Because Alana

Because Alana
episode 33



TIGA TAHUN KEMUDIAN


Aku tersenyum melihat mahluk kecil menggemaskan, menggeliat di sampingku. Perlahan matanya terbuka,menatapku sekilas dan tersenyum. Lengan kecilnya memeluk lenganku,kemudian kembali terlelap. 


Aku suka sekali melihatnya tertidur. Bulu mata lentik,pipi putih tembem dan juga bibir kecilnya yang merah. Dimataku dia ciptaan tuhan yang paling cantik. Hari ini tepat pukul dua belas malam, putri kecilku Azalea Eleanor, genap berusia tiga tahun, tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku harus merasakan bagaimana sakitnya perutku di robek ketika melahirkannya, kini Elea tumbuh menjadi gadis kecil yang lucu dan pintar. 


Ku elus rambut pirangnya, menyelipkannya ke belakang telinga. Bahagia dan terharu melihatnya bisa menjadi gadis periang yang mampu menghilangkan rasa lelah setelah seharian bekerja. Meski terkadang Elea sering membuatku gemas,karena tidak mau diam. Tapi hanya dia satu-satunya alasanku hidup saat ini. Bayangkan jika hari itu Elea tidak mampu bertahan dan memilih meninggalkanku, akan jadi seperti apa hidupku ini. Jika mengingat hari itu, aku merasa sangat bersalah sekaligus takut.


Saat ini aku tinggal di Kalimantan, tepatnya hijrah sekitar tiga tahun lalu. Di sini aku tinggal bersama paman, adik kandung almarhum Ayah. Selama tinggal di sini, aku dan juga Ibu memilih menyewa rumah sederhana tak jauh dari tempatku bekerja. Setelah keluar dari kantor lamaku di Jakarta, sulit sekali mencari pekerjaan baru di pedesaan seperti ini. Hanya ada percetakan kecil yang mau menerimaku bekerja.


Selama aku bekerja, Elea aku titipkan bersama Ibu. Terkadang aku pulang larut malam karena harus lembur, tapi untungnya sabtu dan minggu libur. Gajiku tidak seberapa dibandingkan waktu bekerja di Jakarta, tapi kehidupan di pedesaan tidak  semahal di Ibu kota, jadi aku dan Ibu bisa hemat dalam membagi uang. Kehidupanku dan juga Ibu tak lepas dari campur tangan Abang, meski sekarang dia sudah memiliki seorang istri dan seorang putra yang masih berusia satu tahun, Abang tetap memberi biaya untukku dan juga Ibu setiap bulan. Meski berulang kali aku menolak, tapi Abang akan berulang kali memaksa.


Bersyukur Abang Ramzi kini memiliki keluarga, seorang istri yang cantik yang sabar dan penuh pengertian. Abang tidak lagi se possessive dulu, dia jauh lebih mendengarkanku daripada mengatur seperti dulu. Mungkin karena kini aku menjadi seorang Ibu, dia tau apa yang harus aku lakukan dan tidak.


Pintu kamar perlahan terbuka, menampilkan sosok malaikat tak bersayap yang langsung tersenyum hangat melihatku.


"Belum tidur?"


"Belum,Bu." Ibu mendekat, duduk di pinggiran tempat tidur persis sebelahku.


"Elea baik hari ini,Bu?"


"Dia selalu baik. Dia gadis yang baik, persis seperti kamu waktu kecil,Nay." Aku tersenyum mendengar ucapan Ibu.


"Sudah jam dua belas. Selamat ulang tahun kesayangan Nenek. Azalea Eleanor, doa terbaik untukmu sayang." Ibu mencondongkan tubuhnya, mencium kening dan pipi Elea. 


Tanpa sadar air mataku jatuh, melihat pemandangan membahagiakan sekaligus mengharukan. 


"Dia sudah besar ya,Bu?" Tanyaku sambil mengusap perlahan lelehan air mata dari pipiku.


"Iya," mataku masih lekat menatap Elea tidur, hingga tanganku digenggam Ibu, aku pun menoleh.


"Elea sudah besar. Dia berhak tahu siapa Ayahnya."


"Elea hanya butuh aku,Ibu dan juga Abang."


"Nay, berdamailah dengan hatimu. Meski dia menyakitimu begitu dalam, tetap saja dia adalah Ayah biologis dari Elea."


"Aku tau."


"Meskipun sampai hari ini Elea tidak pernah bertanya di mana Ayahnya, tapi kamu harus tau jauh di hati kecilnya dia juga ingin seperti teman-temannya yang lain." 


"Elea bahkan punya dua Ayah,Bu."


"Itu berbeda." 


"Lalu aku harus bagaimana? Jika aku tiba-tiba datang menemuinya dan membawa Elea, apa dia akan percaya? Lalu setelah itu apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku sudah menyerah,Bu. Terlalu dalam dia melukaiku, aku belum bisa menerimanya." 


"Ibu tau. Ibu tidak akan memaksa, hanya saja coba sekali saja pikirkan bagaimana perasaan Elea, dia tidak pernah bertemu ataupun merasakan kehadiran sosok Ayah. Sudah malam sebaiknya kamu istirahat." Ibu mengelus rambutku, dan beranjak keluar.


Mensejajarkan tidurku dan memeluk tubuh kecilnya.


"Elea mau ketemu Ayah?" Tanyaku lagi, yang hanya dijawab helan nafas Elea.


"Ibu takut kalau Elea ketemu Ayah, dia bakal ambil Elea dari Ibu. Elea tau Ibu cuman punya Elea di dunia ini, Ibu gak punya apapun lag." Aku semakin mengeratkan pelukanku, mengecup berulang-ulang kening Elea. 


Rasa takut kini kembali hadir. Aku tau suatu hari Elea pasti bertanya dimana Ayahnya, tapi aku tidak akan rela jika suatu hari dia mengambil Eleaku. 


Semakin berusaha untuk melupakan, semakin kuat pula bayangan itu hadir. Semua yang ada di diri Elea seperti fotocopy dari Ayahnya. Wajahnya,hidung,mata,alis bahkan bibirnya sama persis. Membuatku semakin sulit melupakannya. Kejadian tiga tahun lalu bagaikan kaset kusut, berputar-putar di kepalaku, bahkan awal-awal aku pindah kesini,aku masih sering bolak-balik ke Rumah Sakit karena pendarahan yang diakibatkan stress berlebih. Hingga akhirnya Elea harus lahir di usia kandunganku yang baru menginjak tujuh bulan. 


Elea lahir prematur, dengan berat hanya 1,8 kilogram. Dan harus berada di ruang niccu selama tiga minggu. 


Pagi ini, aku sengaja meliburkan diri mengingat hari ini adalah hari ulang tahun Elea. Aku akan mengajaknya jalan-jalan. Karena perjalanan ke kota menuju taman hiburan cukup jauh, aku dan Ibu harus pagi-pagi sekali bersiap, membawa beberapa keperluan yang dibutuhkan Elea. Sedangkan Elea masih terlelap di kamar, aku terlebih dulu membersihkan diri. Tiba-tiba ponsel berdering.


"Hallo." 


"Selamat ulang tahun putri kesayangan Ayah. Maaf semalam ga sempat ngucapin, ada operasi mendadak." 


"Terimakasih Ayah..,.."Balasku dengan suara dibuat-buat seperti Elea, meskipun pasti terdengar menggelikan.


"Mau kemana hari ini?"


"Mau ajak Elea ke taman hiburan." Jawabku masih memegang telepon sambil memilih-milih baju yang akan aku kenakan.


"Sama siapa?"


"Sama Ibu."


"Bang Ramzi belum sampai?"


"Belum, katanya nanti malam baru sampai sini."


"Aku baru bisa ke situ besok. Gak apa-apa kan?"


"Iya." 


Sambungan terputus setelah beberapa saat, karena Elea sudah terbangun.


"Ibu,,," ucapnya, sambil mengucek-ngucek kedua matanya.


"Iya, sayang. Hari ini kita mau ke taman hiburan, Elea mandi dulu ya?" Elea mengangguk. Aku menggendongnya dan membawa ke kamar mandi.


Elea begitu antusias begitu sampai di taman hiburan. Meski tak sebesar dan selengkap di Ibu kota, tapi cukup membuat Elea tak henti-hentinya tersenyum. Bahkan aku sampai kewalahan mengejarnya, karena terus berlari.


Kebahagian kecil yang sangat berarti untuk Elea, mungkin jika saja aku tidak ceroboh kini Elea bisa hidup bahagia dengan keluarga utuh. Hatiku sakit, membiarkan gadis kecilku hidup dalam keadaan serba pas-pasan seperti ini. Bahkan dia harus tumbuh tanpa kehadiran seorang Ayah. Lelaki yang seharusnya menjadi pelindung dan penjaganya,kini entah dimana keberadaannya. Mungkin saja dia sudah bahagia dengan perempuan lain, dan memiliki anak. Karena setelah kejadian itu,aku benar-benar memutus segala hal yang berhubungan dengannya. Aku Mengubur semuanya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.