Because Alana

Because Alana
episode 27



Revan memijat pangkal hidungnya, menumpukan sebelah tangannya di pinggiran kursi, membiarkan dirinya bersandar dengan kepala menengadah. 


Waktu begitu singkat hingga kini ia berada di Singapore, dan yang membuat kepala nya terasa semakin sakit yaitu‘ ia tak bisa menemukan ponselnya. Revan yakin jika sebelum berangkat ia meletakan ponselnya di dalam tas yang ia bawa. Tapi, begitu ia periksa ponselnya hilang entah kemana. 


Pagi itu, setelah mengantar Kanaya berangkat kerja, Revan pun Langsung menuju Rumah Sakit, begitu sampai Dokter Tama memintanya menggantikan seminar yang diadakan   di Singapura hari ini. Awalnya Revan menolak tapi, begitu Dokter Tama menjelaskan alasannya tidak bisa hadir dikarenakan anaknya sakit, Revan akhirnya mengalah. 


Revan tidak sempat bertanya dengan siapa ia akan berada di acara tersebut. Begitu semua keperluan siap ia hanya langsung berangkat ke Bandara,menurut informasi yang diterimanya,Revan akan didampingi satu rekan kerja sesama Dokter juga,tapi Revan tidak tahu siapa,karena sampai dia duduk di kursi penumpang,rekan kerjanya itu belum juga muncul.  Begitu ada seorang perempuan yang datang dan duduk di sebelahnya barulah Revan tau jika rekan kerjanya kali ini adalah Nita.


Sesampainya di Singapura,Revan langsung menuju Hotel yang sudah terlebih dulu di pesan pihak Rumah sakit,kebetulan tempat diselenggarakannya acara dan tempatnya istirahat satu bangunan yang sama.


 Seseorang membuka pintu,hingga Revan menoleh. Ia terkejut begitu melihat Nita masuk dan membawa serta koper kecil yang digeretnya masuk kedalam kamar


" Kenapa?" Nita seolah tau tatapan penuh tanya Revan. 


"Jangan bilang kita satu kamar!"


Nita tersenyum, mengangkat bahunya acuh, ia justru berjalan dan meletakan koper kemudian membukanya. 


Revan beranjak dari kursi, memasukan kedua tangannya kedalam kantong celana " Apa semua ini rencanamu?" Nita tergelak tertawa " Maksud kamu ? Kita hanya berbagi kamar bukan berbagi kenikmatan, Rev. Kenapa kamu seserius itu?" 


Revan menyeringai, "Oke, silahkan pergunakan kamar sesuka hati kamu."


Revan berbalik menuju arah pintu keluar. 


Begitu tangannya menyentuh handle pintu, sepasang tangan melingkari perutnya, memeluk erat tubuhnya dari belakang. 


"Tidak bisakah kita kaya dulu lagi, Rev?" Suara lirih Nita diiringi isak tangisnya, "Aku udah berusaha jadi yang kamu mau, bisakah kamu memberiku kesempatan sekali saja? Berhenti menganggapku teman atau pelampiasanmu saja, aku mencintaimu Rev. Sangat."


Revan memegang kedua tangan Nita, perlahan ia coba melepas , meski Nita semakin erat memeluknya. Revan berbalik begitu pelukan Nita terlepas. 


"Aku sudah memberitahumu sejak dulu, bahkan sebelum kamu membiarkan Juna pergi. Aku hanya menganggap kamu teman, aku menyayangimu. Tapi, hanya sebatas teman, dan aku minta maaf atas semua yang terjadi antara kita. Aku memang sebrengsek itu, dan aku benar benar minta maaf." 


Nita menggeleng kuat, air matanya semakin mengalir deras. 


"Dengar Nita," Revan menaruh kedua tangannya di bahu Nita, menatap dua bola mata Nita yang basah dengan tatapan penuh penyesalan.


"Aku sungguh menyesal, membuatmu banyak menderita karena ulahku. Sejak awal perasaanmu padaku salah. Kamu ingat bagaimana Juna mengubur impiannya menjadi dokter dan memilih menjadi Chef meski ia tidak menyukainya? Aku sangat menyesal, karena diriku kamu dan Juna sama sama menderita. Hingga aku memilih mendekati Alana supaya kalian memiliki kesempatan saling membuka diri. Tapi, hingga peristiwa kematian Alana terjadi, kamu masih belum berubah."


Nita semakin terisak, "Aku menghargai perasaanmu. Tapi, aku tidak bisa menerimanya" . Revan menghela nafas lelah menarik satu tangannya dan mengelus rambut Nita 


"Mulailah membuka hatimu untuk orang Iain. Kamu tau bahkan Gery sangat mencintaimu, beri dia kesempatan." Revan keluar meninggalkan Nita yang masih berdiri mematung dan menangis. 


Beruntung Revan bisa mengingat nomor ponsel adiknya Reva, setelah meminjam telepon dari pihak hotel akhirnya Revan bisa mendapatkan nomor sopirnya pak Rahmat .berkat bantuan Reva. 


"lya ,,Den." suara pak Rahmat dari seberang sana. 


"Pak Rahmat dimana? Kanaya sama siapa?" 


"Saya tadi ke kantor Non Kanaya, tapi teman temannya bilang , Non Kanaya dibawa ke kantor polisi" 


"Apa! Kenapa Kanaya di bawa kesana?" 


"Saya kurang tau, Den."


"Pak Rahmat sekarang juga cari Kanaya, saya tidak mau tau cari dia sampai ketemu!"


Revan memutus sambungan. Perasaannya semakin tak tenang begitu mendengar berita Kanaya di bawa ke kantor polisi. Seminar yang dihadirinya terasa begitu lama, Revan tidak begitu mendengarkan agenda pembahasan seminar. Pikirannya tertuju pada Kanaya. 


Begitu acara selesai, Revan Langsung bergegas pulang. Ia mencari penerbangan yang bisa membawanya pulang dan sampai ke jakarta secepatnya. Perjalanan bolak balik jakarta singapore dan seminar yang berlangsung hampir memakan waktu setengah hari, membuat Revan baru sampai jakarta ke esokan harinya.  


Sesampainya di Jakarta ia segera bergegas ke apartemennya, mengganti pakaian dan menunggu orang suruhan Reno untuk mencari informasi tentang Kanaya. 


"Kanaya dituduh meracuni Mia, dia menjadi satu satunya tersangka sekaligus saksi ketika kejadian berlangsung." 


Revan terkejut, "Itu tidak mungkin,“ geramnya. 


"Dari kesaksian Kanaya, ia mendapat minuman dari seorang OB yang bekerja di kantor itu. Tapi, sampai saat ini pihak penyelidik maupun pihak kantor belum menemukan OB tersebut" . Kedua Lelaki itu menceritakan setiap detik kejadian yang menimpa Kanaya ,tanpa terkecuali. 


Revan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, kedua orang suruhannya bercerita jika Kanaya tidak ada di kediamannya sejak malam setelah kejadian. Dan yang membuat Revan semakin tak karuan , ia juga menerima informasi jika kasus yang yang menimpa Kanaya akan terus dilanjutkan. Karena, pihak korban enggan mencabut laporannya. 


Satu Satunya cara agar masalah ini bisa diatasi yaitu, Revan harus segera bertemu dengan Mia. Revan percaya jika bukan Kanaya pelakunya , ia berjanji akan mencari pelakunya jika Mia mau mencabut tuntutannya. 


Sebenarnya Revan ingin sekali bertemu Kanaya, memastikan gadisnya dalam keadaan baik. Tapi, ia merasa harus menyelesaikan masalah ini terlebih dulu. percaya jika Kanaya kini berada di tempat aman. 


Revan melangkah tergesa, begitu memasuki lorong Rumah sakit. Secepat mungkin ia menuju kamar yang ditempati Mia. Tanpa permisi Revan Langsung masuk kedalam kamar VVIP, nampak seorang perempuan tengah berbaring . Matanya menatap kosong ke arah luar jendela. 


Sadar Jika ada orang Iain yang memasuki kamarnya, Mia menoleh. Bisa dilihat wajahnya yang pucat dan terlihat mengkhawatirkan. 


"Apa yang kamu Lakukan pada Kanaya?". Revan semakin mendekat ke bangkar tempat Mia berbaring. 


"Aku sudah pernah bilang,jangan pernah mengganggu Kanaya. Apa kamu lupa? 


"Aku tidak mengerti maksud kamu ,Rev?" Suara Mia terdengar pelan dan Iemah 


"Berhenti berpura pura tidak tau, kamu sama persis seperti Nita, menggunakan cara apapun untuk mendapat perhatianku, meski harus membahayakan diri sendiri," Cibir Revan. 


"Dengar,jangan pura pura bodoh,jika bukan karena ide kamu menjebak dan memisahkan Kanaya dari Alex, ini semua takan terjadi. Segera cabut tuntutan itu, jika tidak. Aku akan membunuhmu." Ancam Revan. 


Seseorang menarik Revan dari arah belakang, dengan cepat satu pukulan menghantam wajahnya. Pukulan yang begitu keras, hingga Revan terjatuh bahkan darah segar mengalir dari sudut bibirnya. 


"Brengsek...!!" Alex yang sedari tadi mendengar pembicaraan dari balik pintu kamar mandi tersulut emosinya begitu mendengar nama Kanaya ikut terlibat. Alex kembali memukul Revan dengan membabi buta ,tak memperdulikan rintihan Mia yang memohon agar mereka berhenti. 


"Brengsek...!! Kenapa Io Lakuin ini ****..!!" 


Dengan wajah babak belur Revan menangkis pukulan Alex dan balas menyerang 


"Impas bukan? Lo merebut Alana dari gue, sekarang gue merebut Kanaya dari lo," Seringai Revan membuat Alex semakin geram. 


"Jadi ini semua karena Alana?" 


"Lo pikir karena apa? Yang pantas jadi lelaki brengsek itu Lo, berani hamilin Alana dan Lo lari dari tanggung jawab. ****..!" Revan kembali menghantam wajah Alex. 


"Bukan gue yang menghamili Alana!"  


Revan mendengus tak percaya, ia semakin mencengkram kerah baju Alex, "Lo pikir gue bakalan percaya? Lo lelaki bodoh yang ditipu perempuan sialan seperti dia, yang rela mengkhianat sahabatnya sendiri supaya keinginannya terpenuhi." Sindir Revan, memandang sengit ke arah Mia.


Revan kembali melayangkan satu pukulan keras hingga Alex jatuh tersungkur. Alex menyeka darah yang mengalir dari hidungnya sembari tersenyum 


"Mia dan lo sama. Sama bodohnya, kalian cocok bukan?" Ejek Alex, membuat Revan semakin hilang kendali, ia kembali mencengkram baju Alex memaksa untuk berdiri. 


"Kumohon hentikan," rintih Mia.


"Lo yang udah hancurin gue dan Alana," geram Revan.


"Loo salah, Lo kira selama ini Alana bahagia sama Io? Dan perlu lo tau yang menghamili Alana bukan gue. Tapi Gery sahabat lo." Alex tersenyum puas, melihat expresi terkejut Revan. Bahkan tanpa Revan sadari ia melepas cengkramannya di leher Alex. 


Brakkkk 


Suara benda jatuh membuat Alex dan Revan sama sama menoleh ke arah suara berasal. Satu keranjang buah berhamburan di Lantai, dan tatapan terluka dari orang yang membawanya. 


Tubuhnya bergetar hebat, tersenyum penuh luka menatap Revan dan Alex, bahkan air matanya mengalir deras di wajahnya yang tampak pucat.