Because Alana

Because Alana
episode 40



Tidak ada yang bicara selama perjalanan pulang, aku dan Juna hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing sedangkan Elea, dia sudah terlelap tidur di pangkuanku. Tubuh Elea cukup berat, sehingga Juna mengantarku hingga kedalam Apartemen, bahkan Juna pula yang menggantikanku menggendong Elea, sedangkan aku membawa beberapa kantong plastik berisi mainan yang sempat dibelinya tadi. 


"Ibu kamana?" Tanya Juna, ia ikut merebahkan tubuhnya di kursi. Dii sebelahku. 


"Ibu di Bandung," jawabku singkat.


Juna menggeser duduknya semakin dekat, memutar tubuhnya, menghadapku. 


"Kamu terkejut?" Tanyanya.


Aku hanya menggeleng, menautkan kedua jemariku dan menghela berat.


"Aku tidak terkejut, karena aku pernah bertemu dengannya sebelum ini." 


"Benarkah? Kapan?" Kini justru Juna yang terlihat nampak terkejut.


"Di sekolahnya Elea, satu minggu yang lalu." 


Aku menoleh begitu Juna hanya diam, menatapku.


"Aku tidak tahu lagi mengapa nasibku terus berputar-putar, bahkan seperti disengaja, terus saja aku bertemu dengannya, meski aku tidak ingin." Aku lemah, bahkan sangat lemah jika itu menyangkut tentang Revan hingga akhirnya aku kembali menangisinya.


"Sampai kapan kamu akan terus mencintainya dan tidak mau membuka hatimu untuk orang lain?" Tanya Juna di sela elusan tangannya mengusap kepalaku. 


"Aku tidak tahu. Perasaan ini terasa begitu menyiksaku, hingga terasa begitu mencekikku." Juna hanya menghela nafas, mungkin dia sangat bosan dan lelah mendengar cerita dan keluh kesahku yang tidak pernah berubah sejak tiga tahun lalu. 


"Mungkin sebaiknya kita menikah saja, bagaimana?" 


"Juna!" 


"Aku rasa, cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Buktinya dulu, kamu bisa melupakan Alex dengan mudah karena kamu terbiasa dengan kehadiran Revan. Lalu apa bedanya dengan sekarang? Bukankah sama saja?" 


"Aku,, aku,, itu tidak semudah yang kamu bayangkan. Aku pun butuh waktu melupakan Alex."


"Berapa lama kamu butuh waktu melupakan Alex? Tidak sampai satu tahun kamu sudah bisa mencintai Revan, sedangkan aku? Aku butuh waktu tiga tahun. Ah,, ralat, aku butuh waktu lebih dari tiga tahun dan kamu masih belum membuka hatimu untukku. Bahkan aku selalu ada saat kamu butuh," 


"Kamu mulai bosan menolongku? Kamu bosan terus berada di dekatku? Baiklah kalau begitu," 


"Nay, bukan begitu maksudku." 


"Kamu boleh pulang, aku mau istirahat." Aku beranjak dari kursi, melanjutkan pembicaraan dengan Juna hanya akan menambah buruk keadaan.


"Nay, tunggu!" Juna meraih tanganku, begitu aku hendak meninggalkannya.


"Lebih baik kamu pulang, pembicaraan kita selesai tidak perlu dibahas lagi. Sekali lagi aku minta maaf, jika selama ini aku selalu merepotkanmu." Aku melepas genggamannya perlahan, meski sebenarnya aku sangat kesal dengan pengakuannya, tapi aku berusaha tidak bertindak berlebihan karena bagaimanapun juga Juna banyak berjasa di hidupku. 


"Nay, aku tidak bermaksud seperti itu. Tolong jangan salah paham," Juna meraup wajahnya, memijat pelipisnya. 


"Aku tidak salah paham, justru aku mulai paham sekarang. Tolong,, aku ingin istirahat." 


Juna menghela nafas lelah, "Oke, aku pulang. Tapi aku pasti balik lagi kesini. Meskipun kamu menolakku!" tegasnya. Meski terlihat enggan, Juna akhirnya pulang. 


Aku tahu dengan jelas bagaimana perasaan Juna padaku, tapi hati tetaplah hati, sulit sekali aku kendalikan. Bagaimanapun kerasnya usahaku belajar mencintai Juna, tetap saja bayangan Revan selalu wara-wiri di pikiranku. 


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Elea sudah terlelap sejak pulang dari mall pukul lima sore, kini tinggal aku sendiri sedangkan Elea tertidur di kamar. 


Aku memijit pelipis dan merebahkan tubuhku di sofa. Selain karena pembicaraanku dan Juna yang membuat kepalaku pusing, juga karena telepon dari Ibu yang tiba-tiba saja memberi kabar, jika dia tidak bisa pulang dalam waktu dekat karena istri Bang Ramzi ternyata tengah mengandung anak kedua mereka dan tentu saja Kak Dini mengalami trimester pertama yang cukup parah, sehingga tidak bisa menjaga Deril. Aku tidak punya pilihan lain selain mencari pengasuh untuk Elea.  


Beberapa jasa penyedia asisten menjaga anak sudah mulai aku hubungi, beberapa dari mereka langsung mengirim beberapa foto calon pekerja. Aku masih sibuk memeriksa setiap detil informasi calon pengasuh Elea, hingga suara bell terdengar membuyarkan konsentrasiku. Aku tidak langsung membuka pintu, karena aku tidak pernah menerima tamu di waktu seperti ini dan mungkin saja itu bukan suara bell rumahku, tapi suara bell rumah tetangga. Namun begitu bell kembali berbunyi, dan aku yakin jika itu bell rumahku, akhirnya aku beranjak menuju pintu. 


Begitu pintu terbuka, "Revan?!" 


Reflek aku segera menutup pintu, namun aku kalah cepat sehingga Revan terlebih dulu menahan pintu hingga terjadi tarik menarik beberapa saat. Namun sudah jelas aku tidak bisa mengimbangi tenaganya,


"Aku mau bicara denganmu sebentar!" Tegasnya.


Bahkan kini pintu sudah terbuka lebar, tidak lagi bisa aku tahan. 


"Apalagi yang mau kamu bicarakan?" 


"Ini tentang Elea. Apa benar Juna Ayah Elea?" Selidikinya, aku justru tersenyum sinis menanggapai rasa penasarannya.


"Apa kamu tidak dengar, tadi Elea mengatakan dengan jelas!" 


"Apa aku harus mempercayai anak kecil? Bisa saja dia berbohong." 


"Anak kecil tidak mungkin berbohong, dia tidak akan seperti orang dewasa yang pandai menyembunyikan kebohongannya," cibir ku. "Lagipula siapapun Ayah Elea itu bukan urusanmu. Kenapa kamu begitu penasaran dengan Ayah Elea?"  


"Apa dia anakku?" 


Aku tertawa, meski sebenarnya hatiku mulai dilanda rasa was-was dan takut. Takut Revan sudah menyadari sebenarnya Elea adalah anak kandungnya.


"Atas dasar apa kamu mengatakan itu, apa karena kita pernah melakukan hubungan badan satu kali, lantas kamu berpikir aku hamil dan Elea itu anak kamu?" 


"Bisa saja itu terjadi, tidak ada yang tidak mungkin bukan?" Balasnya. 


"Kamu terlalu naif, Rev. Kamu seorang Dokter, seharusnya kamu tahu bagaimana proses terjadinya pembuahan di rahim seorang perempuan. Kamu tidak lupa kan, aku mengidap penyakit kista dan akan sulit memiliki keturunan. Jadi tidak mungkin hanya satu kali kita melakukannya, lalu aku langsung hamil begitu saja."  Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku, meski sebenarnya itu memang terjadi padaku. Aku hamil begitu aku melakukan hubungan badan dengannya untuk pertama kalinya. 


"Silahkan pergi, sebelum aku memanggil pihak keamanan," ancamku. Namun begitu Revan hendak pergi, suara anak kecil menangis terdengar begitu nyaring. 


 


"Ibu,,,, Ibu,,,, huaaaaaaaaa." Suara tangis Elea begitu nyaring, membuatku langsung berlari menuju kamar tidak menghiraukan Revan yang masih diam di depan pintu. 


"Kenapa sayang,,," aku segera memeluk Elea yang sudah turun dari ranjang.


"Ibu, kenapa gak ada? Elea gak mau tidur sendiri." Gadis kecilku masih terisak, meski tangisnya sudah berhenti begitu melihat kehadiranku. 


"Maaf, tadi Ibu ke,,,"


"Om Dokter!" Seru Elea, dia langsung melepas pelukanku dan berlari. Aku menoleh, ternyata Revan sudah berada di ruang tamu. Salahkan aku, karena tidak sempat menyuruhnya pergi, bahkan aku sampai lupa menutup pintu begitu mendengar Elea menangis. 


Elea tersenyum dan langsung menghampiri Revan, bahkan mereka langsung berpelukan.


"Siapa yang mengizinkan kamu masuk!" 


"Kamu tadi pergi gitu aja, pintunya gak ditutup jadi ya,,, aku masuk." Ucapnya tanpa merasa bersalah hingga mulutku menganga, tidak percaya. 


"Tapi tetap saja kamu masuk tanpa izin!" Protesku, tapi Revan tidak menghiraukan, dia dan Elea langsung menuju kurisi. Dan selayaknya seperti teman akrab mereka berdua langsung berbincang, tanpa menghiraukan kekesalanku. 


"Ibu, Elea mau susu." 


"Iya sebentar, Ibu buatin dulu ya," 


"Om Dokter juga mau minum, katanya haus." Elea terkekeh geli begitu Revan selesai membisikan sesuatu di telinganya, membuatku semakin kesal.  


Kuhentakkan kakiku menuju dapur, membuat minuman untuk dua orang yang dengan sengaja mengabaikanku. Aku kesal, hingga  menambahkan banyak gula ke dalam minuman Revan dengan sengaja. 


Aku menaruh kedua minuman itu di meja, entah apa yang mereka bicarakan bahkan mereka sampai tidak menghiraukan kehadiranku.


"Ehemmm,,," aku berdehem cukup keras, hingga kedua orang dihadapanku menoleh. 


"Minumannya sudah jadi," ucapku ketus. 


Revan dan Elea saling menatap, "Terimakasih Ibu,,," ucap mereka kompak. Aku mengerjapkan mata, aku tidak salah dengar bukan? 


Aku sudah sering mendengar Elea mengucapkan itu, tapi kali ini Revan pun ikut memanggilku Ibu, aku merinding mendengarnya. 


"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang. Lagi pula Elea sudah mau tidur."


"Elea belum ngantuk, ko!" Tukas Elea.


"Om Dokter harus pulang, sayang. Dia harus kerja." 


"Om Dokter bilang, dia gak kerja ko." Jawab Elea lagi.


Aku mendelik menatap tajam Revan, dia hanya mengangkat pundaknya, seulas senyum jahil terbit di bibirnya. 


"Tapi Elea harus bobo, besok lagi mainnya." Aku tetap membujuk Elea, agar Revan segera pergi dari rumah. 


"Elea belum ngantuk, Ibu. Om, kita mainnya di sana yuk, Ibu bawel." Elea menarik tangan Revan, mengajaknya pindah karena merasa terganggu dengan kehadiranku.


"Kamu mandi saja dulu, kamu belum mandi kan dari tadi. Elea biar aku yang jaga." Balas Revan.


"Iya,,, Ibu bau, belum mandi." Tambah Elea.


 Elea dan Revan sama-sama terkikik geli menertawakanku. Memang benar, aku belum mandi semenjak pulang dari mall tadi sore, tidak ada pilihan lain karena kedua orang itu seakan bekerja sama melakukan pemberontakan untuk melawanku, akhirnya aku memilih membersihkan diri. 


Hampir tiga puluh menit aku baru selesai mandi. Begitu aku keluar kamar, suasana begitu sepi tidak ada lagi suara tawa Revan dan juga Elea. Prasangka burukku langsung muncul, bagaimana kalau Revan sampai menculik dan membawa Elea kabur sewaktu aku tadi mandi? 


Segera aku bergegas mencari mereka berdua, terakhir aku lihat mereka ada di ruang tempat bermain Elea. 


Aku menghela lega begitu aku masih melihat Revan berada di dalam rumahku, duduk bersila membelakangiku. Aku segera menghampirinya, namun langkahku langsung terhenti begitu aku melihat Elea sudah terlelap tidur di pangkuan Revan. Sedangkan Revan menatap intens wajah Elea dengan seksama, tangannya mengusap pipi Elea dengan perlahan, seolah ia takut sedikit saja pergerakannya bisa membuat Elea terbangun. 


"Elea," suaraku membuat Revan menoleh. 


"Dia tidur," balas Revan. 


Aku mendekatinya dan hendak mengambil Elea dari pangkuannya.


"Biar aku yang menidurkannya," pinta Revan.


Aku tidak bisa menolak, bahkan terasa begitu sulit hanya untuk sekedar berkata tidak. 


Revan perlahan menaruh Elea di kasur, Revan menjadi lelaki pertama yang memasuki kamarku selain Abang, bahkan Juna sekalipun tidak pernah aku izinkan menginjakan kakinya kamar pribadiku. 


Aku masih menunggu Revan di pintu kamar, begitu dia keluar aku langsung memintanya segera pulang.


"Aku pasti pulang, meski sebenarnya aku masih ingin disini. Elea persis seperti kamu, cantik,lembut dan hangat. Aku tidak tau keyakinan apa yang membuat aku mengatakan ini. Tapi, aku akan mencari kebenaran siapa Ayah Elea. Dan jika memang dia benar putri kandungku, aku akan membawanya ke sisiku apapun caranya dan aku juga akan kembali membuatmu tetap berada di sisiku."