
"Masih sakit?" Tanya Revan di sela kegiatannya yang tengah mengolesi pergelangan tanganku dengan krim pereda Lebam. Sesekali ia meniupnya dengan hati hati. Aku masih lekat menatapnya, bagaimana kehadirannya mampu membolak balikan perasaanku, dengan waktu secepat ini. Aku yakin dulu Alana pasti sebahagia diriku atau mungkin lebih.
"Masih sakit ?" Tanyanya lagi.
"Nggak." Aku masih lekat menatapnya.
"Aku minta maaf." Ucapnya sambil mengelus pergelangan tanganku dengan jarinya.
"Aku ga apa-apa."
"Kalau besok lebam nya belum hilang, kerumah sakit ya? Nanti aku kasih obat."
Aku tersenyum, "Ini cuman Iebam, bukan luka."
"Tapi Pasti sakit kan?"
"Tadi sih iya, sekarang udah engga." Revan tersenyum,mencubit hidungku dan kita sama sama tertawa.
Cinta memang bisa mengalihkan rasa sakit semudah itu. Benar begitu bukan?
Di tempat lain
Di sebuah cafe yang menjadi tempat berkumpulnya empat lelaki,seperti biasanya mereka akan berkumpul ketika akhir pekan. Tapi kali ini tidak seperti biasanya karena hanya ada tiga orang yang hadir.
"Jauhi kanaya!" Tanpa basa basi Revan memulai pembicaraan,bahkan ia tak mempedulikan tatapan aneh dari Kedua lawan bicaranya.
“Siapa?Gue?" Balas Juna dengan jemari telunjuk mengarah pada dirinya sendiri.
"Gue ga tau apa alasan lo deketin Kanaya. Tapi gue tegaskan, jauhi Kanaya!" Juna tersenyum kecut, berdecak sambil menyesap minumannya.
"Bukannya gue yang harusnya ngomong gitu ke lo?"
"Lo pada kenapa sih, dateng dateng pada adu urat Leher gini?" Tanya Gery yang merasa jika keberadaannya tak di anggap, bahkan dari tadi dia hanya bolak balik menatap Revan dan Juna bergantian.
"Lo sendiri yang bilang ngedeketin Kananya cuman karena obsesi balas dendam lo, apa sekarang lo udah mulai pakai hati?" Cibir Juna.
"Lalu salahnya gue dimana? Jika lo ngerasa dendam lo itu penting, silahkan terusin. Gue ga ganggu, dia nyaman berteman sama gue, dan gue rasa itu bukan urusan lo." Jelas Juna.
Revan nampak tengah menahan emosi, mendengar penuturan Juna.
"Atau jangan-jangan Io mulai takut, kanaya berpaling sama gue, sampai sikap possesive lo itu kumat?" Revan beranjak dari tempat duduknya mencengkram kerah baju Juna,
"Kalau Lo berani berani deketin Kanaya, tanpa sepengetahuan gue. Gue jamin lo bakalan menyesal!"
"Kalian berdua kenapa? Gue kaya orang bego liatin tingkah kalian pada kaya anak TK rebutan mainan." Gery mencoba melerai kedua temannya yang terlihat semakin memanas. Menahan tangan Revan agar tidak berbuat lebih jauh.
Revan melepas dan menghempaskan cengkramannya, kilatan emosi masih nampak jelas di matanya, "Apa perlu gue ingetin lagi bagaimana dengan mudahnya gue nyingkirin Io dari Nita?"
Seketika Juna tersenyum miring,merasa ia mulai terpancing dengan kata-kata sarkas dari Revan. Namun Juna hafal persis bagaimana perangai Revan, ia tahu akan sangat sia sia meladeni manusia keras kepala seperti Revan. Meski sebenarnya Juna bisa saja melawan Revan dengan pukulannya ataupun membeberkan semua kebusukan Revan, tapi pada akhirnya Juna lebih memilih pergi meninggalkan Revan dan Gerry, meski amarahnya sudah sampai di ujung kepala.
"Jadi udah sampai mana?" Gerry memulai pembicaraan, setelah Revan kembali tenang.
Revan merebahkan tubuhnya di sandaran kursi,matanya terpejam tapi dia masih mendengarkan celotehan Gerry.
"Gue rasa Lo terlalu lambat bergerak, apa Lo udah mulai pake hati seperti dugaan Juna?" Akhirnya kalimat terakhir Gery mampu menarik perhatian Revan. Ia membuka matanya.
"Gue bener kan Rev?" Sekilas Revan melirik ke arah Gerry, kemudian meraih gelas yang berisi tinggal setengah ,kemudian meminumnya hingga tandas.
"Lo mau ngaku , apa gue yang cari tau sendiri?"
“Sejak kapan Lo berubah cerewet kayak perempuan?" Akhirnya Revan bersuara.
"Tapi dugaan Juna ga salah kan, lo udah mulai pakai hati?"
"Gue gak tau!"
"Lo ga bisa ngulur waktu kaya gini terus Rev, Io tau kehamilan Mia udah ga bisa di sembunyikan lebih lama lagi?" Revan tau jika selama ini ia terlalu menikmati perannya mendekati Kanaya. Hingga ia lupa bahkan, ia tidak menyadari jika dirinya mulai terbiasa dengan kehadiran Kanaya.
Kanaya berbeda dengan perempuan perempuan yang pernah dekat dengannya. Dari senyuman hangat Kanaya terpancar sisi rapuh, sorot matanya tenang, mampu melenakan hingga Revan lupa dengan niat awal mendekati Kanaya.
Kelembutan sikap Kanaya begitu menyulitkannya. Tiba Tiba saja bayangan kanaya menangis tadi siang hadir di kepalanya. Bagaimana sesaknya ia melihat air mata kanaya yang mengalir di pipi Iembutnya, memikirkannya saja membuat hati Revan begitu terasa sesak. Lalu bagaimana jika suatu hari Kanaya tau yang sebenarnya. Kanaya pasti sangat terluka, dan Revan semakin tak tega melakukannya terlalu jauh lagi.
"Gue, akan menyelesaikan semuanya. Secepatnya."
"Kalo gitu kenapa Io ga cepet-cepet tidurin itu cewe, setelah dia hamil, Io tinggal buang. Seperti yang diLakukan Alex dulu."
Tangan Revan mengepal begitu Gerry membahas dua orang yang amat ingin dilupakan.
"Juna biar gue yang urus." Tambahnya,meyakinkan Revan.
Revan mengangguk sembari menatap ke arah luar jendela. Sekelebat bayangan tentang masa Ialu kini mulai berputar putar kembali di pikirannya, bayangan tentang hubungannya dengan Alana,yang awalnya ia anggap akan berakhir bahagia,justru berakhir mengenaskan.
Bayangan itu seketika mampu membangkitkan kembali kebenciannya, hingga sebuah seringai mengerikan terukir dari bibirnya.
Mia tengah menunggu gilirannya, hari ini adalah jadwalnya untuk memeriksa kandungan.
"Ibu Lamia louis." Namanya dipanggil salah seorang suster. Mia beranjak dari kursi tunggu menuju ruangan dokter. Begitu ia hendak membuka handle pintu, satu tangan terlebih dulu membukanya.
"Alex!" Mia terkejut melihat kehadiran Alex tiba-tiba,bahkan Mia tidak menyadari entah sejak kapan Alex berada di Rumah sakit.
Pasalnya semenjak Mia hamil dan memeriksakan kandungannya, Alex memang tak pernah menemaninya, dan juga Mia memang sengaja memilih waktu kontrol di jam kerja atau di waktu Alex tengah sibuk.
"Kamu ngapain disini?"
"Dia juga anakku, aku berhak tau bagaimana perkembangannya“
"Tapi-_" Belum sempat Mia membantah, tangannya terlebih dulu di tarik Alex masuk ke ruangan pemeriksaan.
Dokter mengatakan kondisi Mia dan bayinya dalam keadaan baik, membuat Mia dan juga Alex tersenyum. Apalagi hari ini mereka melakukan USG, dan bisa melihat jenis kelamin sang bayi. Alex nampak sangat bahagia, senyum merekah terpancar dari bibirnya begitu mengetahui bayi yang berada dalam kandungan Mia berjenis kelamin perempuan.
Setelah pemeriksaan selesai,Alex dan Mia hanya tinggal menunggu beberapa vitamin yang harus diambil, untuk dikonsumsi Mia setiap harinya. Alex mengambil obat dan membayar beberapa administrasi yang harus diselesaikan nya, sedangkan Mia menunggunya di kursi tunggu.
Alex menyerahkan satu plastik berisi vitamin yang harus dikonsumsi Mia setiap pagi dan malam hari. Alex dengan telaten menjelaskan apa saja yang harus dikonsumsi Mia agar bayinya tumbuh sehat sampai persalinan nanti.
"Al,?" Alex Langsung menoleh begitu Mia memanggilnya
"Kenapa? Butuh sesuatu?" Tanya Alex. Mereka masih duduk bersebelahan dan Mia masih memperhatikan wajah Alex dari samping. Mia hanya bisa melihat wajah suaminya itu dari samping, karena Alex tidak pernah mau memandangnya ketika bicara. Meskipun Alex memperlakukannya dengan sangat baik, tapi sampai hari ini pun mereka masih terlihat canggung untuk disebut sebagai pasangan suami istri.
"Kamu kapan mau resign kerja?" Alex balik bertanya.
"Aku,"
"Kehamilan kamu udah masuk usia enam bulan, berhenti memakai celana pengecil perut, apa kamu gak kasian sama bayinya?"
"Al," Sontak Mia terkejut dengan ucapan Alex.
Alex memejamkan mata menghela nafas Iemah,
"Aku tau kamu hamil sudah enam bulan,sedangkan kita menikah baru empat bulan. Dihitung dari terakhir kejadian malam itu, kandungan kamu tetap melebihi hitungan." Alex tahu persis kejadian malam itu, malam dimana dirinya tidak sengaja meniduri Mia setelah acara ulang tahun temannya.
"Sejak kapan?" Suara Mia bergetar,
“Aku bukan lelaki pengecut yang akan Lari dari tanggung jawab, aku tau malam itu kesalahanku, maka dari itu aku tetap menikahi kamu dan akan menjadi Ayah dari anak kamu. Meski aku harus menyakiti Kanaya. Meski aku tau sebelum aku melakukannya,kamu terlebih dulu berbadan dua."
Mia terdiam, Lidahnya kelu,
"Aku akan tetap menjadi Ayah dari anak kamu, apapun yang terjadi dan sampai kapanpun gak akan berubah."
Air mata Mia lolos membasahi pipinya,
"Jadi mari kita selesaikan ini sampai akhir, kita akan bercerai setelah bayi ini Lahir. Aku akan membiayai semua kebutuhannya, termasuk dirimu. Kita sudah terlalu jauh menyakiti Kanaya, dan itu membuatku serasa ingin mati. Tapi , aku bertahan karena aku tau ada seseorang yang amat Iemah yang membutuhkanku,Yaitu anakmu."
Mia semakin terisak, bahkan tangisannya terdengar begitu pilu. Alex meraih tangannya, menggenggam kedua tangan Mia,
"Selama kamu masih menjadi istri aku, aku mohon jauhi hal hal yang bisa membahayakan anak kita."
Begitu mendengar kalimat ' anak kita' yang keluar dari mulut Alex, hati Mia begitu sakit hingga ia tak mampu berkata-kata, hanya kata maaf yang bisa ia ungkapkan.
"Maaf."
Sekuat tenaga Mia mengucapkan nya, bahkan kata itu begitu sulit keluar dari mulutnya, terasa ada batu besar yang mengganjal di tenggorokan.
Melihat Mia menangis, Alex merengkuh memeluknya.
"Kini janjiku pada kakakmu lunas."
"Aku minta maaf,Al."
"Ayo kita pulang, anak kita belum makan malam."
Mereka berjalan meninggalkan Rumah Sakit. Alex masih menggandeng Mia, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka dari jauh dengan tatapan sendu.