Because Alana

Because Alana
episode 36



Senin pagi ini untuk pertama kalinya Elea mulai masuk sekolah. Letak sekolah Elea tidak terlalu jauh dari Apartemen, aku sengaja memilih yang paling dekat karena selain menghemat waktu,juga untuk memudahkan Ibu mengantar dan menjemput Elea dari sekolah.


Pagi hari menjadi dua kali lipat lebih sibuk dari biasanya,Elea yang masih belum terbiasa bangun pagi sedangkan aku harus bersiap-siap berangkat ke salah satu kantor,untuk interview.


"Sayang,hari ini sekolah nya di anterin Nenek ya? Ibu harus kerja." Elea hanya mengangguk lemah.


"Harus semangat sekolah, nanti disana Elea punya banyak teman baru." Aku memasangkan kaos kaki di kedua kakinya.


"Kenapa Nenek yang antar?" 


"Ibu harus kerja, sayang. Buat beli mainan baru sama susu Elea." Aku mengelus pipi nya, merapikan beberapa helai poninya yang berantakan. 


"Elea janji gak akan minta mainan lagi, janji gak bakal minta susu lagi, asal Ibu gak usah kerja." Hatiku meringis, 


"Elea sayang. Nanti setelah pulang kerja,Ibu temenin main lagi di bawah ya?"


Terkadang Elea sering merajuk,melarangku pergi bekerja dan kejadian seperti ini bukan hal baru, bahkan dulu Elea sering menangis jika aku hendak pergi bekerja. 


"Oke? Elea anak baik, harus nurut sama Ibu." Elea mengangguk samar, meski bibirnya masih mengerucut aku mengecup singkat hingga bibir tipisnya kembali tersenyum.


Aku berangkat menggunakan taksi online,sedangkan Elea berangkat diantar supir pribadi Juna.


Ada dua surat lamaranku yang diterima, tapi aku memilih terlebih dahulu mendatangi sebuah perusahan besar yang bergerak di industri batubara,Citra Buana. 


Beberapa pelamar lainnya ikut mengantri giliran intervie,jujur aku merasa kurang percaya diri karena sebagian besar pelamar masih sangat muda dan berpenampilan sangat menarik, sedangkan  aku berpenampilan seadanya dan aku merasa hanya aku yang terlihat lebih tua dibanding yang lain. Meski gugup aku bisa melewati sesi interview dengan baik setelah sekian lama dan untuk pertama kalinya aku kembali melamar pekerjaan di perusahaan besar setelah empat tahun lalu resign. Untungnya interview kali ini tidak berlangsung lama, setelah selesai aku memilih pulang karena hasilnya akan diumumkan tiga hari kemudian di website resmi mereka. 


Ibu sempat memberi kabar jika dirinya dan juga Elea masih berada di sekolah. Tanpa pikir panjang aku pun memilih menuju sekolah Elea.


Sekolah Elea cukup besar dan sudah bertaraf internasional. Aku sempat menolak menyekolahkan Elea di tempat seperti ini, tapi Juna tetap memaksa dan beralasan sekolah ini paling dekat dari tempat tinggalku dengan keamanan yang terjamin. Akhirnya aku menyetujui.


Aku melambaikan tangan begitu putri kecilku keluar dari ruang kelasnya. Elea nampak bergandeng tangan dengan gadis kecil lainnya, wajahnya begitu familiar karena rambut pirang dan mata birunya. 


"Gaby?" Tanyaku. 


"Elea satu kelas sama Gaby." Binar wajah ceria namapak terlihat jelas di wajah Elea.


" Kebetulan sekali ya, bisa satu sekolah dengan Gaby." Seruku,membuat mereka berdua tertawa. 


Aku sempat merasa khawatir Elea tidak bisa beradaptasi dengan baik di lingkungan barunya, karena dari kecil dia tinggal di daerah pelosok dan jauh dari keramaian. Tapi begitu melihatnya sangat antusias,bahkan dia langsung menemukan teman baiknya, aku menjadi sedikit lebih lega. 


"Gaby pulang di jemput siapa?" Aku belum melihat orang tua ataupun pengasuh Gaby,sedangkan sekolah bubar sejak lima belas menit  lalu.


"Dijemput Mommy." Gaby menunjuk seorang perempuan cantik bak model,berkacamata hitam, berjalan anggun menuju ke tempatku berada,di ikuti seorang wanita di belakangnya.


"Mommy!" Seru Gaby, berlari berhambur memeluk perempuan itu. 


Aku mendekat hendak memperkenalkan diri, bagaimanapun juga Elea dan Gaby sudah saling mengenal, jadi tidak ada salahnya jika aku pun mengenalkan diri. 


"Selamat siang, saya orang tuanya Elea. Temannya Gaby." Sapaku. Namun di luar dugaanku, perempuan itu menatapku sekilas memperhatikan, auranya begitu dingin dan tidak tersentuh.  


"Oh,,iya. Saya Mommy nya Gaby, Juliet." Meski memperkenalkan diri, Juliet sama sekali tidak mengulurkan tangannya, bahkan dia tampak tidak menyukai kehadiranku.


"Saya Kanaya, Ibunya Elea. Senang berkenalan dengan kalian." 


Juliet hanya menggumam, dan pergi mendahului. Seperti dugaanku wajah Gaby berasal dari wajah Ibunya,bahkan Gaby persis sekali dengan Juliet,meski Gaby jauh lebih ramah dibandingkan Ibunya. 


"Ibu, kata Bu guru besok Elea harus bawa sikat gigi dan juga gelas." Kini aku,Ibu dan Elea sudah berada di dalam mobil hendak pulang.


"Oya, buat apa, Nak?" 


"Mau belajar sikat gigi yang benar." 


"Oke, kita mampir beli dulu ya. Sekalian beli susu buat Elea." 


Aku meminta pak supir berputar arah menurunkanku di supermarket, sedangkan Ibu Memilih pulang diantar pak sopir. 


 Selesai memilih beberapa belanjaan, aku dan Elea tidak langsung pulang karena Juna memintaku menunggunya di salah satu restoran cepat saji. Elea masih sibuk memakan kentang goreng,sedangkan aku membuka beberapa aplikasi di ponsel, berharap ada email pemberitahuan muncul dari Citra Buana.


"Sudah lama?" Aku mendongak begitu mendengar suara lelaki di sampingku.


"Nggak, baru aja." Juna tersenyum,memilih duduk di sebelah Elea,persis di depanku.


"Bagaimana sekolah di hari pertama? Anak Ayah rewel nggak?" Juna mencubit gemas pipi Elea, 


"Nggak. Elea baik." Jawab Elea, sambil memasukan beberapa potong kentang goreng sekaligus ke dalam mulutnya.


"Pintar sekali anak Ayah ini." Juna mengelus puncak kepala Elea, dan menciumnya singkat. 


"Kami sudah makan?" Tanyaku, karena Juna mencomot beberapa kentang goreng milik Elea, meski gadisku terus mencekal tiap kali tangan jahilnya mengambil potongan kentang goreng,tapi bukan Juna namanya jika tidak terus berusaha.


"Belom!" Jawabannya singkat.


"Mau makan? Biar aku pesankan." 


"Boleh."


"Seperti biasa aja." Karena sudah lama aku mengenalnya, aku sudah paham makanan kesukaannya. Aku beranjak dari kursi untuk memesan makanan Juna. 


Dua Puluh menit,akhirnya aku kembali membawa satu nampan berisi ayam lada hitam dan satu gelas lemon tea. 


"Gak bosen apa,makan kayak gini terus?" Aku menyodorkan nampan berisi makanan persis di depan Juna. 


"Nggak, aku gak gampang bosenan orangnya." 


Aku kembali duduk, menunggu dua orang di hadapanku menyelesaikan makanannya masing-masing,karena aku tidak memesan makanan apapun kecuali segelas kopi hitam.


"Kita sudah seperti keluarga sungguhan ya?" Aku tidak merespon ucapan Juna, berpura-pura tidak mendengarnya.


"Aku tau kamu pura-pura gak dengar." Lanjutnya.


"Aku tidak ingin membahas apapun sekarang, lagipula--"


"Bagaimana di sekolahmu sayang? Sudah punya teman baru?"  Juna mengalihkan pembicaraan, mungkin dia bosan mendengar jawabanku yang selalu sama setiap kali dia berusaha menunjukan niatnya. 


"Elea udah punya teman baru, namanya Gaby." Elea bercerita dengan antusias.


"Oya? Terus?"


"Besok Elea mau bawa sikat gigi ke sekolah, mau belajar cara sikat gigi yang benar. Biar gak bolong giginya." Jelas Elea sambil menunjukkan plastik belanjaan miliknya, berisi cangkir dan sikat gigi. 


"Wah seru ya….!" 


Aku hanya memperhatikan keakraban mereka berdua. Sewaktu aku dan Elea tinggal di Kalimantan, Juna jarang bertemu dengan Elea, paling hanya tiga bulan sekali, tapi setiap kali bertemu Elea pasti langsung bisa seakrab itu dengan Juna. Bahkan terkadang Abang merasa iri, karena Elea tidak bisa seakrab itu dengan Abang. 


Juna tidak lagi bicara hingga ia mengantarku pulang, bahkan dia hanya berbicara dengan Elea saja sewaktu dia pamit pulang. Aku merasa bersalah karena sering kali menolaknya, tapi aku tidak bisa memaksakan hatiku sendiri, jika saja aku bisa mencintainya dengan mudah,mungkin sudah dari dulu aku menerima cintanya. 


Esok paginya belum juga ada email pemberitahuan masuk, aku memilih mengantar Elea sekolah,selain karena ada kegiatan di sekolahnya juga karena aku belum dapat panggilan kerja dari tempat lain. 


Meski jarak antara sekolah dan apartemen cukup dekat, aku memilih menunggu Elea sampai selesai. Bolak-balik dari sekolah ke Apartemen hanya akan membuat pengeluaranku semakin bengkak,karena pagi ini aku menolak diantar supir pribadi Juna dan memilih menggunakan taksi online.


Sementara anak-anak belajar, aku dan orang tua yang lainnya memilih mencari kedai kopi tak jauh dari area sekolah, karena belum sempat sarapan pagi aku memesan roti isi dan juga kopi hitam. Baru saja aku duduk di kedai kopi selama tiga puluh menit, seorang perempuan datang dari arah sekolah dengan tergesa.


"Ibunya Eleanor!" Teriak salah seorang perempuan tadi yang menggunakan berseragam biru bunga-bunga. Ia berjalan cepat menuju kedai kopi dan tanpa henti berseru menyebutkan nama Eleanor.


Merasa nama itu adalah nama putriku, aku segera berdiri,


"Iya,, saya Ibunya Eleanor. Kenapa,Bu?"


"Elea menangis, tidak mau berhenti dan terus memanggil Ibunya." 


"Kenapa?" Aku segera berjalan cepat, bahkan langkahku jauh lebih cepat dari perempuan berseragam biru,yang disinyalir sebagai salah satu guru di sekolah Elea. 


Perasaanku gelisah, aku takut putriku terluka. Elea jarang menangis, tapi begitu dia menangis tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali aku. 


"Tadi gelasnya di rebut salah satu murid yang lain, lalu baju Elea terkena siraman air." 


Aku tidak terlalu mendengarkan penjelasan Bu Guru,  karena aku langsung membuka pintu ruang kelas Elea dengan tergesa. Mataku mencari-cari keberadaan putri kecilku, tidak ada tanda-tanda ada yang menangis hanya ada beberapa orang dewasa mengenakan jas putih tengah memperagakan cara menyikat gigi yang benar kepada anak-anak. 


"Elea diman-," Aku menggantungkan kalimatku begitu aku melihat putri kecilku tengah dipeluk seorang lelaki bertubuh tinggi, dia berlutut dengan satu tangannya mengusap-usap punggung Elea dengan lembut. 


Jantungku terasa berhenti berdetak, apalagi ketika lelaki itu menyadari kehadiranku. Tatapanku bertemu dengan bola matanya. Dia tidak kalah terkejutnya, karena dia langsung berdiri begitu menyadari kedatanganku. 


"Ibu!" Teriakan Elea memutus pandanganku dengannya. 


Elea berlari menghambur ke dalam pelukanku. 


"Tadi Gio ambil gelas punya Elea. Gelasnya pecah terus baju Elea kena air." Meski tangisnya sudah berhenti,tapi  Elea masih terisak. Tanganku gemetar, mengusap air mata di pipinya. 


"Om Revan gantiin gelasnya Elea. Tapi jadi biru warnanya." Meski terisak, Elea tersenyum memamerkan gelas berwarna biru padaku.


"Oh begitu. Kita langsung pulang ya, Ibu sakit kepala. Lagi pula baju Elea basah, nanti kalau gak buru-buru dilepas, takut masuk angin."


Aku tidak menghiraukan tatapan Revan, berpura-pura tidak melihatnya dan memilih menggendong Elea keluar. Namun aku masih bisa mendengar suara ketukan sepatu mengikut langkah kakiku dari belakang, membuatku semakin mempercepat langkah.


"Kanaya tunggu!" Meski aku berusaha melangkah secepat mungkin,tapi langkahku dan langkah kakinya yang jauh lebih besar tidak sebanding, sehingga dia  bisa dengan mudah menyusulku. 


Langkahku dihadang Revan, membuatku berhenti tepat di hadapannya. Kakiku terasa lemas, bahkan aku tidak berani menatap sorot matanya dan memilih menatap ke samping membuang muka. 


"Iya, ada apa?" Aku berusaha bersikap seperti biasa.


"Kanaya." Seolah tidak yakin dan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Revan kembali mengulang menyebut namaku. 


"Maaf saya sedang buru-buru. Jadi saya permisi." Aku mencoba melewatinya, namun dia mencekal lenganku.


"Lepas! Dia anakku!"  Teriakku.


Satu kesalahan bodoh yang terucap begitu saja dari mulutku.