Because Alana

Because Alana
episode 41



Eleanor 12


Mencari seseorang yang bisa dipercaya untuk menitipkan anak sangatlah tidak mudah. Dari sebagian banyak jasa penyedia baby sitter, belum satupun yang memenuhi kriteria. Entah aku yang terlalu pemilih atau mungkin juga karena aku merasa was-was menitipkan putriku pada orang lain.  


Tidak ada pilihan lain selain menghubungi Reva, adik kandung Revan. Aku tidak mungkin meminta Ibu kembali secepatnya, jadi solusi terbaik adalah meminta Reva menjaga untuk sementara  Elea, sebelum aku menemukan pengasuh. 


Hubunganku dan Reva cukup baik, bahkan hampir setiap minggu Reva menghubungiku menanyakan keadaan Elea. Bukan hanya Reva, tante Devi pun masih berhubungan baik denganku, sesekali dia minta foto maupun video Elea untuk mengobati rasa rindunya. Mungkin suatu saat jika Revan tau, dia pasti akan merasa sangat tertipu, karena aku membohonginya, sedangkan aku jujur dengan keluarganya. Tapi, entahlah,,, aku hanya tidak ingin Revan merasa terbebani, harus menikahiku karena terlanjur mengandung, bukan karena dia mencintaiku. 


"Jadi, kakakku sudah tau dimana tempat tinggal kalian?" Tanya Reva. Kini aku dan Reva berada di ruang tamu, setelah satu hari aku kerja dan Reva menjaga putriku. 


"Iya, entah dari mana dia bisa menemukan alamat tempat tinggalku." 


"Dia tidak sebodoh yang kita kira. Sekuat apapun aku dan juga kak Reno menyembunyikan keberadaan kalian, dia tetap tidak akan tinggal diam. Dan, kamu bisa lihat sendiri bagaimana gigihnya dia mencari keberadaanmu."


"Aku tahu,,," aku menghela lemah, mengingat kembali bagaimana terkejutnya aku, begitu melihat Revan berdiri di depan pintu dan juga kata terakhirnya sebelum dia pulang.


"Aku sangat penasaran bagaimana reaksinya begitu melihat Elea. Apa dia sangat terkejut?" Tanya Reva.


"Entahlah, aku tidak melihat reaksinya untuk pertama kali. Hanya saja mereka langsung akrab, meski baru pertama bertemu. Padahal Elea sulit sekali beradaptasi dengan lingkungan baru."


"Darah lebih kental dari air. Mereka pasti punya ikatan batin yang sangat kuat. Lagipula Revan pasti langsung curiga, karena Elea begitu mirip dengannya. Hanya bibirnya saja yang persis denganmu." 


"Aku rasa juga begitu," balasku. 


"Aku senang, bisa menjaga Elea. Tapi aku tidak bisa lama-lama, karena aku ada pekerjaan yang tidak bisa aku tunda." 


"Iya,, aku mengerti. Aku pasti segera mencari pengasuh untuk Elea." 


"Tidak perlu terburu-buru. Mencari orang yang bisa dipercaya tidak mudah. Aku tidak ingin keponakanku diasuh orang yang salah."


Aku tersenyum, melirik wajah Reva. Dia cantik dan tegas, wajahnya mirip sekali dengan Revan, jika Elea,Reva dan Revan di foto dalam satu frame, mereka akan terlihat seperti kakak beradik. Karena mereka begitu mirip satu sama lain.


"Aku usahakan mencari yang terbaik," balasku.


"Aku mau tidur bareng Elea, kamu di kamar sebelah ya?" 


"Oke, kalau dia nangis,,"


"Dia gak bakalan nangis. Aku jamin." Reva menyela kalimatku.


"Baiklah,,,"


Reva segera bergegas menuju kamar, dimana Elea sudah terlebih dulu tertidur. Sedangkan aku masih memeriksa beberapa pesan masuk dari beberapa agen penyedia jasa baby sitter. 


Sudah memasuki hari ke empat, Reva tinggal bersamaku dan menjaga Elea. Dan hari ini akhirnya aku menemukan seorang pengasuh untuk Elea bernama Tuti. Segala jenis surat perjanjian kerja, bahkan aku sengaja meminta sertifikat kualitas kerja Sus Tuti sebelum akhirnya dia bersedia bekerja di kediamanku. Selama dua hari terakhir Reva yang menilai dan mengawasi cara kerja Sus Tuti. Dan menurut Reva, sejauh ini dia baik dan sabar menghadapi sikap manja Elea. 


Sebenarnya aku masih merasa takut, meski Reva sudah memastikannya sendiri. Namun tidak ada pilihan lain, karena Reva harus segera kembali ke Surabaya, pekerjaan sudah menantinya. 


"Aunty pulang dulu ya sayang," Reva mengusap puncak kepala Elea, "Nanti kalau aunty libur, aunty main lagi. Kita beli boneka yang banyak. Oke?" Elea mengangguk, meski tampak wajahnya murung mengantar kepulangan aunty kesayangannya.


"Jangan sedih, nanti aunty main bareng omah." Reva memeluk erat tubuh Elea. 


"Aku pamit ya,," kini berganti, Reva memelukku.


"Terimakasih ya,,, aku sudah merepotkanmu."


"Aku sangat suka, karena kamu masih menganggapku penting dan masih melibatkanku untuk mengurus Elea. Ah, iya hampir lupa!" Seolah baru mengingat, Reva langsung membuka tas selempangnya, mengeluarkan sebuah buku kecil dan menyerahkannya padaku.


"Ini apa?" Aku menatap bingung sebuah buku bertuliskan nama sebuah Bank terkenal. 


"Itu titipan dari Ayah. Aku tahu kamu pasti menolak, makanya aku sengaja memberikan ini sekarang." 


"Tapi, Re?" 


"Aku tahu, kamu pasti punya sejuta alasan untuk menolak. Tapi, ini pemberian seorang kakek untuk cucu kesayangannya. Jika kamu tidak mau hidup bersama kakakku, setidaknya ambil ini dan hargai pemberian Ayahku. Karena dia sangat menyayangi Elea. Bahkan hampir setiap hari Ibu memutar video Elea dan menangis.   Jadi aku mohon, terima ini untuk masa depan Elea." Reva menggenggam tanganku, matanya sudah mulai berkaca-kaca, sedangkan aku sudah menangis semenjak dia memberiku buku tabungan itu.


"Sampaikan pada mereka, aku sangat berterimakasih karena mereka menyayangi Elea begitu besar. Jika ada kesempatan aku pasti membawa Elea ke Surabaya."


"Iya, aku pasti sampaikan. Aku pulang ya,,," 


Aku dan Reva berpelukan dan akhirnya Reva pulang menggunakan taksi menuju bandara. Aku tidak bisa mengantarnya, karena aku harus segera berangkat kerja dan juga Elea harus berangkat sekolah. 


Sebelum berangkat kerja, terlebih dulu aku mengantar Elea dan sus Tuti ke sekolah.


"Saya titip Elea ya, Sus. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya dan jangan percaya dengan siapapun. Kecuali sudah dapat ijin dari saya." 


"Baik ,Bu." 


Aku masih memperhatikan Elea dan pengasuhnya masuk ke dalam kelas, hingga mereka sudah tidak terlihat lagi, barulah aku pun berangkat ke tempat kerja. 


Aku melirik jam di pergelangan tanganku, ternyata masih pukul delapan lebih sepuluh menit. Tapi, lampu ruang kerja Chandra menyala, itu artinya dia sudah datang. 


Menjadi kebiasaanku setiap kali Chandra sampai di ruang kerjanya, aku segera membuat teh panas atau kopi untuknya. Menurut beberapa orang itu merupakan salah satu tugas sekretaris juga, menyediakan minuman begitu bos datang. 


Selesai membuat teh panas di pantry, aku segera membawanya keruangan Chandra. Beberapa kali mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban hingga akhirnya aku memutuskan masuk. Namun begitu aku masuk, aku melihat sepasang suami istri tengah bertengkar hebat, bahkan mereka tanpa henti saling berteriak bahkan tidak segan-segan mereka saling menghancurkan perabotan apapun yang ada di hadapannya. 


Hingga sebuah patung berukuran sedang yang di lempar Chandra mengenai nampan yang aku bawa, mengakibatkan minuman panas di atas nampan tumpah mengenai tangan. Sontak mereka berdua menoleh, mendengar rintihan kesakitanku. 


"Kanaya!" Chandra segera menghampiriku. 


"Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?" Tanyanya, panik dan langsung menarik tanganku.


"Saya tidak apa-apa, pak. Maaf saya masuk begitu saja, tadi saya sudah ketuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Jadi, saya langsung masuk." Aku menarik tanganku dari genggaman Chandra.


"Benar bukan, kamu memang tidak pernah berubah. Lihat, sekarangpun kamu begiti perhatian dengan sekretarismu. Sama seperti kamu memperhatikan Salas dulu!" Juliet ikut menghampiri, dengan raut wajah penuh emosi.


"Aku sudah mengatakannya berulang kali. Aku dan Kanaya hanya sebatas atasan dan sekretarisnya saja. Kenapa sulit sekali menjelaskannya padamu!" Chandra pun tak kalah emosi dengan istrinya. Aku seperti orang bodoh, berada di antara dua orang yang tengah salah paham.


"Puas kamu sekarang?!" Teriaknya begitu dia berada di depan meja kerjaku. 


"Saya tidak mengerti maksud anda," balasku.


"Kamu sama saja seperti sekretaris Chandra yang lainnya!" Juliet segera berlari setelah berkata seperti itu, aku hanya menatapnya bingung. Bahkan aku tidak mengerti maksud dari ucapannya. 


"Aku minta maaf. Aku tidak sengaja melempar hiasan itu dan akhirnya mengenaimu." Aku terkejut, tiba-tiba saja Chandra sudah berada di sebelah meja kerjaku.


"Aku tidak apa-apa. Lagipula itu salahku, masuk tanpa permisi." 


"Apa Juliet berkata sesuatu yang menyakitimu?" 


"Tidak,"


"Dia memang sangat pencemburu, jadi aku minta maaf kalau istriku berkata yang tidak-tidak padamu." Ucapnya sungguh-sungguh.


"Iya, aku mengerti." 


"Rumah tanggaku sudah diujung tanduk. Entah harus seperti apalagi aku berusaha mempertahankannya," Chandra tampak begitu putus asa, bahkan dia yang selalu tampil begitu sempurna dan berwibawa, kini hilang dan berubah menjadi sosok lelaki yang tampak begitu menyedihkan.  


"Semua masalah bisa diselesaikan dengan baik-baik. Dan tentunya dengan kepala dingin." 


Chandra tersenyum kecut, "Jika saja semudah itu," balasnya. 


"Selalu ada cara, asalkan mau usaha. Jika kalian masih saling mencintai, seharusnya masalah bisa cepat diselesaikan." 


"Tidak semudah itu, Kanaya! Terkadang cinta harus melewati sekian banyak lika-liku, hingga pada akhirnya bisa bersatu, padahal keduanya saling mencintai. Benar bukan?"  Aku tersenyum miris. Aku tahu bahkan aku sedang mengalaminya. 


Aku tidak pernah bekerja lembur seperti karyawan lainnya, aku memilih langsung pulang meski pekerjaan di kejar-kejar deadline. Aku memilih mengerjakannya di rumah, meski terkadang Elea sering mengacaukan pekerjaanku. Tapi itu lebih baik, daripada aku harus bekerja, tapi pikiranku entah kemana. Seperti hari ini, aku membawa beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, dan tentunya aku memilih menyelesaikannya dirumah. 


"Ibu pulang,,,," seruku, begitu aku melihat putriku tengah bermain, tapi bukan sus Tuti yang sedang bermain dengannya melainkan seorang lelaki yang masih mengenakan snelli, dan name tag di lehernya.


"Revan?!" 


Revan menoleh begitu aku memanggil namanya, "Aku bertemu Elea di sekolah," balasnya. 


"Sus,,,, sus Tuti!" Aku memanggil sus Tuti yang entah dimana. Aku segera mencari keberadaan sus Tuti, hingga aku menemukannya tengah cuci botol di dapur.


"Iya, Bu. Saya lagi cuci botol. Kenapa?"


"Saya sudah bilang, jangan percaya orang lain. Kenapa dia bisa masuk rumah saya?!" Aku meluapkan kekesalanku dan berbicara kencang pada Sus Tuti.


"Maaf, Bu. Saya juga awalnya menolak. Tapi, Elea yang minta bapak itu masuk rumah. Mereka bilang sudah saling kenal. Jadi saya gak bisa apa-apa." Sus Tuti nampak bersalah, aku hanya bisa menghela nafas lelah begitu mendengar penjelasannya. 


"Maafkan saya ya, Sus. Lain kali siapapun orangnya kamu harus izin saya dulu, ya?" 


"Kenapa kamu marah-marah. Aku hanya mengantar Elea pulang sekolah, apa itu salah?"  Ternyata Revan mengikutiku hingga ke dapur.


"Tolong jaga Elea ya, Sus. Saya mau bicara sama Ibu." Perintah Revan, seolah dia adalah tuan rumah. Dan tentu saja sus Tuti menurutinya. 


"Kamu kenapa, Rev?" Tanyaku lelah. 


"Kenapa? Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kamu marah, aku hanya mengantarnya pulang. Apa itu salah?" 


Aku memijat pelipis, karena kepalaku terasa pusing, "Kamu tidak perlu melakukannya, aku sudah pernah bilang bukan, Elea tidak ada hubungannya denganmu." 


"Aku tahu. Kamu pasti akan terus menyangkal dan juga kamu pasti akan menolak. Tapi,,, aku ingin sekali melihat Elea. Aku sudah berusaha menahannya beberapa hari ini, tapi,,, sulit." 


"Kamu bisa segera menikah dengan Nita dan memiliki anak. Masalah selesai." Raut wajah Revan berubah, begitu aku mengatakannya, bahkan dia semakin berjalan mendekat, membuatku semakin melangkah mundur. 


"Stop! Jangan Mendekat!" Aku tidak bisa lagi melarikan diri, karena tubuhku sudah menyentuh dinding dapur. 


Revan tidak menghiraukan gretakanku, dia semakin mendekat sehingga jaraknya semakin dekat, bahkan satu tangannya kini menyentuh dinding, mengurungku. 


Aroma khas tubuhnya menyeruak menusuk hidung. Wanginya masih sama seperti dulu, membuatku memalingkan wajah, menghindari tatapannya. 


"Jadi begitu menurutmu? Semudah itu?" Ucapnya, dingin. 


"Tolong hentikan!" Aku mendorong tubuhnya sekuat tenaga, namun dia langsung mencengkram tanganku dan menahannya. 


"Jika kamu berpikir semudah itu, kamu salah. Aku bisa saja menikahi Nita sejak dulu, tapi aku tidak melakukannya sampai hari ini. kenapa? Kamu mau tau? Karena aku masih mencintai seorang wanita yang pergi begitu saja, tanpa mau mendengarkan penjelasanku. Dan sekarang dia datang membawa seorang gadis kecil bersamanya, setelah tiga tahun menghilang, lalu aku harus percaya begitu saja ketika dia mengatakan itu bukan anakku, sedangkan dia hanya bercinta untuk pertama dan terakhir kalinya denganku?" Deru nafas Revan menghantam wajahku, membuatku semakin kelimpungan.


"Rev, jangan begini. Tolong! Jangan mempersulit keadaan," Aku sudah kehabisan akal.


"Justru kamu yang mempersulit keadaan, bukan aku!" Tegas Revan. 


Revan semakin mendekatkan wajahnya, bahkan hanya tinggal beberapa senti lagi bibirnya menyentuh bibirku. Aku tidak bisa melawan, karena kedua tanganku dicengkram kuat, bahkan aku tidak bisa berteriak meski ini di dalam rumahku sendiri. 


"Ibu,,,!" Teriakan Elea membuatku menghembuskan nafas lega, karena Revan langsung melepaskan cengkraman dan memalingkan muka begitu mendengar suara Elea, meski terlihat jelas raut wajahnya sedikit kecewa. 


"Ibu,,, Om Dokter bilang, besok mau ajak kita jalan-jalan. Ibu mau kan?" 


"Iya,,, iya,,, Ibu mau."


"Yeayyyyy,,," Elea bersorak kegirangan. 


"Tapi tunggu, maksudnya apa?" Aku tidak begitu mendengarkan ucapan Elea, rasa gugup mengalahkan indra pendengaran ku, hingga aku langsung mengiyakannya begitu Elea selesai bicara. 


"Kamu sudah berjanji, janji harus ditepati." Balas Revan dengan senyum penuh kemenangan. Bahkan Revan dan Elea bertos ria, meski aku menatap horor keduanya.