Because Alana

Because Alana
episode 14



 Untuk pertama kalinya Revan masuk ke dalam apartemenku. Matanya menelisik, melihat ke segala penjuru, memperhatikan setiap sudut ruangan. Untungnya kemarin aku sempat membersihkan beberapa barang yang berhamburan di atas kursi  ataupun di lantai. Jadi tidak terlalu mirip seperti kandang ayam.


Terakhir kali ia menginjakan kaki nya di apartemenku yaitu, ketika dia menjemput dan mengantarku dari Bandung. Tapi, hanya sebatas sampai depan pintu. 


"Rumahnya berantakan." Ucapku sembari membawa sup iga hasil karyaku dan Ibu-Ibu tadi siang,lengkap dengan dua piring nasi. 


“Aku nggak masak, cuman punya ini." Aku meletakan nampan berisi sup dan nasi di atas meja makan. Satu mangkuk aku letakan di depan Revan.


"Kamu yang masak?" 


"Iya, bareng ibu ibu tadi."


Revan menyendok sup yang tadi sempat aku panaskan terlebih dulu.


"Enak." Ucapnya. Membuatku tersenyum dan ikut duduk di kursi meja makan.


"Setelah ini mau kemana?" Tanya Revan lagi.


"Gak kemana-mana,paling di rumah aja. Kamu?"


"Gimana kalau kita pergi nonton. Kebetulan jam kerjaku sudah selesai. Mau?" Ajaknya,


"Boleh." Tentu saja aku mau. Berkencan di hari libur,nonton dan jalan-jalan adalah kesukaanku. Bahkan dulu aku sering meminta Alex mengajakku kencan di akhir pekan seperti ini. 


Selesai membersihkan perabotan,aku bergegas membersihkan diri. Mencari pakaian yang pas untuk acara kencanku dengan Revan dan pilihanku akhir nya jatuh pada dress peach selutut,dengan hiasan bunga bunga kecil di sekitaran pinggang. Aku tidak begitu pandai merias wajah, biasanya aku hanya menggunakan bedak dan lipstik saja,tapi kali ini aku ingin tampil sedikit lebih cantik dari biasanya. Sedikit ilmu berdandan yang aku tau dari Sarah dan kawan-kawannya aku praktekan hari ini,biasanya aku hanya menggunakan lip tint atau lipstik warna nude,kali ini aku memakai warna sedikit lebih terang. 


Sebelum keluar kamar aku menyempatkan diri melihat pantulan diriku di cermin,aku rasa tidak terlalu berlebihan hanya untuk sekedar menonton,semoga saja Revan tidak terkejut dengan penampilan ku kali ini. 


Begitu aku keluar kamar,aku mendapati Revan tengah berbicara dengan seseorang Lewat telepon. Revan langsung memutus panggilan begitu menyadari kehadiranku.  


"Ada apa?" Raut wajah nya seperti tengah memikirkan sesuatu.


 "Ada masalah? Tanyaku lagi. 


"Aku minta maaf, kayaknya ga bisa pergi nonton. Ada kerjaan mendadak." Revan nampak ragu-ragu mengatakannya.


Aku meraih jarinya, "Gak apa apa. Kita bisa pergi lain waktu."


"Tapi kamu,,,udah cantik kaya gini." Revan memperhatikan penampilanku dengan matanya naik turun dari bawah hingga ke atas. 


"Gak apa-apa. Aku bisa ganti baju lagi." Revan masih lekat memandangku, jarinya mengelus pipiku dan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. 


"Aku beneran gak apa-apa,Rev. Lain kali aja kita nonton nya." Aku mencoba meyakinkan. 


"Aku minta maaf. Aku janji lain kali kita pasti pergi nonton." Aku mengangguk, tersenyum mengiyakan. Meski sebenarnya hatiku kesal, tapi aku tidak ingin menjadi pasangan egois. Mungkin saja tenaganya sedang dibutuhkan untuk menolong seseorang yang sedang kesakitan.


"Jangan sedih."Ucapnya,kembali mengelus rambutku dan sekilas mengecup keningku. 


"Iya,,, aku gak sedih ko." Kulebarkan senyumku agar dia semakin yakin.


Aku terdiam di dekat pintu setelah kepergian Revan, memperhatikan punggung nya yang perlahan menghilang di balik pintu lift. 


Aku menghela nafas, kuhempaskan tubuhku di atas sofa, melempar tas selempang yang tadi sudah melingkar cantik di pundakku. Jujur aku kecewa,padahal aku sudah berusaha berhias secantik mungkin, tapi justru berakhir gagal.


Kulihat Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, perutku terasa perih dan baru aku ingat terakhir kali aku mengisi perutku ketika, aku makan bersama Revan dan itu jam tiga sore. Pantas saja cacing cacing di perut mulai berdemo meminta jatah.


 Kulihat isi kulkas yang hanya ada air mineral,susu dan sereal, tapi itu tidak akan bisa membuatku kenyang. Aku membutuhkan makanan yang Lebih berat dari itu. Suasana hati buruk butuh asupan makanan yang lebih berat. Dengan malas aku mengganti pakaian dengan yang lebih santai, tidak mungkin aku mengenakan dress hanya untuk sekedar membeli makanan di dekat gedung apartemen. Aku memakai jaket hoodie pink untuk melapisi kaos tipis yang aku kenakan dan memakai celana bahan panjang.


 Banyak penjual makanan di sekitaran gedung apartemen, tapi terlalu malam untuk berkeliaran sendiri,akhirnya aku memilih minimarket sejuta umat yang terletak di basement, di dekat parkiran di Lantai bawah. Sesampainya di sana aku memilih beberapa makanan instan,minuman soda dan cemilan. Setelah dirasa cukup aku membawanya ke kasir. 


"Sekalian ya?" Seseorang dari belakangku, menaruh sekaleng kopi dingin di atas keranjang belanjaanku. Begitu aku menoleh,


"Aku gak bawa uang, boleh ya?" Ucapnya sembari tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.


"Juna! Kamu kayak hantu suka muncul tiba tiba.” 


"Kamu aja yang ga denger aku panggil dari tadi." Juna semakin terkekeh. 


"Tolong bayarin ya, nanti aku ganti uangnya." Pintanya. 


Kini aku dan Juna tengah duduk di kursi yang disediakan,di depan minimarket.


 "Kopi kamu." Aku menyodorkan kopi miliknya, yang tadi masuk kedalam kantong plastik belanjaanku.


"Makasih ya,nanti aku ganti." Juna meraih kaleng kopi dan membuka nya. 


"Anggap aja bayar yang tadi siang." 


"Sepertinya kamu habis dari luar atau mungkin baru mau pergi?" Tanyaku ketika aku menyadari penampilan juna yang lebih rapi.


"Tadi habis ketemu teman teman sebentar, terus balik duluan." 


"Kenapa?" 


"Bosen. Kamu sendiri, ngapain malem malem di sini?" 


"Laper, jadi cari ini." jawabku sambil mengangkat kantong belanjaan. 


"Jangan sering-sering memakan makanan instan seperti itu, gak bagus buat kesehatan. Kalau kamu lapar,kamu bisa minta tolong aku buatkan makanan."


"Aku tidak punya uang buat bayar Chef, mahal." Juna tertawa dan aku pun ikut tertawa.menyenangkan punya tetangga seperti Juna.


___ Tiga jam sebelumnya ___


Di sudut bar yang berada di salah satu mall besar di jakarta, nampak empat orang lelaki tengah duduk sembari menikmati minumannya. 


"Susah banget ngajak kalian kumpul," ucap salah seorang dari mereka. 


"Yup, ada yang sibuk sama pisau bedah, ada juga yang sibuk sama wajan dan pisau dapur. Cuman gue sama Angga aja yang gak sibuk apa-apa dan sering nongkrong kesini." Balas seorang lelaki lain yang mengenakan kemeja merah maroon.


“Bay the way, gimana? Ada perkembangan apa Lagi nih Rev? Sudah sejauh mana aksi Io deketin tu cewe?" Ucap seorang yang bernama Gerry, si pemuda berkemeja maroon.


"Udah sukses bawa ke ranjang?" Angga ikut menggoda,dengan senyum jahilnya. Sedangkan yang mendapat pertanyan hanya berdecak,menenggak minuman nya dalam sekali teguk dan mengusap bibir nya dengan punggung tangan. 


" Sejauh ini berjalan sesuai rencana," balasnya. 


"Tu cewe polos banget ya, sampe ga sadar kalau si Revan tu asli nya brengsek." 


" Bukan polos tapi bego. Gue pernah Liat dia sekali, cantik juga pantesan si bego Alex cinta mati ama tu cewe."


" Ga bakalan ada yang bisa menolak Dokter tampan macam Revan,Ger. Lo inget Nita aja nyampe rela di tidurin cumacuma, padahal si Nita galak cem ayam bertelur."  Balas angga,kemudian mereka tertawa. Hanya satu orang yang sedari tadi diam,raut wajahnya datar tampak tidak begitu menikmati, berbeda dengan ketiga temannya.


" Apa Io ga ngerasa ini keterlaluan, Rev?" Akhirnya dia bersuara, setelah sedari tadi dia hanya menyimak pembicara ketiga temannya. 


"Apa lo ga ngerasa disini yang paling di rugiin itu kanaya? Padahal yang jadi masalah Io itu cuman si Alex."Lanjutnya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Revan dan kedua temannya.


" Lo ngomong apa,Jun. Semua sudah sepakat sama rencana ini. Termasuk gue,Gery,Revan bahkan lo juga." Ucap Angga.


"Lo tau gimana brengseknya Alex, kenapa sekarang lo malah berubah pikiran?"Selidik Gerry, merasa jika teman nya itu berubah. 


"Lo tau Rev, benci dan cinta itu beda nya tipis, bahkan bisa tanpa lo sadari, Lo Bisa terjebak permainan lo sendiri."


" Lo ga perlu khawatir, karena gue jamin itu ga akan terjadi, mending sekarang Lo pikirin gimana cara nya lo kejar si Nita, gue bosen tiap hari dia udah kayak pengemis, ngejar ngejar gue." Balas Revan sambil menepuk pundak Juna. 


Dari arah pintu nampak seorang perempuan berjalan menghampiri ke arah empat Lelaki itu berada. 


"Sory gue telat,nunggu Iaki gue pergi dulu." Tanpa basa basi dia langsung bergabung, memilih tempat duduk yang masih kosong di sebelah Revan.


"Laki Lo so sibuk." Goda Angga. 


"Laki gue beneran sibuk, Io saja yang pengangguran."


"Wah... Wah... Udah mulai di belain nih." Gerry tak mau kalah, ia pun ikut menggoda dengan senyum jahilnya. 


"Dia baik," Ucapnya sembari meraih gelas berisi cairan kuning yang ada di depannya. Tapi, belum gelas itu menyentuh bibirnya, satu tangan terlebih dulu menahan.


"Minuman ini ga bagus buat janin lo." Perempuan itu berdecak. 


“Iya pak Dokter gue tau, tapi gue ga peduli, lo tau ni janin bikin gue susah. Tiap pagi gue muntah-muntah, gak bisa makan apapun. Kalau bukan karena rencana ini, udah gue singkirin ni jabang bayi." Dia kembali meraih gelas berisi cairan kuning tadi, tidak menghiraukan larangan Revan justru meminumnya hingga tandas.


"Dia belum tau Io hamil?" 


"Siapa? Si bodoh Kanaya?Dia ga bakalan tau, lagian gue belum mau dia tau. Nanti aja gue kasih dia kejutan biar seru." 


Mereka melanjutkan pembicaraan hingga Juna memilih pergi terlebih dulu, tak berselang lama Revan menyusul.


"Gue harap lo gak bikin rencana kita berantakan dengan alasan kasihan atau apapun itu." Ucap Revan, begitu berhasil mengejar Juna dan bertemu di parkiran. 


"Kenapa,takut?" 


Revan mendengus, "Sejak kapan gue takut. Lo belum lupa kan bagaimana mudahnya gue dapetin Nita. Sedangkan lo harus berjuang mati-matian?" Ejek Revan.


"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi untuk kali ini, gue pasti turun tangan kalau lo mulai bertindak terlalu jauh." Belum sempat Revan membalas, Juna terlebih dulu masuk ke dalam mobil dan melajukan nya  dengan kencang.