
Suasana kantor setiap senin pagi memang terasa jauh berbeda, wajah wajah ceria Lebih banyak terlihat. Tapi, itu hanya akan bertahan sampai hari rabu, setelah nya wajah mereka akan kembali di tekuk, kusam dan berharap jumat segera datang.
"Selamat pagi Kanayaaa." Si pemilik suara nyaring, Sarah menghampiri meja kerjaku.
"Pagi juga,Sarah."
"Lo ternyata tinggal di apartemen Twin tower,ya?" Tiba Tiba Rani muncul dari balik punggung Sarah.
"Lo tau dari mana?" Tanya Sarah.
"Sodara gue satu unit sama dia,malah tetanggaan. Kemaren gue kesana."
"Siapa sodara lo?" Tanyaku.
"Tante Hanif. Lo,pasti kenal kan. Secara dia ketua geng di sana." Sungguh sangat sempit dunia ini, bagai mana bisa aku di kelilingi dengan orang yang saling berhubungan.
"Tante gue bilang kemarin minggu ada acara baksos gitu, acara masak masak, iya kan?" Aku hanya mengangguk mengiyakan, bahkan tanpa repot repot Rani menceritakan setiap detil acara minggu kemarin ,yang pastinya dia tau dari tante nya,Bu Hanif.
"Kalian tau, bintang tamu di acara tante gue itu Chef, ganteng banget." Rani begitu antusias jika sudah berurusan dengan lelaki tampan, sama seperti tantenya,Bu Hanif. Mereka tidak jauh berbeda.
"Masa sih,Nay?" Selidik Laksmi yang entah sejak kapan ia ikut nimbrung.
“Gue kenal sama Chef nya, kalau ga salah namanya Juna, iya kan Nay?" Kalau tau kenapa harus bertanya, kadang mereka seperti vacumcleaner yang akan terus menyedotmu memaksa mengikuti alur pembicaraan mereka.
"Si Chef Juna itu,temen nya kakak sepupu gue, pacar nya sepupu gue itu temenan sama Juna." Lanjut Rani.
"Gue ga paham maksud lo."Gerutu Laksmi
"Lo inget kan Bela,dia anak nya tante Hanif, pacar nya si Bella itu namanya Angga. Nah si angga itu temenan sama si Juna." Cerita Rani,bahkan dia bercerita hanya dengan satu tarikan nafas.
"Oh,,," Sarah dan Laksmi berseru secara bersamaan.
"Mereka tu geng cogan tajir, gue pernah diajak Bella ke acara ulang tahun salah satu teman dekat si Angga, cowoknya ganteng banget, ceweknya biasa aja sih. Gue kira itu acara kawinan tau nya acara ulang tahun. gila mewaaahh banget."
"Beruntung banget tu cewe."
Mereka masih asyik bercerita dan sial nya mereka bergosip di meja kerjaku. Aku sama sekali tak tertarik dengan pembicaraan mereka sampai Rani menyebut nama yang begitu familiar di telingaku.
"Kalau ga salah denger dari si Bella,, ceweknya itu meninggal dua tahun Lalu, ga tau kenapa dan cowoknya aga depresi gitu,secara kata nya tu cowok cinta mati ama si cewe."
"Siapa emang cowo nya?" Sarah semakin tertarik dengan cerita Rani atau mungkin mereka selalu tertarik dengan hal-hal semacam ini.
"Revan,kalau ga salah. Terus nama cewe nya Aluna apa Alana ya, gue lupa. Kalau ga salah pernah rame juga sih cerita nya, tapi gue gak tau Iagi kelanjutannya,soal nya gak berselang lama dari kejadian itu,si Bella juga putus sama pacarnya." Ingin sekali aku bertanya dan memastikan jika Revan yang Ranii maksud bukan Revan yang tengah dekat denganku,tapi ku urungkan. Bisa saja itu Revan yang lain, bukankah ada banyak nama Revan di dunia ini. Tidak mungkin Revan yang sama.
Tapi cerita Rani begitu mengganggu pikiranku.
Revan? Apa itu Revan yang aku kenal?
Aku hampir melupakan jika selama ini, aku tak pernah tau tentang kehidupan pribadi Revan. Aku tidak pernah bertanya tentang masa Lalunya,aku cukup menyadari jika menggali masa lalu seseorang bukanlah hal yang menarik. Selain bisa membuat hati sedikit kurang nyaman, juga bisa saja masa Ialu hanya akan membuat nya semakin sulit melupakan dan masih terjebak masa lalu.
Jika itu memang Revan yang sama, aku rasa itu hal yang wajar, aku pun memiliki masa lalu. Hanya saja ada satu hal yang membuat hatiku sedikit merasa gelisah. Aku pernah melihat tulisan kecil di pergelangan tangan kanan Revan, dekat urat nadinya bertuliskan sebuah nama "ALANA" Dan itu nama yang sama,seperti yang disebut Rani,tadi.
Aku tak mungkin salah melihat, karena setiap Revan menggenggam tanganku tato itu terlihat. Awal nya aku tidak pernah menganggap itu hal yang perlu dipermasalahkan. Tapi, kini justru tulisan itu mengusik pikiranku. Aku mudah sekali mengalami perubahan mood akhir akhir ini, terkadang aku sering memikirkan hal kecil dan menganggap nya serius. Meskipun aku belum tahu tentang kebenarannya.
Jalanan Jakarta yang tak pernah lengang,apalagi di jam pulang kantor seperti ini,membuat perjalanan dari kantor ke rumah memakan waktu hampir dua jam. Aku Mengumpat dalam hati, Abang Ramzi benar-benar tega, memberikan tempat tinggal yang jauh dari kantor ditambah jalanan yang tak pernah sekalipun lengang.
Berjalan gontai, dengan sepatu hak tinggi menuju unit tempat tinggalku,sungguh sangat menyiksa. aku ingin segera membersihkan diri dan berbaring di kasur kecintaanku.
Tidak butuh waktu lama untuku membersihkan diri, lagipula aku ingin segera merebahkan tubuhku diatas tempat tidur dan secepatnya ingin beristirahat. Tapi tak berselang lama, setelah keluar dari kamar mandi, seseorang memencet bel. Aku harap bukan undangan acara baksos lagu, karena hari ini aku benar-benar lelah. Begitu aku membuka pintu,Revan tengah berdiri dengan wajah dan tampilan nya yang berantakan. Bahkan bibir merahnya terlihat pucat.
"Aku boleh masuk?" Suara nya terdengar sedikit serak, aku segera membuka lebih Lebar pintu, mempersilahkannya masuk. Revan langsung merebahkan tubuhnya di sofa, menutup wajahnya dengan punggung tangan. Tak biasanya ia seperti itu.
Aku mendekat, begitu menyentuh lengannya, "kamu demam?" Aku kembali memastikan dengan menyentuh dahi nya. Dan, benar saja dia demam bahkan keringat dingin mulai membasahi wajahnya.
"Kamu sakit Rev,?" Dia hanya menggumam, matanya masih tertutup. Aku bergegas mencari obat-obatan, mencari tempat dan mengisi nya dengan air es. Aku tak tahu ini benar atau tidak, hanya saja ketika aku demam Ibu selalu mengompres dengan air dingin.
Revan yang masih menggunakan kemeja, membuatku sulit mengompres bagian tubuhnya, aku segera berbalik ke arah Lemari pakaian di kamar yang selalu Bang Ramzi tempati jika datang menjengukku dan biasanya Abang selalu meninggalkan beberapa helai pakaiannya di sini. Aku mencari kaos Abang yang bisa dipakai Revan, Kurasa mereka memiliki ukuran baju yang sama.
"Rev, ganti baju dulu biar ga panas." Revan membuka mata,ia bangkit, menerima kaos yang aku bawa.
"Baju siapa?"
"Bukan milik Alex?"
"Bukan." Revan masih diam melihatku , atau mungkin memastikan ucapanku.
" Beneran, itu baju Abang." Ia kemudian mengangguk
"Aku ga mau pakai baju Alex."
"Alex ga pernah ninggalin baju di sini."
Revan membuka kemeja nya dan mengganti dengan kaus yang aku bawa, tapi kembali mataku menangkap sesuatu yang semakin membuatku merasa penasaran. Aku melihat sesuatu dengan tulisan yang sama, di dada Revan, tepatnya di sebelah kanan . Bahkan kali ini tulisan nya di tulis dengan ukiran yang cukup besar.
Aku menghela nafas, ingin sekali aku bertanya mengenai tulisan itu, yang sial nya kini mulai mengusik pikiranku. Aku tau aku harus bertanya, tapi tidak sekarang,ini belum saatnya.
Meskipun hubunganku dengan Revan sudah berada di tahap Pacaran,tapi rasanya akan sangat berlebihan jika aku meminta Revan menjelaskannya sekarang,di saat kondisinya sedang tidak baik. Setelah mengompres dan memberi Revan obat pereda demam, aku membiarkan nya istirahat di kursi. Sedangkan aku memilih, mencari cari bahan makanan yang bisa aku masak.
Kini aku mulai mengutuk diriku yang pemalas. Bahkan begitu aku Lihat isi kulkas yang begitu mengenaskan, hanya Berisi minuman dan makanan instan yang aku beli kemarin malam, tak ada sedikitpun bahan makanan yang bisa aku masak.
Entah setan apa yang merasuki diriku hingga kini aku berada di Dream cafe milik Juna. Tak berselang lama orang yang aku cari menampakan diri dengan senyum tipis yang memikat dan tatapan penuh selidiknya.
"Udah lama? Ada apa, tumben." Juna langsung memberondong dengan tiga pertanyaan sekaligus.
"Ganggu ya?"Jujur aku sangat canggung, hubunganku dan Juna belum seakrab itu, tapi dengan beraninya aku datang kesini meminta bantuannya.
"Nggak, ada apa?"
"Mau minta tolong, bisa pesan bubur. Tadi pelayan nya bilang di menu gada bubur. Tapi aku lagi butuh bubur."
"Mau makan bubur? Ayo ikut aku." Aku mengikuti Juna,dia membawaku ke sebuah ruangan, terlalu berlebihan jika di sebut dapur,karena tempat ini begitu rapi dan bersih, bahkan peralatannya pun terlihat sangat elegan dan mahal.
"Mau bubur apa?"
"Bubur biasa aja." Juna mengangguk, mulai membersihkan beras dan mencampur bahan bahan. Dia terlihat sangat cekatan dan cepat. Bahkan dia terlihat jauh Lebih mempesona ketika memasak.
Juna sibuk dengan masakannya, sedangkan aku hanya diam memperhatikan, sesekali dia melihat ke arahku sembari tersenyum. Sungguh pemandangan yang sangat sempurna jika memiliki seorang kekasih seorang Chef,menunggu ia memasak sambil menatapnya.
"Selesai". Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan satu mangkok bubur, Juna menyodorkan semangkuk bubur lengkap dengan berbagai jenis topping di atasnya.
"Terima Kasih, kelihatannya enak."
"Cobain,kalau suka nanti aku buatkan lagi."
"Sebenarnya,ini bukan buat aku. Tapi buat Revan, dia ada di apartemenku,sakit. Badannya panas banget,aku bingung harus buat apa di rumah nggak ada bahan-bahan yang bisa dimasak."
Entah hanya perasaanku saja, expresi Juna seketika berubah. Senyumnya perlahan pudar, tapi satu detik kemudian dia kembali tersenyum sambil melepas apron dan meletakkannya di kursi.
"Maaf udah repotin kamu." Melihat expresi juna aku merasa tidak enak hati,seharus nya aku menjelaskan nya dari tadi atau mungkin aku tak perlu merepotkannya dan mendatanginya kesini.
"Ga gratis loh." Aku buru buru mengambil beberapa lembar uang di dompet. Juna terkekeh begitu aku menyodorkan uang kepadanya.
"Kurang ya? Aku ga tau harus bayar berapa tapi ini uang yang aku bawa, nanti sisanya aku bayar Iagi." Entah apa yang lucu,tapi Juna semakin tertawa.
"Aku ga mau di bayar pake uang." Aku mengerutkan dahi
"lalu pake apa?"
"Kamu harus temenin aku ke pasar tradisional, terserah kamu bisanya kapan."
"Ha? Itu aja?"
"Ada Iagi. Kamu harus cari aku jika kamu kesulitan atau butuh bantuan. Ayo aku antar pulang, bubur nya panas."
Juna meraih mangkuk berisi bubur yang masih panas, meletakkannya ke dalam sebuah paper bag berwarna hitam.
"Ini uangnya gimana?" Aku masih memegang uang kertas yang belum sempat diambil Juna.
"Simpan aja. Lagipula aku gak jualan bubur." Aku segera turun dari kursi,mengikutinya dari belakang. Jarak antara apartemen tempat tinggalku tidak jauh dari apartemennya, tapi Juna tetap memaksa mengantarku pulang dan beralasan buburnya panas.