Because Alana

Because Alana
bagian 28



Setelah Kejadian mengerikan siang itu, malam harinya Kanaya tidak bisa tidur dengan tenang. Bayangan mengerikan Mia yang merintih kesakitan bahkan sampai dirinya harus berada di kantor polisi, membuatnya tidak bisa memejamkan mata. Berkali kali Kanaya harus terbangun dengan keadaan tubuh bergetar, nafas memburu, bahkan keringat membanjiri tubuhnya. Tidak ada pilihan lain hingga akhirnya ia memutuskan menghubungi Juna. 


Jarak antara Apartemen miliknya dengan Juna tidak terlalu jauh, sehingga dalam waktu singkat Juna bisa dengan cepat sampai. 


"Semua pasti baik baik saja , Nay. Sekarang istirahat, kamu bisa sakit kalau kaya gini terus.“ Juna terlihat begitu prihatin dengan kondisi Kanaya yang semakin memprihatinkan. Matanya sembab, dan wajahnya pucat. Semakin menambah keprihatinannya. 


"Aku mau ketemu Mia." Bahkan suara Kanaya terdengar parau, akibat terlalu sering menangis. 


"Iya, besok kita kesana. Tapi, kamu harus istirahat dulu." Kanaya mendongkak, mengangkat kepalanya yang sedari tadi ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang pasti terlihat menyedihkan. 


"Apa Mia baik baik saja? Bagaimana bayinya?" Matanya kembali berkaca kaca 


"Mia baik baik aja, besok aku antar kamu kesana. Mau?" Kanaya mengangguk sebagai jawaban. la kembali 


berbaring, menutup wajahnya dengan selimut hingga sebatas Leher dan matanya mulai terpejam. 


Ingin rasanya Juna mendekap dan memeluknya erat. Menguatkan gadis yang amat dikasihinya, dan membisikan kata jika ia akan baik baik saja. Tapi, Juna cukup tahu diri. Ia hanya memandang Kanaya, membiarkan gadis itu terlelap hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk tidur di sofa sebelah tempat tidur Kanaya. 


Juna merasakan pegal di seluruh tubuhnya. Semalaman ia harus tertidur di kursi yang hanya bisa menampung separuh dari tinggi badannya. la terbangun begitu menyadari sesuatu yang hangat menyelimuti tubuhnya. Pandangan Juna menyapu setiap sudut kamar, mencari sosok yang belum terlihat sejak ia membuka mata. Kanaya tak Lagi berada di tempat tidurnya. Juna dilanda kepanikan hingga ia menyusuri semua ruangan yang berada di Apartemen milik Kanaya. Dan suara gemericik air terdengar dari arah kamar Mandi, menghentikan langkahnya 


Membuat Juna menghela nafas lega. Gadis itu masih berada di Apartemennya, 


"Udah bangun?" Tanya kanaya begitu ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Juna yang tengah duduk menunggunya keluar. 


"Maaf udah bikin kamu repot, sampe harus tidur di kursi." Wajah kanaya kembali menunduk. Menjadi kebiasaannya jika tengah merasa bersalah. Juna mendekat, menghampiri "Ga apa apa. Aku mau balik ke Apartemen dulu ya, nanti kita ke Rumah Sakit bareng." Juna mengelus perlahan puncak kepala Kanaya, sebelum akhirnya ia keluar menuju Apartemen miliknya. 


Sesuai janjinya, Juna mengajak Kanaya pergi mengunjungi Mia yang masih dirawat di Rumah Sakit. Setelah mendapatkan informasi tentang keberadaan Mia, mereka langsung bergegas pergi. Selama di perjalanan, Juna berusaha menghibur Kanaya, dengan lelucon lelucon garing yang sesekali membuat Kanya tertawa. Meski masih tampak jelas raut sedih di wajah Kanaya, tapi itu membuat Juna merasa senang bisa melihat gadis itu tersenyum kembali. 


Juna sempat mengajak kanaya membeli bingkisan sebelum mereka sampai, dan Kanaya memilih membeli beberapa jenis buah buahan yang ia tau menjadi makanan favorit Mia. 


Mata kanaya menatap Iurus kedepan begitu ia melihat bangunan berlantai sepuluh yang berdiri kokoh di hadapannya. Bangunan yang menjadi tempat sebuah harapan terkabul dan sebuah harapan yang harus Berakhir. 


"Aku cari parkiran dulu ya, di sini penuh." Suara Lelaki di sebelahnya yang masih sibuk mencari lahan kosong untuk memarkirkan mobilnya, dan kebetulan hari ini cukup ramai. Setelah Juna memberi nomor kamar tempat Mia dirawat, Perlahan Kanaya berjalan melewati Lorong lorong Rumah Sakit yang membuatnya merasa kembali dejavu. Ia kembali teringat bagaimana awal mula bertemu Revan, hingga kini ia benar benar mencintai Lelaki itu. 


Tiba Tiba mata Kanaya menangkap sosok yang baru saja ia pikirkan. Seorang Lelaki memakai kaos hitam,berjalan persis di seberangnya. Langkahnya terlihat terburu buru, bahkan tidak memperdulikan beberapa kali ia menabrak orang yang ada di depannya. Itu Revan. Kanaya tidak mungkin salah mengenali. 


Rasa penasaran yang akhirnya mendorongnya untuk mengikuti Lelaki yang hanya berjarak beberapa meter di depannya. Awalnya Kanaya sempat bingung kenapa ia harus mengikuti Lelaki itu tanpa memastikan terlebih dahulu, itu Revan atau bukan . Tapi begitu ia menyadari jika tujuannya dengan tujuan Lelaki itu sama, barulah dia mengerti. 


Semua kejadian disaksikan dan didengar secara langsung oleh Kanaya, tanpa terkecuali. Dia berharap jika apa yang dia dengar dan apa yang ia Lihat hanyalah mimpi buruk. Namun begitu Revan dan Alex mulai menyerang satu sama Iain, barulah Kanaya menyadari jika yang terjadi bukanlah mimpi. Dan seperti apa yang ia takutkan selama ini akhirnya terungkap, dengan kenyataan dia harus menerima pil pahit kebohongan. 


Kanaya masih sempat mengangkat bibirnya dengan Iemah. Ia tersenyum memandang Revan yang masih mencengkram kerah baju Alex. Namun, senyum itu perlahan memudar, berganti dengan tatapan penuh luka dan air matanya mulai mengalir dari pelupuk matanya. 


Revane menghentakan tubuh Alex dan bangkit mendekati Kanaya. Tapi setiap Revan melangkah maju, justru kanaya melangkah mundur. 


"Nay, ini ga seperti yang kamu kira, please dengerin penjelasanku dulu." Kanaya tidak bergeming, justri ia menggelengkan kepala , seolah tidak ingin mendengar penjelasan Revan. 


"Wow,, ada apa ini? Apa aku melewatkan sesuatu." 


Geri tiba tiba datang. Revan memandang tajam ke arah Gery yang nampak menyeringai puas melihat kekacauan yang terjadi. Tidak memerlukan waktu lama untuk Revan menerjang Gery dengan satu hantaman keras hingga Gery tersungkur. 


"Brengsek! Ternyata lo dalang di balik semua ini, Hah?!" Gerry tertawa, nafasnya terengah mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya. 


"Lo ga sepinter yang gue kira, bahkan lo butuh waktu lama sampai akhirnya Io sadar." Revan kembali memukul Gery dengan membabi buta. Alex yang berada di tengah pertengkaran , mencoba melerai. Meski tubuhnya tak kalah sakitnya akibat pukulan pukulan Revan tadi. 


Mendengar keributan yang cukup nyaring terdengar hingga keluar kamar, membuat Juna semakin mempercepat langkah kakinya. Juna terkejut begitu melihat kekacauan yang ternyata berasal dari kamar Mia. Mata juna semakin terbelalak begitu melihat tiga lelaki berkelahi, satu perempuan menangis menutupi wajahnya ,duduk di atas bangkar dan satu Lagi orang yang semakin membuat Juna terkejut begitu melihat Kanaya menangis menatapnya penuh luka, bahkan Lebih terluka dari waktu ia menangis di kantor polisi. 


Juna ingin segera merengkuh Kanaya, memeluk gadis itu dan membawanya pergi dari keributan yang disebabkan tiga lelaki itu. Namun begitu ia melihat Revan semakin brutal menghajar wajah Gery, akhirnya Juna mendekat menarik Revan. Begitu juga dengan Alex. Begitu juna berhasil menarik Revan, ia pun menarik Gery yang sudah babak belur. 


"Lepasin gue !" Revan meronta, mencoba melepas cengkraman Juna. Dengan wajahnya yang sudah Lebam, Gery tersenyum penuh kemenangan ke arah Revan, membuat Lelaki itu semakin geram 


"Lo terlalu serakah, lo hancurin hidup banyak orang. Jadi apa salahnya hidup Io sekarang gue bikin hancur. Impas bukan?" Ejek Gery. 


"Brengsek!" Revan kembali hendak menyerang, namun masih bisa ditahan Juna. 


"Lo tau gue suka Nita dari dulu. Tapi Lo pura pura ga tau dan itu juga yang Io lakuin ke Juna. Lo egois,Rev. Jadi jangan salahin gue gunain Alana buat bales dendam. Asal lo tau gadis kesayangan Io itu murahan, dia mau gue tidurin sampe hamil, dan Io ga tau." Gery tergelak. 


"Permainan ini semakin seru, apalagi pas gue tau, ternyata adiknya Alana, suka juga sama Lelaki brengsek kaya lo. Mereka sama sama murahan. Tapi permainan jadi semakin tidak menyenangkan akibat lo akhirnya jatuh cinta sama gadis dungu kaya dia." Tunjuk Gery ke arah Kanaya. 


Revan tak mampu Lagi menahan amarahnya, dia 


menghempas cekalan Juna, dan kembali menyerang Gery. Namun kali ini Gery bisa menghindar dan justru melakukan perlawanan balik, memukul wajah Revan. 


"Lo tau, Nita hampir kehilangan nyawanya akibat aborsi yang ia lakukan. Dan Io tau, itu anak siapa? Itu anak Io, brengsek!" Gery kembali memukul wajah Revan. 


"Dia kehilangan bayinya, dan lo kehilangan Alana dan juga, lo bakal kehilangan gadis bodoh Io itu."