
Cukup lama aku dan Juna berjalan mencari bahan makanan di pasar tradisional . Ya,, hari ini aku menemani Juna pergi, sesuai hutangku tempo hari.
Aku berangkat dari pagi sekali, bahkan belum selesai aku bersiapsiap Juna terlebih dulu menungguku di Iobi. Hubungan kami menjadi Iebih akrab akhir akhir ini, meski aku tau dengan terang terangan Revane menunjukan sikap tidak suka jika aku berdekatan dengan Juna. Tapi, Juna sungguh teman yang sangat menyenangkan, dia pandai membawa pembicaraan, bahkan dia pandai bergurau walaupun sedikit garing. Hanya saja hari ini mood ku kembali dalam mode kurang baik. Setelah pertemuan tak sengaja tadi pagi.
Tiga jam sebelumnya,,,
”Kanaya!" Suara seseorang memanggil namaku, Langsung menghentikan langkahku dan Juna.
" Nay, mau kemana?"
" Hai.. Ran,gue mau ke pasar tradisional, ngapain disini?" Rani tiba-tiba muncul di sekitar gedung apartemen dengan seorang perempuan cantik,hampir seumuran dengannya. Tatapan Rani seperti tengah menangkap basah pasangan selingkuh,matanya memicing penuh curiga,bergantian menatapku dan Juna.
"Juna ? Beneran kamu Arjuna Zendrato?" Perempuan yang berdiri di sebelah Rani,menatap Juna, rautnya nampak tengah mengingat-ngingat sesuatu.
"Arabella?"
”Iya, masih inget gue? Apa kabar Juna." Mereka saling merangkul satu sama Iain, setelah yakin jika memang ternyata mereka saling mengenal, aku dan Rani justru kebingungan melihat kedua orang itu saling bercengkrama seolah tidak bertemu cukup lama.
”Siapa nih?" Tanya bela begitu menyadari keberadaanku.
"Kenalin ini Kanaya temanku." Juna memperkenalkanku.
"Teman apa pacar?" Bela memicingkan matanya , seolah mencari kebenaran di raut wajah Juna.
"Dia teman satu kantorku juga." Rani menimpali.
"Oya,,, sempit banget ya dunia ini. Kenalin aku Arabella." Bela mengulurkan tangannya, aku pun menerima uluran tangannya.
"Kanaya." Balasku.
"Kamu pacarnya ,Juna?" Bella mengulang pertanyaannya,masih penasaran apakah aku pacar Juna atau bukan.
"Teman, dia pacar nya Revan." Jawab Juna. Mata Bella melebar, seolah ucapan juna satu kalimat yang mampu membuat menguras seluruh isi ATMnya.
”Serius,ko bisa?! Beneran udah move on dari Alana?" Bela bereaksi berlebihan, seolah itu adalah hal yang paling mustahil di dunia ini.
Juna hanya mengangguk mengiyakan, kini tatapan Bella beralih padaku. SuLit untuk aku jelaskan bagaimana tatapan Bella,,ia seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya, mungkin menurutnya tidak mungkin wanita sepertiku bisa menjadi pacar dari seorang Revan Rahadian. Aku terlalu biasa untuk menjadi pasangan lelaki sepopuler dan setampan Revan atau mungkin dia merasa kasihan padaku karena nyatanya aku tidak secantik Alana,entahlah.
Obrolan singkat yang hanya dinikmati Juna dan Bella,mereka membahas apapun tentang kejadian masa Lalu mereka . Sesekali Bela membahas tentang Alana, entah dia ingin membuat hatiku dongkol atau hanya sekedar ingin menguji kesabaranku, karena sedari tadi ia terus memuji dan memuji Alana.
Alana baik, Alana cantik dan Alana yang lainnya, aku merasa Bella seperti tengah membandingkanku dengan Alana. Sampai hari ini aku tidak pernah bertemu ataupun melihat sosok Alana secara langsung, hanya saja setiap orang terdekat Revan selalu saja membahas perempuan bernama Alana di depanku. Seolah aku memang benar-benar tidak pantas untuk menjadi kekasih Revan.
"Nay..... Kanayaaaaaaaaaaaa." Aku terlonjak ketika suara Juna membuyarkan Lamunanku.
"Ngelamun ? Dari tadi aku ajak ngomong, taunya kamu malah bengong."
"Mmm? nggak ko."
Juna berdecak, " Bohonggg," Ucapnya sembari menjentikan telunjuknya di keningku.
"Awww sakit," pekikku.
Kini aku duduk di sebuah warung yang ada di sekitaran pasar tradisional, memesan nasi rames dan es teh manis. Menurut Juna ini tempat terenak di sekitaran sini.
"Kalau ada yang mau ditanyakan langsung aja,Nay.Ga usah lirik-Lirik gitu dari tadi."
" Ha? " Aku tertangkap basah,Juna menggeser duduknya menghadap ke arahku.
"Muka kamu kelihatan banget kebingungan dari tadi, kenapa? Mmm?"
"Siapa Alana?".
Juna terdiam sesaat, " kamu mau tau?"
Aku mengangguk.
"Dia mantan tunangan Revan dua tahun lalu."
"Terus?"
"Ga ada terusannya, mereka putus. Alana kecelakaan dan meninggal," Juna menggantung kalimatnya, aku masih terdiam berharap Juna mau melanjutkan ceritanya.
" Ga ada lagi yang aku tau, jika pun aku tau itu bukan urusanku untuk menceritakannya padamu, kamu harus cari tau sendiri." juna menepuk pundakku.
"Apapun yang akan kamu denger nanti, entah dari Revan atau pun dari orang lain, kamu harus tau, aku selalu ada buat kamu."
"Kenapa?"
"Kenapa jalan nya lama banget?" Juna berjalan sangat lambat , membuatku kesal.
"Sengaja biar bisa jalan barengan, siapa suruh jalan nya di belakang." Aku mendekat, mengimbangi Langkah kaki Juna.
"Kamu bilang sama Revan, hari ini kita pergi?"
"Nggak, dia lagi di luar kota. Kenapa?"
"Berapa lama?"
"Bilang nya besok pulang."
"Wahh berarti yang di depan itu, kembaran Revan dong ya, atau mungkin Revan majuin tanggaL balik nya karena udah kangen kamu?"
Aku kira Juna hanya bercanda, karena setahuku Revan memang pergi ke luar Kota dari kemarin sore. Juna menghentikan langkahnya membuatku ikut berhenti juga,Begitu aku menoleh ke arah tatapan mata Juna, aku melihat seorang Lelaki tengah berdiri tegak, melipat kedua tangannya, dan menatap tajam ke arahku.
" Revan !" Aku memekik terkejut.
Dengan langkah tergesa ia berjalan ke arahku. Semua terjadi begitu cepat ketika tangan Revan menarik tanganku.
"Hei... Sabar bro." Sebelah tanganku ditarik Juna dan sebelah lagi di tarik Revan.
"Ayo pulang!" Ucap Revan penuh penegasan. Ia menarik lenganku semakin kuat, sial nya Juna malah tak kunjung melepas cengkramannya. Yang berakhir dengan tarik menarik bak drama drama di televisi.
"Astaga! kenapa kalian?!" Aku berusaha melepas kedua tanganku,dari kedua Lelaki yang saling bertatapan penuh emosi.
"Lepasin Kanaya! Tadi dia kesini bareng gue,jadi balik juga harus bareng gue."
Revan berdecak, "Dia cewe gue!"
Kalimatnya penuh penegasan,seolah aku memang hak paten miliknya. Dan dengan satu kali hentakan, Revan menarik paksa tanganku hingga cengkraman Juna terlepas.
Revan menarik lenganku, atau lebih tepat nya menyeretku, hingga masuk kedalam mobil miliknya.Genggaman tangannya semakin kuat, bahkan tulang rahangnya juga ikut mengeras.
" Rev?" Aku semakin ketakutan begitu melihat sikap Revan seperti ini. Revan menarik paksa hingga aku terseok-seok mengimbangi langkah kakinya yang lebih lebar daripada langkah kakiku. Revan membawaku ke mobil hitam miliknya di ujung jalan, membuka pintu dan memaksaku masuk ke dalam mobilnya.
Bisa kulihat Juna masih menatapku dari kejauhan. Satu tangan Revan mencengkram kuat stir, satu tangannya masih erat mencengkram tanganku. Kilatan emosi terlihat jelas dari raut wajahnya, aku tidak pernah melihatnya semarah ini.
"Sebenarnya kamu kenapa?" Akhirnya aku bertanya, karena Revan masih bungkam hingga mobil melaju meninggalkan pasar tradisional.
"Sudah berapa kali aku bilang, jangan terlalu dekat dengan Juna, apa kamu ga dengar! Apa sulit buat kamu untuk menjauhi juna?!" Revan setengah berteriak, auranya yang tenang kini menghilang, terganti dengan aura menyeramkan. Bahkan bisa aku pastikan bekas cengkramannya akan berbekas di lenganku.
" Maaf," aku tak mampu hanya untuk sekedar berkata lantang, ku tundukan wajahku memegangi pergelangan tanganku yang terasa sakit. Setetes air mataku lolos, entah apa yang membuatku ingin sekali menangis, entah karena sikap Revan yang menurutku terlalu berlebihan,atau mungkin suasana hatiku sungguh buruk semenjak pertemuanku dan Bell, pagi tadi.
”Astaga kanaya!"
Revan terkejut begitu melihatku menangis, ia menepikan mobil di bahu jalan ,membuka seat belt. Satu tangannya mengangkat daguku,sorot matanya berubah, aku tak bisa melihat dengan jelas,pandanganku kabur oleh air mata yang berlomba keluar dari mataku.
"Aku menyakitimu? Maaf." Revan mengusap air mata di pipiku, menarikku kedalam pelukannya. Aku semakin terisak di pelukannya. Aku benar benar menumpahkan kesal dan Rindu dalam satu tangisan.
"Aku hanya tidak suka kamu terlalu dekat dengan Juna. Bagaimanapun Juna laki-laki normal, bisa saja dia juga menyukaimu dan merebutmu dariku." Revan menangkup kedua pipiku, sorot matanya seakan menyiratkan rasa khawatir dan takut.
"Aku hanya berteman, tidak lebih."
"Aku tau. Dan tidak ada yang benar-benar berteman antara perempuan dan laki-laki. Tolong jangan buat aku khawatir." Aku hanya bisa mengangguk. Revan kembali memasangkan safe beltnya padaku, dan kembali melajukan mobil hingga sampai ke apartemenku.
"Kamu cemburu?" Hati Hati aku bertanya. Kini aku dan Revan duduk di sofa. Kepala yang kubiarkan bersandar di dadanya, satu tangan Revan mengelus punggungku.
"Aku pernah kehilangan seseorang,"jawabnya.
"Apa itu Alana?" Revan Langsung menatapku, begitu aku menyebut nama Alana.
"Apa Juna yang bercerita?" Aku menggeleng, menarik lengan Revan dan menunjukan sebuah tato kecil di pergelangan tangan nya.
"Di sini juga ada." Ku tunjuk dadanya dari luar kemeja yang ia kenakan tepat di tato dengan nama yang sama.
"Aku pernah mencintai seseorang, dulu. Aku berpisah dengannya karena kesalahanku yang terlalu lengah, hingga tanpa kusadari dia mendapatkan perhatian yang ia butuhkan dari Lelaki lain, dan aku tak ingin itu terulang lagi."
"Rev?"
"Janji, jangan jauh-jauh dari aku." Aku mendongkak, tatapan kita bertemu. Wajahku dan wajahnya hanya berjarak beberapa senti.
"Tetap di sisiku apapun yang terjadi, jika kamu keberatan dengan tulisan ini, aku bisa menghapus nya, atau menggantinya dengan namamu." Aku melihat ketulusan di mata Revan, jemarinya membelai Lembut kulit wajahku. Sentuhan itu seperti pelengkap keseriusan ucapannya.
"Tidak perlu, aku selalu percaya padamu." Aku menjulurkan jemariku menyusuri tulang rahangnya, menarik wajahnya .hingga bisa kurasakan bibirnya menyentuh bibirku.
Aku mencintainya.