
Hidup seorang diri di sebuah apartemen yang terbilang lumayan, tidak terlalu besar dan kecil,sudah aku jalani tiga tahun belakangan ini. Awalnya ibu ataupun Abang masih sering bergantian menemaniku. Tapi, semakin sering Abang pergi keluar kota dan Ibu yang sibuk dengan usaha kecil kecilannya, jadilah aku Lebih sering yang ke Bandung, dibandingkan mereka yang datang kesini.
Di hari minggu seperti ini, biasanya aku hanya akan menghabiskan waktu dengan tidur,makan dan tidur lagi sampai kepalaku terasa pusing. Aku jarang pergi pergi seperti teman kantorku yang lain. Karena menurutku minggu adalah waktu yang memberikan waktu untuk tubuhku yang lelah, setelah enam hari bekerja.
Aku Masih berada di balik selimut, samar samar terdengar suara bel berbunyi,aku berharap itu hanya mimpi. Lagipula siapa yang mau bertamu di j delapan,sepagian ini. Tapi semakin lama suaranya semakin terdengar jelas bahkan ritme nya semakin sering.
"Aish..." Dengan malas akhirnya aku membuka pintu. Begitu pintu terbuka nampak dua orang yang begitu familiar tengah berdiri di depan pintu.
"Dek Kanaya, selamat pagi!" Sapa Bu Ria.
"Selamat pagi juga,Bu.ada apa ya?"
"Begini,,, kita mau ajak Dek Naya, untuk ikut berpartisipasi di acara santunan dana yang diselenggarakan group mawar, dari komplek tempat tinggal kita ini
"Dek Naya sudah menerima brosur nya kan kemarin?" Tanya bu Hanif
Bu Ria dan Bu Hanif, merupakan ketua dari kumpulan penghuni apartemen gedung satu yang aku tinggali saat ini yang diberi nama grup mawar.
"Ah iya, saya sudah baca brosur nya, dan ini saya mau siap siap." Jujur saja aku belum membaca brosur yang diberikan Pak Sodik, Security depan.
"Kalau begitu kita tunggu Dek Naya di bawah."
"Iya,Bu."
Kedua Ibu itu pergi terlebih dulu, sedangkan aku kembali masuk kedalam rumah untuk membersihkan diri.
Salah satu alasan mengapa aku diperbolehkan tinggal sendiri di tempat ini yaitu karena, di tempat ini hampir sebagian besar penghuni nya adalah ibu rumah tangga dan mereka sangat aktif untuk kegiatan kegiatan sosial,contohnya seperti yang akan mereka adakan hari ini. Abang memang sengaja memilih tempat ini untuk menjadi tempat tinggalku, setelah mengecek dan memastikan segala jenis keamanan dan juga lingkungannya,padahal lokasi tempat tinggalku ini lumayan jauh dari kantor tempatku bekerja. Setiap kali aku berencana pindah ke tempat yang lebih dekat dengan kantor, Abang akan dengan tegas menolak dan akan Langsung beralasan,
"Di sini lebih aman, di sini kamu ga akan di goda sama tetangga tetangga rese. Karena isi nya bapak bapak yang takut sama istrinya!" Memang seperti dugaan Abang,setiap kali aku berangkat ataupun pulang kantor, jarang sekali aku melihat kaum bapak bapak. Yang lebih sering aku lihat si ibu yang tengah mengobrol di Iobi, di dekat kolam renang, bahkan di dekat tempat pembuangan sampah sekalipun, mereka akan selalu mengobrol.
Tinggal di lingkungan seperti ini tentunya ada ada baiknya dan juga ada tidak baiknya.
Baiknya, hampir setiap hari mereka akan memberi berbagai makanan secara bergilir dari orang yang berbeda beda, dari mulai pisang goreng hingga rendang daging bahkan aku sempat diberi oleh-oleh ikan laut sebesar tampah.
Tinggal di sini membuatku semakin menjadi malas,karena tidak perlu repot-repot memasak,hanya tinggal menunggu mereka mengetuk pintu,mengantar makanan.
Untuk hal tidak baiknya, mereka sangat amat kepo, bahkan mereka bisa berubah menjadi seorang detektif yang akan menyelidiki apapun yang menurut mereka itu menarik. Bahkan mereka berbondong bondong mengintrogasiku perihal pernikahan Mia dan Alex yang entah dari mana mereka
Aku bergegas turun setelah selesai membersihkan diri, acara yang diselenggarakan kali ini bukan di ballroom seperti biasa, melainkan di ruangan outdoor dekat lapangan tenis yang menjadi perbatasan antara tower satu dan tower dua.
Aku segera mendekat, menghampiri kerumunan orang orang yang sudah Lebih dulu berkumpul.
"Acara apa ya bu?"
"Ada demo masak, chef nya ganteng." Dengan sumringah si Ibu Menjelaskan. Ibu-ibu selalu lebih antusias kalau menyangkut masalah lelaki tampan, tak heran mereka begitu bersemangat bahkan sudah berkumpul satu jam sebelum acara dimulai.
Aku merangsak mendekat ke arah depan, nampak ada dua lelaki yang tengah berdiri di depan sebuah meja yang sudah tertata rapi penuh dengan berbagai jenis bahan bahan masakan. Salah satu dari mereka mengenakan apron yang aku yakini itu pasti chef yang ibu tadi maksud,dan yang satu nya membawa mic, pasti itu pembawa acaranya.Tapi tunggu, rasa rasanya aku pernah melihat lelaki yang mengenakan apron hitam itu,tapi dimana?
Aku masih berusaha mengingat lelaki jangkung di depan sana, sampai pembawa acara menginstruksikan acara segera dimulai.
"BaikLah,tanpa berlama lama mari kita mulai acara untuk hari ini, kita sudah menyiapkan ada lima meja beserta bahan bahan. Satu tim terdiri dari tiga orang, dan semua hasil dari acara hari ini akan di sumbangkan untuk pengobatan anak anak yang kurang beruntung. Tanpa berlama lama mari kita mulai!"
Suara sorak ibu-ibu menggema dan nyaring. Sementara yang mengikuti kompetisi mulai mencari partnernya masing-masing,aku hanya diam memperhatikan,aku memang tidak berniat untuk mengikuti, aku Lebih tertarik hanya menjadi penonton saja.
Tanpa sadar tanganku ditarik seseorang, begitu aku menoleh, "Dek naya satu group sama saya dan Bu Hanif ya?" Bu Ria mencengkram erat tanganku,seolah tahu jika aku bisa saja langsung pergi melarikan diri.
.
"Bu Ria saya ga bisa masak!" Aku berusaha berontak, namun, belum sempat aku melarikan diri, Bu Ria sudah terlebih dulu memasangkan apron berwarna pink bunga bunga padaku,dia benar-benar tidak akan membiarkanku pergi.
Aku memang tidak bisa memasak, jadi aku hanya akan mengambil alih bagian mengupas bawang dan sayur, untuk bagian masak memasak biarkan dua Ibu itu yang mengurus. Karena acara kali ini diadakan di luar ruangan,matahari begitu terik membuat acara terasa begitu menyiksa. Bahkan keringat sudah membanjiri tubuhku.
"Panas banget ya? Nih,,aku bawa air dingin." Aku menoleh dan mendapati seseorang lelaki,tangannya terulur memberikan sebotol minuman isotonik dingin ke arahku. Aku menatap botol isotonik dan wajahnya bergantian. Kembali aku mencoba mengingat wajah familiarnya,tapi aku tak ingat namanya.
"Juna, teman nya Revan. Lupa?"
" Ahhh iya, aku lupa,maaf.Aku memang sangat pelupa, padahal baru beberapa hari yang lalu bertemu."
"Gak apa-apa. Lagipula kita baru satu kali bertemu, wajar aja kamu gak inget siapa aku. Ni buat kamu. Harus banyak minum kalau cuaca panas." Juna tersenyum,kembali memberikan minuman dinginnya. Tidak ada alasan untuk menolak, aku menerima botol isotonik, membuka dan meminum nya hingga tinggal separuh.
"Kamu tinggal di sini?"
"Iya,”
" Kebetulan kita tetanggaan"
" Oh Ya?"
Juna mengangguk, "Aku tinggal di tower dua." Juna menunjuk gedung apartemen yang bersebelahan dengan tempat tinggalku.
"Kapan kapan mampir ke Dream cafe yang ada di dekat lobby tower dua," lanjutnya.
"Kamu kerja di sana?" Tanyaku.
"Iya,nanti aku traktir, green tea latte di sana enak banget."
"Oya. Aku suka green tea latte, kapan-kapan aku mampir."
Sekilas berbincang dengan Juna,tak lama acara kembali dimulai. Acara berlangsung cukup lama, bahkan baru selesai hingga pukul tiga sore.Aku pikir acara akan berlangsung membosankan, ternyata justru sebaliknya. Di balik wajahnya yang tampan, Juna juga pandai membuat suasana menjadi Lebih menarik,dia bisa membuat ibu-ibu begitu betah berlama lama bahkan melupakan cuaca yang terik, yang bisa membakar kulit bahkan melunturkan make up mereka.
Aku kembali ke rumah dengan membawa semangkuk sup iga hasil karya Bu Ria, Bu Hanif dan tentu juga diriku. Selama acara berlangsung aku meninggalkan ponselku di kamar, dan begitu aku buka sudah banyak sekali pesan dan panggilan masuk. Aku tersenyum menatap Layar ponsel sembari membuka satu persatu pesan , dan semuanya dari Revan.
Tak berselang lama Layar ponsel kembali menyala ada panggilan masuk.
"Iya,,,"
"Ya tuhan kanaya, kamu kemana aja, dari tadi ga angkat ataupun bales pesanku". Suaranya terdengar kesal, tapi justru seperti tengah merajuk, dan itu lucu. Membuatku tersenyum mendengarnya.
"Ada acara di bawah,hp nya aku tinggal di kamar."
"Kenapa ga di bawa hape nya?"
"Lupa."
"Kamu tahu, aku sampai membatalkan rapat mingguan,nungguin kamu bales dan angkat telepon. Dari tadi susah banget dihubungi. Lain kali bawa hp kemanapun kamu pergi dan segera balas pesan atau jawab panggilan teleponku." Aku tersenyum mendengar ocehannya, aku menyukai Revan seperti ini.
"Iya,,, besok-besok aku bawa hp kemanapun aku pergi. Sekarang aku mau mandi dulu."
Baru satu langkah menuju kamar mandi, terdengar bell rumah berbunyi, aku segera bergegas membuka pintu, menampilkan sosok lelaki yang baru saja berbicara denganku, bahkan panggilannya saja belum terputus.
"Revan?!"
"Aku buru-buru kesini, begitu kamu susah dihubungi." Bahkan ponselku dan juga Revan masih sama-sama menempel di telinga masing-masing.
"Kamu tuh ya,,, bikin orang khawatir tau gak!" Lanjutnya,mencubit hidungku.
Revan masuk kedalam rumah, sedangkan aku masih bingung memperhatikannya. Bahkan dia masih mengenakan snelli dan juga name tag yang masih menggantung di lehernya.
Oh Tuhan, aku atau dia yang sudah gila sekarang?