Because Alana

Because Alana
episode 34



Nyanyian lagu ulang tahun mengalun riang dari beberapa orang yang hadir di ruang keluarga. Tidak ada orang lain atau tetangga, hanya keluarga Abang Ramzi yang baru mendarat pukul lima sore tadi, di susuk dengan Juna satu jam kemudian.


Kue blackforest dengan lilin angka tiga, dihiasi coklat leleh, dan buah ceri menjadi sebuah simbol bertambahnya usia Elea.


"Tiup lilinnya… sekarang juga… sekarang juga." 


Fiuhhhhh, Elea meniup lilin di sambut tepuk tangan meriah. Elea tersenyum ceria, meski hanya perayaan ulang tahun sederhana dia sangat menyukainya.


"Potong kue nya ya,sayang." Ibu memapah lengan Elea,memotong kue dan meletakan di piring plastik berwarna gold yang sudah disediakan.


"Potongan pertama buat siapa?" Tanya Abang Ramzi.


"Buat, Ibu." Jawab Elea, kemudian memberikan potongan kue pertamanya. 


" Terima Kasih sayangnya Ibu." Aku mencium gemas bibirnya.


"Yang kedua buat siapa?" Seru Kak


"Buat,Nenek." 


"Yang ketiga?" Tanyaku.


"Buat Ayah." Balas Elea. Aku terpaku, mendengar Elea menyebut Ayah, sayatan kecil dan perih terasa mengiris hatiku. 


"Buat Ayah Juna." Elea memberi potongan kue ketiganya pada Juna. 


"Wahhhh, terima kasih banyak sayang." Dengan antusias Juna menerima piring berisi kue, dan memeluk gadis kecilku. Elea langsung menyambut pelukan Juna, bahkan sampai membenamkan wajahnya di dada bidang Juna.


"Ayah Ramzi, gak kebagian nih?" Goda Abang.


Elea melepas pelukannya, kembali memotong kue untuk Bang Ramzi dan juga Kak


Setelah acara tiup lilin selesai, Elea di bawa ibu masuk kamar terlebih dahulu karena sudah waktunya istirahat. Kini tinggal aku,Bang Ramzi dan Juna yang masih berada di ruang tamu.


"Abang rasa akan lebih baik kamu dan juga Elea pindah ke jakarta. Sudah waktunya Elea sekolah dan di sini bukan pilihan tepat untuk menyekolahkan anak." Ucap Bang Ramzi.


"Aku setuju, Elea lebih baik dibawa pindah ke Jakarta. Di sana dia bisa belajar di sekolah yang bagus." Juna menimpali.


"Aku belum siap." Jawabku 


"Sampai kapan kamu akan bersembunyi terus? Ini sudah tiga tahun berlalu, seharusnya kamu bisa memulai hidup lebih baik. Pikirkan masa depan Elea." 


Aku menghela. 


Akupun menyadari dan sudah memikirkan semuanya, tapi aku terlalu takut. Bahkan di tempat terpencil seperti ini pun, aku masih sering dihantui rasa takut, lalu bagaimana jika aku harus tinggal satu kota dengannya lagi, meski aku tahu Jakarta luas tapi kemungkinan tidak sengaja bertemu sangatlah besar.


"Nay, pikirkan baik-baik tentang Elea. Dia butuh kehidupan yang lebih baik." Ucap Abang.


"Iya, nanti Nay pikirkan lagi."


"Secepatnya kasih keputusan. Minggu depan Abang jemput kalau kamu bersedia pindah." Aku hanya mengangguk.


Tak lama Abang pergi, menyusul istrinya yang tengah menidurkan Daffa.


"Lebih baik tinggal di Jakarta, lebih dekat untukku memastikan kalian." Juna memulai pembicaraan setelah beberapa saat Abang pergi.


"Sampai kapan kamu masih terus memperhatikanku dan juga Elea? Kamu seharusnya mulai mencari pasangan hidup dan menikah." Decakku.


"Sampai kamu benar-benar tidak membutuhkan bantuanku lagi."


"Juna,"


"Aku tau, tak perlu diucapkan berulang kali aku sudah bosan mendengar penolakan kamu." Senyum pahit terukir dari bibir Juna.


"Maaf." Ucapku lirih,


"Minta maaf untuk apa? Aku melakukan semua ini karena aku pun ikut terlibat, bahkan aku salah satu orang jahat yang menjerumuskan kamu hingga terjatuh dan menderita. Jadi anggap saja semua ini sebagai penebus dosa dari aku. Meski sebenarnya aku berharap jadi Ayah Elea sungguhan." 


"Juna,"


 


"Bagaimana keadaan Alex dan Mia?" Tanyaku, membawa cangkir berisi teh panas dari dapur.


"Baik. Mereka nitip salam, ga sabar pengen ketemu Elea. Bahkan Mia sampai memaksa ikut kesini, tapi Alex melarang." Juna menyeruput teh panas dari cangkir 


"Mereka pasti akan senang kalau kamu beneran pindah ke Jakarta. Dan aku yakin Mia bakal sering menculik Elea, membawanya pulang ke Apartemen mereka." Lanjut Juna.


Aku tersenyum mendengarnya, sampai hari ini Mia memang belum dikaruniai anak setelah kejadian waktu itu.


"Bagaimana kabar Nita." Meski ragu, aku tetap bertanya.


"Baik."


"Oh." 


"Kenapa?" Selidik Juna, bahkan sampai mencondongkan tubuhnya, memiringkan kepala.


"Cuman tanya." Balasku. Tapi Juna masih menatapku penuh selidik, dengan satu alisnya terangkat.


"Beneran!" Elakku.


"Yakin?" Godanya


"Astaga Juna!" 


"Hahaha, iya, iya. Aku percaya. Gitu aja marah." 


Aku tidak meladeni ucapannya. Terkadang Juna bisa sejahil itu, dia pasti tau jika aku bertanya tentang Nita, sebenarnya bukan Nita yang ingin aku tau.


"Mereka mau tunangan bulan depan." Ucapan Juna sukses menghentikan gerakan tanganku membersihkan sisa-sisa kue di meja.


"Oh bagus kalau begitu." Balasku.


Aku berdiri membawa sisa kue hendak meletakkannya di dalam lemari pendingin, namun tubuhku terasa bergetar hingga menjatuhkan beberapa piring plastik yang berada di lengan kiriku.


 Belum sempat aku meraih piring plastik yang tergeletak di lantai, Juna terlebih dulu meraihnya.


"Bahkan kamu masih mencintainya sampai saat ini." Ucapnya. 


Bola mataku bertemu dengan sorot mata teduhnya. Mungkin di hadapan orang lain aku bisa berpura- pura sudah melupakan Revan, tapi di hadapan juna aku tidak bisa. 


"Aku berusaha melupakannya. Tapi," aku menghela nafas berat "Sulit." Lirihku.


"Aku tau." Balasnya, kini satu tangan Juna mengelus pipiku yang entah sejak kapan mulai basah.


"Aku tau. Karena akupun sama. Jika kamu bertanya bagaimana caranya melupakan, maka aku pasti akan jawab tidak tahu. Karena sampai hari inipun aku belum menemukan cara agar bisa berhenti mencintai kamu."


"Juna,"


"Kita harus sama-sama belajar. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. Jangan menangis lagi, malu. Masa sudah punya anak masih cengeng." Juna mencubit hidungku. Sifat optimis Juna yang sering di tularkannya padaku, sedikit demi sedikit mempengaruhi mental dan kejiwaan. Juna yang terus memberiku semangat tanpa lelah ,bahkan dia yang menemaniku melakukan proses persalinan operasi sesar waktu itu, menjadi orang pertama yang menggendong Elea. 


Juna menjadi salah satu penolong dan orang paling berjasa dalam hidupku tiga tahun belakangan. Dia yang menyelamatkanku dari sekarat waktu itu, jika saja Juna terlambat datang,bukan hanya Elea yang akan pergi, aku pun pasti tidak dapat di tolong. Juna menjadi pahlawan berkuda putih dalam cerita dongeng anak-anak, tapi sekuat apapun aku berusaha membalas perasaannya tetap saja tidak bisa. 


Jika saja melupakan bisa semudah mencintai, mungkin aku tidak akan semenderita ini. Jika saja aku bisa dengan mudah mencintai Juna, mungkin hatiku tidak akan sesakit ini. Banyak hal yang dikorbankan Juna untukku, salah satunya setelah tiga hari aku koma, dia langsung memutuskan kembali menjadi Dokter. Selama menjadi seorang Chef, Juna tidak pernah benar-benar melepas cita-citanya menjadi seorang Dokter. Profesinya sebagai Chef hanya sebatas pelarian dan menjauhi Nita waktu itu, jauh di lubuk hatinya dia amat menginginkan menjadi seorang Dokter bedah profesional. Jadi kini dia menjadi seorang Dokter bedah dengan dua keterampilan, pandai menggunakan pisau bedah dan juga pandai menggunakan pisau dapur. Sempurna bukan?


Semua orang sudah terlelap. Abang dan Juna tidur di kursi, di ruang keluarga,Ibu dan kak Dini menempati kamar belakang, sedangkan aku dan Elea menempati kamar utama. Seperti yang pernah aku bilang sebelumnya, menatap wajah Elea yang tenang saat terlelap merupakan hobiku saat ini, bagaimana gadis kecil ini mampu bertahan di dalam perutku saat itu. Sedangkan aku dalam kondisi yang sangat memprihatinkan bahkan aku hampir depresi gangguan jiwa. 


Ingatanku kembali ke hari itu, dimana semua menjadi rumit dan membahagiakan dalam satu waktu.