
Ternyata Revan masih menjadi orang yang paling berpengaruh besar di hidupku, sejak tiga tahun lalu hingga hari ini. Buktinya setelah pertemuan tidak sengaja tempo hari, hampir setiap hari aku semakin mengingatnya. Aku Pikir dengan melarikan diri hingga jauh ke pelosok Kalimantan bisa dengan mudah melupakannya, ternyata tidak. Perjuanganku selama tiga tahun sia-sia begitu saja, hanya karena pertemuan singkat yang tidak kurang dari tiga menit. Aku merutuki diri sendiri, bagaimana bisa aku selemah itu?
Menjadi sekretaris pribadi Chandra tidak semudah yang aku bayangkan. Selain pekerjaan yang begitu menguras tenaga, akupun harus berhadapan dengan istri Chandra, Juliet.
Juliet, wanita cantik berparas campuran Indo-Jerman seharusnya tidak perlu bersikap berlebihan hanya karena aku menjadi sekretaris suaminya. Selang tiga hari aku bekerja sebagai sekretaris pribadi Chandra, Juliet datang menghampir meja kerjaku. Tatapan Juliet sulit diartikan, dia seolah mewanti-wanti agar aku tidak bersikap keganjenan kepada suaminya.
Menurutku wajar saja seorang istri curiga kepada perempuan yang dekat dengan suaminya, hanya saja jika Juliet menuduhku atau mencurigaiku, tentu saja dia salah orang. Aku sama sekali tidak tertarik sedikitpun dengan suaminya, meski tidak dapat dipungkiri Chandra memang tampan.
Akhir pekan merupakan hari yang sangat aku nantikan, karena aku bisa berada di rumah bersama Elea seharian penuh. Hari ini aku berjanji akan membawanya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan terdekat, bersama Juna.
Kesibukanku menjadi dua kali lipat, karena Ibu pulang ke Bandung sejak semalam. Abang minta Ibu Pulang untuk sementara, karena anak Abang tiba-tiba sakit. Aku sempat menolak, tapi aku tau bukan hanya Elea yang menjadi cucunya. Dan akhirnya dengan berat hati aku mengizinkan Ibu pulang, meski aku tidak tahu pasti kapan dia bisa kembali pulang.
"Elea tunggu sebentar, Ibu mau ganti baju dulu ya." Aku menyuruh putriku menunggu, dia sudah siap dengan penampilannya, sedangkan aku masih memakai baju tidur, meski aku sudah sempat merias wajah sebelum Elea bangun.
Aku segera masuk ke dalam kamar, meninggalkan Elea yang masih asyik memainkan boneka barbie di ruang Tv. Tidak memerlukan waktu lama untuk mengganti pakaian, aku hanya mengenakan jeans biru dan kemeja putih, andalanku.
"Elea,,, ayo berangkat. Ayah Juna udah nunggu kita di bawah!" Aku mengambil sepatu di dekat pintu dapur, tapi Elea tidak kunjung menjawab panggilanku.
"Elea!" Belum ada jawaban, aku segera bergegas mencarinya di dekat ruang Tv.
"Elea!" Aku semakin kencang meneriaki namanya, tapi Elea tidak kunjung menjawab. Jantungku mulai bergemuruh kencang, begitu Elea tidak ada setiap sudut rumah. Aku semakin panik begitu melihat pintu keluar terbuka, aku tidak ingat kapan terakhir aku membuka pintu. Hanya saja melihat pintu terbuka aku semakin dilanda kepanikan. Dengan cepat aku segera menuju keluar, mencari keberadan Elea.
Setiap satu lantai terdiri dari empat unit, saling bersebrangan, dengan satu lorong memanjang. Aku bergegas mencari Elea, tubuhku mulai gemetar bahkan aku segera menghubungi Juna, memberitahunya jika Elea tidak ada di rumah. Juna menyuruhku tetap tenang, walaupun Elea keluar pasti ada pihak keamanan yang melihatnya. Juna mencari di sekitar lobi, sedangkan aku masih menyusuri lorong hingga aku mendengar suara tawa nyaring yang begitu aku kenali. Perlahan aku mendekat menuju tangga darurat dimana suara itu berasal.
Aku menghela nafas lega begitu aku melihat putiku tengah duduk bersila dan memegang seekor kucing berwarna abu-abu dengan seorang perempuan muda.
"Elea!"
Elea dan gadis itu sontak menoleh bersama.
"Ibu!" Elea bangkit dari duduknya dan langsung menghampiriku.
"Kenapa Elea keluar rumah gak bilang Ibu?! Elea tau Ibu panik cari Elea kemana-mana!" Aku tidak menyadari jika suaraku cukup keras, seperti membentaknya hingga membuat putriku menundukan kepalanya.
"Elea minta maaf, Bu." Suaranya pelan,hampir menangis.
"Maaf, Ibu gak bermaksud begitu. Ibu cuman khawatir, Elea keluar rumah gak pamit." Aku segera merengkuh tubuh mungil putriku. Hampir saja aku memarahinya di depan orang lain.
"Tadi anak Ibu keluar dari pintu, ngejar kucing saya yang kabur."
"Benar begitu, Elea?" Tanyaku dan Elea mengangguk,
"Kucingnya lucu," Elea melepas pelukanku, kembali menghampiri gadis si pemilik kucing.
"Ibu lihat, dia gak punya mata. Tapi dia baik." Elea memeluk kucing itu dengan erat.
"Ah,, kita belum berkenalan. Kenalkan saya Camelia, penghuni unit didepan." Gadis bernama Camelia itu mengulurkan tangannya.
"Kanaya," balasku.
"Kita tetanggaan, unit kita berhadapan."
"Iya, salam kenal. Aku penghuni baru di sini, belum hafal siapa tetanggaku sendiri."
"Elea sangat suka Jupi, bahkan mereka berdua langsung akrab. Padahal jupi sangat sensitif dengan orang yang baru dikenalnya."
"Oya,,, hampir saja aku menghubungi keamanan, karena putriku menghilang. Taunya malah main kucing." Aku mengelus pucuk kepala Elea yang masih menggendong kucing bernama Jupi.
"Mel,, Camelia? Kamu dimana?" Terdengar suara laki-laki memanggil nama Camelia.
"Iya,,, aku disini. Di dekat tangga darurat."
Tidak lama, seorang lelaki menghampiri.
"Ngapain disitu? Ayo, kita bisa telat. Oh,,, ini siapa?" Tanya lelaki itu, begitu dia menyadari tidak hanya Camelia yang berada di situ.
"Ini tetangga depan kita. Kenalin ini Mbak Kanaya,"
"Febian," lelaki itu memperkenalkan diri.
"Kanaya," balasku.
"Kalau begitu saya pamit duluan, Mbak."
"Iya,, Elea Aunty Mel mau bawa Jupi pulang." Elea memasang wajah tidak rela, bahkan ia masih erat memegang Jupo dalam pangkuannya.
"Nanti lain waktu, Elea main lagi bareng Jupi. Tapi sekarang Jupi harus pulang."
"Boleh ,Bu?"
"Tentu," akhirnya Elea menyerahkan Jupi, setelah aku dan Camelia berjanji memperbolehkannya main dengan kucing gembul itu, lain waktu.
Setelah Camelia pergi bersama Febian, aku pun segera menuju lobi menemui Juna.
"Kamu dari mana sayang? Ayah sampai cek cctv keamanan cari kamu." Juna segera memeluk Elea, begitu mereka bertemu di lobi.
"Elea ketemu Jupi, Ayah,,,"
"Jupi? Siapa?"
"Kucing tetangga depan," jawabku. "Ayo kita berangkat sekarang, nanti keburu sore." Ajakku.
Sementara Elea bermain, aku dan Juna duduk di sebuah restoran, tak jauh dari arena tempat bermain Elea.
"Bagaimana tempat kerja kamu yang baru?" Tanya Juna.
"Baik, sejauh ini lancar. Hanya saja aku merasa tidak begitu mahir menjadi sekretaris," balasku.
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Nggak ada. Hanya saja aku tidak memiliki pengalaman, jadi masih bingung,"
"Hanya itu?"
Juna tetaplah Juna, si tukang selidik yang pasti langsung bisa mendeteksi reaksi kebohonganku.
Aku menghela, "istrinya cemburuan."
Gelak tawa Juna terdengar nyaring begitu aku menceritakan alasan sebenarnya, membuatku menatapnya, kesal.
"Ada yang lucu?"
"Nggak," jawabnya tanpa dosa.
"Lalu?"
"Kanaya,,, ternyata memiliki seorang anak tidak menjamin seseorang bisa lebih peka atau dewasa." Ledeknya, membuatku semakin kesal, karena Juna masih terkekeh menertawakanku.
"Kamu harus tau, kamu itu ancaman para istri-istri di luar sana!"
"Kenapa begitu?" Tanyaku heran.
"Ya Tuhan, Kanaya! Ya karena kamu cantik. Apa kamu tidak menyadari selama ini, kamu itu cantik?"
"Nggak," aku menggeleng.
"Kamu cantik, bahkan aku dan Revan hampir gila karena kecantikan kamu." Aku tersentak begitu Juna menyebut nama Revan.
"Jika aku udah gak cantik, berarti kalian gak akan suka aku lagi?"
"Kamu cantik, wajah dan juga hati kamu. Jadi walaupun kamu tua, kamu akan tetap cantik, karena hati kamu."
Juna sering memujiku, tapi tidak satupun pujiannya yang mampu membuatku merasa berdebar, bahkan aku tidak merasa tersanjung dengan pujian Juna, hanya saja jika secara terang-terangan dia mengatakannya, aku merasa tersentuh, sedikit.
"Ayo kita ajak Elea makan, dari tadi dia belum makan apapun." Ajak Juna.
Aku dan Juna menghampiri tempat bermain Elea, namun mataku seakan loncat dari tempatnya begitu aku melihat Elea tengah berbicara dengan dua orang dewasa. Juna pun tidak kalah terkejutnya denganku, bahkan begitu dia melihat pemandangan itu, dia segera meraih jemariku, menggenggamnya dan berjalan cepat menuju Elea.
"Elea!" Panggil Juna.
Elea segera menoleh, "Ibu,,, ada om Dokter!" Elea berlari menghampiriku.
"Oh iya,,," aku berusaha bersikap seperti biasa, meski aku semakin erat mencengkram tautan tanganku dan Juna,menyembunyikan debaran hatiku yang kian kencang.
"Hai,,, Rev. Apa kabar, lama gak ketemu."
"Baik," balas Revan dingin, tak kalah dinginnya dengan tatapannya yang seperti pedang tajam, siap menembus ke jantungku.
"Hai,,,Nita. Apa kabar?" Tanya Juna, pada sosok perempuan yang tidak kalah kuatnya menggandeng lengan Revan, seolah dia ingin menegaskan jika Revan hanya miliknya. Ada rasa asing yang mencengkram kuat hatiku, begitu melihat mereka bergandengan.
"Baik, kamu sendiri apa kabar?"
"Baik, iya kan sayang?" Juna menoleh ke arahku. Seakan terhipnotis aku justru tersenyum dan mengangguk. Meski detik berikutnya aku sangat menyesali kebohonganku.
"Sayang,,, ayo kita makan dulu. Nanti main lagi." Juna meraih Elea, menggendong dengan satu tangan karena satu tangannya masih erat menggenggam tanganku.
"Elea, se bye-bye sama om Revan," Pinta Juna.
"Bye Om Dokter, Elea mau makan dulu ya?" Elea melambaikan tangannya kepada Revan dan Nita, yang hanya di balas lambaian tangan Revan, sedangkan Nita seperti patung, hanya berdiri kaku.
Aku dan Juna segera berbalik meninggalkan mereka berdua,
"Tunggu!" Seru Revan, membuat aku dan Juna berhenti.
"Iya? Ada apa lagi?"
"Aku mau bertanya pada Elea."
"Silahkan."
Revan beralih menatap Elea, tatapan tajamnya berubah hangat begitu matanya bertemu dengan mata Elea.
"Elea waktu itu pernah bilang, kalau Ayah Elea seorang Dokter. Siapa nama Ayah Elea."
"Ayah Juna." Jawab Elea cepat.