Because Alana

Because Alana
bagian 4 Kanaya pov



Lengan sebelah kanan terasa keram dan kebas. Bau alkohol menyengat memenuhi indra penciuman, bahkan semua ruangan di dominasi warna putih. Aku di Rumasakit


Perlahan aku membuka mata, mengamati setiap penjuru ruangan dan betapa terkejutnya aku saat kulihat seorang wanita paruh baya tengah tertidur di sebelahku sambil memegang erat tanganku. Itu Ibu.


Aku mencoba mengingat hal terakhir yang terjadi sebelum aku benar- benar tak sadarkan diri. Tapi hanya beberapa hal yang mampu aku ingat, yaitu ketika keluar dari toilet dan melihat Rani. Setelah itu aku tak mampu mengingat apapun lagi.


Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri, bahkan Ibu yang berada di Bandung pun kini ada di sampingku. aku kembali memejamkan mata, mencari cara bagaimana menjelaskan semuanya pada Ibu dan juga Abang Ramzi.


" Jadi , apa aja yang ibu ga tau?," Ibu menyadari jika aku sudah sadar, ia menegakan tubuhnya, duduk dan menatapku.


Aku menghela nafas berat, membuka mataku seutuhnya . Aku tau hari ini akan menjadi hari yang panjang, dan aku harus siap di interogasi Abang dan juga Ibu.


" kenapa ga cerita kalau kamu sakit ? kenapa juga ga cerita kalau Mia dan Alex menikah ? Apa kamu sudah tidak menganggap aku Ibumu?." Mata ibu memerah , berkaca - kaca dan menangis. Inilah yang selalu aku takuti, aku takut melihat ibu menangis dan membuatnya sedih.


" Maaf" Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Satu kata yang mewakili semua penyesalanku karena selalu sukses membuat Ibu menangis.


Ku usap airmata di wajah tirusnya, sungguh pemandangan menyakitkan melihat ibu menangis. Bahkan lebih menyakitkan dari pada melihat Alex menikah.


" Nay baik-baik aja, Bu . Ibu ga usah hawatir."


Ibu menarik lenganku, membawa kedalam genggamnya . Lengan hangat ajaib milik Ibu yang mampu meredakan semua rasa sedih ataupun resah hanya dengan usapannya.


Sapuan lembut jemari ibu membelai wajahku seolah ia ingin memberiku semua kekuatan yang ia miliki padaku.


"Kata Dokter, penyakit kamu masih banyak peluang untuk sembuh. yang Ibu khawatirkan justru ini ," Ibu mengusap dadaku dengan tangannya, sedikit menekan lembut tepat di bagian hatiku.


"Alex dan Mia__,"


" Nay baik-baik aja ,Bu." Aku menyela ucapan Ibu.


" Aku ga tau harus mulai cerita dari mana, hanya saja aku dan Alex memang tidak berjodoh" Jelas ku meyakinkan Ibu.


" Jangan sampai Abang tau ya?,nanti biar Nay cerita kalau waktunya udah tepat." Melihat reaksi Ibu yang hanya diam,bisa di pastikan sesuatu tengah terjadi.


" Abang udah tau ?"


Seperti dugaanku, ibu mengangguk membenarkan.


Aku memijat pelipis , seketika aku kembali di serang rasa pusing, tapi kali ini justru pusing yang berbeda. Aku sangat memahami bagaimana peringai kaka lelakiku itu. Apalagi semenjak Ayah pergi untuk selama-lamanya, dia menjadi satu-satunya lelaki yang bertanggung jawab mengurusku dan Ibu.


Abang lelaki yang penuh dengan tanggung jawab, dia merawat ku, dan membiayai semua kehidupanku dan juga Ibu. Bahkan dia sampai menomor duakan kehidupan pribadinya dan hanya mengutamakan aku dan juga Ibu.


Abang menjadi orang pertama yang sulit untuk di yakinkan, jika Alex benar-benar serius menyukaiku. Awalnya abang menolak dan menentang hubunganku, hingga lambatlaun aku dan Alex mulai membuatnya percaya.


Berulang kali Bang mewanti-wanti Alex jika suatu hari dia menyakitiku, maka Abang akan menjadi orang pertama yang akan menghajar Alex.


Dan jika Abang benar- benar mengetahui kejadian yang sebenarnya antara aku dan Alex, aku tidak yakin wajah Alex akan selamat dari pukulan Abang.


" Abang dimana sekarang? "


" Ibu kurang tau, begitu Abang mendapat berita kamu pingsan, dia langsung ke Jakarta . Baru setelahnya ibu nyusul. Pas sampai sini, Abang udah ga ada. Kata temen kamu ,Abang tiba-tiba pergi setelah menerima telepon dari seseorang."


Aku semakin yakin, Abang pasti mendatangi rumah Alex.


Selang beberapa waktu seseorang masuk, aku berharap itu Abang Ramzi pulang. Tapi ternyata itu Dokter dan Suster yang datang, hendak mengecek kondisiku. Aku ingat itu Dokter yang pernah aku temui ketika aku berobat tempo hari.


" sudah merasa lebih baik?"


" sudah,Dok."


Dokter masih memeriksa selang infus " Saya sudah memberi obat pereda nyeri, kalau ada apa-apa bisa langsung panggil suster jaga di depan."


Aku terus memperhatikan penjelasan Dokter, dan mataku menangkap name tag yang ia kenakan di kantong jas putihnya. Dr. Revan Rahadian, nama yang sangat bagus.


Suster segera keluar setelah selesai mencatat semua perkembangan ku , menyisakan Dokter Revan yang masih mengamati jarum infus di pergelangan tanganku yang sempat mengeluarkan darah akibat ulahku yang tak sengaja kutarik. Begitu Dokter Revan hendak keluar, seseorang terlebih dulu mendorong pintu dari arah luar dengan kencang, membuatku dan Dokter Revan terlonjak kaget.


" Sial, harusnya gue matiin tuh si Alex, emang kurang ajar !" Dari umpatan yang tak hentinya keluar dari mulutnya, bisa aku pastikan itu Abang yang datang.


Abang datang dengan emosi penuh, matanya memerah dan raut wajahnya menggelap, bahkan Abang berkacak pinggang sembari terus meluapkan kekesalannya.


" Kamu harusnya siram mereka berdua pake air comberan, bukannya malah pingsan !"


" Abang ...," Aku memangggil nya semanis mungkin, mencoba mengalihkan sedikit emosinya yang semakin menjadi-jadi. Aku tau Dokter Revan masih belum keluar dari kamarku. Bahkan dia hanya diam mematung menatap horor ke arah Abang. Mungkin Dokter tampan itu akan menganggap kakaku lelaki setengah perempuan .


" Dari dulu Abang ga pernah setuju kamu pacaran sama Alex, dia lelaki ga bener. Dan sekarang terbukti kan ?. Dulu kamu menolak teman Abang, si Adam. Kamu bilang Adam cowok ga bener lah, nyatanya justru Alex kan yang ga bener?"


Aku tak mungkin bisa mengalahkan kecepatan berbicara Abang yang setara dengan kecepatan pembalap internasional Valentino Rossi.


" Kamu ga bisa nolak lagi, Abang tetap mau jodoh'in kamu dan Adam. Apalagi sekarang kamu sakit dan harus segera punya anak. Benar kan , Dok?"


Dokter Revan terlonjak bagitu namanya di sebut, di libatkan dalam pembicaraan.


" Ah... itu.. iya benar." Dengan canggung ia menjawab.


Mataku melotot seketika begitu mendengar nama Adam, si lelaki playboy mesum yang selalu abang jodohkan denganku. Tubuhku yang awalnya terasa lemas, kini kembali bertenaga dan siap melawan, menyerang perkataan Abang.


" Nay, ga mau sama Adam !" Suaraku mulai meninggi, mengimbangi suara Abang.


" Ga ada bantahan lagi, kamu harus segera menikah. Kamu haru sembuh, dan itu dengan Adam."


" Abang ga bisa gitu dong, aku udah bilang berkali-kali. Aku ga mau sama Adam."


" Kali ini ga ada penolakan Kanaya,"


" Ga bisa! . Nay, ga mau"


" kamu mau bantah?" Abang tak mau kalah, dia semakin meninggikan suaranya. Mungkin jika aku masih berada di ruangan UGD, aku yakin satu lorong akan mendengar lengkingan suara Abang.


" Iya , Nay menolak. kalau emang Abang merasa Adam calon ideal, kenapa ga nikah aja sama Abang. Kan, Abang juga belum punya pasangan."


" Apa? kamu kira Abang homo ?!"


" Emang iya kan, buktinya udah tua ga nikah "


pertengkaran yang tak akan ada habisnya jika aku dan Abang tengah beradu argumen. Biasanya jika dalam keadan baik-baik saja , aku bisa menyerangnya bukan hanya dengan mulut pedas ku, tap aku juga bisa mencakar wajahnya. Sempat dulu kita bertengkar hebat dan berakhir dengan goresan tajam di pipi kanan Abang , akibat cakaran kuku.


Dokter Revan hanya memandang bingung, sesekali matanya menatapku dan menatap Abang bergantian. kasihan melihat wajahnya yang tersiksa dan harus berada dalam situasi panas antara aku dan Abang. Hingga ibu muncul dari balik pintu kamar mandi,


" Stop !!, kalian ga malu dari tadi berantem?. bahkan masih ada Dokter disini, apa kalian ga malu ?!." Lengkingan suara ibu mampu membungkam mulut abang dan juga aku.


Dengan perasaan kesal, aku menghempaskan tubuhku di bangkar , menyelimuti diri hingga sebatas kepala. Membiarkan Abang yang masih terus berlanjut membahas masalah Adam.


"kalau begitu saya permisi." Akhirnya, Dokter Revan bisa meloloskan diri. Aku yakin dia pasti sudah sangat ingin menghilang dari ruangan ku sejak tadi.


" Iya, terimakasih Dok. Kalau ada tolong beri adik saya obat anti berontak, dia sangat keras kepala soalnya." ck,, bisa-bisanya dia masih berucap seperti itu.


________


Abang masih menatap tajam kearahku,ketika Ibu menyuapiku bubur. Kilatan emosi masih terlihat jelas dimatanya, aku tau dia tidak sepenuhnya marah. Abang memang sering berlebihan, mungkin dia masih menganggapku adik kecilnya yang sering meminta di temani tidur untuk menggantikan Ayah dulu.


" Abang...." Rengek'ku


" Apa?!"


". Galak amat sih jawabnya, " Abang melengos, membuang muka menghindari tatapan memohon'ku yang pasi akan sulit dia hindari.


" Udah napa marahnya, sini duduknya deket'an jangan jauh-jauh. Ga kangen apa?" Sekeras apapun sifat Abang, dia akan luluh jika aku mulai mengeluarkan rengekan, jurus andalanku.


Seperti biasa Abang pasti kalah, akhirnya dia mendekat dan duduk di samping Ibu.


Aku tersenyum melihat tingkahnya yang menyebalkan. Kupeluk lengan kokohnya yang selalu menjadi tempat ternyaman untuku bersandar.


" Jangan marah, Nay baik-baik aja ko," Kudengar helaan nafas nya dan balik memeluku, " Jangan lagi bikin Abang hawatir, Nay. Abang takut." Lirihnya, terdengar jelas di telingaku.


" Abang mau dengar semua yang terjadi antara kamu, Mia dan juga Alex. Ga boleh ada satupun yang terlewat. Ngerti ?" . Aku menganggukan kepala sebagai jawban ,mulutku kaku dan mataku muali perih hingga air mata kembali lolos dari pelupuk mataku.


" Nay mau cerita , tapi Abang harus janji ga akan marah atau menyakiti siapapun" .


" iya, Abang janji. ceritanya ga pake nangis ya. mata Abang sakit liat wajah jelek kamu". Balasnya sembari mengusap air mataku dan mencubit hidungku. Ibu hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya yang terkadang bisa sangat akur dan bisa juga berubah seperti musuh dalam waktu sekejap.


Aku pun menceritakan setiap detil kejadian yang aku alami.Dan akhirnya aku menyadari satu hal, jika orang yang mencintaiku dengan tulus hanyalah Abang dan Ibu, mereka menjadi dua orang paling berharga untuku saat ini.