
Aku tidak menyebut ini sebagai melarikan diri, aku hanya ingin menenangkan hatiku,salah satunya menjauh dari orang-orang terutama Revan dan mencari suasana baru di tempat baru, dengan orang-orang baru juga.
Namun meski enam bulan sudah aku berada di kampung kecil ini,di pelosok Kalimantan, tak kunjung juga membuatku lebih baik. Berkali-kali aku di larikan keRumah sakit,karena mengalami pendarahan. Berat badanku tidak bertambah banyak seperti kebanyakan wanita hamil lainnya, hingga akhirnya aku kekurangan banyak vitamin karena nafsu makanku yang turun drastis.
Sampai hari ini aku baru siuman setelah koma dua hari, pasca operasi sesar. Pagi itu tiba-tiba perutku sakit, sakit yang tak bisa aku tahan lagi, bahkan aku pendarahan. Ibu dan Abang panik, mereka segera membawaku ke Rumah sakit dan akhirnya aku harus melahirkan putriku saat itu juga dengan proses operasi sesar. Juna tiba tepat tiga puluh menit sebelum aku masuk ruang operasi. Dia datang dari Jakarta menggunakan jet pribadi milik temannya, begitu tau aku di larikan ke Rumah sakit.
Operasi memakan waktu satu jam dan Juna dengan sabar menunggu detik-detik kelahiran putri kecilku. Namun begitu aku mendengar suara tangis bayiku untuk pertama kalinya, kesadaranku tiba-tiba hilang. Aku tidak lagi mendengar atau melihat apapun, pandanganku menggelap dan sunyi.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya aku sadar dan bisa melihat putri kecilku yang nyaris saja kehilangan Ibunya.
Dia cantik, pipinya gembul, matanya bulat dan bibirnya merah. Aku terharu melihatnya, meski dia terlahir prematur di usia kandunganku baru menginjak 29 minggu. Tapi gadis kecilku ini kuat, dia mampu bertahan meskipun selama aku koma, dia juga dirawat intensif di ruangan khusus.
Aku masih lekat memandangi wajahnya, bibir kecilnya tak henti-henti menyedot air susu dari payudaraku. Aku bahagia bisa mengasihinya dengan memberikan ASI, begitu aku sadar.
"Dia cantik seperti dirimu." Ibu yang sejak tadi berada di dekatku, tak pernah lepas memandangi cucu pertamanya itu.
"Iya,, dia cantik sekali." Balasku.
Gadis kecilku sudah merasa kenyang, karena tidak lagi minum ASI. Segera aku membetulkan kemeja, menutup dua kancing yang terbuka.
"Mau di taruh di kasurnya?" Tanya Ibu, karena gadis kecilku sudah terlelap.
"Nanti saja,Bu. Aku masih mau menggendongnya."
"Jangan lama-lama. Luka jahitan di perutmu belum kering, tidak boleh tertekan."
"Iya."
Sungguh luar biasa rasanya memiliki seorang anak, rasa sakit akibat melahirkan hilang begitu saja ketika aku melihatnya wajahnya terlelap. Wajahnya mampu menyedot semua rasa sakit dan rasa sedihku. Meskipun kau masih merasa bersalah karena dia lahir tanpa seorang Ayah di sampingnya, tapi kehadirannya sungguh anugrah terindah dihidupku
"Juna dimana,Bu?" Sejak aku siuman aku tidak melihatnya, terakhir aku melihatnya ketika dia menemaniku masuk ruang operasi.
"Juna kembali ke Jakarta. Ibu sudah memberitahunya kalau kamu sudah siuman. Dia pasti secepatnya kesini."
Aku ingin sekali bertemu Juna dan mengucapkan terimakasih karena dia selalu membantuku. Terkadang aku bingung sendiri, bagaimana caranya aku membalas semua kebaikannya yang sudah tidak bisa lagi aku hitung.
Suara ketukan terdengar dari luar,
"Iya,, masuk." Seru Ibu.
Semua orang yang hendak masuk ke ruanganku,harus mengetuk pintu terlebih dulu karena aku tidak ingin orang lain datang di saat aku tengah menyusui.
Pintu perlahan terbuka. Juna datang membawa satu buket bunga mawar merah besar beserta boneka kura-kura berwarna pink. Dia seperti hantu, baru saja aku dan Ibu membicarakannya, tiba-tiba saja dia datang.
"Hai,, apa kabar?" Juna mendekat, memeberika bunga mawar dan bonekanya padaku.
"Baik." Aku memeluk tubuh besarnya,
"Terimakasih," ucapku. Perlahan Juna melepas pelukannya, matanya langsung tertuju pada gadis kecil yang masih terlelap di pelukanku.
"Hai,,, gadis kecil Ayah, apa kabar sayang? Ayah kangen." Juna mengecup pipi gadisku, mengelus sayang puncak kepalanya.
"Aku ingin dia memanggilku Ayah, apa kamu keberatan?" Tanya Juna.
"Nggak, dia boleh memanggilmu Ayah."
"Nay, ada yang ingin bertemu denganmu. Aku tidak bisa menolak begitu dia memohon dan memaksaku."
Perasaanku mulai tidak tenang,terakhir kali orang yang menemuiku yaitu Mia, dan itu membuatku hampir kehilangan kendali. Lalu siapa orang yang di maksud Juna? Aku belum siap bertemu dengan siapapun, bahkan Revan sekalipun.
"Jun,," aku menatap Juna dengan perasaan tak menentu, dia menggenggam tanganku mencoba meyakinkan.
"Mereka tidak akan menyakitimu. Percaya padaku."
Meski ragu, akhirnya aku memperbolehkan orang yang dimaksud Juna masuk. Perlahan pintu terbuka, dua orang lelaki dan dua orang perempuan memasuki ruanganku. Aku tersentak,bahkan nyaris tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
"Tante Devi?"
Ternyata tante Devi,Om Herman,Reno dan juga Reva, tamu yang di maksud Juna,mereka keluarga Revan.
Aku kembali menatap Juna yang masih berdiri di samping tempat tidurku, sedangkan Ibu,matanya sudah berkaca-kaca melihat kedatangan mantan calon besannya.
"Mereka memaksaku ingin bertemu denganmu. Begitu kondisimu memburuk,koma setelah melahirkan, aku tidak punya pilihan lain. Aku menyetujui mereka menemuimu, karena aku takut sesuatu hal buruk terjadi padamu." Jelas Juna.
"Sayang, jangan menyalahkan Juna. Salahkan tante yang terus memaksanya." Tante Devi menghampiriku. Matanya merah dan berkaca-kaca,apalagi ketika dia mulai melirik gadis kecil di pangkuanku.
"Tante minta maaf,," Lirihnya.
Aku memang kecewa dengan kenyataan Revan yang telah membohongiku, tapi aku tidak tega melihat tante Devi jauh-jauh dari Jakarta hanya karena ingin bertemu denganku.
"Sini deketan." Aku meminta tante Devi mendekat. Meski ragu, dia tetap mendekat.
"Sayang,, lihat siapa yang datang. Ada Omma, datang jenguk kamu." Aku menggerakan tangan gadis kecilku melambai-lambai seolah dia menyapa.
"Boleh pegang?"
"Tentu." Tante Devi begitu antusias,begitu aku memberinya izin.
"Cantik sekali." Tante Devi mengelus lembut pipi gadis kecilku. Air matanya nampak sudah membanjiri pipinya,
"Dia cucu tante." Tante Devi beralih menatapku, dan semakin menangis tersedu-sedu.
"Tante harus berbuat apa,Nay. Tante gagal mendidik anak, tante salah."
"Tante gak salah, ini semua kesalahan Kanaya dan juga Revan. Tante gak salah." Aku pun ikut menangis, terharu melihat bagaimana baiknya keluarga Revan.
"Ayah, lihat ini cucu kita. Cantik sekali." Tante Devi meminta suaminya agar mendekat,Om herman,Reva dan juga Reno akhirnya mendekat. Haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Mereka tertawa bahagia dan menangis dalam waktu bersamaan.
"Aku mau gendong." Pinta Reva,
"Cantik sekali keponakanku ini, secantik auntynya kan?" Semua orang di ruangan pun ikut tertawa.
"Mau foto boleh?" Reva meminta izin ku sebelum dia memfoto gadis kecilku.
"Boleh, tapi jangan di share. Cukup koleksi pribadi kamu aja."
"Sip." Reva mengacungkan jempolnya,kemudian berfoto dengan gadisku.
"Siapa namanya?" Tanya Om Herman.
"Aku memberinya nama Azalea Eleanor Rahadian." Tante Devi meraih lenganku, menautkan jemariku dengan jemarinya.
"Terima kasih Kanaya. Terimakasih telah melahirkan cucuku cantikku dengan selamat. Terimakasih juga karena kamu masih mau memakai nama keluarga kami di belakang namanya."
"Bagaimanapun juga Revan Ayah kandung Elea,Tante. Aku tidak akan melarang kalian menemui Elea, tapi jangan pernah memberi tahu apapun pada Revan soal kelahiran Elea."
"Revan tidak tahu kamu hamil?"
"Nggak tante. Meskipun Revan tau, tidak akan mengubah apapun. Jadi aku mohon pada kalian semua, tolong rahasiakan ini dari Revan."
Meski tante Devi dan Om Herman nampak keberatan dengan permintaanku, akhirnya mereka menyetujuinya setelah berulang kali aku jelaskan alasannya.
Ibu,Om Herman dan tante Devi tengah sibuk menggendong cucunya secara bergilir. Bahkan tante Devi tidak sedikitpun mau berjauhan, dia terus membuntuti kemanapun Elea di bawa. Sedangkan Juna, dia memilih keluar kamar.
Sementara di ranjang tempat tidurku kini ada Reva tengah memotong buah yang dibawanya.
"Bagaimana rasanya melahirkan?" Tanyanya,
"Sakit." Jawabku,menerima potongan buah apel yang sudah dikupas nya.
"Pasti lebih sakit karena tidak ada suami yang menani." Matanya masih fokus memotong apel, tapi aku tahu dia ingin tahu reaksiku.
"Mungkin," balasku.
"Aku tidak akan membela nya karena dia kakakku, tapi aku juga tidak membenarkan pilihanmu karena kamu yang paling dirugikan. Kenapa tidak memberinya kesempatan?"
Aku meletakkan apel di pinggiran piring,kini aku berbicara serius selagi Ibu dan juga kedua orang tua Revan asyik menjaga Elea.
"Justru sekarang aku tengah memberinya kesempatan. Kesempatan agar dia terlepas dari bayang-bayang Alana. Kamu tau, dia mendekatiku juga karena Alana. Jadi aku memang sedang memberinya kesempatan." Jelasku
"Tapi dia tidak tahu kalau kamu hamil."
"Benar. Dia memang tidak tau aku hamil, tapi aku tidak ingin dia bertanggung jawab hanya karena terlanjur aku hamil. Bukan karena dia mencintaiku."
"Dia mencintaimu,Nay." Reno ikut bicara,
"Dia tidak mungkin se putus asa itu ketika kamu tiba-tiba hilang,jika dia tidak mencintaimu."
"Aku terlalu takut untuk mencari tau apakah Revan mencintaiku atau tidak. Karena pada kenyataanya aku selalu terluka begitu aku mengetahui rahasianya. Dan aku takut, sangat takut."
"Aku mengerti, aku pun tidak akan memaksamu untuk menerima kakakku. Aku hanya ingin kamu tahu, dia pun sudah cukup menderita. Jadi aku mohon,berbaik hatilah padanya, meski sedikit. Beri tahu dia jika kamu baik-baik saja, karena setiap hari dia hanya terus mencari keberadaanmu tanpa henti."