Because Alana

Because Alana
episode 42



"Bu,,, Bu Kanaya,,, bangun, Bu!" Rasanya seperti mimpi ketika tubuhku di guncang-guncang. Namun suaranya semakin kencang terdengar, dan guncangan nya semakin hebat. 


Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan kesadaran, dan membuka mata. Ternyata Sus Tuti yang mengguncang tubuhku, sejak tadi.


"Iya,,, kenapa sus. Ini masih pagi banget." Kulirik jam weker yang berada tak jauh dari meja nakas, dan masih pukul enam pagi. 


"Baru jam enam, ada apa?" Aku segera bangkit perlahan, agar Elea tidak terganggu. 


"Ada tamu," ucap sus Tuti. 


"Tamu? Siapa?" Aku mengerutkan dahi, siapa yang bertamu sepagi ini.


"Ah,,, itu. Suruh saja masuk." Aku baru ingat, semalam Abang menghubungiku, jika dirinya tengah dinas kerja di Jakarta, dan dia berjanji akan mengunjungiku dan Elea, sebelum dia kembali ke Bandung.


"Tapi, Bu?" Sela sus Tuti.


"Gak apa-apa. Suruh saja dia masuk, saya mau cuci muka dulu. Sekalian bangunin Elea." Meski tampak ragu, sus Tuti akhirnya menuruti perintahku. 


Setelah Sus Tuti keluar, aku pun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, untuk membasuh muka dan gosok gigi. Tidak butuh waktu lama aki segera mengikat asal rambut dan segera membangunkan Elea. 


"Sayang,,, bangun yuk? Ada Ayah Ramzi," aku mengelus wajah Elea, dan gadis kecilku itu menggeliat. 


"Ayah gak lama mampir nya. Elea harus cepat bangun, kasihan Ayah nunggu lama." Meski tampak malas, Elea membuka matanya. Dengan dandanan khas bangun tidur, aku segera menggendong Elea keluar kamar, untuk menemui Bang Ramzi.


"Pagi banget datangnya?" 


Namun, bukan Bang Ramzi yang tengah duduk di kursi tamu.


"Om Dokter!" Elea segera turun dari pangkuan ku dan berlari menuju Revan.


 


"Kita jadi kan jalan-jalannya?" 


"Jadiiii!" Seru Elea, sambil berjingkrak kegirangan. 


"Kamu gak lupa kan, hari ini kita ada janji jalan-jalan bareng?" Revan bangkit dari duduknya menghampiriku.


"Kenapa pagi banget kayak gini? Ini masih pagi buta, lagipula kita belum sepakat jam berapa kita pergi!" 


"Perjalanan kita jauh, sebaiknya dimulai pagi hari." 


"Tapi,,"


"Udah,,, gak usah ribut. Mending kamu mandi. Elea biar aku dan Sus Tuti yang urus." 


Apa? Dia bilang ribut? Justru dia yang sudah membuat keributan pagi-pagi di rumah orang. Aku sangat kesal dibuatnya!


Revan menggendong Elea, diikuti sus Tuti dari belakang. Namun begitu dia tepat berada di depanku dia berhenti.


"Pemandangan pagi yang sangat indah," ucapnya, namun matanya tertuju pada dadaku. Sontak aku pun melihat ke arah dadaku, dan astaga! 


Aku lupa, di balik baju tidur satin yang kukenakan, aku tidak memakai bra! Matilah aku! 


"Revan!!!" Lelaki jahil itu hanya terkekeh, berjalan menuju kamar Elea.


Jalan-jalan yang serba dadakan ini, membuatku tidak memiliki persiapan sama sekali. Aku hanya mengenakan kaos putih, dan celana jeans biru. Sedangkan Elea, entah siapa yang mendandaninya, ia mengenakan baju dengan warna yang senada dengan baju Revan. Membuatku seperti  salah kostum sendiri. 


Mobil Revan sudah bertengger manis di lobby, mobil yang sama ketika dia menjemput dan mengantarku dulu. Aku heran, kenapa dia tidak mengganti mobilnya, sedangkan hampir setiap bulan semua perusahan otomotif mengeluarkan mobil rancangan terbaru, tapi Revan masih setia dengan mobil ini, membuatku sedikit merasa,,, aneh.


Rasanya kurang sopan aku duduk di kursi penumpang belakang, jadi tanpa menunggu berdebat terlebih dahulu, aku segera masuk, dan duduk di kursi penumpang depan. Seulas senyum tipis tampak di bibir Revan. Meski samar, aku bisa melihat dari ujung mataku. 


"Aku kira kamu mau duduk di belakang?" Tanyanya, begitu aku dan juga Revan sudah sama-sama berada di dalam mobil.


"Maunya sih begitu!"


"Kamu boleh duduk dimana aja, asal kamu nyaman. Aku gak akan keberatan dianggap supir. Tapi, sopir tidak ada yang sekeren aku, iya kan Elea?" Elea hanya bergumam dan mengangguk sebagai jawaban.


"Anak pintar," balas Revan sambil mengelus pipi Elea. 


"Kita mau kemana?" Tanyaku setelah tiga puluh menit perjalanan, tapi Revan tidak juga menepikan mobilnya. 


"Kita mau ke Taman Safari, Bogor. Elea bilang dia suka ke kebun binatang. Kita piknik!"  Ucapnya antusias, persis seperti Elea. 


"Kenapa jauh banget,,, kenapa gak dekat-dekat rumah aja!" 


"Bogor-Jakarta gak jauh, Nay. Dekat juga kan?" 


"Terserah lah!" Aku benar-benar dibuat frustasi. 


"Ibu, kok gak pakai baju sama. Elea sama Om, sama." 


"Ibu gak suka warna biru, gak cerah!" Tukasku. 


"Biarin aja, Ibu kamu memang suka salah kostum. Dulu saja waktu Om ajak ke acara pertunangan, dia salah kostum." Ejek Revan, yang langsung mendapat tatapan sengit dariku. 


Mungkin hanya perasaanku saja atau memang benar, hari ini Revan jauh terlihat lebih tampan, santai dan banyak tersenyum. Meski aku sangat ketus padanya. 


"Kita mampir ke rest area, makan dulu. Kasian Elea," Revan segera menepikan mobilnya di bahu jalan, di salah satu rest area.


"Kita makan yang ada saja ya? Buat ganjel perut." Mendadak Revan begitu cerewet, membuatku semakin pusing di tambah cacing-cacing di dalam perutku yang sudah berdemo masal, sejak tadi.


Pilihan kita jatuh pada makanan siap saji, ayam goreng tepung sejuta umat. Revan memesan beberapa menu makanan, sedangkan aku hanya duduk manis di meja. 


"Aku tidak tahu apa yang disukai Elea, jadi aku pesan beberapa pilihan." Revan menaruh nampan berisi makanan, dan langsung disambut gembira Elea.


"Yeayyy kentang goreng!" Seru Elea.


"Kamu suka?" Tanya Revan, sambil menyodorkan satu cup berisi kentang goreng.


"Suka!!!. Elea suka kentang goreng!" Kebahagiaan anak kecil sangatlah sederhana, hanya dengan melihat kentang goreng, Elea langsung kegirangan. 


"Ibu, gak pernah bolehin makan kentang goreng." Keluh Elea dengan mulut penuh.


"Kenapa?" Tanya Revan


"Karena gak sehat!" Jawabku. 


"Oh,,, kamu sudah mulai tau ya, mana makanan sehat mana tidak. Padahal dulu lemari es kamu penuh makanan cepat saji." Aku hanya menatap datar Revan, sedangkan dia hanya mengangkat bahunya, acuh. Dia sangat menyebalkan! Selalu saja mengungkit masa lalu. 


"Memang benar kata Ibu, makanan ini gak boleh sering-sering di makan. Cuman boleh satu kali, setiap satu bulan. Elea harus nurut, kalau Ibu kasih tau. Jadi anak penurut ya, harus sayang sama Ibu."


"Elea sayang Ibu, juga sayang Ayah Juna, Ayah Ramzi, Nenek,Omah, dan juga aunty Re,," 


"Ah,,, iya minum dulu sayang. Kamu belum minum, kan?" Aku segera memotong ucapan Elea, sebelum dia menyebutkan nama Reva. 


"Wah,,, Ayah Elea ada dua ya?" Ada nada sedih, dari ucapan Revan. 


Benar saja, setelah Elea menyebut daftar nama orang-orang yang ia sayangi, Revan jauh lebih diam. Bahkan setelah makan selesai, kita melanjutkan perjalanan tanpa ada yang bicara. Revan hanya sesekali menjawab pertanyaan Elea, tidak cerewet seperti tadi. 


Akhirnya kita sampai di tempat yang kita tuju, Kebun Raya Bogor. Cuaca yang tidak terlalu panas, berawan dan sedikit mendung. Elea begitu antusias melihat berbagai jenis binatang, tak henti-hentinya ia bersorak kegirangan, di ikuti Revan yang berlari mengejarnya. Sedangkan aku, aku hanya mengikuti kemanapun mereka pergi, sesekali aku mencuri gambar Elea untuk aku abadikan atau hanya sekedar untuk postingan akun media sosialku. 


"Sudah selesai mainnya?" Tanyaku, begitu Elea mulai bergelayut manja dan merengek minta susu.


"Mau pulang?" Tanya Revan.


"Kita pulang, saja. Nanti keburu malam sampai Jakarta. Lagipula Elea udah capek, iya kan?" Kali ini untungnya Elea, mengangguk. 


Aku segera merapikan beberapa barang bawaan, setelah memberi Elea satu botol susu. Hari sudah menjelang sore, lebih baik segera pulang, karena perjalanan sore hari bisa memakan waktu lebih lama. 


"Ayo,,, kita pulang!" Aku menggendong Elea, dan menenteng tas berisi keperluannya.


"Tunggu!"


"Kenapa?"


"Elea senang jalan-jalan hari ini?" Tanya Revan, dan Elea mengangguk.


"Bilang terimakasih, sayang." Aku Menyuruh Elea berterima kasih, tidak adil rasanya setelah satu hari Revan menghabiskan waktunya denganku dan Juga Elea, tapi aku tidak berterima kasih padanya. 


"Terima Kasih,,," balas Elea.


"Sama-sama. Sebagai imbalan nya boleh minta sesuatu?" Aku mengerutkan dahi, bagaimana bisa Revan meminta imbalan, sedangkan dia sendiri yang memaksa jalan-jalan.


"Aku harus ganti berapa?" Aku tau Revan bukan ingin di ganti imbalan dengan uang. Tapi, aku tetap mengeluarkan dompet dari dalam tas.


"Aku tidak minta kamu yang bayar, tapi Elea." Revan mendekat, mencondongkan tubuhnya, hingga ia berdekatan dengan Elea yang tengah berada dalam gendonganku.


"Imbalannya, Om Dokter mau Elea panggil Ayah. Boleh?"


"Apa?!" Aku terkejut, mendengar permintaannya.


 Entah karena sudah terlalu lelah atau ngantuk, Elea hanya mengangguk. 


"Tapi, Elea sudah punya dua Ayah. Nenek bilang, gak bagus kalau kita terlalu serakah. Biarkan Om Dokter jadi Ayah orang lain," aku mengelak. Bagaimana bisa dia meminta Elea memanggilnya Ayah, meskipun. Sebenarnya ia memang Ayah kandung Elea. 


"Elea sudah punya dua Ayah. Tapi Elea gak punya Daddy, seperti Gaby." 


"Elea boleh panggil Om Dokter Daddy kalau begitu!" 


"Boleh. Elea juga mau punya Daddy seperti Gaby."


"Anak pintar!" Revan tersenyum sumringah. Bahkan Revan langsung memeluk Elea, sekaligus diriku. 


Tanpa disadari kita seperti satu keluarga utuh, Revan mencium pipi Elea, dia tidak sadar jika jarak antara Elea dan aku begitu dekat. Hanya berjarak beberapa senti. Revan mendongkak tersenyum dan mengucapkan, "Terimakasih."


Sorot mata teduhnya begitu menghipnotis, lalu aku bisa apa?