Because Alana

Because Alana
eps 1 Kanaya



Aku Kanaya Larissa, orang bisa memanggilku Naya atau Risa.


Satu minggu terakhir ini adalah masa- masa sulit di hidupku. Bagaimana tidak, sahabat terbaik yang aku miliki dengan teganya mengkhianatiku, dia menikah dengan lelaki yang hanya tiga minggu menyandang setatus mantan pacarku.


Biar aku cerita sedikit bagaimana semua ini berawal. Semua di awali ketika hubunganku dengan Alexander yang sudah ku jalani hampir dua tahun terakhir. Awalnya semula berjalan baik- baik saja, hingga dua bulan terakhir sikap Alex mulai berubah.


Alex yang biasa nya perhatian, berubah cuek, dingin, bahkan Alex yang pendiam berubah menjadi sosok lelaki yang mudah sekali marah bahkan hanya untuk hal sepele.


Lamia, atau Mia. Dia sahabat baikku semenjak kita masih berseragam putih abu- abu, hingga saat ini kita bekerja di satu kantor yang sama. Mia lebih dari sekedar teman untuku, dimana ada Mia disitu ada Naya.


Mia tau persis semua tentang kehidupanku, termasuk hubunganku dan Alex. Mia menjadi tempatku berkeluh kesah, termasuk perubahan sikap Alex akhir- akhir ini. Seringkali Mia memarahi Alex jika sikapnya sudah mulai berlebihan, bahkan Mia tak segan- segan menegur Alex jika sikapnya sudah mulai berlebihan.


Di saat sikap Alex mulai berubah dan seringnya aku yang terus berkeluh kesah. Akhirnya, Mia memberi saran, mungkin lebih baik untuk sementara aku dan Alex "break."


Aku memang merasa hubunganku dan Alex semakin merenggang, bahkan hampir setiap hari bertengkar, akhirnya aku menyetujui saran Mia.


Aku kira Alex pasti menolak, ternyata dugaanku salah. Alex justru menyetujui hubungan kita 'break' untuk sementara waktu.


Hampir dua minggu berlalu dan aku menyesali keputusanku. Ternyata berpisah dengan Alex bukan pilihan yang tepat meski bukan putus sesungguhnya, kita hanya memberi waktu satu sama lain agar bisa lebih tenang dalam mengambil keputusan selanjutnya.


Sejauh ini aku di rundung rasa galau yang bekepanjangan, bagaimanapun juga aku terlanjur mencintainya dan dua tahun bersama bukanlah waktu sebentar.


Akhir- akhir ini aku mulai menyadari sikap Mia pun ikut berubah, Mia masih mendengarkan semua keluh kesahku yang mulai menyesal dan merindukan Alex. Hanya saja, Mia tak seantusias biasanya, setiap aku bercerita panjang lebar ia hanya akan berkata, "sabar, nanti juga dapet gantinya yang lebih baik." Hanya itu yang selalu ia ucapkan.


Berbeda dari biasanya, dia akan menghiburku mengajak jalan ataupun belanja bersama,tapi akhir- akhir ini dia sulit di ajak bertemu, bahkan setiap pesan yang aku kirim tak satupun yang ia balas dan hanya beralasan lupa. Dia terlihat menghindar.


Ada yang aneh, bahkan Mia sempat beberapa hari absen masuk kantor, setiap kali aku mencari tau dia hanya akan beralasan jika dia kurang sehat.


Hingga rasa penasaranku terjawab di minggu ketiga setelah aku dan Alex berpisah.


Seperti biasa setiap pagi aku berangkat ke kantor, jarak dari tempatku tinggal dan kantor cukup jauh, jadi aku sering berangkat lebih awal, menghindari kemacetan jalanan. dan akan sarapan di kantin di sekitaran kantor.


Selesai sarapan dengan beberapa karyawan yang lain, aku memasuki ruangan kerja. Tapi, ada apa dengan tatapan semua orang yang menatapku aneh, bahkan sesekali ada yang mengelus pundaku, tersenyum getir seperti tengah mengasihaniku.


Aku yang tak menyadari apapun hanya bersikap biasa, hingga aku sampai di meja kerja, aku melihat satu kertas undangan berwarna abu- abu pink, bertengger manis di depan meja komputer.


perlahan kubuka dan terlihat dua nama yang begitu familiar


LAMIA & ALEXANDER LOIS


Tanganku bergetar, bahkan berkali- kali aku salah membuka plastik pembungkus. Aku mencoba meyakinkan diri jika nama yang tertulis di undangan itu bukan Mia dan Alex yang aku kenal.


Berharap itu hanya orang berbeda dengan nama yang kebetulan sama. Hingga undangan terbuka sepenuhnya, menampilkan sederet nama- nama yang sangat aku kenali dan aku menyadari jika itu Mia dan Alex yang aku kenal, sahabat sekaligus mantan pacarku.


Jantungku berpacu dua kali lipat, pandanganku mulai kabur dan badanku bergetar hebat. Aku meraih apapun yang bisa kupegang, menahan tubuhku yang terasa lemas.


jadi ini alasan Mia menghindariku? dan ini alasan sikap Alex tiba- tiba berubah? hebat sekali mereka.


Aku tertawa, menertawakan diriku yang terlalu bodoh, hingga tak menyadari jika mereka menjalin hubungan di belakangku. Ini terlalu lucu untuk disebut sebagai drama murahan.


Dadaku sakit, aku tak bisa merasakan apapun lagi, tubuhku mati rasa, hanya hatiku yang terasa perih dan sesak.


Setelah menerima undangan, berkali- kali aku mencoba menghubungi Alex ataupun Mia. Berharap ada yang memberi penjelasan .


Aku seperti pengemis, memohon bahkan aku menunggu lama dilobi kantor tempat Alex bekerja. Setelah hampir satu jam akhirnya Alex muncul dan aku segera menghampirinya.


plakkk


Satu tamparan melayang dengan keras mendarat diwajahnya, kutampar wajah Alex untuk meluapkan emosi yang sejak pagi aku tahan.


"Sejak kapan?!" Tanyaku, meski suaraku tercekat di tenggorokan, aku berusaha mencari tau .


Alex menarik lenganku menuju basement tempat mobilnya berada.


"Masuk!" Ucapnya dingin.


Aku menghempaskan cekalan lengan Alex,


"Kenpa? kenapa kamu lakuin ini?" Kesabaranku sudah habis, aku berteriak di iringi airmata yang mendesak dari pelupuk mata, tak bisa lagi aku tahan.


"Kenpa?!" Aku memukul- mukul dada Alex,


"Kalian keterlaluan,,, apa salahku?!" Alex masih diam , bahkan dia membiarkanku meluapkan semua amarah dan kecewa. Hingga,tubuhku di tarik kedalam pelukannya, aku berontak tapi Alex semakin mengeratkan pelukannya.


"Kamu boleh benci, marah dan pukul aku sesukamu... aku minta maaf." Ucapnya terdengar lirih di telingaku,


"Aku yang salah,,, aku benar- benar minta maaf. Tapi aku harus menikahi Mia."


Aku melepas pelukan Alex, menatap tajam ke arahnya, "Menikahlah, jika itu bisa membuatmu bahagia, tapi jangan pernah muncul lagi di hadapnku!" Aku segera berbalik meninggalkan Alex.


"Nay,, tunggu!" Alex meraih tanganku, tapi aku buru- buru menepis.


"Jangan mendekat, atau aku akan membencimu seumur hidupku!"


Segera mungkin aku menyetop taksi dan bergegas pulang, mengabaikan tatapan aneh orang- orang yang melihatku. Aku menangis sejadi- jadinya di apartmen, menumpahakan segala sakit dan kecewa secara bersamaan.


Apapun alasan di balik pernikahan mereka tetap saja mereka salah, tak ada penghianatan yang di benarkan.


kulihat layar ponsel ada satu pesan yang menarik perhatianku dan itu dari Mia


"Aku minta maaf."


Hanya itu yang mampu dia ucapkan dari berjuta alasannya, yang dengan sengaja menghianatiku? mungkin selama ini aku terlalu lengah, tidak menyadari jika sebenarnya orang terdekatlah yang lebih berbahaya daripada orang di luar sana.


Aku menganggap Mia lebih dari sekedar teman, bahkan aku menganggapnya seperti keluarga, tapi, justru dia yang paling berperan membuat hatiku benar- benar hancur.