Baby Girl CEO Genius

Baby Girl CEO Genius
Eps 69 Koreksi



Note :


Tentang apa yang telah di lakukan, semua pasti akan ada balasannya.


Semacam hukum give and take.


Apa yang kita beri untuk orang lain.


Baik akan berujung baik, buruk akan berujung buruk.


Minimal ada orang yang melakukan hal serupa kepada kita.


Siklus seperti hukum karma.


DawnLover


.


.


.


Dessy terus menangis histeris sembari memegang wajahnya yang telah berlumuran darah, Gerri yang melihat rupa Dessy yang nampak acak-acakkan menjadi tidak tega. Sekuat tenaga ia berjalan tertatih-tatih mendekati Dessy dan mengajaknya ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan.


Dessy yang sudah terkulai lemas hanya menurut saja ketika Gerri menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Di dalam perjalanan Dessy sudah tidak sadarkan diri mungkin terlalu kaget dengan apa yang di alaminya beberapa saat.


Gerri yang sedang menyetir sesekali menyeka bibirnya yang nampaknya perih sepertinya sedikit robek akibat bogem yang ia terima dari beberapa pria tadi.


“Aku harus bagaimana, ancaman mereka sepertinya tidak main-main. Peringatan pertama saja seperti ini, lalu bagaimana jika Dessy berulah lagi ke depannya” gumam Gerri sesekali melirik sekilas Dessy yang sudah terkulai pingsan dengan darah di wajahnya masih tetap menetas hingga membuat baju Dessy berlumuran darah.


Sesampainya di rumah sakit Gerri dan Dessy langsung di tangani oleh dokter dan perawat.


.


.


.


Sayup-sayup mata lentik itu terbuka, ia melihat sekelilingnya rupanya dia berada di ruangan rumah sakit.


Dessy melihat Gerri yang sedang asik dengan gawai di tangannya. Ia kemudian mulai mengingat-ingat bagaimana bisa dirinya ada di ruangan ini, mengumpulkan beberapa memori yang terjadi sebelumnya.


Deg….


Jantungnya langsung berdegup kencang, perlahan tangannya menyentuh wajahnya yang sepertinya telah di lilit perban.


“Tidaakkkkkk” teriak Dessy histeris bahkan langsung menangis.


Gerri langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Dessy.


“Dessy tenangkan dirimu” ujar Gerri berusaha menenangkan Dessy yang kembali histeris.


“Wajahku Ger… hiks hiks hiks” lirihnya dengan tangan bergetar memegang wajahnya.


“Hem iya, wajahmu tidak mengalami luka yang serius Sy” ucap Gerri lembut.


“Tidak serius bagaimana” desis Dessy tidak terima dengan perkataan Gerri barusan.


“Aku serius Dessy. Tolong jangan teriak terus. Telingaku sakit” bentak Gerri sedikit emosi karena tingkah Dessy yang benar-benar menguji kesabaran.


Gerri yang melihat itu hanya geleng kepala, ia lantas memanggil dokter ataupun perawat lewat tombol nurse call.


Tak lama, dokter dan satu orang suster langsung menghampiri Dessy dan mengecek keadaannya setelah baru sadar.


Dokter pun menjelaskan tentang kondisi wajah Dessy , tidak terlalu parah karena sayatan tidak terlalu dalam, untungnya juga sayatan di wajahnya cepat di tangani hingga tidak sampai infeksi. Hanya saja yang namanya luka pasti akan sedikit ada bekas. Namun akan sembuh jika rutin mengonsumsi obat, memberikan salep dan jika perlu berkonsultasi ke dokter kulit.


Setelah itu, dokter dan suster langsung pergi dari ruang inap Dessy.


Sejenak Dessy sedikit lega karena penjelasan dokter jika wajahnya tidak terluka parah jadi ia tidak perlu melakukan operasi yang cukup mahal memakan biaya.


Desy lantas melirik Gerri yang hanya terdiam di sofa kembali asik dengan gawainya. Wajah Gerri nampaknya lebam di beberapa sudut wajahnya bahkan sedikit bengkak.


Ingin menanyakan keadaan sepupunya namun ia sedikit takut apa bila Gerri kembali membentaknya.


Dessy hanya bisa bersandar pada ranjangnya, perlahan Gerri mendekatinya.


“Mulai sekarang berhenti mengganggu kehidupan Daniel Sy” ucap Gerri dengan datar.


Dessy langsung membelakkan matanya tak terima, hendak menyanggah ucapan Gerri barusan namun Gerri sudah berbicara kembali.


“Dengar Dessy. Jangan menutup mata lagi. Apa yang kau alami ini berasal dari Daniel Kingston. Pria yang kau kejar mati-matian. Dia yang menyuruh orang untuk mencelakaimu karena telah berhasil mengusik keluarganya” sentak Gerri yang sudah tidak bisa membendung rasa kesalnya pada sepupunya.


Dessy langsung terdiam, “Tidak mungkin Daniel seperti itu Gerri. Daniel yang ku kenal adalah orang yang dermawan” lirih Dessy tidak membenarkan perkataan Gerri.


“Bodooh.. Setidaknya logikamu kau gunakan” ujar Gerri langsung melempar ponselnya ke ranjang Dessy.


“Baca… semoga kau masih mengerti bahasa manusia.”


Dessy langsung membaca pesan dari nomor tidak di kenal tapi bisa di pastikan bahwa itu adalah Daniel.


“Semoga sepupumu menyukai hadiah kecil dariku. Aku bisa saja langsung memberikan hadiah besar padanya. Namun sepertinya itu tidak terlalu menyenangkan jika hadiah utamanya langsung di berikan tanpa hadiah pembuka terlebih dahulu. Ingatkan dia agar dia behenti jika memang dia masih sayang nyawa. Oh iya aku sangat menikmati ketidakberdayaannya ketika wajahnya terluka bahkan aku langsung mengirim video itu pada Matteo ~ Daniel Kingston”


“Kurang ajjar” desisnya tak terima matanya memanas memancarkan kebencian terdalam.


Gerri langsung menarik paksa ponselnya di tangan Dessy.


“Apa kau tidak terima?”


“Menurutmu, aku senang begitu” sarkas Dessy mengepalkan kedua tangannya.


Gerri hanya menghela nafas pelan melihat Dessy yang masih saja tidak sadar diri.


“Koreksi dirimu boddoh. Harusnya kau bertanya pada dirimu mengapa mereka bisa berbuat keji seperti itu padamu. Apa kau pernah berpikir hal itu terjadi karena keboddohanmu sendiri” ujar Gerri datar.


Dessy hanya terdiam saja. Enggan membenarkan perkataan Gerri. Sungguh hati perempuan itu sepertinya terbuat dari batu.


“Aku akan pergi Dessy. Aku akan kembali ke Singapura. Aku tidak ingin terlibat terlalu jauh masalahmu dengan Daniel ataupun Matteo. Jaga dirimu baik-baik.”


Setelah mengucapkan itu, Gerri berlalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap Dessy. Dessy juga tidak bisa menghentikkan kepergian Gerri. Ia hanya bisa menatap punggung Gerri yang sudah perlahan menghilang.


Seketika runtuh sudah air matanya, ia menangis dalam kesunyian. Sejujurnya Dessy amat sedih karena Gerri pergi, karena hanya Gerri yang selalu peduli dengan keadaannya di saat keluarga besarnya menjauhinya.


“Hiks hiks hiks kenapa dunia begitu tidak adil bagiku”


***


Seperti biasa ya kakak² sayang jgn lupakan tinggalkan jejak nya ya🤗❤️