
Ingin rasanya aku membelah-belah diriku saat ini menjadi banyak, dan bisa melakukan segala hal dengan cepat. Melihat kondisi Elea kritis, membuatku yang awalnya ingin terlihat seperti seorang Ibu yang tegar, dan membuat benteng kokoh agar terlihat kuat, akhirnya runtuh.
Aku tidak bisa lagi menahan rasa sedihku, melihat putri kecilku merengek dan menangis menahan sakit. Musim panca robah yang mulai berganti akhir-akhir ini, membuat kondisi fisik Elea melemah, akhirnya Elea didiagnosa terkena DBD.
Penanganan menjadi lebih intens semenjak dua hari lalu, aku terpaksa meminta izin cuti, karena Elea tidak bisa aku tinggal begitu saja, bahkan aku tidak akan keberatan jika Chandra memberhentikan atau memecat, karena aku terlalu lama libur.
Malam pertama Elea dirawat, aku sudah terlebih dulu menghubungi Juna. Meski Juna bukan Dokter anak, tap Juna seorang Dokter dan, aku ingin Juna ikut membantu memeriksa kondisi Elea. Kembali lagi aku membutuhkan bantuannya, meski aku sudah berusaha keras untuk tidak melibatkannya kembali, tapi aku tidak punya siapapun lagi, selain Juna.
Aku tau, aku memang egois!
"Bagaimana?" Aku segera menghampiri Juna, begitu pintu terbuka dan dia muncul dari balik pintu.
Juna meraih tanganku, menuntunku duduk di kursi, tak jauh dari bangkar tempat tidur Elea.
"Kondisi Elea tidak menentu, aku sudah memeriksa dan ikut mendiagnosa penyakitnya." Aku mengeratkan genggaman kedua tanganku, aku takut jika yang aku dengar bukan kabar baik.
"Elea butuh donor darah, segera."
"Aku bisa donor darah! Ambil darahku sebanyak mungkin, asal dia cepat sembuh!" Aku menarik lengan Juna. Aku tidak peduli lagi, jika harus seluruh darahku diambil, asalkan Elea bisa sembuh.
"Ayo,,, tunggu apa lagi. Aku bisa donor darah sekarang juga," ajakku pada Juna.
"Golongan darah kamu AB negatif?"
" Golongan darahku B. Bagaimana bisa Elea memiliki golongan darah,," aku menjeda kalimat.
"Tidak mungkin Elea,,"
"Itu sangat mungkin terjadi, Nay. Jika kedua orang tua memiliki golongan darah berbeda, biasanya gen yang paling kuat akan mendominasi. Dan, Elea mengikuti gen Ayahnya, Revan."
Aku menutup wajah dengan kedua tanganku, bagaimana mereka bisa saling berhubungan dengan begitu kuat. Kenapa dari sebagian besar yang ada di dalam diri Elea harus sama dengan Revan, bukan cuman wajah, bahkan sekarang golongan darah pun mereka sama. Lalu peranku sekarang apa? Apa aku hanya sekedar mengandung dan melahirkannya saja?
"Lalu aku harus bagaimana? Elea sudah terlalu lama menahan sakit, aku tidak tega harus melihatnya terus menangis, kesakitan."
"Jika kamu merasa keberatan menghubungi Revan, kamu bisa meminta bantuan salah satu keluarga dari mereka. Bisa saja salah satu dari mereka memiliki darah yang sama dengan Revan, yang pasti akan sama juga dengan Elea."
Aku tidak menunggu lama, aku segera menghubungi nomor ponsel Reva dan menceritakan semua yang terjadi pada Elea. Untunglah mereka begitu menyayangi Elea, tanpa menunggu lama, mereka langsung terbang dari Surabaya menuju Jakarta.
Esok paginya, satu keluarga Reva sudah tiba di Rumah sakit, tempat Elea di rawat. Kehadiran mereka sangat membantu, karena Elea begitu antusias menyambut kedatangan oma dan opa nya dari Surabaya.
"Semua anggota keluarga sudah melakukan tes darah, untuk mencocokan dengan golongan darah Elea. Kita tinggal menunggu hasilnya keluar." Ucap Reno, ia menjadi orang terakhir yang melakukan tes darah setelah Reva, Tante Devi, dan Om Herman.
"Terimakasih,,, sudah mau datang," ucapku. Aku sangat bersyukur, karena mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Elea dan langsung datang.
"Itu sudah menjadi kewajiban kami, Nay. Elea sakit, kita harus datang," balas Om Herman.
"Tante sakit?" Tanyaku, pada Tante Devi. Wajahnya terlihat sedikit pucat, tidak seperti biasanya.
"Tante kecapean, kemarin sempat batuk pilek. Sekarang sudah sembuh." Perempuan paruh baya itu, nampak pucat dan lesu. Tapi, tidak menyurutkan senyumnya yang terus terpancar di wajahnya melihat Elea. Meski ia sempat menangis melihat cucu kecilnya terbaring lemah tidak seaktif biasanya.
Keceriaan Elea tidak berlangsung lama. Karena setelahnya, Elea kembali menangis dan meronta, meminta jarum infusnya dilepas. Namun, kali ini Elea tidak kunjung berhenti menangis, membuatku semakin panik. Bahkan Elea kembali kejang-kejang, membuat aku dan semua orang yang berada di dalam kamar inap kewalahan dan panik.
"Dokter!!!" Aku berteriak begitu melihat Elea kejang-kejang.
Reva dan Reno segera berlari keluar mencari bantuan, sedangkan tubuh Elea di peluk Om Herman.
"Tenang, sayang. Opa disini, nak." Om Herman memeluk tubuh Elea. Aku dan Tante Devi sama-sama menangis, bahkan tubuh tante Devi samapai ambruk di lantai. Aku segera meraihnya, meski sama lemasnya, tapi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, tergeletak di lantai.
Tidak lama Dokter dan beberapa Suster tiba, diikuti Reno dan Reva dari belakang. Entah apa yang mereka lakukan, aku tidak kuasa melihat putriku kembali menangis.
Hingga akhirnya Elea kembali tenang, setelah Dokter memeriksa dan memberinya beberapa obat, yang dimasukan ke dalam selang infusan. Aku segera menghampirinya, yang sudah kembali terlelap tidur. "Sakitnya pindahin ke Ibu aja ya? Ibu aja yang sakit," bisikku sambil mengecup pipinya.
"Kejang seperti ini sudah biasa terjadi, jika kondisi pasien dalam keadaan demam tinggi. Tapi jika tidak segera ditindaklanjuti, itu juga berbahaya. Trombosit Elea sangat rendah, harus segera melakukan transfusi darah," jelas Dokter.
"Salah satu dari kita akan melakukan donor darah, Dok." Balas Reno.
"Baiklah kalau begitu. Siapa salah satu dari kalian yang memiliki golongan darah yang sama?" Tanya Dokter.
"Hanya Ibu Devi yang memiliki golongan darah yang sama," ucap salah satu suster yang mengenakan jilbab, sambil memeriksa kertas yang ada di tangannya. Semua orang tampak lega mendengarnya, termasuk Tante Devi yang langsung menghampiri salah satu Suster.
"Kalau begitu ayo Sus! Saya bersedia donor darah," ucap Tante Devi.
"Apa? Saya baik-baik saja, Sus." Elak Tante Devi, dan masih tetap bersikeras ingin mendonorkan darahnya.
"Tidak bisa, Bu. Kondisi Ibu sangat lemah, jadi tidak mungkin bisa melakukan donor darah."
"Lalu bagaimana kondisi cucuku? Dia butuh transfusi darah?"
"Kita bisa cari pendonor lain, kita akan mencarinya, segera. semampu kita." Ucap Dokter.
Rombongan Dokter dan Suster, akhirnya pamit undur.
"Kita harus segera mencari bantuan, Pah." Tante Devi menghampiri suaminya.
"Iya, Papah pasti cari bantuan." Om Herman segera mengambil ponsel dari kantong celananya, dan menghubungi beberapa orang entah siapa. Sedangkan Revan dan Reno saling bertatapan, entah apa yang mereka pikirkan, tapi setelah itu mereka berdua keluar dari ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Elea sempat kembali kejang-kejang sekitar pukul tujuh malam, membuatku akhirnya menghubungi Bang Ramzi dan juga Ibu. Awalnya aku tidak ingin memberitahu kondisi Elea kepada mereka berdua, karena aku tidak pernah menyangka Elea akan separah ini.
Ibu menangis histeris begitu mendengar kabar cucunya sakit, dan harus dirawat di Rumah sakit. Sedangkan Abang terus menerus menyalahkanku, karena tidak memberitahunya lebih awal. Karena kondisi ka Dini, istri Bang Ramzi juga tidak dalam keadan baik, jadi hanya Bang Ramzi yang datang ke Jakarta. Sedangkan Ibu, tetap di Bandung menemani kak Dini dan Daren.
Tubuh Elea masih panas tinggi, bahkan sesekali dia mengigau tidak jelas. Di tengah kepanikan yang kian membuatku frustasi, karena belum juga menemukan donor darah yang cocok untuk Elea, akhirnya Reno dan Reva datang,
"Kita dapat pendonor yang pas untuk Elea."
Aku,tante Devi dan juga Om Herman, sama-sama berdiri menghampiri kedua orang, yang baru saja datang dari luar.
"Syukurlah kalau begitu. Kita harus mengucapkan terima kasih padanya, atau mungkin kita harus memberinya imbalan. Karena, sudah mau menolong cucuku."
"Tidak perlu berterimakasih dan memberi imbalan, karena dia putriku." Ucap seseorang yang muncul dari pintu, di belakang Reno dan Reva.
"Revan?" Seru tante Devi.
"Aku Ayahnya bukan? Jadi aku tidak perlu membutuhkan imbalan, karena menolong putriku sendiri. Atau mungkin, aku yang akan menuntut kalian karena selama ini kalian telah menyembunyikannya dariku." Revan menjawab pertanyaan Ibunya, tapi sorot mata tajamnya terus mengawasiku. Bahkan nampak kilatan emosi di matanya, membuatku menundukan kepala, tidak berani berlama-lama menatap matanya.
Hampir satu jam lebih, akhirnya suster datang membawa satu kantong berisi darah, dan segera memasukkannya kedalam tubuh Elea melalui selang infus. Namun, Revan tidak kunjung datang, setelah mendonorkan darahnya.
"Kita tidak punya pilihan lain, Nay. Aku tidak tega melihat Elea kesakitan seperti itu, hingga akhirnya aku dan Reva menghubungi Revan, dan…"
"Iya, aku mengerti," aku memotong ucapan Reno.
"Lagi pula, jika tidak ada kalian, mungkin aku sendiri yang akan datang menemuinya dan meminta nya mendonorkan darah untuk Elea. Aku justru berterima kasih," lanjutku.
"Temui dia, bicaralah baik-baik dengannya. Elea biar tante yang jaga, Revan pasti mengerti." Tante Devi mengelus punggung tanganku, membuatku akhirnya keluar kamar, mencari keberadaan Revan.
Aku tidak tahu Revan berada dimana, aku hanya berjalan menyusuri koridor, hingga akhirnya aku melihat seseorang tak jauh dari ruang donor darah tengah duduk, menautkan kedua tangannya, menahan ujung siku di paha dan tertunduk.
"Revan!" Meski ragu dan takut, aku mencoba memberanikan diri menghampirinya.
"Aku,,, aku mau berterimakasih,"
"Apa aku begitu menjijikan di matamu?" Revan mengangkat kepalanya, mendongak menatapku.
"Apa aku sehina itu di matamu, sehingga kamu tega menyembunyikannya dariku?!" Tanyanya lagi, kali ini nada suaranya kian meninggi.
"Bukan seperti itu,,, "
"Bahkan beberapa hari lalu kamu dengan sengaja bohongiku, begitu? Dia putriku, aku berhak tau!" Aku berjengit begitu Revan berteriak.
"Jadi disini hanya aku yang tidak tahu, sedangkan keluargaku tahu sejak lama, dan kamu sengaja tidak memberitahuku?" Revan benar-benar tidak memberi kesempatan sedikitpun untuk membela diri.
"Kamu licik, Kanaya! Dan kamu egois!" Revan menyenggol tubuhku dengan kasar, dan pergi sebelum aku memberi penjelasan sedikitpun.
selamat natal buat kalian yang merayakan!!!
love,, dari penulis amatiran.
semoga masih suka, dan gak bosen aku ingetin jangan lupa like dan vote ya, biar aku makin semangat!!