justru mereka tertawa lepas. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan, menatap tajam ke arah mereka.


 "Revan!" 


Kanaya mendekat begitu menyadari Revan tengah berdiri di depan pintu bersedekap,memperhatikannya.


"Kamu udah bangun? Aku tadi cari bubur, kebetulan ada di tempatnya Juna." Ucapnya lagi,meski canggung Kanaya tetap menjelaskan alasannya keluar rumah 


 "Hai,,,Rev. Gue denger Lo sakit, jadi gue kesini sekalian mau lihat. Wahhh,ternyata Dokter juga bisa sakit ya?"


Revan hanya menatap Juna lurus tanpa expresi, sedangkan Juna justru tersenyum menyeringai. 


"Bisa tolong bawain bubur nya ke dalem? Aku mau makan."


"lya."  Kanaya segera mengambil bubur di tangan Juna,begitu Revan memintanya.


 "Aku masuk dulu ya, makasih udah anterin." Juna mengangguk.


 Setelah Kanaya berlalu, kini tinggal Revan dan Juna yang masih berada di luar.


"Gue harap lo ga terlalu jauh Ikut campur urusan gue." Revan menatap tajam ke arah Juna.


"Kenapa? Takut? Ahh, gue lupa sejak kapan Revan takut, justru mungkin harusnya gue yang takut? " Jawab Juna,dengan expresi takut yang di buat-buat. 


"Apa harus gue tunjukin Iagi. bagaimana gue bisa lakuin apapun yang gue mau?" Nada bicara Revan seperti mengancam.


 "Ga perlu. Gue udah tau, gue cuman lagi nunggu sejauh mana Io bisa bersembunyi di balik sikap pecundang Io.Dan gue hanya perlu menunggu sampai Io lengah. Perlu Io tau, kali ini gue ga akan diem seperti beberapa tahun lalu. Kali ini gue bakal rebut apa yang udah lo sia-siain." jawab Juna dengan seringai di bibir nya. 


" Oke, gue cabut. Ahh gue hampir lupa, itu bubur buat Kanaya, bukan buat Io. Lo bisa minta dibuatkan Nita kalau lo mau makan bubur,atau makan yang lainnya." Sebelum Revan membalas,Juna Terlebih dulu pergi sambil melambaikan tangannya,Revan hanya bisa menahan emosi,mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih.


 Suasana di meja makan terasa canggung, bahkan Revan  makan tanpa minat. Dia tidak menyentuh sedikitpun bubur yang Kanaya bawa, Revan hanya mengaduk ngaduk, kemudian minum air putih. 


"Kenapa ga di makan? Ga enak ya?" Suara Kanaya memecah keheningan di antara mereka 


"Aku ga suka bubur" 


"Aku ga tau kalau kamu ga suka bubur, mau aku buatkan yang lain?" 


"Gak perlu, aku udah mendingan." Revan kembali diam, sesekali Kanaya melirik ke arah Revan, membuatnya merasa tak nyaman karena Revan masih saja diam. Kanaya masih mengira-ngira apa yang salah dengan dirinya, apa mungkin karena tadi dia pergi tanpa pamit dan meninggalkan Revan sendiri di dalam rumah. Kanaya terlalu sibuk mencari bahan makanan sehingga dia lupa tidak memberitahu Revan dan langsung mencari bubur, begitu tidak ada  satupun stok persediaan makanan di rumahnya. 


“Aku pulang, makasih ya udah ngerawat aku." Revan beranjak dari kursi, meraih Kemeja yang berada di kursi dan mengganti kaos yang dikenakannya. 


"Tapi,Rev?" Kanaya Ikut berdiri, berada di sebelah Revan yang masih sibuk mengancingkan satu persatu kemejanya.


"Aku sudah mendingan. Lagipula sudah malam,kamu harus istirahat." 


"Kamu marah?"


"Kenapa harus marah?" Revan mendekat mengelus pipi Kanaya dengan punggung tangannya. 


"Dari tadi kamu diem aja." 


"Aku ga apa apa, aku mau Langsung pulang. Sama satu lagi jangan terlalu dekat dengan Juna. Bisa?" 


"Knapa?“ 


"Aku ga suka pacar aku deket deket Lelaki lain."


"Juna bukan orang lain,dia kan teman kamu." 


"Aku sangat pencemburu,aku tidak suka milikku didekati orang lain. Aku pulang dulu." Revan mengecup sekilas bibir kanaya dan berlalu pergi. 


_______


Keesokan hari nya,Kanaya tengah berada di luar kantor. Hari ini dia dan dua rekan kerja nya ditugaskan untuk menemui salah satu partner bisnis dari salah satu perusahaan mereka, dari pagi hingga sore hari. Karena sudah pukul empat sore akhirnya mereka memutuskan untuk tidak kembali ke kantor, melainkan langsung pulang kerumah masing masing. 


Dua rekan kerjanya telah pergi sepuluh menit yang lalu, menyisakan dirinya yang masih duduk menikmati segelas green tea latte, di salah satu coffee shop. 


" Boleh gabung?" Seorang pria menarik kursi, persis di depannya. Aroma familiar yang begitu ia kenali langsung menusuk hidung, Melemparkan kembali ingatannya ke masa lalu. Ketika pria itu duduk persis di hadapannya, Kanaya masih memandangnya dengan tatapan tak percaya. 


"Ngga keberatan kan, aku di sini?" Kanaya mengangguk. Padahal ia ingin sekali langsung berlari, tapi seberapa kuat pun ia menghindar, tetap saja momen seperti ini akan terjadi. Tidak mungkin selamanya ia terus menerus menghindar. 


Rasa canggung dan gelisah ketika ia menyadari Lelaki yang di hadapannya , memandang dan menatap nya dengan begitu intens. 


"Sulit sekali memberanikan diri,berhadapan langsung kaya gini."Lelaki itu tersenyum canggung. 


"Apa kabar, Nay?"  Suara lembut yang dulu begitu kanaya sukai,mengalun merdu dari bibir Alex. 


"Baik" Jawabnya sembari menunduk, menyembunyikan kegugupannya. 


"Tenang, aku tidak akan buat kekacauan lagi. Atau, apapun yang berpotensi buat nyakitin kamu lagi. Pukulan Bamg Ramzi luar biasa sakit." 


"Maaf". 


"Aku bahkan terlalu malu untuk minta maaf." ucap nya dengan wajah penuh penyesalan. 


"Itu sudah berlalu, Al." 


"Tapi,Nay?" Belum sempat Alex menyelesaikan kalimatnya, Kanaya terlebih dulu menyela.


 "Aku ga akan minta kamu menjelaskan sejak kapan atau  bagaimana kamu dan Mia bisa seperti itu , aku terlalu takut untuk mendengar banyak kenyataan yang akan aku ketahui nantinya. Jadi aku memilih untuk tidak tahu, Jika kamu benar-benar menyesal maka berbahagialah dengan Mia, dia sahabat terbaikku. Aku sangat menyayanginya meski sekarang sulit untuku memperbaiki semuanya, tapi kamu ataupun Mia,pernah menjadi bagian penting di hidupku."


"Aku minta maaf."


"Aku sudah memaafkan,bahkan sebelum kamu meminta."


"Aku harap kita masih bisa berhubungan baik, aku tau aku terlalu egois jika memintamu berteman. Tapi,"


"Aku harus pulang, berbahagialah dengan Mia, Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian." 


Tidak ingin berlama-lama lagi,Kanaya memilih pergi meninggalkan Alex yang masih membatu menatapnya sedih. 


Di dalam mobil, Kanaya menahan sesak sekaligus lega secara bersamaan. Ternyata merelakan seseorang bisa begitu terasa menyakitkan,tapi juga membuat hatinya terasa begitu ringan. Ganjalan di hatinya kini perlahan memudar, di iringi air matanya yang mengalir dari pelupuk matanya, Kanaya berjanji ini adalah terakhir kalinya dia menangisi Alex. 


Begitu sampai di Lobi apartemen,Kanaya di sambut oleh seseorang


 "Hai,,," Sapa Juna, Ia tersenyum menanggapi sapaan dari tetangganya yang mulai akrab akhir-akhir ini.


"Sakit? Ko lemes gitu?" Juna mengamati wajah Kanaya yang terlihat merah dan pucat.


"Ngga, cuman cape aja." 


"Ayo ikut aku!" 


"Mau kemana? Juna tidak menjawab, ia menggenggam tangan dan membawa Kanaya ke sebuah taman, tak jauh dari kediaman mereka berdua. 


"Tunggu disini,sebentar oke?" Juna berlalu pergi entah kemana. Hanya berselang beberapa menit,Juna kembali setengah berlari dengan membawa sebuah paper bag di tangannya. 


"Tadi aku buat ini," Ucapnya sembari mengeluarkan isi dari paper bag yang dibawanya.


"Cheese Cake?" 


"Mmm, cobain kamu pasti suka."


Kanaya menyendok cheese cake dengan sendok plastik dan memasukan kedalam mulutnya. 


" Enyak." Ucapnya dengan mulut penuh


"Kamu habis nangis?" Pertanyan Juna membuat Kanaya berhenti mengunyah dan menghela nafas lemah. 


“Sebenarnya mau bohong, tapi kayaknya gak bisa." Juna tersenyum 


"Kenapa harus bohong, apa ada hal buruk terjadi hari ini?"  Kanaya menaruh cheese cake, menyeka bibirnya dengan tisu. 


“Entahlah, apa aku harus menganggap nya baik atau buruk. tadi aku bertemu mantan pacarku." Juna hanya diam, membiarkan Kanaya menyelesaikan ceritanya. 


" lIni pertemuan pertamaku setelah dia berkhianat, menikah dengan sahabat baikku .Dia tiba-tiba datang meminta maaf. Aku memang harus memaafkan nya, iya kan?" 


"Kamu masih mencintainya?" 


"Tidak! Aku akan jadi perempuan jahat jika aku masih mencintai suami orang lain." Balasnya, dengan suara tertahan dan menunduk. Menyadari Kanaya mulai terbawa perasaan nya, Juna berniat mengalihkan pembicaraan. 


"Mau tau rahasiaku?" Kanaya mendongak menatap Juna. 


"Sebelum aku menjadi seorang Chef, aku dulu sempat kuliah kedokteran. Tapi setelah aku tau jika menjadi Dokter tidak selalu bisa membantu orang lain,  akhirnya aku memutuskan menjadi Chef. Kamu tau, jarang ada orang yang kecewa karena makanan, dan aku pasti bisa membantu orang-orang yang kelaparan dengan makanan yang aku buat." 


"Benarkah hanya karena alasan itu?" Kanaya menaikan satu alisnya, merasa tidak percaya dengan alasan yang diberikan Juna. 


"Tidak juga, sebenarnya ada beberapa alasan lain. Tapi aku tidak menyesal. Buktinya kue buatanku hari ini bisa bikin kamu tersenyum lagi."


Kanaya berdecak, "Apa kamu menyukai diri kamu yang sekarang? Maksudku sebagai chef?" 


"Tentu.Tapi, sebenarnya aku menyukai keduanya. Tapi, terlihat serakah bukan, jika aku menginginkan keduanya?" 


"Tidak juga, selagi kamu bisa mengerjakan keduanya kenapa tidak?"


"Terkadang apa yang kita rencanakan,,tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita mau. Kita hanya perlu sedikit bersabar, maka hal baik yang Iain akan menghampiri. Ah lupa,, kamu belum bayar utang kan?" 


"Ih junaaaaa" . Juna terkekeh sembari mengacak acak gemas rambut kanaya. 


"Harus bayar loh,,," 


Mereka tertawa bersama. Kanaya melupakan sejenak keresahan yang terjadi beberapa saat yang lalu karena kehadiran Juna. 


Kanaya sangat beruntung memiliki teman seperti Juna, yang selalu membantunya bahkan selalu hadir disaat dia benar-benar membutuhkan seseorang. Meski Revan dengan terang-terangan melarangnya, tapi Kanaya justru malah semakin akrab berteman dengan Juna, diam-diam tanpa sepengetahuan Revan.