Because Alana

Because Alana
episode 38



Kanaya pov


"Sudah di kompres matanya?" Ibu datang membawa teh panas kemeja makan. Pagi ini aku sudah mulai bekerja di perusahaan Citra Buana, setelah kemarin sore aku menerima pemberitahuan bahwa aku menjadi salah satu pelamar yang lolos seleksi dan sudah mulai bisa bekerja hari ini.


"Masih bengkak?" Tanyaku, mengambil kaca kecil dari dalam tas yang aku taruh tidak jauh dari tempat duduk. Bengkak nya tidak separah kemarin, hanya saja masih terlihat sembab meski aku sudah berusaha menutupinya dengan make up.


"Coba dikompres lagi." Aku hanya mengangguk.


Aku melirik gadis kecil yang duduk di sebelahku, dia masih asyik minum susu coklat di gelas biru pemberian Revan, dua hari lalu. Meski aku melarang Elea memakai gelas itu, tetap saja Elea mencari bahkan menangis meminta gelas itu dikembalikan. Aku masih melarang Elea berangkat sekolah dengan alasan aku sakit dan tidak bisa mengantarnya ke sekolah.


Aku memang benar-benar sakit. Setelah pertemuan tidak sengaja hari itu, aku mengalami sakit kepala karena tidak henti-hentinya aku menangis. Entah apa yang aku tangisi, aku sendiri tidak tahu hanya saja melihat Revan terlihat baik-baik saja, membuat hatiku berdenyut sakit. Bagaimana bisa dia hidup dengan tenang, sedangkan aku harus hidup dengan rasa sakit, menahan perasaanku untuknya. Semudah itukah dia melupakanku?


"Kamu menangis seperti Elea saja, ada apa memangnya?" Tanya Ibu.


Aku memang belum menceritakan kronologis kejadiannya pada Ibu, aku hanya terus menangis meski berulang kali Ibu bertanya alasannya.


"Sayang,,, boleh main di ruangan TV dulu, Ibu mau bicara dengan Nenek, sebentar." Elea gadis pengertian, tanpa harus aku menjelaskan dia langsung pergi ke ruang TV membawa serta gelas biru di tangannya. Aku hanya bisa menghela pasrah, kenapa dia begitu menyukai gelas itu padahal di rumah pun banyak sekali gelas-gelas lainnya, bahkan jauh lebih bagus dari itu.


"Ada apa? Kenapa kamu pulang dari sekolah Elea langsung menangis seperti itu?" Ibu menggeser duduknya menjadi lebih dekat denganku.


Aku menghela, menghirup udara memberi pasokan oksigen ke paru-paru sebanyak mungkin sebelum aku mulai bercerita.


"Aku bertemu dia, di sekolahnya Elea?"


"Dia? Dia siapa?"


"Revan." Aku memijit pelipis, yang terasa berdenyut nyeri ketika aku menyebut namanya.


"Itulah kenapa aku sering menolak ajakan Abang. Karena aku takut, Bu. Dan terbukti, akhirnya aku bertemu dengannya. Bagaimana kalau dia mengambil Elea? Aku tidak punya apapun lagi, kalau sampai dia ambil Elea."


Sesak kian menghimpit hatiku, hingga aku kembali menangis.


"Ibu tahu, tapi kamu tidak perlu berpikir sampai sejauh itu. Belum tentu juga dia mau ambil Elea, bahkan mungkin saja dia tidak mengenali Elea." Ibu mencoba menenangkanku, tangan ajaibnya mengelus kepala hingga ke punggung.


"Kamu tahu, ikatan batin seorang anak dan orang tuanya sangat kuat. Bagaimanapun kamu berusaha menyembunyikan Elea, mereka tetap pasti akan bertemu, sekarang ataupun nanti."


"Aku tahu,,, tapi hatiku sakit,Bu."


Ibu merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya, membiarkanku kembali menangisi lelaki itu. Hingga tangan kecil menarik-narik ujung kemejaku, membuatku menoleh dan segera menyeka airmataku.


"Ibu kenapa? Kenapa nangis? Elea nakal ya?"


"Nggak sayang, Ibu nggak nangis. Ibu cuman kelilipan aja."


Aku menangkup wajah Elea dengan kedua tanganku, memperhatikan wajahnya dengan seksama. Mungkin saja Revan tidak akan mengenal Elea, tapi dari jarak sedekat ini mereka amat sangat mirip. Aku tersenyum, mengecup bibir mungilnya sekilas.


"Besok Elea sekolah ya, diantar Nenek. Mulai hari ini Ibu harus kerja." Elea mengangguk,


"Elea janji, jangan pernah tinggalin Ibu, ya?" Gadis kecilku kembali mengangguk.


"Elea gak bakalan ninggalin Ibu, Elea cuman mau main sama Geby." Jawaban polos dari bibir Elea membuatku tersenyum. Semudah itu dia mampu membuatku tersenyum.


"Nanti sore, Elea boleh main. Tapi harus di temani Nenek ya?"


"Iya." Aku merengkuh tubuh mungilnya, menghirup aroma vanilla dari tubuh Elea yang sangat aku sukai.


Setelah selesai sarapan, aku langsung bergegas menuju Citra Buana. Tidak lupa sebelum pergi aku meminta Ibu agar terus memperhatikan Elea, meskipun keamanan di area tempat tinggalku sangat baik, tapi aku tidak mau sampai Revan menemukan keberadaanku. Aku yakin dia pasti mencari tahu keberadaanku setelah pertemuan tidak sengaja waktu itu.


Aku mulai melangkah memasuki gedung berlantai tiga puluh yang berdiri kokoh menjulang tinggi di kawasan elite Mega kuningan. Dari sekian rentetan hal buruk yang menimpaku, masih ada satu kabar baik yaitu, akhirnya aku bisa bekerja di salah satu perusahaan terbesar negeri ini. Bukan hanya perusahaannya nya saja yang besar, tapi gajinya pun cukup besar dibandingkan tempat lain, setidaknya kini aku bisa memenuhi semua kebutuhan Elea dengan layak.


Beberapa orang yang terpilih mulai memasuki salah satu ruangan di lantai 28, termasuk diriku. Ada enam orang yang terpilih, empat laki-laki dan dua perempuan.


"Sonia." Seorang perempuan cantik berkemeja pink, mengulurkan tangannya padaku.


Hanya aku dan Sonia perempuan yang ada di ruangan ini, selebihnya laki-laki.


"Mbak, diterima bagian apa?" Tanya Sonia.


"Kurang tau, saya cuman dapet email pemberitahuan aja. Kalau kamu?"


"Aku di bagian keuangan. Gak nyangka ya bisa diterima kerja disini," Sonia nampak begitu senang.


Sonia gadis yang ramah, terlihat dari sikapnya yang mudah berinteraksi dengan orang baru, meskipun ini pertama kali kita saling mengenal.


"Mbak Kanaya sudah punya keluarga?"


"Sudah, aku terlihat seperti Ibu-ibu kan?"


"Bukan gitu, justru Mbak terlihat masih muda."


"Aku sudah mempunyai seorang anak perempuan."


"Oya, pasti secantik mamanya," Puji Sonia.


"Nggak," aku menggeleng, "Justru dia mirip sekali dengan Ayahnya."


"Memang anak pertama itu pasti mirip Ayahnya, contohnya aku. Aku juga mirip sekali dengan Ayahku." Sonia terkekeh sambil melihat wajahnya di cermin yang tidak pernah lepas dari tangannya sejak tadi. Mendengar penuturan Sonia membuatku teringat Elea di rumah, segera aku beranjak dan menghubungi Ibu agar tidak terlalu lama membawa Elea berada di luar ruma. Jujur saja meski aku berada di kantor, tapi pikiranku masih tertinggal dirumah, aku tidak tenang meninggalkan Elea.


Salah satu perwakilan HRD, bernama Jonathan datang. Dia memberi penjelasan dimana saja kita akan ditempatkan. Satu persatu meninggalkan ruangan, kini tinggal aku dan Sonia yang tersisa.


"Sonia, silahkan mengikuti Bu Marva menuju ruang kerja. Jika ada yang perlu ditanyakan silahkan bertanya pada Bu Marva selaku pembimbing, untuk sementara."


Sonia bangkit dari tempat duduknya mengikuti perempuan bernama Marva. Kini hanya tinggal aku dan Pak Jonathan yang masih berada di ruangan.


"Kanaya Larissa. Kamu bisa ikut saya ke lantai 29." Pak Jonathan berdiri, merapikan jasnya hendak membawaku ke lantai 29. Tapi aku masih bingung apa tugasku sebenarnya, karena tidak ada penjelasan mendetail dari email yang aku terima.


"Maaf, kalau boleh saya tahu, saya ditempatkan dibagian apa?" Pak Jonathan membalikan tubuhnya menghadapku.


"Nanti saya jelaskan kalau kita sudah sampai." Aku tidak lagi bertanya, aku hanya mengikuti Pak Jonathan dari belakang menuju lantai 29.


Lift yang membawaku dan Pak Jonathan berdenting, pertand tujuan sudah sampai. Aku masih mengikuti kemanapun langkah Pak Jonathan, hingga aku berada di depan sebuah pintu besar berwarna coklat.


"Silahkan masuk." Pak Jonathan membuka pintu, mempersilahkan aku masuk terlebih dulu.


Hal pertama yang aku lihat adalah sebuah ruangan bernuansa classic modern, sekilas aku langsung tau ini pasti ruangan salah satu petinggi perusahaan ini.


"Mbak Kanaya tunggu sebentar, Pak Chandra sebentar lagi sampai."


Sepertinya tidak asing dengan nama itu, aku pernah mendnengarnya tapi dimana?


Aku masih menerka-nerka, mencoba mengingat, hingga seseorang membuka pintu, menampilkan sosok lelaki bertubuh tinggi besar, mengenakan jas hitam masuk kedalam ruangan. Seulas senyum terbit dari bibirnya begitu ia menyadari kehadiranku.


"Sudah lama menunggu?"


"Tidak, kita baru sampai," Jawab Pak Jonathan.


"Baiklah, karena semua sudah berkumpul. Kanaya, perkenalkan ini Pak Chandra CEO dari Citra Buana, yang akan menjadi atasan kamu dan mulai sekarang kamu menjadi sekretaris pribadi beliau."


Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, aku tidak mungkin salah dengar bukan?


Aku tidak melamar kerja sebagai sekretaris dan akupun tidak mempunyai pengalaman menjadi sekretaris, lalu kenapa aku bisa menjadi sekretaris?


Bahkan dunia ini terlalu sempit, sehingga aku memiliki atasan sekaligus Ayah dari teman anakku dan kita tinggal di satu gedung Apartemen yang sama.


Apa ini hanya kebetulan?