Because Alana

Because Alana
bagian 20 kanaya pov



AKu berjalan gontai, tubuhku terasa Lemas. Bahkan KakiKu terasa melayang Layang di udara. Pasokan oksigen yang dihirup terasa berubah menjadi karbon dioksida yang begitu mencekik tenggorokanku. 


"Hasil rontgen sudah keluar dan kista yang ada di rahimmu sudah semakin besar, kita harus melakukan penanganan lebih lanjut. Tindakan operasi bisa jadi pilihan paling tepat. Tapi ada resiko yang harus kamu tanggung. Kemungkinan besar kamu akan sulit memiliki keturunan bahkan mungkin tidak akan memiliki keturunan."


Kalimat dokter Airin terngiang di kepalaku, berputar-putar bak kaset rusak. Apalagi hal yang membuat wanita merasa tidak sempurna dalam hidupnya,selain tidak bisa memberikan keturunan kepada suaminya. Dan, itu yang mungkin akan terjadi padaku. 


"Kanaya!" seseorang dari belakang menahan tubuhku yang nyaris terjatuh. 


"Kamu baik baik aja?" Tangannya memapah tubuhku. Aku tidak mampu lagi menahan berat tubuh sendiri, tenagaku seakan diserap hingga habis.  


"Rev?" Begitu melihat Revan aku langsung memeluknya, menangis sejadi-jadinya di pelukan Revan. 


"Aku harus bagaimana sekarang?" Revan semakin mengeratkan pelukannya. 


"Aku sakit,,,aku sekarat.Aku ga sempurna!" Hatiku perih, selama ini aku selalu berusaha agar tidak lemah menghadapi apapun. Sejak kepergian Ayah untuk selamanya, aku jarang merengek ataupun berkeluh kesah pada siapapun. Namun detik ini, ketika aku mendengar penjelasan dokter Airin, hatiku sungguh sakit. Begitu menyedihkannya hidupku,  


"Semua akan baik baik aja." Revan melepas pelukannya, mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Sorot mata teduhnya menatap dalam bola mataku.


"Kamu pasti baik baik aja. Kita pasti bisa mencari jalan keluarnya bersama." 


Aku takut, bahkan kini aku kehilangan kepercayaan diriku. Siapa lelaki yang mau menikahi perempuan tidak sempurna seperti diriku, sekalipun Revan mencintaiku, aku takut membuatnya kecewa karena ketidak sempurnaanku. 


Revan memilih mengantarku pulang, bahkan dia harus menukar jadwal kerja dengan teman nya. Begitu juga denganku, aku terlalu lemas untuk berangkat ke tempat kerja, jadi aku memutuskan untuk pulang. 


Selama perjalanan aku memilih diam, begitu juga dengan Revan. Tidak ada yang bicara hingga sampai ke apartemen


"Aku keluar sebentar, ga akan lama. Kamu istirahat nanti aku kembali." Aku hanya mengangguk, diam di tepian tempat tidur.


"Setelah minum obat Langsung istirahat," aku kembali mengangguk. Bahkan untuk menjawab pun aku sudah tidak memiliki tenaga.


Revan beranjak meninggalkanku sendiri di kamar,ucapan Dokter Airin masih terus terngiang di kepalaku. Aku benar benar sudah lelah menangis, tanpa sadar aku tertidur. 


Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku terkesiap saat kurasakan ruang kosong di sebelahku berguncang pelan. Sebuah lengan menyelusup melingkari pinggang hingga ke perut. Aku merasa tubuhku ditarik perlahan hingga punggungku menyentuh dadanya. 


"Semua akan baik baik aja. Kamu pasti sembuh . Percaya padaku." Perlahan aku berbalik menghadap ke arahnya. Mataku bertemu dengan manik hitam mata Revan.


 "Kamu pasti bisa lewatin ini. Aku akan selalu disampingmu, apapun yang terjadi." Ucapnya sembari mengelus lembut pipiku. Aku melesak ke dalam pelukan Revan,membenamkan wajahku di dadanya.


 "Aku takut," lirihku dan aku kembali menangis. 


Jika saja aku tidak bertemu Revan, entah seperti apa hidupku, kemalangan demi kemalangan terus menghampiriku, tanpa henti. Mungkin jika aku tidak memiliki Revan, aku sudah memilih mati daripada hidup penuh dengan penderitaan seperti ini. 


"Aku udah cukup sehat Rev!" Rengeku. 


Revan benar benar memperlakukanku seperti orang lumpuh. Dia hanya memperbolehkanku duduk, sedangkan dia sibuk membersihkan perabotan kotor sisa makan malam. 


"Rev?"


Revan mendekat, tanpa menghiraukan rajukan ku dia justru mengangkat daguku kemudian menciumku dengan lembut. 


"Apa harus dicium dulu, supaya kamu berhenti merajuk?" Wajahku tiba-tiba panas.


"Tolong istirahat, simpan tenagamu supaya cepat sembuh. Untuk hal lain biar aku yang urus, termasuk cuci piring."


"Ha?!"


"Jadi pacar penurut. Aku hanya ingin kamu istirahat dan jauhi hal hal yang bisa membuat kamu kelelahan." 


"Tapi Rev, aku baik baik aja, kamu ga pe_" Revan menangkup kedua pipiku dan kembali menciumku. Kali ini ditambah lumatan kecil. 


"Ternyata kamu lebih suka dicium daripada mendengarkan ucapanku." Revan kembali melumat bibirku, ciumannya semakin dalam. Aku semakin kehilangan kesadaran begitu Revan mulai menenggelamkan wajahnya di ceruk Leherku. Dia menyusuri Leherku dengan bibirnya, mengusap dengan lidahnya dan meninggalkan jejak basah membuatku linglung tak karuan. 


"Rev?" 


"Mm?" Suaranya beratnya terdengar persis di  dekat telingaku , bahkan deruan nafas nya terasa menyapu hangat di Leherku. 


Aku menahan kedua pundaknya begitu aku menyadari ciuman Revan semakin liar dan semakin turun ke bawah. 


"Jangan membantah, jika tidak aku akan melanjutkannya lebih jauh." Aku kehilangan kata kata untuk membantah. Bahkan ancaman nya  begitu menghipnotisku, 


Revan membersihkan semua peralatan dapur bahkan menempatkannya ke tempat semula dengan rapi. 


"Aku beli buah, sayur dan juga daging. Aku sudah membuang semua makanan instan di kulkas. mulai sekarang berhenti mengkonsumsi junk food. Termasuk mie instan."


"Hah?!" 


 Revan mungkin sudah tau, aku sangat menyukai mie instan, karena hampir semua isi kulkasku hanya diisi dengan makanan siap saji dan mie instan. Aku menghampiri Revan yang tengah merapikan belanjaan di kulkas, seketika mataku terbelalak begitu melihat isi kulkasku yang semula hanya berisi makanan siap saji, kini penuh dengan berbagai jenis buah dan sayur. 


"Bisa masak kan?" 


"Mm itu.. sebenarnya,"


"Oke. Jadi aku yang masak mulai hari ini.Besok kamu masih berangkat kerja?" 


"Mm, aku rasa aku udah Iebih baik. Jadi aku mau berangkat kerja."  Revan mengangguk, ia berjalan ke arah kamar abang Ramzi, tak lama ia keluar dengan pakaian yang berbeda. 


"Loh,,, k0?" 


"Aku membawa beberapa baju, dan baju kotor besok di cuci bi Asih, termasuk baju-baju kamu juga. Besok dia datang sekaligus bantu bantu pekerjaan yang Iain."


"Tapi Rev,??" 


"Aku akan tinggal di sini." Tegasnya, rasanya mataku hampir Loncat dari tempatnya, begitu mendengar penuturan Revan. 


"Kamu ga perlu khawatir, kita di kamar terpisah." 


Jelas harus pisah kamar, kita bahkan belum menikah jadi tidak mungkin satu kamar bersama. 


"Tapi kamu?" 


"Ga ada tapi-tapian. Aku mau kamu sembuh dan aku perlu memastikannya sendiri. Akan sangat merepotkan kalau kita tinggal di rumah yang berbeda. jadi tinggal bersama Iebih baik. Mulai besok kamu berangkat dan pulang biar aku yang antar. Kalau kamu protes, aku akan melarang kamu bekerja."  Aku masih menatap Revan dengan tatapan tidak percaya, bagaimana bisa dia seperti ini? 


"Aku harus ke Rumah sakit, aku akan pastikan aku sudah di rumah sebelum kamu berangkat kerja." Revan tersenyum mengelus rambutku, mengecup bibirku sekilas lalu pergi.


 Aku masih berusaha  mencerna setiap ucapan Revan. Apa yang lelaki itu lakukan? Bahkan dia tidak meminta ijinku untuk tinggal di sini.


Astaga,,, Yang benar saja aku harus satu rumah dengannya. Bagaimanapun juga aku harus mencari cara agar ia membatalkan niatnya tinggal di apartemenku. Aku bisa dicincang hidup-hidup,jika Abang tau aku tinggal satu apartemen dengan seorang lelaki.


Sementara itu di kediaman Mia


"Bagaimana kalau minggu besok Kita buat acara baby shower?" Tanya Alex begitu ia duduk bersama di meja makan untuk sarapan, sebelum berangkat kerja. 


"Untuk apa?" Tanya Mia


"Sekalian acara perpisahan dengan teman temanmu, kamu harus resign secepatnya." 


"Tapi Al?"


"Aku ga mau kamu jadi bahan olok-olokan ,jika mereka tau kamu hamil di luar nikah. Kamu Iebih aman di rumah, kalau bosan kamu bisa ikut senam hamil, sekalian mempersiapkan persalinan nanti." Alex memotong kalimat Mia. Mata Mia sudah mulai  terasa panas bahkan ia sudah tampak berkaca kaca. 


"Kenapa?" Tanya nya dengan suara bergetar.


"Kenapa kamu lakuin ini? Apa karena Alana?" Lanjutnya,


"Ini tak ada hubungannya dengan Alana. Alana sudah tenang di alam sana, jadi jangan libatkan dia dalam hal apapun. Dendam tidak akan membawamu kemana mana. Menjadi jahat tidak akan menyelesaikan apapun."


Mia masih Iekat menatap Alex,. Sekarang dia tau mengapa Kanaya amat mencintai Alex, karena lelaki ini begitu dewasa dalam menyikapi setiap masalah. Seperti halnya waktu itu, bisa saja Alex tidak menikahinya dan berpura-pura tidak melakukannya. Tapi, dia justru bertanggung jawab, mengorbankan perasaannya dan bertanggung jawab sampai hari ini.  


"Ayo berangkat, aku antar. Oh ya kamu boleh undang siapapun. Termasuk Kanaya."


Mia tersenyum miris begitu mendengar nama Kanaya.


"Dia tidak akan mau datang."


"Dia pasti datang, cobalah perbaiki hubunganmu dengannya. Dia begitu menyayangimu." 


"Termasuk kamu juga masih mencintainya?"


"Dia terlalu sempurna untuk aku lupakan begitu saja." Tanpa sadar kata -kata Alex membuat hati mia tertohok. Ternyata tidak mudah menggantikan Kanaya di hati Alex.


Mereka berangkat bersama tanpa mereka sadari seseorang tengah memperhatikan dan mengikuti dari belakang.