
Pertunangan Reno dengan kekasihnya Gadisa berjalan lancar. Reno sangat tampan mengenakan atasan batik coklat dan Gadisa,sang kekasih mengenakan kebaya nude peach menambah kesan anggun, mereka tampak sangat serasi.
Kedua belah pihak keluarga berpenampilan senada, menyesuaikan dengan pasangannya masing- masing, bahkan Revan juga sempat mengganti kemeja hitam nya dengan batik senada dengan Ayahnya. Reva dan tante Devi tak kalah menarik nya dengan balutan kebaya abu- abu dengan model yang sama.
Lalu aku? Tak ada yang istimewa denganku, aku masih mengenakan pakaian yang sama, aku mengenakan blouse kuning dan cardigan rajut putih,aku bahkan mengabaikan tatapan mereka yang menilaiku aneh dan tentunya salah kostum.
"Kamu sakit nak? Wajahmu pucat sekali?" Tante Devi menghampiriku. Satu jam setelah acara selesai, kini aku kembali berada di apartemen milik Revan.
"Ini bisa menghangatkan tubuh kamu," tante Devi memberiku segelas teh madu hangat.
"Terimakasih,Tante. Aku cuman kecapean aja kayanya."
"Tante dengar kamu sempat terseret motor. Apa masih sakit kakinya?" Aku menyeruput teh madu buatan tante Devi, rasa hangat terasa begitu menjalar keseluruh tubuh.
"Sudah mendingan ko,Tan." jawabku.
"Kamu tidur disini aja, besok baru pulang. Udah malem juga kan?"
" Tapi__"
" Tidur di kamar bareng Reva dan sebaiknya sekarang kamu istirahat. Besok baru pulang ya?" Aku tidak mungkin menolak dan terpaksa aku bermalam di sini. Lagipula semenjak pulang dari acara aku tak melihat Revan.
Reva irit sekali bicara dibanding dua kakak laki- laki nya Reno dan Revan, justru ia perempuan satu- satunya yang paling hemat bicara. Terkadang aku sering merasa canggung berada di dekatnya. Awal kenal ,aku pikir dia tidak menyukaiku, sampai aku tau dia memang jarang bicara jika tidak ada hal yang benar- benar perlu dibicarakan.
"Kalau kamu kurang nyaman aku bisa tidur di bawah," ucapku begitu Reva memasuki kamar.
"Gak perlu, kita bisa berbagi tempat tidur." Aku hanya mengangguk.
Hening, tak ada yang bicara. Aku membelakangi Reva, begitu juga dengannya. Tak ada suara ataupun pergerakan,aku rasa Reva sudah tertidur. Tapi, begitu ranjang bergoyang,
"kamu belum tidur?" Suara Reva membuatku menoleh, ternyata dia sudah duduk dan menyandarkan tubuhnya.
"Belum," akupun ikut duduk menyandarkan tubuhku di tepian ranjang.
"Apa kamu mencintai kakakku?"
"Ya?"
"Apa kamu mencintai Revan,kakakku?" Reva mengulang pertanyaannya sekali lagi.
"Apa kamu tau tentang masa lalunya? Tentang Alana?"
Oh tuhan jangan tentang Alana lagi,
"Dia sangat mencintai Alana," Reva memulai berbicara, aku hanya diam mendengarkan ceritanya.
"Bahkan kakak ku sempat mengalami depresi ringan, Alana segalanya untuk kakakku dan setelah Alana meninggal,dia jadi sering bergonta ganti pasangan,hanya untuk menutupi dirinya yang terluka. Ia tak pernah serius pada satu wanita, hingga suatu hari dia membawamu pulang ke rumah." Hatiku berdesir perih, aku tersenyum pahit mendengar cerita Reva, tanpa sedikitpun aku menyela.
"Aku mengatakan ini padamu bukan karena aku membencimu. Justru karena aku menyukaimu. Dari sekian banyak perempuan yang sempat kakaku bawa, hanya kamu yang mampu menarik perhatian keluargaku, terutama mamah,"
Reva meraih tanganku, membawanya ke dalam genggaman tangan hangat miliknya.
"jika kamu mencintainya, perjuangkan dia, bantu dia agar bisa mencintaimu juga dan melupakan Alana. Tapi, jika kamu belum mencintainya, maka tinggalkan dia. Aku tak ingin dia terus menerus menyakiti dirinya sendiri dan juga menyakitimu." Hatiku benar- benar mati rasa sekarang.
"Aku tidak tau, bahkan banyak hal yang sebenarnya aku tidak tau," balasku.
"Aku mengerti, tapi bisakah kamu memberinya kesempatan?"
" Aku sering kali memberinya kesempatan,sesering dia menutupi rahasia nya dariku." Reva terlihat prihatin, tatapannya seolah mengasihaniku.
"Hubunganku dan Revan tak semudah yang terlihat. Tapi, aku justru dengan mudah mencintainya." Reva semakin erat menggenggam tanganku
"Terimakasih telah mencintai kakakku, apapun yang menjadi keputusanmu aku akan selalu mendukung."
Ini obrolan terlama antara aku dan Reva, di balik sifat hemat bicara nya, ternyata dia sosok yang jauh lebih dewasa dari yang aku kira.
Namun, baru sampai di ruang tengah aku melihat Revan tengah tertidur di sofa, satu tangan menutupi wajahnya dan satunya lagi memegang erat bingkai foto.
Aku sangat penasaran, hingga perlahan aku mendekat. Dan sialnya kakiku justru tersandung ujung meja hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Revan begitu terkejut, dengan cepat ia terbangun dan tanpa sadar menjatuhkan bingkai foto yang tengah di pegangnya.
"Kanaya!" Pekiknya,ia terlihat begitu terkejut bahkan dengan cepat ia mengambil bingkai dan buru- buru membalikan gambar, yang sial nya sudah terlanjur ku lihat.
Gambar seorang perempuan yang tengah Revan peluk, bahkan terlihat pancaran kebahagiaan dari keduanya. Aku mencoba mengatur nafas,mendadak kepalaku terasa pusing,
"Aku mau pulang." Aku segera berbalik, melupakan keinginanku meminum susu coklat hangat,
"Kanaya!" Revan menarik lenganku, "dengarkan penjelasan aku dulu!"
Aku menatapnya dengan tatapan kecewa , raut wajah Revan berubah panik.
"Aku mau pulang!" Tak ada bantahan, aku hanya ingin pulang.
Revan tidak lagi membantah, dia menuruti keinginanku mengantar pulang.
Selama perjalanan, Revan berkali- kali menjelaskan. Namun, tak ada yang bisa aku dengar dengan jelas. Pikiranku melayang entah kemana.
"Kanaya, dengarkan penjelasanku dulu!" ucapnya frustasi, melihatku sedari tadi hanya diam. Bahkan sampai apartemen pun aku masih tetap diam.
"Nay!, Tolong dengarkan dulu."
"Kenapa?" Suaraku gemetar menahan sesak.
"Jadi, selama ini hanya aku yang berusaha dan hanya aku yang menginginkan hubungan ini? Sedangkan kamu tidak?" Kutepis lengan Revan yang hendak meraih tanganku.
"Bahkan dengan segala sifat posesif mu yang membatasi semua kehidupanku. Sedangkan, kamu masih tetap mencintai Alana?!" Aku kembali menangis.
"Aku mencintaimu, tapi kamu tidak ada sedikitpun berniat untuk mencintaiku!" Tak ada lagi yang perlu aku tutupi. Kenyataannya aku memang terlanjur mencintainya.
"Kanaya dengar__" Tidak sedikit pun aku biarkan Revan menyela kalimatku.
"Ayo kita akhiri hubungan ini"
"Nay, tolong dengar dulu penjelasanku! Kamu salah faham!"
Aku menggeleng, "Aku lelah, tolong pergi" usirku.
Bergegas aku berjalan, menuju kamar. Aku sudah tidak peduli, bahkan Revan mengikutiku dengan langkah tergesa . Begitu hendak membuka pintu kamar, Revan terlebih dulu menahan dan detik berikutnya ia menarikku dan dengan cepat ia membalikan tubuhku menghadapnya. Ia berhasil mengurung tubuhku dengan kedua tangannya berada di kedua sisi kepalaku.
"Tidak bisakah kamu mendengar penjelasanku?!" Desisnya
"Pergi!" Aku mendorong tubuh Revan,tapi ia tak bergeming sedikitpun.
"Tak bisakah kamu memberiku sedikit waktu, dan membantuku melupakan Alana?"
"Tolong, pergi! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi tentang Alana!" kembali kudorong tubuhnya sekuat tenaga. Tapi, satu tangan Revan justru mencengkram,menekan pundakku hingga punggungku membentur dinding.
"Dengar! aku tidak akan pergi dan tidak akan membiarkanmu pergi!" Ancamnya,
"Aku tak pernah membicarakan ini denganmu karena aku tau, kita masih butuh waktu untuk saling menyesuaikan diri. Aku hanya memintamu sedikit waktu apa itu sulit?" Air mataku mengalir deras.
"Aku memang mencintai Alana, tapi aku butuh kamu untuk melupakannya." Revan memejamkan matanya,menghela nafas pelan dan saat ia kembali membuka mata, kulihat matanya mulai berkaca, satu cairan bening lolos dari matanya.
"Jangan pergi aku mohon, aku mencintaimu Kanaya!"
Revan memelukku erat, disambut isak tangisku yang semakin kencang. Hatiku sakit begitu mendengar secara langsung ia mengatakan jika dirinya masih mencintai Alana. Tapi, di satu sisi hatiku merasa lega karena dia juga mencintaiku.
"Jangan ucapkan perpisahan atau apapun itu, kamu tetap di sampingku, dan tetap bersamaku. Mengerti!" Ucapnya lirih, aku hanya menganggukkan kepalaku,ketika Revan semakin erat memeluk tubuhku.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, tubuhku terasa sakit.Aku membuka mata perlahan,Sinar matahari menerobos menembus celah celah kecil jendela kamar,membuatku beberapa kali mengerjapkan mata. Satu lengan melingkar di pinggang memelukku erat. Kembali kupejamkan mata dan aku menyadari satu hal. Apa yang telah aku lakukan ?