
Eleanor 15
Aku berjalan gontai, menapaki satu demi satu, bahkan mungkin ratusan anak tangga, hingga membawaku sampai kedepan pintu unit Apartemen. Aku sengaja membuat tubuhku lebih lelah, karena aku sangat berharap dengan lelahnya tubuhku, bisa sedikit mengalihkan rasa sakit yang kian menggerogoti hatiku.
Menghela nafas lemah sebelum membuka pintu, karena aku tau, kedua lelaki itu masih berada di dalam rumahku.
"Dari Mana kamu?!"
Benar bukan? Abang langsung berdiri dari tempat duduknya, begitu mendengar pintu terbuka, dan aku muncul dari balik pintu.
"Abang tanya, kamu dari mana? Kamu menyusul lelaki brengsek itu?!" Aku masih tidak menghiraukannya, aku lebih memilih mencari gelas dan mengisinya dengan air dingin, karena tenggorokanku terasa kering.
Suara derap langkah terdengar nyaring, mengikutiku dari belakang. Aku tau, Abang pasti masih marah, dan aku sudah siap mendengar segala rentetan kemarahannya.
"Kanaya!"
"Iya Bang, aku haus." Aku mengangkat gelas kosong, karena isi nya sudah berpindah ke dalam perutku.
"Sejak kapan, lelaki brengsek itu mengetahui keberadaan kalian?!" Aku mencengkram gelas dengan kuat, aku tahu Revan memang brengsek. Tapi, aku merasakan ada rasa tidak terima setiap kali orang lain mencemoohnya.
"Aku capek, aku mau istirahat." Aku melewati tubuh tinggi tegap Abang. Tinggiku yang hanya sebatas telinganya, membuatku tidak bisa berkutik begitu dia mencekal tanganku dan memaksaku untuk menjelaskan semua yang terjadi.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku perlu tau semua yang terjadi!" Kilatan emosi tampak jelas di mata Abang, tanganku terasa makin sakit, karena cengkramannya terasa semakin kuat.
"Apalagi yang perlu aku jelasin. Abang sudah bisa nilai sendiri bukan? Revan memang ayah Elea, lalu apa salahnya, jika dia mau bertemu Elea?"
"Jadi begitu, sekarang kamu sudah mulai membela lelaki yang sudah menghancurkan hidupmu?"
"Aku tau, Revan memang sudah menghancurkan hidupku. Tapi dia tidak tahu kalau saat itu aku hamil." Abang melepas cengkramannya, namun dia masih berkacak pinggang, dengan satu tangannya memijat pangkal hidung.
"Segera menikah dengan Juna!"
"Apa?!"
"Abang bilang, segera menikah dengan Juna. Itu sudah keputusan final."
Kepalaku semakin terasa berat dan sakit, ditambah lagi dengan permintaan Abang yang semakin membuatku merasa tertekan.
"Aku bukan anak kecil lagi, aku tau harus berbuat apa. Berhenti ikut campur urusanku. Aku sudah punya pilihan sendiri, Bang."
"Juna lelaki terbaik untuk kamu. Lagipula ini juga demi kebaikan kamu!" Suara Abang kian meninggi.
"Sebaiknya Abang pulang, aku mau istirahat." Berdebat hanya akan membuat keadaan semakin kacau, dan tidak terkendali. Aku tau abang pasti sangat marah, begitu juga aku. Aku marah dengan diriku sendiri, karena pada akhirnya akulah yang membuat keadaan semakin kacau. Lagi pula memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi, tidak akan menyelesaikan masalah, justru hanya akan menambah masalah.
"Kita bicarakan lagi nanti. Nay capek," aku tidak menghiraukan panggilan Abang, aku benar-benar menulikan telinga, bahkan aku sama sekali tidak menyapa Juna yang sedari tadi duduk di kursi tamu. Jujur, untuk pertama kalinya, aku merasa begitu kecewa dengan sikap Juna. Meskipun Revan memang salah, tapi membiarkannya babak belur dipukuli Abang, sungguh keterlaluan. Mungkin saja, jika Febian dan Camelia tidak keluar, Revan bisa saja mati di tangan Abang. Tidak ada alasan membiarkan seseorang terluka, meski dia salah sekalipun.
"Elea gak bobo?" Begitu aku masuk kamar, ternyata Elea tidak tidur, dia tengah bermain dengan sus Tuti.
"Tadi tidur sebentar, terus kebangun," jelas sus Tuti.
"Kenapa gak bobo, sayang. Sudah malam, besok Elela harus sekolah." Aku segera menghampirinya, mengelus rambut dan mengecup puncak kepalanya, singkat.
"Sus, tolong butin Elea susu ya. Biar saya saja yang tidurin. Sus, siapin aja botol dan susu, seperti biasa."
"Iya, Bu." Sus Tuti kemudian keluar kamar.
"Elea kenapa gak bobo?" Aku mengulang pertanyaanku.
"Daddy, mana?" Elea mendongkak, sorot mata teduhnya terasa begitu menusuk.
"Daddy, pulang ke rumahnya. Elea bobo ya,,,"
"Besok, Daddy ajak Elea main lagi?"
"Nggak. Besok Elea mainnya sama Gaby dan juga sus Tuti."
"Kenapa?"
"Karena Daddy sibuk, sayang." Elea tampak bingung dengan jawabanku. Jujur, aku pun bingung harus menjelaskannya. Pertanyaan-pertanyaan polos seperti itu, sulit sekali untukku jelaskan, karena Elea masih terlalu kecil untuk mengerti betapa rumitnya keluarga yang ia miliki.
Pintu kamar terbuka, sus Tuti muncul dari balik pintu.
"Susunya sudah saya siapkan, Bu." Sus Tuti meletakan satu nampan berisi susu, air minum dan beberapa kebutuhan Elea yang lainnya.
"Terimakasih Sus." Sus Tuti melangkah keluar,
"Sus?" Panggilanku menghentikan langkah kakinya.
"Iya, kenapa Bu?" Sus Tuti menoleh.
"Mereka sudah pulang?" Tanyaku,
"Bapak Ramzi, sudah. Tinggal mas Juna yang masih ada di ruang tamu," jawab Sus Tuti.
"Oh… saya mau istirahat. Nanti kalau Mas Juna mau pulang, tolong bukain pintu ya."
"Iya ,Bu." Sus Tuti mengangguk, kemudian keluar kamar. Setelah sus Tuti keluar, aku segera mengunci pintu kamar, aku tidak ingin diganggu sama sekali.
"Elea, Ibu mau ganti baju sebentar ya. Elea tunggu di sini, sambil minum susu." Kugendong tubuh Elea, dan meletakkannya di atas tempat tidur.
"Tunggu sebentar, ya?" Elea mengangguk, dan meminum susu di botol kesayangannya, setelah aku menyelimuti tubuhnya sebatas dada.
Ingin sekali berendam di air hangat, merelaksasi tubuh yang terasa begitu nyeri. Apalagi di bagian kaki, lecet akibat berlari tanpa menggunakan alas kaki, mulai terasa perih dan panas. Namun, Elea pasti menangis dan mencariku, jika aku terlalu lama berada di dalam kamar mandi.
Begitu keluar dari kamar mandi, ternyata Elea sudah terlelap, bahkan botol susu sudah tergeletak di lantai, tidak bersisa. Aku segera bergabung dengannya, masuk kedalam selimut dan memeluk tubuh kecilnya. Elea tampak terlihat lelah, setelah satu hari penuh jalan-jalan di Bogor.
Mungkin saja aku dan Revan memang benar-benar tidak berjodoh, tapi aku tidak perlu berlarut-larut lama, meratapi yang sudah terjadi. Biarlah semua ini terjadi seperti seharusnya, aku akan melanjutkan hidupku sendiri, begitu juga dengan Revan. Karena menurutku cinta bukan hanya tentang kebersamaan, tapi bagaimana cara kita bisa mengikhlaskan sesuatu yang sangat berarti untuk kita, dan membiarkannya bahagia.
"Elea mau Daddy?" Tanyaku, meski Elea tidak akan menjawab, karena dia sudah terlelap.
"Ibu juga mau,,," bisikku di dekat telinganya.
Pagi ini aku awali dengan perasaan penuh semangat, aku sudah memutuskan untuk tidak mengingat lagi kejadian kemarin, dan aku harus melupakan Revan selamanya. Seperti biasa, aku berangkat ke kantor, sedangkan Elea dan Sus Tuti berangkat ke sekolah.
Chandra baru saja datang, dan aku segera bergegas menuju pantry. Akhir-akhir ini Chandra sering berangkat lebih pagi, bahkan dia sering datang terlebih dulu dibandingkan denganku.
"Kopi," aku segera masuk, setelah mengetuk pintu beberapa kali dan mendapat ijin masuk.
"Terimakasih, Nay." Aku hanya mengangguk, dan pamit undur diri.
"Oh iya, Nay." Aku segera berbalik, begitu Chandra kembali menyebut namaku.
"Iya, Pak. Ada apa?" Tanyaku.
"Bagaimana lukamu?"
"Sudah baik, lagipula saya tidak apa-apa, cuman lebam sedikit." Aku mengacungkan tangan kananku, menunjukan pada Chandra kalau aku baik-baik saja.
"Syukurlah, saya sampe kepikiran takutnya lebamnya parah." Chandra menghela lega.
"Istri saya terkadang anarkis seperti itu, sulit dikendalikan jika sudah marah," lanjutnya.
"Jika perempuan sedang marah, bujuk dia. Pasti nanti gak akan marah lagi."
"Di peluk, di parkiran maksud kamu?" Aku menyerngitkan dahi, tidak mengerti dengan ucapan Chandra.
"Kemarin, pas aku baru saja pulang, aku melihat kamu sedang berpelukan dengan seorang laki-laki. Apa dia suami kamu?" Aku mengerjapkan mata berkali-kali.
Aku kira tidak ada orang di parkiran, ternyata Chandra ada di sana, bahkan mungkin bukan hanya Chandra, tapi ada orang lain juga. Pipiku memerah, menahan malu.
"Dia bukan suami saya," jawabku.
"Oh, bukan. Tapi wajahnya mirip sekali dengan putrimu."
"Dia memang bukan suami saya, tapi dia memang Ayah Elea." Chandra nampak bingung, aku hanya tersenyum melihatnya seperti sedang berpikir keras.
"Saya pamit dulu kalau begitu ,Pak." Aku tidak menunggu Chandra mengerti dengan ucapanku, karena menurutku penilaian orang tidak penting. Elea tetap memiliki Ayah dan juga Ibu. Hanya saja, Elea memang tidak memiliki keluarga utuh, seperti yang lainnya.
Dua kali menemani Chandra menghadiri meeting, membuat pekerjaanku dua kali lipat lebih sibuk. Bahkan aku sampai melupakan makan siang, dan baru bisa istirahat pukul tiga sore.
Samar-samar terdengar suara dering ponsel, aku sangat mengenali suaranya, itu ponsel milikku. Beberapa jam yang lalu aku masih sempat mengecek beberapa notifikasi di ponsel, namun begitu aku mengikuti Chandra, aku menyimpan ponsel tersebut di tas, dan meninggalkannya di meja kerja. Begitu lock screen terbuka, ada beberapa panggilan masuk dan berpuluh-puluh pesan masuk. Namun, yang membuat hatiku berdebar tidak menentu, yaitu ada beberapa panggilan, dan pesan masuk dari sus Tuti. Tanpa membaca pesannya, aku segera menghubungi sus Tuti.
"Kenapa, Sus?" Aku langsung bertanya, begitu panggilan terhubung.
"Bu, Elea sakit."
"Apa?!" Ak setengah berteriak begitu mendengarnya.
"Kalian dimana sekarang?" Tanyaku.
"Mbak, segera datang ke Rumah sakit. Elea demam." Itu bukan suara Sus Tuti,
"Ini siapa?" Tanyaku.
"Saya, Camelia. Saya yang bawa Elea ke Rumah Sakit. Soalnya tadi Elea kejang-kejang."
Duniaku seakan runtuh, tadi pagi Elea masih baik-baik saja. Lalu, kenapa sekarang dia bisa berada di Rumah Sakit?
Tidak ada yang lebih penting, selain keselamatan putriku. Aku segera meminta izin pulang lebih awal, karena aku tidak mungkin membiarkan Elea sendirian di sana. Untung saja semua pekerjaan sudah selesai tepat waktu, bahkan Chandra memberiku tumpangan, dan mengantarku hingga ke Rumah sakit. Aku tidak lagi mengucapkan terima kasih, begitu sampai di lobby Rumah Sakit, aku segera turun dari mobil Chandra dan pergi begitu saja. Biarlah Chandra menilaiku tidak tahu terima kasih.
Ingin rasanya aku memiliki kekuatan super cepat, karena aku merasa langkah kakiku terlalu lambat, sejak tadi aku sulit menemukan dimana Elea di rawat. Hingga aku melihat sosok yang sangat aku kenali tengah berjongkok di dekat sebuah bangkar, di ruang UGD.
"Sus Tuti!" Orang yang tengah berjongkok itu, akhirnya mendongak melihat kearahku.
"Bu Kanaya." Suaranya bergetar, terlihat jelas raut wajahnya takut dan khawatir.
"Elea, bagaimana keadaan Elea?" Aku segera mendekat, dan mataku seakan loncat dari tempatnya, begitu melihat gadis kecilku terbaring lemah dengan jarum infus menancap di pergelangan tangannya.
"Sayang,,,," aku segera menghampiri Elea. Meski tersenyum, wajahnya pucat dan lemas.
"Ibu, Elea pusing," keluhnya.
Aku segera memeluk tubuhnya. Ingin rasanya aku menangis, namun aku tahu, Elea akan semakin ketakutan jika melihat aku menangis.
"Apalagi yang sakit, sayang? Pindahin ke Ibu aja ya sakitnya." Kuelus tangannya, dan menciumnya.
"Tadi aunty Mel, yang bawa Elea kesini. Tapi gak boleh bawa Jupi."
Aku hampir saja kembali melupakan, untuk mengucapkan terimakasih kepada garis yang setia mengelus rambut, di sebelah Elea.
"Aku hampir saja lupa. Terimakasih, Mel. Sudah membawa Elea kesini."
"Sama-sama, mbak. Tadi Elea demam, terus kejang-kejang. Aku panik, jadi langsung di bawa kesini. Tadi sudah periksa tinggal nunggu hasilnya keluar," jelas Camelia.
"Iya,,, terimakasih ya." Aku mengusap punggung tangan Camelia,
"Iya, sama-sama. Itulah gunanya tetangga, kita bisa saling tolong menolong."