
Suasana kantor masih sepi begitu aku masuk. Padahal biasanya ramai dengan celotehan dengan gosip gosip yang sedang trending. Tapi, kali ini hanya ada beberapa orang yang terlihat berada di kubikel masing masing.
"jika saja setiap hari tenang seperti ini'" batinku.
Aku bergegas menuju pantry, mungkin secangkir kopi bisa membuatku semakin bersemangat, Revan benar benar mengatur apapun yang aku konsumsi. Bahkan untuk hal kecil seperti minum kopi, dia hanya memperbolehkan meminum susu atau yoghurt. Sedangkan kopi, dia hanya memperbolehkanku meminumnya satu minggu sekali. Dia bisa lebih menyeramkan di bandingkan Bang Ramzi,
Di pantry nampak beberapa orang tengah asyik bergunjing, entah apa yang mereka bahas. Tapi,bukan itu yang menarik perhatianku. Sudut mataku menangkap seseorang tengah menuang dua sendok penuh kopi hitam kedalam cangkir yang ia pegang. Kopi pahit, yang sangat pahit, itulah kesukaan Mia jika dirinya dilanda kantuk. Aku meraih sekotak susu UHT full cream yang berada tak jauh dari tempatku berdiri.
"Ga baik minum kopi pahit, ini Lebih baik." Aku menyodorkan susu full cream yang sudah aku taluang ke dalam gelas,terlihat jelas Mia begitu terkejut dengan perlakuanku. Sejujurnya aku pun tak percaya dengan apa yang aku lakukan,
Sebelum Mia bereaksi aku buru buru berbalik meninggalkannya. Baru hitungan langkah ke tiga, pergelangan tanganku ditahan Mia.
"Tunggu!" Aku berhenti, tapi masih membelakanginya.
"Aku... Aku minta maaf." Suara Mia bergetar dan begitu aku berbalik, matanya sudah berkaca kaca, bahkan tanpa bisa kucegah dia menangis.
"Aku minta maaf." Suara Mia terdengar pilu, di sela isak tangisnya. Aku berusaha menahan air mataku yang kian mendesak di pelupuk mataku. Bagaimanapun aku berusaha membencinya, jauh di lubuk hatiku Mia tetaplah sahabat baikku. Aku tidak akan menyalahkan takdir jika ternyata mereka memang ditakdirkan bersatu, hanya saja caranya yang salah,membuatku merasa dikhianati.
"Kamu tau, aku tersiksa dengan keadaan kaya gini, aku minta maaf , Nay!" Aku masih diam, semua makian yang ingin aku utarakan selama ini terasa begitu sulit ku ungkapkan dan hilang begitu saja.
"Kamu boleh memukul, atau tampar aku, jika itu bisa membuat kamu puas,Nay. Tapi aku mohon maafkanin aku."
Mia meraih tanganku , memukulkan ke arah wajahnya. Sontak membuatku reflek menarik paksa tanganku yang digenggam erat olehnya.
"Cukup! Apa kamu udah gila? Aku ga mungkin nyakitin perempuan hamil." Mia begitu terkejut dengan ucapan
"Kamu Iagi hamil, berhenti melakukan hal haL yang bisa membahayakan bayimu. Termasuk minum kopi pahit dan menyuruhku menyakitimu."
"Nay,"
"Aku tau." Aku menghela nafas, menjeda kalimat,
"Aku turut bahagia,meski semua terasa sulit kuterima. Tapi, aku bahagia akhirnya kamu dan Alex akan menjadi orang tua, meski kita gak akan dekat seperti dulu lagi. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian."
Tangan Mia bergetar, dia semakin mendekatiku, menatapku dengan mata nya yang semakin basah, sesaat kemudian tubuhnya bersimpuh di dekat kakiku,
"Aku... Aku.. sungguh minta maaf." tangisnya semakin kencang, aku segera berjongkok meraihnya dan memeluknya.
"Sudah cukup. Aku sudah memaafkanmu. Tolong berhenti seperti ini." Aku pun ikut menangis.
Drama melankolis antara aku dan Mia yang terjadi di pantry ternyata menjadi tontonan banyak orang. Mereka sengaja menguping, menyembunyikan diri di balik pintu. Meski semua orang seringkali menggosip dan menjadikanku bahan pembicaraan, tapi sebenarnya mereka sangat prihatin dengan persahabatanku dan Mia.
Begitu keadaanku dan Mia membaik,tidak lagi menangis kita sama sama kembali ke meja masing~ masing. Aku merasa lega, meskipun masih terasa begitu canggung tapi setidaknya keadaan ku dan Miamulai membaik.
Matahari mulai bergerak dari timur dan akan menenggelamkan diri di barat, hari berlalu begitu cepat tanpa terasa jam kerja usai. Bahkan Revan berulang kali mengirim pesan, memberitahu jika dirinya sudah berada di parkiran.
"Kananya!"
"Ya?" Mia masih canggung, beberapa kali dia menggaruk belakang kepalanya.
"Kenapa ?" Tanyaku, Mia tampak ragu ragu
"Minggu ada acara? Aku mau undang kamu ke acara baby shower. Sekalian acara perpisahan, aku mau resign. Tapi kalau kamu sibuk ga_"
"Aku pasti datang." Aku nyela, mempermudah Mia, yang nampak terlihat begitu kesulitan mengutarakan ucapannya.
"Beneran?" Ada raut tak percaya sekaligus senang dari wajah Mia. Aku tersenyum,mengangguk.
"Makasih ya." Ucapanya, yang langsung pergi meninggalkanku. Aku masih mengamati langkahnya, tubuh rampingnya kini mulai berisi. Dulu kita sempat bercita-cita menikah dan memiliki anak dalam waktu bersamaan. Agar anakku dan anak Mia bisa melanjutkan persahabatan kedua orang tuanya, tapi kenyataanya sekarang itu hanya tinggal angan-angan.
Mia sudah terlebih dulu menikah, bahkan hamil. Sedangkan aku masih sendiri bahkan aku tidak tau apakah aku bisa hamil atau tidak.
Berdamai itu menyenangkan bukan? Terlebih berdamai dengan diri sendiri.dan kali ini aku pulang dengan perasaan Iebih baik dan terasa bebanku selama ini terasa hilang,itulah ajaibnya memaafkan.
"Aku suka melihat kamu tersenyum,"
“Dari tadi senyum senyum, apa yang membuat kamu se happy ini?" tanya Revan,sebelah tangannya masih memegang kemudi, dan tangan sebelahnya mengelus Pipiku.
"Nggak ada. Kenapa memangnya?"
"Ga mau cerita?" Selidik Revan. Aku hanya menggeleng meraih tangannya dan menjalinkan jarinya dengan jari tanganku.
"Hari jumat keluargaku datang ke Jakarta, kemungkinan aku ga bisa antar jemput kamu,untuk sementara waktu ada sopir yang gantiin aku."
"Aku bisa bawa mobil sendiri."
"Kamu akan diantar jemput supir selama aku ga ada."
"Tapi-?"
"Hanya Aku dan pak sopir yang akan antar jemput kamu." Ucapnya final, Revan sulit dibantah,aku hanya menghela nafas, mencari alas pun akan percuma,karena Revan memiliki sejuta jawaban agar aku tetap menuruti keinginannya.
"Kakakku akan melangsungkan acara pertunangannya disini, dandan yang cantik, nanti kamu ikut pergi denganku."
"Iya,"
Revan mengacak-acak rambutku, gemas.
Sementara itu,,,
Beberapa hari ini Juna merasa jika dirinya tengah di ikuti seseorang, bahkan nampak terlihat jelas jika orang yang sama terus mondar mandir di depan cafe nya sejak dua hari yang lalu.
"Mas Jun,,ada tamu nyariin mas,Jun." Ucap seorang pelayan.
"Siapa?" Tanya Juna
"Ga tau,baru Lihat. Katanya ada urusan penting yang mau di omongin."
"Oke, suruh dia ke ruangan saya."
Tak lama setelah pelayan yang bernama Roby itu pergi, muncul seorang. Juna nampak tidak terlalu asing dengan wajahnya.
"Selamat sore, masih inget saya?" Tanya sang tamu begitu mereka bertemu di ruang kerja Juna.
"Alexander?“ lelaki itu mengangguk membenarkan.
"Silahkan duduk. Ada perlu apa?" Tanpa basa basi Juna Langsung bertanya.
"Aku rasa kita seumuran, gimana kalo ngobrolnya tidak perlu seformal itu?" Juna mengangguk,
"Udah lama banget gue pengen nemuin Lo, tapi berhubung banyak hal yang gue urus jadi baru sekarang gue sempet kesini. Gue rasa Lo masih inget soal Alana dan adik nya Mia?" Juna menegakkan tubuhnya, mulai menanggapi serius ucapan Alex.
"Iya, gue tau."
"Tiga hari Lalu,gue ketemu Rafael, mantan pacar Mia."
Juna sedikit terkejut,namun dia masih berusaha untuk bersikap biasa dan tenang.
"Gue tau Rafael Ayah dari bayi yang dikandung Mia. Dan,gue juga tau alasan kenapa Rafael ga bisa balik ke indonesia"
"Maksud Lo?" selidik Juna.
"Masalahnya menjadi komplikasi, mungkin kalian pikir yang menghamili Alana itu gue, dan penyebab kematian Alana itu gara gara gue,benar kan? bahkan malam itu, dimana pelayan cafe dengan sengaja mencampur minuman gue dengan obat perangsang, itu ulah kalian?" Alex menyeringai begitu melihat ekspresi terkejut Juna
"Gue ga sebodoh itu, selama ini gue diem cuman buat cari barang bukti, dan Lo tau siapa dalang di balik kematian Alan? Dia,,,"
Juna tercekat, begitu Alex menyebut nama seseorang. Dadanya bergemuruh, tangannya mengepal menahan luapan emosi.
"Brengsek!" Kilatan emosi nampak terlihat jelas di mata Juna.