Because Alana

Because Alana
bagian 22



Juna berjalan tergesa gesa begitu melihat Kanaya berada di seberang jalan depan apartemen. Perempuan itu nampak tersenyum melihat kehadiran Juna. Setelah pertemuan dirinya dengan Alex tempo hari, Juna ingin sekali menemui Kanaya. Hanya saja gadis itu kini sulit ditemui, terlebih Revan sangat membatasi setiap kegiatan Kanaya,semakin mempersulit Juna menemuinya. 


kanaya masih tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Juna. Dia masih seramah biasa, meski Revan melarang nya berdekatan dengan Juna,tapi sikap Kanaya tidak berubah.  Namun, senyumnya tiba-tiba hilang, berganti dengan tatapan cemas. 


"Juna awas!!!" Kanaya segera berlari begitu melihat sepeda motor melaju dengan cepat mendekati Juna. Kanaya mendorong tubuh Juna sebelum motor itu menyerempet Juna. 


Semua terjadi begitu cepat, bahkan Juna belum menyadari apa yang terjadi. Ia hanya merasa tubuhnya didorong hingga terjatuh, dan bunyi benturan benda terjatuh begitu nyaring terdengar. 


Begitu ia menyadari ada motor yang terjatuh, reflek Juna bergegas bangkit, mendekati sang pengendara. Namun, belum sampai ,Langkah kakinya terhenti begitu mendengar rintihan kesakitan dari arah yang cukup jauh dari tempatnya berdiri 


Juna tercekat begitu melihat Kanaya, dengan posisi terduduk tengah memegangi kakinya. Dan serasa jantung nya berhenti seketika begitu  Juna melihat darah segar mengalir dari kaki Kanaya. 


“Astaga kanaya..!" Juna setengah berlari menghampiri Kanaya. 


"Ya tuhan kanaya!" Juna memeriksa kondisi Kanaya, tanpa ia sadari pengendara motor tadi melesat melarikan diri dengan tergesa. Juna tidak lagi menghiraukan si pengendara motor yang kabur, rasa panik bercampur takut membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Hanya Kanaya yang kini jadi prioritas utamanya, karena gadis itu kini terluka.


"Bisa berdiri?" Kanya mengangguk. Tapi, begitu ia berusaha menginjakan kaki nya justru dia oleng. Dan kembali meringis kesakitan. Dengan cepat Juna meraih tubuh Kanaya,menggendong dan mencegat taxi yang kebetulan lewat. 


"Kita ke rumah sakit!" Perintah Juna kepada sopir taksi. Mobil pun melaju dengan cepat menuju Rumah sakit.


"Sus, tolong periksa dia!" Puluhan kali Juna mengucapkan kalimat yang sama. 


"Iya, sudah Pak. Tinggal menunggu hasilnya sebentar lagi." Ucap seorang suster,sabar menjawab setiap keluhan Juna. Suster perawat masih mengobati luka lecet di kaki Kanaya dengan telaten menggunakan perban.


"Kenapa ga di jahit?" Juna kembali beryanya,


"lni cuman Iecet, keseret sedikit. Kenapa harus dijahit?" Akhirnya Kanaya bersuara, sedari tadi ia hanya diam memperhatikan Juna mondar mandir seperti gosokan baju. Kanaya tau jika lelaki di depannya itu tengah merasa bersalah dan dilanda kepanikan. Raut wajahnya tegang,berkali-kali Juna mengusap kasar wajahnya dan menjambak rambutnya frustasi.


"Sedikit gimana, itu tadi berdarah. Banyak!" Kanaya hanya bisa menghela pelan,


 "Aku sudah bilang kan, aku baik baik saja . Cuman lecet sedikit." 


Juna mendekati sisi ranjang, menaruh tangannya di tepian.


"Kamu tau, aku hampir kena serangan jantung begitu melihat kamu tadi jatuh dan terseret." Ucapnya sambil mengelus puncak kepala Kanaya. 


"Ini cuman kecelakaan, gak perlu hawatir aku baik-baik aja." Kanaya mempertegas dan meyakinkan Juna,agar lelaki itu tidak terus menerus merasa bersalah. 


Srek!!


Seseorang menyibak tirai putih yang membatasi setiap ruangan dengan begitu kasar, sontak Juna maupun Kanaya sama sama menoleh dan menemukan seorang lelaki tengah menatap tajam ke arah mereka, Lengkap dengan pakaian serba biru, seragam operasi yang masih ia kenakan.


"Lo...!" Revan menggeram, menarik kerah pakaian Juna, sejurus kemudian ia menghantam wajah Juna dengan keras,pukulan Revan begitu keras hingga Juna terhuyung dan jatuh di lantai. Merasa belum puas dengan pukulan pertamanya, Revan kembali menarik Juna, melayangkan pukulan keduanya. Revan tidak memperdulikan kondisi sekitar yang mulai gaduh karena pertengkarannya, dia masih memukul Juna berkali-kali dengan membabi buta.


"Apa yang lo lakuin sama dia ? Hah!?" Revan semakin mencengkram kerah baju Juna, sedangkan Juna tidak sedikitpun melawan. 


"Hentika!! Kanya berteriak, ia begitu ketakutan melihat kedua lelaki di hadapannya berkelahi.  


“Tolong hentikan!!"  Kanaya bangkit dari tempatnya mencoba berdiri, berniat melerai keduanya. Namun begitu ia menggerakan kakinya, rasa sakit itu kembali muncul, hingga Kanaya meringis kesakitan. Namun Kanaya masih tetap berusaha menggerakan kakinya, begitu ia berhasil menginjakan telapak kakinya di lantai dan melangkahkan kaki hendak mendekat, ia justru terhuyung dan terjatuh di atas Lantai.


Kanaya terjatuh cukup keras di lantai, sontak membuat kedua Lelaki itu menoleh dan menghentikan adu jotosnya. Revan menghempas cengkraman Juna, dengan cepat ia bergegas menghampiri kanaya yang tertunduk menahan sakit. 


“Kamu, ga apa apa?" Tanya Revan khawatir,tapi Kanaya justru meringis kesakitan.


Revan mengangkat tubuh kanaya, meletakkannya kembali ke tempat semula. Setelah Kanaya berada di matras, Revan berbalik menghampiri Juna, menatapnya penuh kebencian.


"Pergi!! Sebelum gue buat wajah Lo benar-benar hancur!" Revan dengan tegas mengusir Juna. 


"Udah, stop, tolong hentikan! Kenapa kalian ini?" Nita datang menghampiri begitu ia tau ada keributan di ruangan UGD. Matanya langsung menatap tajam ke arah dua Lelaki yang begitu ia kenali. Ia tak percaya Juna dan Revan justru kembali berkelahi hanya karena seorang perempuan, seperti mengulang kembali kejadian beberapa tahun lalu. 


"Kalian sadar ini dimana? lni Rumah sakit,dan perlu kalian tau ,ulah konyol kalian ini mengganggu pasien yang Iain!" Juna dan Revan masih saling menatap  tajam, tidak memperdulikan ucapan Nita. 


"Ini teraKhir Kali gue ingetin,jika Lo masih mendekati Kanaya dan membuat dia celaka, Io bakalan mati di tangan gue!"  Revan menekankan setiap kata katanya. 


Juna tidak merasa takut sedikitpun dengan ancaman Revan, dia justru  berdecak,menyeringai dan mengusap sebelah sudut bibirnya yang berdarah. 


"Udah stop!! Tolong."  Nita menyadari jika tidak segera dipisahkan maka kedua Lelaki ini pasti akan kembali berakhir dengan saling baku hantam. Sebelum menjadi tontonan banyak orang dan bisa saja berakhir diusir pihak keamanan, Nita harus segera memisahkan mereka berdua.  


"Lo ikut gue!" Nita menarik lengan Juna. Sebelum berlalu Juna sempat melihat ke arah Kanaya, sekilas tatapan mereka bertemu. Seulas senyum terukir dari bibir Juna, dia mengangguk mengisyaratkan jika dirinya baik baik saja. Sedangkan Kanaya hanya bisa menatap kepergian Juna dengan perasaan bersalah, tidak bisa menolong atau pun melerai. 


Selesai melakukan prosedur pengobatan. Kanaya tidak Langsung di perbolehkan pulang, Revan kembali memeriksa seluruh luka di tubuh Kanaya dan membawanya pindah ke ruang rawat inap. 


" Rev, aku mau pulang." Revan menghentikan pergerakannya yang tengah meniup bubur yang masih mengepul panas. 


"Kamu di sini, sampai kamu membaik."


"Ini cuman Iecet, aku masih bisa berdiri. Paling cuman butuh tonggkat aja."  Revan masih Iekat menatap Kanaya, 


"Baru beberapa hari aku gak pantau,kamu udah kaya gini. Kamu tau gimana paniknya aku pas tau kamu kecelakaan? Aku hampir saja Langsung berlari dari ruangan operasi. Aku hampir saja meninggalkan nyawa seseorang demi memastikan keselamatan kamu."


Kanaya menundukan wajahnya, ia merasa sangat bersalah.


"Dan di sini kamu aman, aku bisa setiap hari memantau kondisi kamu, sampai kamu benar-benar sembuh." 


"Tapi ,Rev,,,?" 


"Ahh, aku tau cara ampuh mengatasi rajukan kamu." Revan mendekatkan wajahnya, dengan cepat Kanaya menutup bibir dengan kedua tangannya. Revan tersenyum mengelus pipi Lembut Kanaya. Sungguh itu adalah bagian favorit Revan, kelembutan kulit Kanaya yang mampu membuat hati Revan terasa hangat. 


"Kenapa tadi kamu pukul Juna?Dia gak salah, kamu tau gimana babak belurnya wajah Juna?" 


"Dia juga memukulku, nih lihat." Revan menunjuk luka lebam yang ada di pipinya, karena Juna sempat satu kali membalas pukulannya.


"Aku ga suka orang Lain menyentuh apapun yang menjadi miliku," tegas Revan. 


"Tapi, bukan berarti kamu boleh memukul orang lain tanpa tau kejadian yang sebenarnya."


"Laki Laki tau bagaimana mereka menyelesaikan masalahnya."


Kanaya menghela Iemah, "Kenapa kamu begitu berlebihan, bahkan kamu cenderung posesif akhir-akhir ini, apa kamu tidak mempercayaiku?" 


"Aku percaya, hanya saja.,"


"Karena Alana?" Kanya menyela kalimat Revan,


"Jangan samakan aku dengan Alana, aku Kanaya dan bukan Alana, Rev." 


"Aku tau,,," jawab Revan lemah.


"Aku tidak akan seperti dia, jadi tolong beri aku sedikit ruang gerak, beri aku sedikit kebebasan. Aku bisa membatasi pergaulanku jika kamu tidak suka tapi jangan main hakim sendiri." Proters Kanaya, menurutnya akhir-akhir ini Revan sudah mulai berlebihan dan terkesan terlalu over posesif. 


"Ayo makan, bubur nya nanti keburu dingin,"  Revan mengalihkan pembicaraan sambil mengaduk-aduk bubur. 


"Rev?" Kanaya tau jika Revan tengah menghindar, dan mengalihkan pembicaraan.


 "Sepertinya kamu emang beneran harus di kasih obat anti merajuk." Ucapnya  Revan dan kembali mendekatkan wajahnya.


Kanaya yang siap siaga, kembali menutup bibirnya, namun kali ini Revan justru tidak menghiraukan, dia malah semakin mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat tangan Kanaya, yang menutupi bibirnya. 


Tatapan mereka bertemu, Revan tersenyum hangat, Perlahan ia menarik tangan Kanaya, hingga kedua tangan itu tidak lagi menutupi bibirnya.


Revan semakin mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka. Tangan Revan menyelinap ke belakang tengkuk Kanaya, memperdalam ciumannya. Ciuman singkat namun mampu membuat keduanya hanyut dan terlena. Perlahan Revan menarik diri, mengelus pipi lembut Kesukaannya dan menempelkan dahinya dengan dahi kanaya.


Mereka saling menatap,menyelami pikiran masing-masing, 


"Tolong, jangan buat aku khawatir. Jangan sakit ataupun terluka Iagi." Ucap Revan terdengar Lirih,namun mampu membuat hati Kanaya terasa begitu berbunga.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata tengah memperhatikan dari balik pintu, dengan tatapn tersakiti bahkan tanpa ia sadari butiran bening mengalir dari pelupuk matanya.