Because Alana

Because Alana
bagian 23



"Benarkan dugaanku selama ini, kamu masih mencintainya?" 


 Nita tersentak begitu menyadari Juna tengah berada di belakang nya. Nita buru buru menyeka air matanya dengan kasar.


"Apaan sih!" Nita berdecak, berjalan  menjauhi ruangan dimana Kanaya di rawat. Sedangkan Juna masih mengikutinya dari belakang. 


"Kenapa sih ,Jun?"  Nita menghela nafas kasar, begitu Juna menarik paksa lengannya.


"Aku bener kan, kamu masih mencintai Revan?" Desak Juna,


"Kalau iya memang kenapa?" Nita benar benar kesal, suasana hatinya benar-benar buruk setelah melihat Revan bermesraan dengan Kanya ditambah Juna yang masih mengekor nya menuntut penjelasan.  Sebenarnya Juna tidak perlu repot-repot bertanya,karena tanpa Nita jawab pun dia pasti sudah tahh jawabannya.


" Setelah apa yang Revan lakuin, kamu masih mencintainya?" Juna kembali bertanya,


"Itu bukan urusan kamu!" Nita menggeram


 "Jelas urusanku, kamu masih berharap sedangkan dia tak pernah seklipun menganggap kamu ada. Bahkan dia ga ada saat kamu hampir kehilangan nyawa akibat kamu melakukan aborsi." Mata Nita membesar seketika, seakan kembali diingatkan dengan kejadian paling mengerikan di hidupnya.


Dengan cepat ingatannya terlempar kembali ke beberapa tahun lalu. Dimana ia hampir saja meregang nyawa akibat menggugurkan kandungannya dan mengalami pendarahan hebat. Matanya terasa begitu panas, bahkan tubuhnya bergetar begitu bayangan kelam itu kembali menghantuinya.


Juna mendekat, ia tau jika Nita masih trauma dengan kejadian waktu itu. Perlahan Juna menarik tubuh bergetar Nita membawanya ke dalam pelukan, dan Nita pun kembali menangis.


"Nih,"  Juna memberikan sebotol air mineral setelah Nita kembali tenang.


Mereka duduk di dekat taman yang menghubungkan ruang rawat inap dan UGD.


 "Sejak kapan?" Tanya Nita, ia tidak mungkin bisa menutupinya lagi setelah Juna berkata jika dia tau soal kejadian aborsi waktu itu.


"Sejak lama, semenjak kamu menghilang stelah kamu tiba-tiba ditemukan tidak sadarkan diri di ruang kerjamu. Dan kamu masih berpura-pura tidak terjadi apapun,Padahal aku sudah tau sejak lama."


Nita menghela nafas Iemah, menautkan kedua jemarinya menyembunyikan kegugupan dirinya. 


"Sampai hari ini Revan masih belum tau?" Selidik Juna,


Nita menggeleng Lemah, Juna berdecak kesal, dan meraup wajahnya dengan kasar,


 "Wah,,, hebat ya, Seorang Nita Wijaya, yang amat populer dengan kecerdasaan nya tapi justru sangat bodoh karena mencintai seorang ****, Revan Rahadian." Mungkin jika dalam kondisi biasa, Nita akan dengan senang hati memukul kepala Juna, dengan beraninya mengatakan dirinya bodoh. Namun, kali ini ia hanya bisa pasrah dan diam. Memang kenyataannya dia bodoh, karena terlalu  mencintai Revan. 


"Berhenti bersikap bodoh, apa kamu lupa sampai kapanpun Revan hanya menganggap kamu teman?" 


Nita hanya diam," Kamu hampir kehilangan nyawa, bahkan kamu kehilangan bayi kamu." lanjut Juna. 


"Revan juga kehilangan Alana. Bukankah itu impas?"Juna menatap tajam ke arah Nita


"Apa kamu terlibat?" Mata Juna memicing,satu alisnya terangkat penuh curiga.


"Tidak!" jawab Nita tegas. 


"Lalu?" 


"Aku hanya mencintainya, apa itu salah? Bahkan aku sudah melakukan apapun agar dia bisa melihatku. Tapi dia justru malah mendekati Kanaya yang tidak ada apa apanya dibanding aku. Aku hanya ingin dia mencintaiku juga. Apa salahnya jika aku kembali berusaha?" Nita begitu menggebu, bahkan terdengar begitu putus asa. 


"Jangan sakiti kanaya!" 


"Jadi benar, kamu juga menyukai gadis bodoh itu?" Ledek Nita,


"Apa kamu masih belum puas dengan kejadian waktu dulu ? Kenapa kalian dengan mudahnya menyukai gadis seperti dia, kenapa bukan aku?"


"Tolong berhenti, dan lupakan Revan." Pinta Juna. 


"Aku gak mau Iagi bicara sama kamu, ambil Kanaya bodohmu itu, dan aku akan merebut Revan kembali. Apapun caranya". Ucap Nita. 


Nita tidak ingin mendengar apapun balasan Juna, ia berjalan meninggalkan Juna yang hanya bisa menatapnya kepergiannya. 


KANAYA POV


Aku masih menunggu Revan datang, bahkan hampir setiap menit aku terus memandangi jam dan pintu secara bergantian. Sebelum berpamitan pulang, Revan sempat berjanji jika hari ini ia akan datang menjemputku untuk menghadiri acara pertunangan kakaknya, Reno. Tapi, ini sudah jam dua siang dan Revan belum juga datang. Aku semakin gelisah, bahkan ponselnya pun tak bisa dihubungi. Revan kemana? 


Suara pintu terbuka, aku buru~buru menoleh berharap itu Revan. dan untuk kesekian kalinya aku kecewa. 


"Revan takan datang!" ucapnya tanpa basa basi langsung masuk dan semakin memperburuk suasana hatiku. 


"Dia takan datang, hari ini ulang tahunnya Alana, tak mungkin dia melewatkannya," sambungnya.


 Oh tuhan apa sebenarnya maksud perempuan ini? 


"Dia pasti datang!" Aku berusaha bersikap tenang meski hatiku sudah mulai tidak tenang.


"Aku lebih mengenal dia dibanding kamu!" 


"Aku mengenal dia dari semenjak kita SMA, jadi aku tau seberapa seriusnya dia sama kamu, dan sebesar apa cintanya kepada Alana."


Entah apa maksud dari ucapan Nita,hanya saja aku memang sudah lama menyadari jika Nita memang tidak menyukaiku, bahkan di hari pertama kita bertemu, Nita dengan terang terangan memperlihatkan sikap tidak sukanya padaku. Tapi tunggu dulu, jika mereka mengenal dari pas masih SMA? Apa Nita perempuan yang di maksud Juna tempo hari? 


"Ah, rupanya kamu masih mencintai Revan?" Meski sebenarnya aku tidak yakin dan hanya menduga saja, tapi raut wajah Nita seketika  berubah seketika. Nita terlihat semakin terlihat geram.


"Apa kamu merasa spesial di mata Revan? " Nada bicaranya sungguh terdengar seperti ejekan.


"Kamu tak lebih dari perempuan perempuan yang ia kencani selama ini, diperlakukan baik selagi masih di butuhkan, dan akan dibuang begitu Revan merasa bosan. Karena, Revan hanya mencintai Alana!"


Kepalaku mendadak pusing, mendengar ucapan Nita. Tapi, aku tidak boleh terlihat Lemah. 


"Ahhh, apa kamu juga termasuk salah satu dari mereka yang pernah Revan kencani? Dicampakkan setelah Revan puas? Kasihan sekali, pasti menyedihkan sekali bukan?" Kubalas ejekannya, entah keberanian dari mana aku mampu membalas perkataan Nita, meski sebenarnya tubuhku begitu gemetar menahan sesak di hati. 


Nita semakin tersulut emosi, ia menggeram bahkan ia berjalan semakin mendekat. Ia mencengkeram lenganku, bisa kurasakan jari kukunya menancap di atas permukaan kulitku dan mulai merobek lapisan kulit tanganku.


"Perempuan kurang ajar!" Desisnya.


Nita semakin mencengkramkan tangannya, membuatku meringis kesakitan. Aku tidak bisa membalas,karena kakiku belum bisa bergerak bebas. Aku pun hanya bisa pasrah,jika Nita melakukan hal lebih buruk padaku,namun tiba tiba pintu terbuka membuatku menghela nafas lega, bagaimanapun juga aku sedikit ketakutan  tak bisa melawan bagaimana buasnya Nita,dengan kondisiku seperti ini.  


"Non sudah siap? Saya di suruh Pak  Revan jemput." Ucap pak Rahmat.


 Sudut bibir Nita terangkat, tersenyum sinis,


"See,, benar bukan? Revan takan melewatkan hari ini, hanya untuk menjemput perempuan biasa seperti dirimu." 


Seakan puas mengejekku karena dugaan nya tepat, Nita berlalu pergi.


"Pak, Revan memangnya kemana?" Tanyaku. Kini aku berada di mobil milik Revan, hendak menuju kediamannya. 


"Kurang tahu,Non. Tadi Pak Revan berangkat pagi-pagi sekali. Saya cuman di suruh jemput." 


Aku hanya mengangguk,meski jawaban pak Rahmat tidak membuatku puas. Pak Rahmat sesekali melirik ke arahku yang hanya diam selama perjalanan.


Tujuan awal pak Rahmat ditugaskan mengantarku ke apartemen milik Revan,tapi suasana hatiku sungguh sangat buruk, aku tak mungkin bertemu dengan keluarga Revan dengan kondisi wajahku yang berantakan. 


Dengan segala bujukan hingga perdebatan alot, akhirnya pak Rahmat mengalah,la menuruti keinginanku,berbalik arah mengantarku pulang.


Aku masih kesulitan berjalan, kakiku masih terasa sakit, dan untuk berjalan pun aku masih dibantu menggunakan tongkat. Pak Rahmat mengantarku hingga depan pintu apartemen, dia juga membantu membawa barang-barang dan meletakkannya di ruang tamu. Setelah itu aku langsung menyuruhnya pulang, dan memberitahukan kepada Revan aku tidak jadi ikut ke acara pertunangan kakaknya.


Kurebahkan tubuhku di kasur, aku sangat lelah padahal perjalanan dari Rumah sakit ke apartemen tidak terlalu jauh,hanya memerlukan waktu kurang lebih satu jam.Tapi, aku justru merasa sangat lelah.


 Kulihat Jam di atas nakas,persis sebelah tempat tidur. Waktu sudah menunjukan pukul lima sore tapi, tidak sekalipun Revan menghubungiku, hanya untuk sekedar menjelaskan atau memberi alasan mengapa ia tidak  datang. Yang lebih membuatku kesal, hingga detik ini ponselnya masih sulit dihubungi.


Tiba-tiba ponsel menyala, nama Juna tertera di layar ponsel. 


"Hallo" 


"Sudah sampai rumah ?" Tanyanya dari seberang sana. 


"Baru sampai," 


 Ada jeda sejenak di antara kita, aku tau kita masih sama sama canggung setelah kejadian waktu itu dan ini kali pertama Juna kembali menghubungiku.  


"Bagaimana luka kamu? Sudah membaik?" Tanya Juna.


"Aku baik-baik aja, Juna." Aku tau dia pasti masih merasa bersalah, meski berkali-kali aku mengatakan aku sudah membaik sekalipun.


"Aku benar benar minta maaf, gara gara aku kamu dipukul Revan," aku merasa sangat bersalah karena diriku,Juna harus menerima pukulan Revan. Bahkan hingga wajahnya lebam.


"Kenapa kamu minta maaf? Aku pun memukul Revan. Apa dia ga datang hari ini?" 


"Mmm, apa karena ulang tahun Alana?" 


"Nay?"suara Juna terdengar lirih seperti tengah mengasihaniku. 


"Iya kan?" 


"Bukan seperti itu, Kanaya. Itu tidak  seperti yang kamu kira."


 "Aku menyedihkan bukan?" Aku tertawa, menertawakan diriku sendiri dan juga kebodohanku.


Aku merasa begitu kecil, jika mengingat bagaimana orang orang membahas tentang Alana. Tawaku semakin kencang tapi semakin terdengar hambar, suaraku terasa tercekat di tenggorokan dan dadaku sakit. 


"Kanaya, please. Jangan nangis, kalau kamu nangis aku bisa mendobrak pintu di depanku ini."