
Note :
Merelakan kelak akan menjadi sebuah pilihan seperti sebuah kesedihan yang kelak juga akan terlupakan oleh kebahagiaan.
DawnLover
.
.
.
“Jadi, apa onti mau belcelita?”
“Ehm, ceritaku sangat banyak dari A-Z jadi mungkin akan membutuhkan waktu yang lama. Lain kali saja” ucap Dessy dengan intonasi lembut tidak memebentak seperti tadi.
“Tidak apa, cedikit caja dulu celitanya. Nanti kita ketemu lagi buat ngelanjutin celitanya onti yang belum kelal” Leonore memberi saran pada Dessy dengan mimik wajah serius.
Dessy hanya tertawa renyah melihat tingkah Leonore.
“Kau pintar sekali merayu dan membujuk orang ternyata” ucap Dessy sembari mencubit gemas hidung Leonore.
Mendengar perkataan Dessy, tentu saja Leonore langsung kepedaan, “Oh mesti dong. Nore memang pintal kan anak Dad Daniel cama Mom Clau hihihi” ucapnya sembari menyelipkan anak rambutnya ke telinganya.
“Selain pintar kau juga narsis” ejek Dessy kemudian.
Sontak perkataan itu membuat Leonore langsung mengerucutkan bibirnya ia bahkan memutar bola matanya malas.
“Hahahahaha” Dessy langsung tertawa terbahak-bahak melihat tingkah anak kecil di sampingnya, tertawa tanpa beban tanpa memikirkan apa pun.
Jika di pikir-pikir oleh Dessy, ia sudah lupa kapan ia tertawa lepas seperti ini, murni tertawa sederhana bukan tertawa jahat seperti yang di lakukannya dulu sebelumnya.
“Woahhh onti kalau teltawa cepelti itu cangat cantik” puji Leonore jujur pada Dessy.
“Aku dari dari dulu memang cantik” jawab Dessy percaya diri, ia bahkan melakukan hal serupa seperti yang di lakukan Nore beberapa saat yang lalu menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan senyuman penuh bangga karena telah di puji oleh Leonore.
“Cantik cih tapi kan jahat” ceplos Nore tanpa rasa bersalah sama sekali.
Jika Dessy tadi sedang tersenyum bangga, mendengar penuturan Nore barusan membuat air wajah Dessy langsung masam seketika senyuman itu langsung menghilang berganti dengan merenggut kesal.
“Heh bisakah kau jangan terlalu jujur. Jangan mempertegas sekali jika aku memang jahat. Cih kau memuji orang kemudian kau menjatuhkannya. Sungguh tengil sekali” kesal Dessy tak habis pikir pada Nore, bahkan wajah Nore tidak menampilkan wajah bersalah sama sekali. Ya, walau apa yang di katakan anak itu memang benar adanya.
Hingga sampai saat dimana Dessy memulai sedikit curhat pada anak kecil, anak dari pria yang ia inginkan sebagai suaminya. Pikirnya tidak masalah bercerita pada anak kecil di banding harus bercerita pada orang dewasa yang belum tentu bisa menjaga cerita dan rahasia.
“Apa sebaiknya aku menyerah dan mulai berhenti jadi jahat saja ya?” tanya Dessy sembari menundukkan kepala.
“Menyelah yang bagaimana dulu ini onti?” tanya Leonore yang mungkin masih belum paham arah pembicaraan wanita dewasa ini.
“Ya menyerah mengganggu kehidupan keluaragamu” jelas Dessy sembari mengerucutkan bibirnya ke depan.
“Tentu caja halus menyelah onti. Apa onti tega melebut kebahagiaan Nore dan Mommy? Telus, onti juga halus belhenti jadi jahat. Itu pelbuatan tidak telpuji kalo kata oma Nore” jelas Nore sangat serius.
“Haissssh jangan pertegas juga kalau itu perbuatan tidak terpuji Nore” kesal Dessy walau sebenarnya hatinya mulai sedikit terketuk ketika mulai berbagi pikiran dengan Leonore.
“Aku tidak punya siapa-siapa sekarang, tidak ada orang yang peduli dengan ku hiks hiks” Tangis Dessy pecah saat itu juga ia meluapkan keluh kesah hatinya, ia menangis sejadi-jadinya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kenapa orang terdekatku memaksa dan mendoktrin aku harus seperti keinginan mereka, kenapa mereka terus membanding-bandingkan diriku dengan saudara ku yang lain, kenapa mereka membenciku ketika aku tidak bisa melakukan seperti apa yang mereka mau. Kenapa hiks hiks hiks” ucap Dessy tersedu-sedu.
Leonore yang mendengar itu hanya terdiam sembari terus menatap Dessy yang tengah menangis, pengasuh Leonore dan dua pengawal tadi yang berada di dekat Dessy dan Nore saja merasa ibu mendengar isak tangis pilu dari Dessy. Bahkan Matteo yang mendengar pun hanya terdiam saja.
“Aku, aku jahat begini karena mereka. Mereka selalu merendahkan ku. Mereka terus menghinaku dengan mengatakan aku hanya beban. Jadi aku membuktikan bahwa aku bisa ya walau aku harus menutup mata bahwa aku memilih jalan pintas” lanjut Dessy menatap Leonore.
Leonore sendiri bingung harus menanggapi bagaimana, ia bingung. Untuk urusan itu ia tidak paham. Jadi seperti tadi Nore memilih untuk tetap diam.
“Aku iri, aku iri dengan kebahagiaan orang lain. Aku juga ingin bahagia seperti mereka huaaaaaa” tangis Dessy semakin pecah.
***
Puas mencurahkan isi hatinya pada Leonore yang hanya menjadi pendengar tanpa harus menjawab membuat perasaan Dessy yang tadinya sedikit sesak mulai sedikit lega.
Ya, mungkin benar ketika seseorang sedang punya masalah mungkin mereka tidak butuh orang untuk memberikan dia saran, ia hanya butuh orang yang menjadi pendengar keluh kesahnya tanpa menyalahkan dan menyudutkan posisinya.
“Terimakasih sudah maun mendengar” ucap Dessy yang sudah mulai berhenti menangis, ia kembali menggunakan kacamata hitamnya.
“Iya onti cama-cama” Leonore bahkan mengangguk dengan senyuman.
“Sekarang pulanglah. Aku tidak mau kau di cari oleh Daddy dan Mommy mu” ujar Dessy melihat arloji yang ada di pergelangan tangannya. Hari sudah mulai sore dan sedikit mendung juga.
“Dad dan Mom tidak akan mencali aku onti. Kan meleka cedang pelgi ke lual negli” jelas Nore pada Dessy yang sedang menatapnya di balik kaca mata hitam.
“Lalu kau tidak di ajak?” tanya Dessy lagi.
“Iya. Kata Opa dan Oma, Nore tidak boleh ikut.”
Dessy bingung bukannya Nore ini anak mereka satu-satunya lalu kenapa tidak di ajak saja apa lagi Opa dan Oma Nore juga menganjurkan agar Nore tidak ikut. Ada rasa kasihan di hati Dessy tapi jika di lihat dari wajah anak ini, sepertinya tidak sedih ketika di tinggal pergi oleh Daddy dan Mommy nya.
“Memangnya kenapa tidak boleh iku?”
“Cupaya Daddy dan Mommy bisa fokus cali adek untuk Nore” jawab Nore gamblang.
“Uhuk uhuk uhuk” Dessy langsung tersedak ludah karena perkataan Nore barusan, mencari adek? Yang benar saja pikirnya.
“Kenapa onti bica batuk? Onti tidak boleh ganggu Dad aku ya” Leonore langsung kesal bahkan wajahnya jutek bukan main.
“Dih kepedan. Sudah ku bilang aku menyerah dan merelakan Daddy mu itu pada Mommy mu” jelas Dessy pada Nore.
“Oh culul deh kalo gitu” gumam Nore seraya tersenyum.
“Oh iya, Nore pamit ya onti. Nore halus pulang. Nanti kalo kelamaan bica di cali cama Opa dan Oma” jelas Nore lagi.
“Hem pergilah” usir Dessy sembari mengibaskan tangannya seperti mengusir Nore.
Nore langsung berdiri dan pergi saat itu juga bersama pengasuhnya dan pengawalnya pula.
Tapi tiba-tiba dia kembali lagi menghampiri Dessy yang hendak beranjak juga dari tempat duduknya.
“Kenapa lagi?” Dessy bingung kenapa anak kecil itu kembali bahkan Nore sedikit berlari saat menghampirinya.
“Ini… Nore kaci coklatnya buat onti aja. Bial ga cedih telus.”
Ya, Nore kembali menyodorkan sebatang coklat untuk Dessy. Dessy hanya terdiam sungguh ia tersentuh dengan perlakuan manis Leonore. Karena Dessy yang terus diam dan tidak mengambil coklat Nore langsung menaruhnya di tangan Dessy.
“Papayyy onti jan lupa di makan yaaaa” ucap Nore seraya berbalik badan kembali menghampiri pengasuhnya di samping jalan. Tangannya bahkan melambai pada Dessy. Reflek Dessy pun ikut membalas lambaian tangan Leonore.
“Cihhh kenapa anak itu terlalu manis. Aku jadi sangat menyesal membuat keluarganya berantakan dulu” sesal Dessy sembari menatap coklat yang baru di kasi Leonore padanya.
.
.
.
Jangan tinggalkan jejaknya ya kakak² sayang😍❤️