
jumat menjadi hari penutup untuk minggu ini, besok libur. Seharusnya aku senang,biasanya di akhir pekan aku akan menghabiskan waktu pulang ke bandung bersama Alex dan Mia, tapi tunggu,,, itu dulu, berbeda dengan sekarang.
Tubuhku terasa lemas akhir- akhir ini, mengingat besok adalah hari dimana dua penghianat itu akan mengucapkan janji suci pernikahan.
cih...mereka memang tak tahu malu.
Banyak teman kantor menawari untuk berangkat bersama ke acara bahagia Mia. Aku tidak mengerti motif di balik mereka mengajakku, mungkin hanya sekedar ingin, atau mreka justru ingin melihat reaksi seperti apa yang akan terjadi begitu aku datang. semua orang tau jika Mia menikah dengan mantan pacarku.
jujur saja tak ada niat sedikitpun untuk menghadiri acara pernikahan Mia. Tapi, aku tidak ingin menyandang status baru sebagai pengecut dan dengan senang hati mereka pasti memberiku gelar gagal move on.
selesai makan siang aku merasa ada yang aneh dengan perutku. Awalnya aku kira hanya salah makan atau hanya sakit karena jadwal tamu bulanan, tapi kali ini benar- benar sakit dan panas hingga menjalar ke pinggang.
"Sakit ,Nay?" Sarah datang menghampiriku.
"Iya, sakit perut. Biasa tamu bulanan."
"Pucet banget, minum obat sana." Aku semakin meringis.
"Oh iya, besok ke acara pernikahan Mia, Lo dateng kan ?" Lanjutnya.
"Gimana besok aja." Aku sungguh tak ingin membahas apapun soal hari esok, bahkan jika perlu aku ingin segera lusa, tanpa harus melewati hari esok.
"Aku duluan ya!" Sebelum Sarah bertanya lebih jauh, akan lebih baik aku menghindar.
Taksi online yang aku pesan akhirnya datang, tanpa menunggu lama aku segera pulang. Tapi, rasa sakit yang semakin menjadi tak bisa kutahan lagi dan akhirnya aku meminta sopir taksi mengganti arah arah tujuan menjadi kerumasakit terdekat.
Seumur hidup aku memang jarang sakit, seingatku malah baru dua kali aku masuk Rumah sakit. Yang pertama waktu dulu terkena DBD dan yang kedua kalinya sekarang.
Awalnya aku merasa tidak perlu repot- repot sampai harus periksa, tapi yang membuatku sedikit merasa takut yaitu, sudah hampir lima bulan terakhir ini, aku sering mengalami sakit di bagian perut yang tidak wajar ketika tamu bulanan datang.
Setelah mendaftar dan melakukan serangkaian prosedur pemeriksaan, kini aku tinggal menunggu hasil pemeriksaan keluar.
Tak berselang lama seorang perawat memanggil namaku, membawaku kesebuah keruangan menunggu Dokter datang. Seorang lelaki muncul dari balik pintu, terlihat masih sangat muda dan tampan, ia duduk persis di seberangku, matanya mengamati layar komputer, sesekali alisnya berkerut mengamati serius layar di depannya.
"Kanaya Larisa?" Suara baritonnya menyebut namaku.
"Iya, Dok,"
"Sudah berapa lama keluhan sakitnya?" Satu tangannya memegang pena, sesekali menatap komputer dan menatapku bergantian.
"Sudah hampir lima bulan." Dia menganggukan kepalanya.
"Belum begitu lama, tapi sudah lumayan besar."
"Apanya ,Dok?" Aku mulai tidak tenang.
"Kamu menderita kista," ucapnya sambil memutar layar, memperlihatkan gambar hasil rontgen kearahku.
"Dan ini sudah lumayan besar, jika tidak segera di obati akan sangat berbahaya."
Seketika mataku melebar, melihat layar dan gambar yang di tunjuk Dokter.
"Ap..apa? berarti saya ga bisa punya anak?" Ingin rasanya saat ini aku berteriak, menangis sekencangnya,
wahhh,,, begitu luar biasa sekali bukan nasib mempermainkanku , setelah aku di campakan kekasih dan di hianati sahabat dan kini aku sakit?
"Ini masih bisa di obati, ada banyak pengobatan yang bisa kamu coba." Kuseka air mata , mencoba mendengar penjelasan Dokter tampan di hadapanku.
"Kamu bisa melakukan operasi, atau pengobatan biasa. Hanya saja keduanya memiliki resiko yang berbeda."
Aku semakin ketakutan begitu mendengar kata operasi, membayangkannya saja membuatku mual, pusing dan gemetar.
Seakan mengerti rasa takutku, dokter tampan itu tersenyum, menambah kadar ketampanannya menjadi dua kali lipat.
"Jika operasi terlalu menakutkan, bisa coba yang lain. seperti rutin berobat dan mengkonsumsi obat untuk mencegah kista semakin membesar. Tapi, itu tidak menjamin kistanya akan hilang. Berbeda dengan operasi yang akan tepat sasaran ke inti penyakitnya, walaupun terdengar menyeramkan tapi, penyembuhannya cepat di banding dengan mengkonsumsi obat," Jelasnya.
"Ada cara lain yang lebih bagus selain operasi?" tanyaku.
Aku ingin secepatnya sembuh, tapi aku takut jika harus melakukan operasi. Bagaimana jika aku mati di meja operasi? itu sangat menakutkan.
"Ada cara lain yang menurutku jauh lebih aman dari kedua cara tadi, yaitu menikah dan mengikuti program memiliki keturunan."
"Hah?!" Aku berharap aku salah dengar,
"Dengan menikah dan mengikuti program memiliki anak, itu bisa membantu penyembuhan kista. banyak dari pasien kista akan secara alami sembuh dengan berupaya memiliki keturunan. meski akan sedikit sulit tapi itu cara yang paling mudah bukan?"
Menikah? aku semakin prustasi hanya dengan mendengar kalimat itu.
Aku menghela nafas berat, bagaimana bisa aku menikah saat ini saja aku di campakan kekasihku. lalau aku harus menikah dengan siapa?
Setelah membayar dan mengambil beberpa obat yang harus aku konsumsi, aku memilih pulang. Belum ada kesepakatan tentang pengobatan selanjutnya, aku masih mempertimbangkan antara operasi atau memilih berobat rutin setiap bulan. Karena pilihan ketiga yang di anjurkan Dokter tidak termasuk dalam pilihan untuk hidupku saat ini, jangankan menikah untuk menjalin hubungan barupun aku enggan.
Apartemen minimalis yang kutempati tidak terlalu besar, jika biasanya Mia akan datang dan mebawa makana kali ini aku harus makan sendiri. menikmati kesendirianku yang hanya di temani suara televisi.
suara ponsel mengalihkan perhatianku dari acara TV.
" iya, Bang."
"Lagi apa, sayangggg." Suara bang Ramzi dari seberang sana. dia kakak lelakiku satu- satunya.
"Lagi makan, Abang dimana?"
"Abang di rumah, besok pulang kan?"
"Kayaknya sih engga, paling minggu depan."
Terdengar gumaman kecewa bang Ramzi.
"Minggu depan aja ya, minggu ini Nay ada acara."
"Oke deh, bareng Alex kan?"
"iya,,," aku terpaksa berbohong.
Sambungan terputus begitu aku berpura- pura ngantuk dan ingin segera istirahat. Berlama- lama bicara dengan Abang bisa membuat mulutku keceplosan tentang pernikahan Alex dan Mia. Aku tak bisa menghindari pertanyaan Abang yang akan berputar- putar dan berakhir dengan pengakuanku. Abang tau persis reaksiku jika sedang berbohong.
Aku tidak bermaksud membohongi Abang tentang hubunganku dan Alex, hanya saja aku belum siap menjelaskan semua yang terjadi. Bahkan saat ini sejujurnya aku ingin bersandar di pangkuan ibu dan menceritakan semua keluh kesah dan penyakitku. Tapi, aku terlalu takut.
Aku takut membuat Abang dan Ibu semakin khawatir, membahas dua hal besar sekaligus tidak lah mudah. Jadi aku memutuskan bercerita jika waktu dan keadaan sudah lebih baik.