Because Alana

Because Alana
episode 26



Suara gaduh jerit dan rintih kesakitan semakin membuat suasana mencekam. Suara ambulance perlahan menjauh, membawa serta Mia yang tengah sekarat.


Tak berselang lama segerombolan laki- laki berseragam datang. Itu polisi.


Mereka memeriksa ruangan tempat kejadian, memeriksa setiap meja kerja karyawan mencari barang bukti.


Kanaya yang masih mematung, menangis bahkan telapak tangan dan bajunya masih terdapat noda darah.


"Saya perlu sodari Kanaya ikut ke kantor sebagai saksi" Ucap salah satu polisi.


"Saya,, saya ga bersalah pak" Suara Kanaya terbata, ia kembali menangis. Sarah yang kebetulan ada di dekat nya mengusap lengan Kanaya mencoba menenangkan.


"Lo cuman jadi saksi, Nay." Sarah semakin merengkuh tubuh Kanaya yang bergetar. 


"Tapi gue ga tau apa- apa. Bukan gue yang ngelakuin." Isak Kanaya


"Gue tau." Sarah begitu prihatin melihat Kanaya


"Kami butuh keterangan lebih lanjut, untuk menjelaskan detilnya sodari Kanaya bisa menjelaskannya di kantor polisi."


Akhirnya Kanaya di bawa ke kantor polisi di dampingi pak Arfan selaku perwakilan yang bertanggung jawab dari tempatnya bekerja.


Kanaya tak mampu berpikir jernih, tanpa berani bersuara dengan gemetar ia meraih ponsel mencoba menghubungi seseorang, Revan menjadi orang pertama yang ia ingat begitu ia digiring ke kantor polisi dan berharap bisa menolongnya, namun berkali-kali panggilannya tak ada jawaban, akhirnya ia memilih menghubungi Juna.


Untuk pertama kalinya Kanaya memasuki kantor polisi, ia langsung dihadapkan dengan seorang lelaki yang siap mengintrogasinya.


"Siapa namamu?" Tanpa basa - basi interogasi di mulai


"Saya, Kanaya Larissa."


"Bisa jelaskan bagaimana kronologi kejadiannya?"


"Saya, ,, _" dengan suara bergetar Kanaya mulai bercerita.


"Tadi pagi, ada seorang OB menitipkan minuman, dia bilang untuk Mia dari saudaranya. Minuman kesehatan untuk ibu hamil. Saya hanya mengantarnya sampai ke tangan Mia. Tapi,_" Kanya menjeda kalimatnya, ia kembali teringat bagaimana rintih kesakitan Mia setelah minuman itu masuk kedalam tubuh Mia.


"Beberapa menit setelah dia minum, Mia tiba- tiba kesakitan dan pendarahan," lanjutnya.


Polisi mengangguk- angguk,kedua tangannya menekan tombol keyboard,mencatat semua keterangan Kanaya.


 


"Baiklah, saudara Kanaya menjadi tahanan sementara sampai ada bukti dan saksi lainnya." 


Seketika tubuh Kanaya kaku tak bergerak, " Tapi, itu,-- tapi bukan saya pelakunya pak"


"Itu bisa dibuktikan jika ada saksi lain, sebelum pihak kita menemukan OB yang dimaksud, dan mendapat barang bukti lainnya. Sodari Kanaya tetap menjadi tahanan sementara" Ucap polisi final.


"Tapi pak'' Kanaya mencoba mengelak,membela diri meski ia tau akan sia-sia, tapi Kanaya tidak melakukan kesalahan apalagi sampai berniat mencelakai Mia.


Salah satu polisi yang berdiri di belakang Kanaya mendekat


"Mari ikut saya," Polisi bertubuh gempal itu,meraih lengan Kanaya, 


"Saya ga bersalah pak!" Kanaya mulai berontak, mencoba melepas cengkraman di tangannya. Dia memohon agar dirinya tidak di masukan kedalam sel jeruji.


"Kanaya !!" Teriak seseorang yang datang dari arah pintu. Juna berlari mendekat dimana Kanaya beradai,deru nafas putus- putus dan keringat membanjiri wajahnya . Langkahnya semakin mendekat, melepas cengkraman polisi. Seketika Kanaya berhambur ke dalam pelukannya, mencari perlindungan.


"Juna" lirih Kanaya, Juna pun membalas pelukannya. 


"Ada apa? Kenapa bisa disini." Perlahan Juna melepas pelukannya, menatap sendu wajah Kanaya yang terlihat begitu mengenaskan. Mata sembab dan wajahnya terlihat pucat.


"Apa yang terjadi pak?" Juna bertanya kepada polisi yang berdiri tak jauh darinya,satu tanganI Juna merengkuh Kanaya dan satu tangannya lagi memegang ujung kursi. 


"Sodari Kanaya ,menjadi tahanan untuk sementara, atas tuduhan percobaan meracuni ibu Lamia"


"Apa?" Pekik Juna. Kini Ia melepas pelukannya dan semakin mendekati meja interogasi.


"tu tidak mungkin,Pak!". Juna membela Kanaya, karena dia tau persisi,Kanaya tidak mungkin melakukan hal seperti itu.


"Untuk sementara hanya sodari Kanaya yang menjadi saksi, sekaligus satu- satunya yang terlibat. Kami masih menyelidiki lebih lanjut. Sebelum ada barang bukti tambahan sodari Kanaya menjadi tahanan untuk sementara."  Polisi berkacamata, yang bertugas mencatat keterangan dari Kanaya menjelaskan.


Juna mencoba berpikir , mencari cara agar Kanaya tidak ditahan. Juna  tidak bisa membayangkan bagaimana Kanaya harus berada di balik jeruji besi. 


Polisi berkacamata menatap Juna dan Kanaya secara bergantian, kemudian menginstruksikan kepada polisi bertubuh gempal untuk membawa Kanaya kembali.


"Tunggu dulu!" Cegah Juna,menghadang tubuh polisi sebelum dia mendekati Kanaya.


"Maaf,untuk sementara sodari Kanya tetap akan menjadi saksi sekaligus tersangka. Terkecuali pihak keluarga mencabut laporannya, dan bersedia menempuh jalur damai."


Kanaya dan Juna sama- sama tersentak


"Apa? Keluarga siapa yang bapak maksud?" 


"Keluarga ibu Lamia!" Kanaya mendekat dengan tatapan bingung, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan 


"Siapa? Dan kapan mereka melapor?" Merasa ada yang aneh,Juna pun kembali bertanya.


"Seorang lelaki, dia mengaku sebagai  suaminya. Dan kami menerima laporan sekitar pukul 11:45" 


"Tidak mungkin!" Kanaya mencoba mengingat waktu kejadian dan mencocokan dengan keterangan polisi. Ia tak mungkin salah mengira.


"Kejadiannya jam 12:05, pas jam makan siang. Tapi, keluarga Mia melapor jam 11:45. Bahkan Mia baru dibawa ke rumah sakit hampir pukul 13;10." Jelas Kanaya, ia  menoleh ke arah Juna, seakan mengerti dengan penjelasan Kanaya, Juna pun merasa ada yang janggal dari keterangan dari polisi dan juga dirinya 


Juna segera meraih ponsel yang ada di kantong celananya, dan mencoba menghubungi seseorang, Juna yakin jika ini perbuatan disengaja dan ingin mencelakai Kanaya. 


___________


"Minum dulu, dari tadi kamu ga makan apa- apa". Juna menyodorkan secangkir teh hangat, Kanaya mendongak menatap Juna,meraih cangkir berisi teh hangat dari tangan Juna.


"Terimakasih" gumamnya pelan.


Seharian di kantor polisi,menangis dan ketakutan membuat Kanaya hampir pingsan. Tubuhnya bergetar hebat, jika saja Juna tidak segera membawanya keluar dari ruangan interogasi mungkin Kanaya akan benar- benar pingsan. 


"Maaf ngerepotin kamu, aku ga tau harus minta tolong siapa lagi, selain kamu,"Ucapnya parau.


"Aku udah pernah bilang kan, kalau ada masalah segera cari aku?" Kanaya menunduk, air matanya kembali mengalir


"Bukan aku yang melakukannya."


"Aku tau.." Juna mendekat menarik tubuh Kanaya kedalam pelukannya


"Aku pasti bantu, buktiin kalau kamu bukan pelakunya. Dan kamu gak bersalah. Tapi, untuk sementara kamu jadi tahanan kota, sebelum orang- orangku menemukan OB yang kamu maksud." 


Kanaya mengangguk dalam pelukan Juna 


"Jangan nangis lagi." Juna menatap bola mata Kanaya. Terlihat jelas wanita di hadapannya begitu itu ketakutan. Ingin sekali  Juna bertanya tentang keberadaan Revan yang sejak tadi tidak menampakan diri. Tapi, ia ragu dan memilih diam,mengurungkan niatnya.


"Kita pulang, biar orang- orangku yang mengurus." Ajak Juna. Mereka Pun pulang, sementara kasus Kanaya masih diselidiki pihak berwajib dan juga orang kepercayaan Juna.


_______


Sesampainya di apartemen, Kanaya membersihkan diri. Bahkan Juan membuat makan malam dan menunggu Kanaya hingga tertidur. Namun kanaya hanya berpura-pura tertidur. Setelah Juna pergi ia bangkit dari tempat tidur, duduk termenung hingga bayangan kejadian tadi siang kembali berputar di otaknya. 


"*Mba kanaya" . Seorang OB mendekat


"Iya, ada apa?" 


"Boleh titip ini, untuk ibu Lamia" 


"Ini apa?" Kanaya mengamati termos kecil berwarna abu- abu yang diberikan padanya.


"Ini minuman kesehatan ibu hamil. Tadi ada saudaranya ibu Mia kesini, tapi karena buru- buru jadi dia menitipkan ke saya," Jelasnya.


Tanpa pikir panjang Kanaya menerima termos yang disinyalir berisi obat herbal untuk ibu hamil. Ia sempat memperhatikan si OB yang terasa begitu asing. Atau lebih tepatnya baru kali ini Kanaya  bertemu. Kanya hampir mengenal semua OB yang ada di tempatnya bekerja, tapi OB yang tadi rasanya ia baru melihatnya, bahkan selama berbicara dengan Kanaya si OB hanya menatap lantai , tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


Menghilangkan prasangka tentang si OB , yang mungkin saja itu pegawai baru. Segera ia menghampiri meja kerja Mia, mengantar minuman dan meminta maaf untuk acara baby shower yang batal ia datangi akibat pertengkarannya dengan Revan*. 


*Mia menerima termos, ia membenarkan jika ada saudaranya yang hendak memberi minuman herbal. Karena, akhir- akhir ini Mia sering merasa cepat kelelahan. 


Tak lama setelah Mia meneguk minuman, kejadian mengerikan itu dimulai. Tiba- tiba Mia merintih kesakitan, memegang perut nya bahkan ia sampai terjatuh. Sontak Kanya terkejut*,


"Mia,,,, kamu kenapa? Mia,,,!".Mia tak menjawab, ia semakin meringis bahkan ,membuat Kanaya semakin panik begitu melihat darah segar mengalir dari pangkal paha Mia hingga ke kaki. Semua orang panik, melihat  keadaan Mia semakin memburuk, bahkan Mia kehilangan kesadaran begitu Ambulance datang.


*Kanaya menghela nafas kasar, nafasnya tersengal begitu ia teringat kejadian mengerikan tadi siang. Ia segera meraih ponsel di atas nakas, tak jauh dari tempat tidurnya, mencoba menghubungi Revan yang sejak tadi pagi tak ada kabar.


"Rev, tolong angkat teleponnya" . Gumamnya, masih menempelkan ponsel di telinganya. Namun, tak ada jawaban*.


 Air matanya perlahan mengalir, "Revan kamu dimana? Aku butuh kamu." Lirihnya, diiringi air mata yang semakin deras mengalir.


________ 


Sementara itu di tempat lain......


"Gimana?"


"Revan sudah berada di Singapore bersama Nita sesuai rencana. Tapi, Kanaya tidak jadi di penjara. Juna datang membawa orang suruhannya dan akhirnya Kanaya bisa bebas bersyarat."


"Brengsek...!! " Umpatnya.


"Lalu Mia?" Ia kembali bertanya.


"Mia masih belum sadarkan diri, tapi bayinya tidak bisa diselamatkan." 


Ia menyeringai puas, "itu sudah cukup, hanya tinggal satu langkah lagi kita selesaikan permainan ini, aku akan menemui Mia begitu ia sadar. Ini peringatan untuknya, supaya dia tau dengan siapa dia berhadapan dan juga agar dia tau jika dia tak akan bisa melawan seorang Gerry Andalas." Gerry terkeke,penuh kenangan,.


"Sekali lagi dia ikut campur, bukan hanya bayinya yang mati. Tapi, dia juga bisa kehilangan nyawanya sendiri!" 


"Baik pak Gerry!"