
Revan Rahadian pov
Kuhempaskan tubuhku di kursi kerja, lelah dan ngantuk setelah berjaga satu malam penuh setelah Dokter Tama tiba-tiba pulang karena anaknya sakit. Waktu menunjukan pukul enam pagi, masih ada sisa waktu tujuh jam untuk tidur sebelum kembali bekerja.
Ponsel tiba-tiba berdering, nyaring memekakan telinga, aku lupa mengecilkan volume, sehingga suaranya begitu kencang membuatku berjengit terkejut.
"Kamu sudah selesai? Tadi aku cari di UGD, suster Anna bilang kamu sudah pulang." Suara Nita dari seberang sana.
"Iya, mau pulang dulu. Mau tidur." Jawabku, sambil meraih kunci mobil di atas meja.
"Ya udah, istirahat. Sampai ketemu nanti siang."
Aku hanya bergumam, lalu memutus sambungan.
Nita, sahabat yang kini berubah statusnya menjadi kekasihku semenjak dua tahun lalu. Bahkan bulan depan aku dan Nita akan menggelar acara lamaran, untuk meresmikan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius.
Apa aku mencintainya?
Entahlah, sampai hari ini aku tidak tahu apa yang aku rasakan terhadap Nita. Apakah aku mencintainya atau hanya kasihan karena tanpa lelah dia terus berada disisiku, membantu melewati masa-masa paling berat di hidupku.
Tiga tahun lalu semenjak aku kehilangan separuh hatiku, Nita dengan setia membantuku melewati hari-hari terberat di hidupku. Rasanya ingin sekali aku mengakhiri hidupku,ketika aku tau Kanaya hilang tanpa jejak meninggalkan berjuta penyesalan yang kian menyiksaku.
Kanaya hilang setelah dia mendengar semua kebohongan yang aku lakukan padanya. Aku memang membohonginya, tapi dari semua kebohongan itu satu yang benar, yaitu aku memang benar-benar mencintainya.
Seakan takdir mempermainkanku, belum sempat aku memberinya penjelasan dan meminta maaf, Kanaya terlebih dulu hilang tanpa jejak. Semua usaha telah aku lakukan untuk mencarinya, menyewa detektif andalan Reno untuk mencari keberadaan, bahkan aku mencari semua informasi di seluruh Rumah sakit yang ada di Jakarta. Tapi nihil, Kanaya tidak bisa ditemukan.
Berulang kali aku mencarinya hingga ke Bandung, ke rumah orang tuanya. Bukan Kanaya yang aku temui, tapi justru bogem mentah Bang Ramzi yang menghantam wajahku dengan keras. Aku tidak melawan begitu dia menghajarku dengan begitu keras, aku tau aku pantas mendapatkannya, bahkan aku merasa nyawaku tidak ada artinya lagi.
Setelah semua usahaku sia-sia, harapan terakhirku hanya Juna. Meski harus memohon berulang kali dan menjatuhkan harga diriku hingga ke dasar paling dalam sekalipun, Juna tidak bergeming. Juna tetap diam seribu bahasa, tidak memberikan informasi apapun meski aku tau dia pasti tau sesuatu tentang keberadaan Kanaya. Aku bahkan seperti penguntit, mengikuti kemanapun Juna pergi, tapi seakan dia menyadarinya, Juna justru lebih hati-hati dalam bertindak.
Usaha pencarianku berlangsung hingga satu tahun lamanya, sampai akhirnya aku kehilangan kendali, bergonta ganti pasangan dan mabuk-mabukan seperti dulu, sewaktu ditinggal Alana. Kondisiku kian memburuk, bahkan sempat beberapa minggu dirawat, di Rumah sakit.
Hanya Nita yang dengan sabar mengurusku, hingga perlahan aku mulai membaik. Aku tidak bisa lagi mengabaikan keberadaanya, hingga akhirnya aku memutuskan menerimanya di hidupku, meski jauh di dalam hati kecilku, aku masih mencintai Kanaya hingga hari ini.
Pintu terbuka dengan kasar, membuatku sedikit terkejut. Seorang lelaki dengan senyum lebar masuk ke dalam ruanganku tanpa permisi.
"Bisa gak sih, kalau masuk ketuk pintu dulu!"
"Sorry, gue buru-buru." Denis tersenyum, memamerkan gigi putihnya.
"Gak usah meringis gitu, mamerin gigi. Gue tau Lo Dokter gigi, jadi gak usah ketawa kaya kuda gitu."
"Sensi banget sih. Gak dapet jatah ya dari Dokter Nita?" Ledeknya, langsung mendapat pukulan keras dariku. Denis meringis mengusap lengannya.
"Ngapain pagi-pagi ke ruangan gue? Pasti ada maunya?"
"Tau aja sih. Lo emang berbakat jadi Dokter dan juga cenayang." Aku hanya mendengus menanggapi celotehan Denis.
"Hari ini Lo gak sibuk kan? Ikut gue yuk?"
"Ogah, gue capek." Aku meraih jaket yang menggantung di balik pintu.
"Kali ini aja, Rev. Please,,," Denis menangkup kedua tangannya, memohon bak perempuan, membuatku bergidik geli.
"Nggak, gue capek. Gue udah gantiin shift kerja Dokter Tama. Masa harus ikut Lo juga."
"Kali ini aja, Rev. Terakhir habis itu gue gak bakalan minta tolong lagi deh. Janji."
"Percaya sama Lo, musyrik. Udah sana, gue mau balik. Ngantuk."
"Rev, Lo tega banget. Tolong kali ini aja, gue butuh bantuan Lo, cuman Lo yang bisa bantu." Nada bicara Denis terdengar putus asa. Sejenak aku memperhatikan lelaki berusia dua tahun lebih muda dariku, tapi dia memperlakukanku seperti seumuran dengannya.
Aku menghela,"Bantu apa sih?"
Denis nampak sumringah begitu aku bertanya.
"Bantu gue dateng ke sekolah anak-anak. Gue diundang Dokter Tiara, dateng ke acara kampanye cara sikat gigi yang baik dan benar. Gue langsung setuju begitu dia ngajak, tapi dia baru ngasih kabar gue tadi pagi, kalau gue harus bawa Dokter gigi lainnya. Lo tau kan gue gak punya temen lagi di sini selain Lo."
"Terus?" Aku menaikan satu alis, melipat kedua tanganku di dada, menunggunya memohon. Menjadi hiburan tersendiri melihat Denis memohon seperti ini.
"Ya Lo ikut gue, dateng ke acara itu."
"Gue bukan Dokter gigi."
"Iya bukan, semua orang juga tau."
"Terus?"
"Ya terus Lo ikut aja, Lo berdiri aja kayak patung gak usah ngapa-ngapain!"
"Rev, ayolah. Jangan sampai harga diri gue jatuh di depan Dokter Tiara." Denis memang begitu menggilai Dokter Tiara, Dokter sexy janda beranak satu.
"Mau ya, Lo cumam dateng aja. Kagak usah ngapa-ngapain. Lo cuman duduk setor muka doang, setelah itu Lo boleh pulang." Denis mengikuti kemanapun langkah kakiku.
"Gue janji, nanti di kawinan Lo, gue bakal nyumbang lagu deh."
"Kayak suara Lo bagus aja!" Cibirku. Sebenarnya suara Denis memang merdu, hampir mirip suara penyanyi terkenal Ibukota, dia memang berbakat jadi penyanyi, hanya saja dia dipaksa kedua orang tuanya meneruskan jejaknya menjadi seorang Dokter. Jadi bisa dibilang Denis itu Dokter paksaan.
"Mau ya! Kali aja setelah lihat anak kecil, Lo jadi kebelet pengen punya satu, terus cepet-cepet ngajak Dokter Nita kawin. Inget Lo udah tua, udah kepala tiga lebih." Denis terkekeh, dia paling bahagia kalau sudah meledek usia, membandingkan umurku dengannya, padahal usia kita tidak terlalu jauh berbeda.
Meskipun sebenarnya aku sangat lelah dan ngantuk, akhirnya aku pergi bersama Denis. Tak henti-hentinya dia mengucapkan terima kasih selama perjalanan menuju salah satu sekolah Taman kanak-kanak.
Dokter Tiara dan kedua temannya sudah terlebih dulu sampai, aku dan Denis datang setelah acara dimulai.
Suara gaduh anak-anak berebut menerima pasta gigi dan saling berebut tempat karena semua ingin berada di barisan paling depan membuatku tersenyum, mereka sangat lucu.
Awalnya aku hanya ingin duduk memperhatikan, tapi begitu aku melihat seorang gadis kecil berkepang dua menangis dengan kencang, aku segera menghampirinya. Gadis kecil itu begitu histeris menangis, memanggil Ibunya.
Beberapa Guru mencoba menenangkannya, tapi gadis kecil itu masih menangis dengan kencang.
"Kenapa dia menangis?" Tanyaku pada salah satu Guru.
"Gelas nya di ambil Gio dan bajunya terkena air." Jelas Guru berbaju biru.
Aku segera menghampiri gadis kecil itu, berlutut di depannya mensejajarkan tubuhku dengan tinggi badannya.
"Kenapa menangis?" Gadis itu masih terisak menutup mata dengan kedua tangannya
"Jangan nangis, nanti Om Dokter ganti gelasnya." Aku mencoba membujuknya hingga akhirnya dia mendongkak menatapku. Aku tertegun begitu melihat wajahnya dari jarak sedekat ini. Sorot matanya mengingatkanku pada seseorang, bahkan aku sempat beberapa kali mengerjapkan mata, tapi sorot matanya begitu mirip dengan seseorang, aku tidak mungkin salah.
Gadis itu masih terisak, meski sudah tidak menangis, meraung seperti tadi.
"Kenapa menangis?" Aku mengusap pipinya yang basah. Aku kembali dibuat membeku, begitu aku menyentuh pipinya. Rasa halus dan lembut persisi seperti seseorang.
"Gelas, Elea pecah." Suara gadis itu membuyarkan lamunanku, aku buru-buru melepaskan tanganku dari pipinya.
"Elea? Nama yang cantik. Elea jangan nangis lagi ya, Om Dokter ganti gelas Elea, dengan yang baru. Gimana?"
Gadis itu menganggukan kepalanya, aku segera mengambil gelas milik Denis,mengabaikan tatapan protesnya.
"Nih, Om Dokter ganti jadi warna biru. Bagus kan?"
Elea tersenyum menerima gelas dariku. Aku masih lekat menatapnya, bagaimana bisa hanya dengan melihat gadis kecil ini aku langsung teringat Kanaya.
"Nama Om Dokter siapa?"
"Nama Om, Revan."
"Om Dokter Revan. Ayah Elea juga Dokter."
"Oya, nama nya siapa? Om Revan boleh peluk Elea?" Anggap saja aku memang aneh,karena tiba-tiba aku ingin memeluk gadis kecil di hadapanku ini. Elea mengangguk dan langsung memelukku. Tangan kecilnya menyentuh punggungku, mengalirkan rasa nyaman yang begitu luar biasa.
"Nama Ayah Elea siapa? Mungkin saja salah satu teman Om Revan juga."
Belum sempat Elea menjawab, seorang perempuan datang dengan tergesa-gesa,
"Elea dimana,,,," Dia menggantungkan kalimatnya begitu melihatku.
Duniaku berhenti seketika, begitu melihat perempuan yang amat aku rindukan selama ini. Tubuhnya mematung di dekat pintu. Aku terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba, bahkan di tempat yang tidak terduga seperti ini.
Bukan hanya melihat kehadirannya yang membuatku terkejut, tapi juga karena gadis dalam pelukanku yang langsung berlari menghampirinya dan langsung memeluknya, menyebutnya Ibu.
Elea berlari menghampiri Kanaya, sekuat tenaga aku berjalan menghampiri mereka berdua.
Aku tidak mungkin salah mengenali itu Kanaya, meski berulang kali dia memalingkan wajahnya menghindari tatapanku. Kanaya segera menggendong Elea, bahkan dengan tergesa dia segera meninggalkanku.
Rasa penasaran yang kian mengusik hati, membuatku mengejar langkahnya.
"Kanaya, tunggu!"
"Maaf saya sedang buru-buru. Permisi." Aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja, hingga aku mencekal tangannya.
"Lepas! Dia anakku!"
Satu kalimat penegasan, tapi aku menangkap arti lain dari ucapannya. Dan aku harus memastikannya, tidak akan aku biarkan lagi dia menghilang begitu saja, seperti tiga tahun lalu.