
Matahari baru saja menampakan dirinya, memancarkan sinarnya menembus cakrawala. Desiran angin berhembus menggoyangkan dedaunan dan menjatuhkan helai daun yang rapuh. Deru suara mesin mobil memecahkan keheningan.
Revan mengenakan setelan baju serba hitam, tak lupa ditambah kacamata hitam yang menutupi matanya yang mulai berkaca- kaca . Helaan nafas berat mengiringi langkah kakinya. Ia berjalan menyusuri hamparan luas tanah yang ditumbuhi rumput hijau, memanjakan sejauh mata memandang, sangat indah. Namun, tempat indah ini justru menjadi tempat dimana pemilik hatinya membawa sebagian hatinya, ikut terkubur dengan jasad sang kekasih.
Revan sengaja memilih tempat yang berada di dataran paling tinggi, dengan pohon pinus yang mengelilingi pusaran kekasihnya. Tak lupa kali ini ia membawa satu buket bunga mawar dan satu kotak berisi kue red velvet kesukaan sang kekasih.
"Hai.... " Sapa Revan, meletakan bunga mawar di atas pusaran kekasihnya.
"Selamat ulang tahun Alana." Revan tersenyum, membuka kotak mengeluarkan kue beserta lilin yang ia nyalakan.
"Kamu suka? Tiup sama- sama ya?" Memejamkan mata sejenak, kemudian meniup lilin.
"Kamu tau, sebenarnya ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu." Revan menghela,
"Tapi, dia sakit. Namanya Kanaya. Dia cantik sepertimu, dia berhati lembut sepertimu, tapi dia tidak punya sifat pemberontak seperti dirimu. Kanaya gadis penurut dan baik." Revan tersenyum getir.
Ia menunduk merogoh sesuatu dari kantong celana dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah maroon,berisi sepasang cincin emas putih.
"Kamu benar- benar pergi, aku bahkan perlu waktu lama untuk menyadari dan menerimanya." Revan menggenggam erat kedua cincin itu, kembali teringat serpihan- serpihan kenangan manis yang pernah ia lewati bersama Alana.
"Apa sekarang saatnya aku benar- benar harus melepasmu. Apa kamu kecewa jika aku melanjutkan hidup bersama Kanaya?" Tidak ada jawaban, hanya desiran angin yang semakin berhembus kencang.
"Aku harus bagaimana sekarang? Haruskah aku benar- benar menyakiti orang lain hanya untuk memuaskan rasa kecewaku? Alana, Tolong aku." Revan tak kuasa menahan sesak yang terasa menghimpit hatinya. Meski selama ini ia selalu berusaha terlihat baik- baik saja. Tapi, jauh di dasar hati nya ia justru sangat tersakiti. Bagaimana beratnya ia harus melewati hari-harinya begitu ia mengetahui orang yang amat dicintai harus meregang nyawa bahkan dalam keadaan tengah mengandung janin dari lelaki lain. Rasa cinta dan benci yang sama besarnya melebur menjadi satu dan merubahnya menjadi sebuah dendam yang mengerikan. Tanpa berfikir akibat yang akan dihadapi, justeru menyeret orang yang tidak bersalah bahkan kini ia terjebak dalam permainan yang ia buat sendiri.
Dering ponsel menyadarkannya, segera ia meraih ponsel dari dalam saku celana nya.
"Iya, ka "
"Kamu dimana?" Tanya Reno dari seberang sana.
" Sebentar lagi aku kesana."
" Kananya dimana?"
" Nanti dia kesana, diantar sopir .Aku ada urusan sebentar"
"Oke, jangan sampe telat". Sambungannya terputus.
Setelah mengucap pamit, Revan berbalik hendak menuju mobilnya berada, namun dari arah berlawanan tampak seseorang tengah mendekat ke arahnya , tersenyum melambaikan tangan.
"Rupanya kamu masih mengingat ulang tahun kakakku dan ini masih terlalu pagi untuk melihat seorang Dokter tampan menangis."
Revan buru- buru menyeka sisa- sisa air mata yang terlihat jelas di balik kacamata hitamnya. Mia tersenyum, duduk di sebelah batu nisan kakaknya.
"Hai Ka, selamat ulang tahun." Ucapnya,sebelah tangannya Mia mengelus lembut batu nisan seolah itu adalah Alana,kakak kandungnya.
"Kebetulan sekali bukan, aku kesini bareng si cowok cengeng yang belum move on." Sindir Mia dan langsung mendapat tatapan jengah dari Revan.
"Kamu datang?" Kini mereka duduk di kursi tak jauh dari area pemakaman.
"Tentu, aku tak mungkin melewatkan ulang tahun Alana" jawab Revan.
"Kamu masih mencintainya?" Mia menoleh, mengamati raut wajah lelaki yang hampir menjadi kakak iparnya.
"Aku gak tau." Revan masih memandang lurus kedepan, tidak menyadari jika lawan bicaranya tengah memperhatikannya dengan sangat lekat.
"Apa kamu juga mencintai Kananya?" Akhirnya, Revan balas menatap Mia, setelah mendengar nama Kanaya disebut.
"Awal nya tidak, tapi mungkin sekarang iya." Mia tersenyum tipis
"Apa?" Maksud kamu?"
"Bahkan dia kecelakaan dua hari lalu." Mata Mia semakin membulat.
"Apa aku harus meninggalkannya sekarang? Kamu tau, aku sudah terlalu jauh melibatkan Kanaya. Awalnya aku hanya ingin memanfaatkannya,tapi aku semakin terbawa perasaan begitu tau ternyata ia adalah perempuan baik yang sangat rapuh."
Mia tersenyum getir, "Aku rasa Alana akan senang mendengar ucapanmu, dia akan sedih jika tau kamu masih terus berlarut meratapi kepergiannya." Revan sekilas memandang sosok yang hampir serupa dengan kekasihnya dulu.
"Apa Kanaya tau, jika kamu dan Alana itu saudara kandung?" Mia menggeleng.
"Dia tidak tau apa- apa, dia juga tidak menyadari kita yang tengah mempermainkannya. Dia tidak tahu apapun, bahkan dia tak pernah menaruh rasa curiga sedikitpun pada orang lain." Jelas Mia sambil tersenyum getir mengingat bagaimana lugu nya sosok Kanaya.
"Berhenti sampai di sini dan tinggalkan Kanaya."
Revan mengerutkan dahinya, menatap penuh tanya ke arah Mia.
"Tolong hentikan semua ini, aku tak bisa terus menerus menyakitinya. Aku rasa Alex sudah cukup menderita kehilangan Orang yang amat dicintai. Bukankah itu sudah cukup?" Revan masih diam
"Apa kamu lupa jika semua ini tidak sepenuhnya kesalahan Alex, bahkan mereka melakukannya dengan dasar suka sama suka, tak ada paksaan dari siapapun. Kamu hanya mengambil keputusan dari sudut pandangmu saja. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan kakaku."
"Bukankah semua ini berawal dari idemu?" Tukas Revan, sisnis.
"Bukannya sejak awal kamu yang merencanakan semua ini, bahkan kamu bersedia menjebak Alex agar mau bertanggung jawab, sedangkan kamu tengah mengandung anak Rafael?" Mia tidak bisa lagi membantah,atau membela dirinya sendiri, karena kenyataannya memang seperti itu.
"Aku sangat mencintai Alana, bahkan aku hampir gila begitu aku kehilangannya. Tidak hanya kehilangan Alana aku juga kehilangan cintanya untukku. Tapi saat itu aku masih cukup waras, hingga kamu datang dan merencanakan semua kegilaan ini. Lalu sekarang kamu menyuruhku menjauhi Kananya?"Revan menjeda sejenak, menarik nafas sebelum dia mengeluarkan semua kegelisahannya.
"Alana memang masih menempati posisi terbesar di hatiku.Tapi, kehadiran Kanaya tak bisa aku abaikan begitu saja. Jika, aku harus meninggalkan Kanaya, maka aku tegaskan sekali lagi aku akan menolaknya!"
🚗🚗🚗🚗
Revan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, bahkan ia sangat tidak sabar untuk sekedar menunggu lampu lalu lintas berubah warna dari merah menjadi hijau. Revan panik begitu mendapat kabar jika Kanaya menolak dibawa ke apartmen miliknya. Sementara itu waktu menunjukan pukul enam sore, sedangkan acara pertunangan Reno akan dilangsungkan pukul tujuh. Ia berusaha secepat mungkin menuju apartemen Kanaya.
Beberapa kali ia menekan tombol yang ada di depan pintu, dan berkali- kali juga tak ada jawaban. Bahkan sudah puluhan kali ia berusaha menghubungi ponsel kanaya. Namun, tak ada respon. Revan semakin gelisah, hingga sura langkah dan ketukan benda tumpul mengalihkan perhatiannya. Seorang perempuan tengah berjalan menggunakan sebelah tongkat, berjalan tertatih menuju ke arahnya,menenteng plastik belanjaan di tangannya. Revan segera menghampirinya.
"Kamu dari mana? Kenapa ga langsung ke apartemenku?"
"Dari bawah." Jawab Kanaya dingin, bahkan ia berjalan melewati Revan,membuka pintu apartemennya.
"Aku sudah siap, ayo berangkat." Ucap Kanaya dengan wajah datar, tidak ada senyum manis seperti biasanya.
Revan sejenak mengamati penampilan Kanaya, tidak ada yang salah dengan pakaian yang dikenakannya, hanya saja dandanannya terlihat sangat sederhana untuk acara sepenting lamaran.
Kanaya hanya mengenakan blouse kuning kunyit ,dan sweater rajut putih,tidak ada riasan sedikitpun di wajahnya.
"Kenapa? Kamu malu aku ga cantik?" Merasa Revan terus mengamati penampilannya.
"Bukan begitu Nay," Revan menyadari perubahan sikap Kanaya. Revan tau Kanaya pasti marah karena dirinya yang ingkar janji untuk menjemputnya dan malah menyuruh supir untuk menggantikannya.
"Aku minta maaf, tadi ada urusan penting, jadi aku suruh pak sopir buat jemput kamu."
" Ayo.nanti telat." Kanaya tidak bereaksi apapun, dia hanya menyambar tas kecil yang sudah disiapkan di dekat kursi. Kanaya segera keluar ruangan, tanpa memperdulikan Revan yang menghela nafas lemah dan memijit- mijit pangkal hidungnya.
Tak ada yang bicara selama perjalanan. Kanaya sibuk dengan pikirannya ,masih terngiang jelas alasan Revan tidak bisa menjemputnya karena ada urusan penting dan ternyata urusan penting itu ulang tahun Alana?
Kanaya semakin menertawakan dirinya sendiri, bagaimana bisa selama ini ia beranggapan bahwa dirinya penting di mata Revan,sedangkan Revan sendiri tak pernah menganggap dirinya penting.
Tidak jauh berbeda dengan Kanaya,Revan pun masih tenggelam dengan pikirannya sendiri. Kata- kata Mia masih terngiang di kepalanya.
"Aku senang, akhirnya kamu mengakui untuk Kanaya. Dia gadis baik, sama persisi seperti Alana.Dan ya,, seperti dugaanku, orang seperti dirimu tidak sulit mencintai perempuan seperti Alana dan juga Kanaya. Aku berharap Kanaya bernasib lebih baik , tidak seperti kakak ku yang harus pergi dengan cara mengenaskan."
Mia menjeda kalimatnya dan menatap lekat manik bola mata Revan. " Kamu tau Rev, aku dan Nita sama. Sama- sama mencintai kamu. Tapi, tak pernah sekalipun kamu memberi kesempatan untuk kita. Yang pada akhirnya kita hanya terlihat seperti pemeran antagonis. Tanpa kalian tau bagaimana kerasnya aku berusaha agar bisa mendapat perhatianmu walau sedikit".