
Terkadang seringkali kita terlalu mendengarkan pendapat dan penilaian orang lain, yang sebenarnya belum tentu baik.
Sama halnya seperti diriku yang terlalu memperdulikan penilaian orang lain. Sehingga kini aku berada di sini, di tempat yang seharusnya aku hindari.
Aku menyesap orange juice, berusaha untuk bersikap tenang. Meski sebenarnya hatiku terasa sesak, udara terasa semakin mencekik di tenggorokan. Seharusnya dari awal aku tau jika datang ke tempat ini bukan pilihan tepat. Aku bahkan harus selalu tersenyum seperti badut carnaval, di wajibkan selalu tersenyum meski aku tak ingin.
Dari sekian banyak tamu undangan hadir, sebagian dari mereka ada yang mengenaliku sebagai mantan kekasih Alex, bisa di pastikan mereka amat penasaran dengan kehadiranku dan menunggu hal menarik yang akan terjadi. Bahkan beberapa orang yang aku kenali mencoba menghibur dan berkata, "Sabar ya Nay, kamu pasti dapet yang jauh lebih baik dari Alex, mungkin dia bukan jodoh kamu."
ck,, anak SD pun thau jika mereka hanya basa- basi.
Banyak dari mereka menunggu adegan paling dramatis, yaitu ketika aku menyalami memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai. Aku yakin mereka pasti sudah mempersiapkan ponsel masing- masing, bersiap merekam setiap detil pertunjukanku dan dengan senang hati akan memposting di akun media sosial masing- masing. Desas- desus tentang seorang wanita menghadiri pernikahan mantan kekasihnya yang tertuju padaku semakin terasa. Membuat telingaku terasa semakin panas.
"Mau pulang?" Ajak Rani, menatapku prihatin. Dan perlu di garis bawahi dialah orang di balik semua ini, yang dengan ngototnya memaksaku datang.
"Iya," jawabku.
"Salaman dulu sama pengantinnya yu, ucapin semoga bahagia," Laksmi menimpali, tatapannya mencemooh melihatku.
Seketika aku balik menatapnya tajam, dia hanya tersenyum jahil membuatku ingin sekali menjambak rambutnya atau *** mulut sialannya itu. Dia tidak tau jika aku tengah menahan amarah dan kecewa dalam waktu bersamaan, tapi dia dengan sengaja mentertawakan diriku.
oh baiklah... semoga karma tidak lupa jika ada perempuan bernama Laksmi yang ingin bernasib sama sepertiku.
Aku rasa wajar saja jika aku malas mendoakan mereka bahagia, apalagi cepat mendapat momongan.Siapapun pasti akan sama seperti diriku, jika kekasihnya menikah dengan sahabatnya sendri.
Banyak hal yang terjadi antara aku dan Alex, bahkan pernah suatu hari kita membahas rencana-rencana untuk masa depan bersama. Seperti memiliki rumah impian dan anak- anak yang lucu. Tapi, tepat hari ini Alex justru mengingkari semua janjinya.
Aku masih mencintainya hingga hari Ini, hubunganku dengannya sudah naik satu level beranjak lebih serius, bahkan kedua keluarga sama-sama sepakat jika dua bulan lagi akan di langsungkan lamaran dan akan menikah di awal tahun depan. Tapi semua itu hanyalah omong kosong belaka.
Berpisah dengan Alex merupakan patah hati terburuk dalam hidupku, mendengarkan saran Mia merupakan hal terbodoh yang sangat aku sesali. Jika saja aku tidak mempercayainya, mungkin saat ini aku masih bersama Alex
Aku sempat bertemu dengan tante Maria, ibu Alex. berkali- kali ia meminta maaf,bahkan ia hampir menangis melihat kedatanganku. Meski ingin sekali aku berkata jika putra kesayangannya itu sangat kurang ajar, meninggalkanku tanpa alasan dan dengan teganya menikahi sahabatku. Tapi, aku tau jika itu bukanlah kesalahan tante Maria, sebisa mungkin aku berusaha menjaga sikap dan juga aku tak ingin hubunganku dengan keluarga Alex memburuk. Meski mereka batal menjadi orang tuaku.
" sampai kapanpun kamu tetap jadi anak tante, Nay. Anak kesayangan tante dan om." Ucapan tante Maria sedikit mengobati hatiku. Setidaknya sampai saat ini perempuan cantik dan berhati lembut itu masih tetap menyayangiku.
Berbeda dengan keluarga Alex. keluarga Mia justru terlihat sebaliknya. Bahkan sikap hangat tante Lara yang biasanya ramah, kini berubah dingin. Bahkan dengan jelas mereka memperlihatkan ketidak nyamananya dengan kehadiranku.
Ketika orang- orang mulai mengantri menyalami kedua mempelai pengantin, aku justru memilih berdiri di antara meja - meja di barisan paling depan. Aku tau mereka menyadari kehadiranku. Bahkan Alex sempat melihat ke arahku sekilas, kemudian menolak bertatapan lebih lama, segera ia membuang muka, menyibukan dirinya dengan menerima ucapan selamat. Berbanding terbalik dengan Mia, dia justru terlihat menghindari tatapanku.
Sesekali mereka mempertontonkan kemesraan, saling memandang, bahkan beberpa kali Alex mencium gemas bibir Mia. Membuat desiran perih semakin terasa di hatiku.
"Nay," Rani menyentuh lenganku, "Jangan nangis," Lanjutnya.
"Hah? nangis? siapa? aku? ngga lah!" Tapi sebenarnya aku sendiri yang merasakan ada aliran hangat mengalir dari kedua mataku.
Menupah kan semuanya di sini. Di salah satu bilik. Menangis meluapkan rasa sakit yang terasa seperti merambat *** hatiku sejak tadi. Bahkan sesak yang kian mencekik seperti pasokan oksigen di bumi ini habis, membuatku memukul-mukul dadaku berulang kali.
Aku harus segera pergi dari tempat terkutuk ini.
Aku berusaha mengikhlaskan semuanya. Tapi, ini terlalu cepat. Semuanya di ambil paksa secara tiba-tiba, bahkan aku tidak di beri kesempatan hanya untuk sekedar mendengar alasan mereka menghianatiku. Aku tidak siap kehilangan dua hal yang begitu berarti di hidupku, kekasih dan sahabat sekaligus. Seharusnya aku yang menjadi pengantin wanita, menjadi wanita paling cantik malam ini dan berdiri di samping Alex bukan Mia.
Dengan kasar kuseka airmata yang masih saja mengalir meski aku berusaha menghentikannya. Aku mencoba memperbaiki riasanku, bisa di pastikan wajahku berantakan, karena make up yang aku kenakan luntur akibat air mata, membuatku semakin terlihat menyedihkan.
Selesai merapikan kekacauan di wajahku, aku bergegas keluar dari bilik. Namun kembali kurasakan nyeri di bagia perut dan panas yang mulai menjalar hingga pinggul. Aku baru sadar, hari ini aku melupakan obat yang harus aku minum dan sial nya justru tertinggal di Apartemen. Sesuatu terasa hangat mulai mengalir di antara sela-sela kedua kaki, cairan merah pekat mulai merambat turun, terlihat jelas dari balik dress selutut yang aku kenakan. Aku semakin panik, ini pertanda buruk. Aku harus segera pulang.
Baru aku membuka pintu, terlihat Rani menungguku di balik pintu, tatapannya berubah cemas
"Nay, lo kenapa?" Rani mendekat, meraih pundak ku. Namun tubuhku terlanjur lemas, tenagaku hilang bahkan pandanganku mulai aneh, Rani terlihat banyak, bahkan semakin banyak.
apa yang yang terjadi denganku?
Tidak lucu bukan, jika esok hari aku menjadi trending gosip satu kantor, "Kanaya patah hati samapai pingsan di toilet!" oh tidak, itu sangat mengerikan!
Aku mencoba tetap fokus, menjaga kesadaranku. Tapi, penglihatanku semakin gelap, bahkan suara Rani terasa semakin menjauh.
Indra pendengaran menjadi satu- satunya yang masih berfungsi, meski samar-samar. Di saat tubuh dan mataku mulai melemah, sayup - sayup terdengar suara lelaki, yang terus menerus mengguncang tubuhku. Wajahnya tidak terlalu jelas, penglihatanku mulai kabur, perlahan gelap muali menguasai ku sepenuhnya. bahkan tak lagi kudengar suara, semua menghitam dan sunyi.
_________
Revan keluar dari salah satu ruangan tak jauh dari tempat berlangsungnya pernikahan Alex dan Mia. Ia tengah bertemu dengan salah satu teman nya di salah satu restoran yang berada di hotel ternama jakarta. Setelah selesai ia masuk ke toilet ,namun baru satu langkah memasuki toilet pria, terdengar kegaduhan di toilet wanita. Awalnya ia fikir itu hanya sekedar keributan biasa. perempuan senang bergosip di manapun mereka berada. Tapi begitu salah satu OB keluar dengan raut wajah panik barulah Revan memberanikan diri masuk ke area terlarang bagi kaum laki- laki itu.
Revan terkejut begitu mendapati seorang perempuan tergeletak di lantai, dan bersimbah darah yang mengalir dari balik dress yang gadis itu kenakan. Sebagai seorang dokter, ia segera mendekat mengecek kondisi gadis tersebut.
"Kamu siapa?" Tanya salah satu perempuan, Revan bisa tebak, itu adalah teman si gadis yang pingsan.
"Ga usah hawatir, saya Dokter."
"Tolong dia, "
Revan memeriksa kondisi gadis itu, dan begitu di lihat dari jarak dekat, ia menyadari jika gadis ini salah satu pasien yang kemarin datang ke Rumasakit, gadis ini bernama Kanaya. Revan pun mengerti kenapa gadis ini bisa sampai tidak sadarkan diri, dengan darah yang mengalir dari sela - sela pahanya.
"Kita harus segera membawa nya ke Rumasakit." Ujar Revan.
tak berselang lama ambulance datang, membawa Kanaya dan juga Rani, di susul oleh Revan menggunakan mobil berbeda.