
Jakarta 2019
Aku menghirup udara Jakarta dengan perasaan tidak menentu. Hari ini aku,Ibu dan Elea,pulang kembali ke Jakarta. Kota dimana semua ini berawal.
Berulang kali aku sempat menolak, entah karena alasan masih betah di Kalimantan atau alasan lainnya. Tapi, mengingat Elea semakin hari semakin besar dan dia butuh lingkungan yang lebih bagus, aku tidak ingin menjadi orang tua egois,akhirnya aku menerima ajakan Abang,pindah ke Jakarta.
Beberapa persiapan seperti tempat tinggal,sudah dipersiapkan Abang dan Juna. Lagi-lagi Juna terlibat dalam membantu kepulanganku ke Jakarta.
Juna orang kedua setelah Abang yang begitu antusias menjemput kedatanganku di bandara.
"Welcome home,,,,!" sambut Juna begitu rombonganku mendarat dengan selamat di bandara Soekarno Hatta.
Aku hanya tersenyum tipis menerima ucapan selamat datang darinya. Hatiku tidak menentu,mengingat kembali semua yang pernah terjadi di kota metropolitan ini. Juna langsung menggendong Elea, sedangkan aku membawa beberapa koper berisi pakaian dan barang-barang pindahan lainnya.
"Abang gak jemput?" Tanyaku,
"Dia udah menunggu kalian di Apartemen." Juna sekilas melirik,
"Apartemen baru." Lanjutnya. Aku meringis tipis,aku kira kita akan kembali tinggal di apartemen lamaku di Twin tower.
"Kamu masih tinggal di apartemen lama?"
"Masih. Apa aku harus pindah juga, supaya kita bisa setiap hari bertemu. Elea setuju gak, Ayah pindah rumah ke dekat rumah Elea?" Gadis kecilku hanya mengangguk-anguk, tangannya masih setia memegang lolipop strawberry pemberian Juna.
"Gak perlu, asalkan tempatnya aman, itu sudah cukup buat kita."
"Aman, aku sudah memastikan sebelum membelinya."
Aku percaya Juna dan Abang pasti mencari tempat tinggal yang aman. Aman menurutku yaitu, aman dari jangkauan Revan atau siapapun yang mengenalku.
Kami tiba di Apartemen, satu jam setelah perjalanan. Apartemen yang dibeli kali ini, lebih besar dari apartemen tempat tinggalku dulu. Ada dua kamar berukuran besar,dapur,dan juga ruang keluarga yang cukup luas. Pas untuk Elea yang tengah aktif-aktifnya berjalan kesana kemari,tidak mau diam.
"Apartemennya terlalu besar," aku menghampiri kedua lelaki yang tengah asyik ngobrol di ruang tamu,tidak lupa aku juga membawa tiga cangkir teh panas dan satu toples biskuit.
"Ini tidak terlalu besar, pas untuk kamu dan juga Elea."
"Tetap aja, ini terlalu berlebihan."
"Apartemen kamu yang lama, Abang jual dan uang nya Abang pergunakan untuk membeli unit ini." Jelas Abang,
"Tapi apartemenku yang dulu tidak mungkin semahal unit ini. Pasti nambah uangnya banyak." Aku tau sedikit tentang properti, tapi jelas bisa disimpulkan perbandingan harga Apartemenku yang lama dan yang ini jauh berbeda.
"Memang ada uang tambahannya, tapi tidak banyak. Cumam tambah sedikit."
"Uang siapa yang di pakai?" Selidiki ku,menaikan satu alis menatap tajam Abang dan Juna bergantian.
"Uang siapa yang di pakai itu gak penting. Yang terpenting kalain aman tinggal di sini." Tukas Juna,
"Jelas penting! Aku tidak mau terus menerus merepotkan kalian!" Mereka mungkin memang menyayangiku, tapi aku tidak ingin mereka selalu ikut campur dalam kehidupanku, terlalu banyak hutang budiku pada mereka,terutama Juna.
Aku tau penghasilan Abang,dia tidak mungkin bisa melunasi pembayaran Apartemen secepat itu ditambah kini dia harus menghidupi keluarga kecilnya.
"Nanti kamu bisa cicil bayar,kalau kamu merasa tidak nyaman." Juna menengahi pembicaraan yang mulai sedikit memanas.
"Kamu mau kerja lagi?" Tanya Abang,
Aku menghela, mengangguk.
"Setelah kamu mendapat pekerjaan, kamu bisa cicil pembayaran Apartemen pada Juna." Abang langsung menutup mulutnya.
Seperti dugaanku, pasti Juna.
Aku mengajak Elea berkeliling di sekitar Apartemen, setelah kedua lelaki menyebalkan itu pulang. Juna memilih kembali ke Rumah sakit, sedangkan Abang pulang ke Bandung. Aku tidak mengerti mengapa Juna harus sejauh ini membantuku. Berulang kali aku menolaknya, dan berulang kali pula dia tidak peduli.
Di tempat tinggalku yang baru ada wahana bermain anak-anak yang lumayan cukup luas, Elea begitu antusias melihat berbagai wahana mainan yang jarang sekali ditemukan ketika tinggal di Kalimantan.
Udara sore hari mulai menghangat tidak sepanas tadi, jadi Elea bisa leluasa bermain tanpa harus berpanas-panasan. Aku hanya memperhatikannya,duduk di kursi. Sedangkan Elea asyik bermain dengan beberapa anak kecil,penghuni Apartemen lainnya.
Sedangkan aku, masih duduk sendiri membuka aplikasi jasa lowongan pekerjaan dari ponsel. Sesegera mungkin aku harus mencari pekerjaan, sudah banyak hutangku pada Juna dan juga Abang. Tidak mungkin kehidupanku terus menerus bergantung pada mereka.
Beberapa informasi lowongan kerja sudah aku kantongi, tinggal menaruh beberapa surat lamaran dan menunggu panggilan. Sementara aku masih asyik memainkan ponsel, tiba-tiba terdengar suara anak perempuan menangis. Sontak aku langsung mencari keberadaan Elea,
"Elea,,,." Aku berjalan tergesa begitu melihat gadis kecil di sebelah Elea menangi sambil mengusap-usap lututnya.
"Kenapa sayang?" Aku segera berjongkok memeriksa keadaanya.
"Dia jatoh,Bu." Jelas Elea,
"Karena Elea?" Elea menggeleng, raut wajahnya tampak ketakutan. Si gadis berambut pirang itu masih terisak menangis, lututnya memar dan merah.
"Kamu gak apa-apa sayang? Dimana Ibumu?" Sambil terisak gadis pirang itu menunjuk seorang lelaki bertubuh besar,yang tengah sibuk berbicara lewat ponsel.
"Bisa berdiri, Tante bantu." Aku memapah gadis pirang menuju Ayahnya. Sementara Elea mengikutiku dari belakang, tangannya memegang erat ujung kaosku.
"Permisi,, Tuan." Aku memanggil si lelaki bertubuh besar yang masih membelakangiku,
"Nama kamu siapa?" Tanyaku
"Gaby."
"Permisi Ayahnya Gaby!" Kali ini aku sedikit menaikan nada suaraku. Dan berhasil, lelaki itu menoleh.
"Ya?" Tanyanya nampak keheranan,melihatku sudah berdiri di belakangnya.
"Gaby jatuh dari ayunan sewaktu bermain dengan anak saya." Lelaki itu menatap anaknya, yang masih sedikit terisak.
"Astaga! Maafin Daddy sayang!" Lelaki itu berjongkok,mensejajarkan tingginya dengan Gaby.
"Mana yang sakit? Jangan nangis nanti Daddy obati." Ia mengusap sisa air mata di pipi anaknya. Pandandangan sederhana, namun begitu menusuk hatiku. Pandanganku segera beralih pada gadisku yang masih setia berada di belakang,memegangi ujung kaos. Mata polosnya tanpa henti menatap interaksi antara Gaby dan Ayahnya, semakin membuat hatiku meradang.
"Terima Kasih sudah menolong Gaby." Lelaki itu berdiri,
"Iya sama-sama. Elea minta maaf sama Gaby, bilang minta maaf,kamu gak sengaja." Aku menarik lengan putriku hingga dia berdekatan dengan Gaby.
"Elea minta maaf. Elea nggak sengaja." Gaby mengangguk, kemudian mereka berdua berpelukan. Semudah itu seorang anak kecil saling memaafkan, bahkan mereka sudah melupakan kejadian barusan dan kembali tertawa.
"Saya minta maaf, anak saya sudah membuat Gaby jatuh."
"Tidak apa-apa. Namanya juga anak kecil. Tapi aku baru lihat kalian disini,kalian penghuni baru?" Tanyanya, sambil memasukan ponsel ke dalam kantong celananya. Sepertinya dia baru pulang kantor, karena penampilannya masih lengkap berpakaian rapi.
"Iya,kami baru pindah."
"Di unit mana?"
"Di lantai 23."
"Oh kebetulan sekali ya, saya di lantai 24. Kita tetangga." Dia tersenyum, simpul.
"Ah iya,,, kalau begitu saya permisi." Aku hendak menyusul kembali Elea dan Gaby yang sudah berlari terlebih dahulu menuju area bermain.
"Nama kamu siapa? Perkenalkan saya Chandra."
Aku tidak mungkin menolak, Chandra sudah terlebih dulu mengulurkan tangannya.
"Kanaya." Balasku,
"Senang berkenalan denganmu." Aku hanya mengangguk, dan meninggalkan Chandra.
Chandra lelaki berwajah asli Indonesia, tapi putrinya memiliki wajah seperti orang luar pada umumnya. Gaby memiliki bola mata biru dan rambut pirang, berbeda dengan Chandra yang memiliki bola mata hitam,kulit sawo matang dan berambut hitam,atau mungkin Gaby mendapatkan itu semua dari gen Ibunya. Entahlah, aku tidak terlalu tertarik dengan asal usul keluarga Gaby, hanya saja aku mulai merasa risih begitu Chandra tertangkap basah memperhatikanku dari jauh.