Baby Girl CEO Genius

Baby Girl CEO Genius
Eps 56 Ikhlas



Note :


Terimakasih. Aku menyayangimu aku berusaha ikhlas. Hanya itu kalimat yang mampu aku utarakan, aku sedang berusaha meredam luka, menghibur diri dan membagi duka, dan mencari sedikit celah untuk bernafas dengan lega. Dadaku terlalu sesak, keadaan memang mengharuskan ku untuk belajar ikhlas. Tapi bagaimana dengan hati yang sebenarnya tidak ingin melepas? Dan jika aku bisa, aku ingin memelukmu untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Itu saja, tapi entahlah. Aku kehilangan banyak kata. Aku sedang begitu terluka, aku ingin menangis sejadi-jadinya untuk melepas sesak di dalam dada. Pun aku tidak ingin semakin terpuruk dalam keadaan yang semakin di luar logika. Pergilah tak mengapa, aku mencoba untuk baik-baik saja.


Matteo Enzo


.


.


Di tempat yang lainnya, saat ini ada seorang pria yang sedang duduk di teras café depan minimarket, sudah enam minuman kaleng bir berlogo bintang ia teguk, untuk sekedar meredakan dan meleburkan perasaan kacaunya saat ini.


“Sial, ternyata sakitnya benar-benar dalam. Pada hal aku sudah berusaha belajar untuk lebih kuat sebelumnya” kesal Matteo meremas tempat minuman kaleng yang sudah tidak ada isinya. Ia langsung melempar sembarang kaleng tersebut, dan bukkk…


“Auhhhh, sshi-bal” umpat seorang perempuan yang terkena kaleng yang di buang oleh Matteo. Perempuan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Tania. Saat hendak masuk membuka pintu mobilnya, tiba-tiba saja kaleng melayang ke arahnya.


Dengan kesal, Tania langsung menatap Matteo yang sedang meringkuk di atas meja. Tania langsung berjalan mendekati Daniel dan tanpa babibu bukkk… Ya, Tania melempar dengan keras kaleng itu tepat di kepala belakang Daniel.


“Badjingan…. Siapa yang berani membuang kaleng ini ke arahku” umpat Matteo yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Matanya langsung menangkap sosok perempuan yang ia kenal, dan itu adalah Tania.


“Kau yang melemparnya?” tanya Matteo berusaha menahan emosi sekaligus menahan tawa karena rupanya jidat Tania sedikit benjol akibat kaleng yang di buang Matteo.


“Menurutmu?” kesal Tania dengan wajah merah kesal setengah mati sembari berusaha menahan nyut-nyuttan di keningnya.


“Maaf, aku tidak sengaja” ucap Matteo karena ia tahu ini adalah salahnya, lagi pula ia tidak ingin memperpanjang masalah karena mood hatinya sedang kusut sekusut-kusutnya. Matteo sejenak memegang bagian kepala belakang yang sedikit sakit. “Sial, pukulannya sakit juga ternyata” batin Matteo menatap Tania yang masih diam menahan amarahnya.


“Kenapa kau masih di situ, pergi sana. Kau mengganggu penglihatan ku jika kau berdiri di situ” ketus Matteo dingin langsung duduk kembari, tak lupa ia membuka minuman kaleng dan meneguknya lagi.


“Ganti rugi. Apa kau buta tidak bisa melihat kening ku lecet karena kau” geram Tania menggebrak meja.


“Kau pikir kepalaku juga tidak sakit karena ulah mu barusan” jawab Matteo sepertinya mulai kesal juga dengan sikap Tania.


“Ciuhhhh, salahmu sendiri kenapa kau membuang sampah sembarangan” kesal Tania malah duduk di hadapan Matteo dan ikut membuka minuman kaleng yang masih ada isinya di atas meja.


“Heiiii itu minumanku, kenapa kau meminumnya” tunjuk Matteo pada wajah Tania.


Tania yang sedang meneguk minuman, melirik Matteo yang sedang menunjukkanya. Tangan Tania terulur menurunkan tangan Matteo yang menunjukk mukanya.


“Tidak sopan sekali, apa kau tidak di ajari tata krama” ucap Tania menggeleng pelan.


“Kau yang tidak sopan, kau tahu itu minumanku kenapa kau malah meminumnya” jawab Matteo sedikit meninggikan suaranya, berusaha menggertak Tania agar Tania takut padanya.


“Akhhhhhhhhhhh” teriak Tania begitu keras dan melengking, Matteo yang mendengar itu langsung menutup kedua telinganya.


Brakkkk.. Tania berdiri dan langsung menggebrak meja dengan kasar.


“Heeeei bule tengil, kau itu yang sopan sedikit. Aku juga begini karena kau” teriak Tania sambil menunjuk wajah Matteo.


“Kalau kau sedang patah hati, ya jangan di sini jangan sampai orang lain kena imbasnya. Apa kau sedang menunjukkan pada dunia kalau kau sedang patah hati, begitu hah” teriak Tania lagi bahkan matanya sudah melotot nyalang siap menghunus Matteo dengan tatapan tajamnya.


“Heh pelankan suaramu, kita di lihat banyak orang karena ulahmmu” ucap Matteo pelan, ia menatap di sekitar mereka sedang menatap mereka berdua.


“Mas, mba kalau lagi ada masalah bicarakan di rumah saja. Jangan membuat keributan di tempat keramaian” ucap salah seorang pria dewasa yang baru keluar dari minimarket. Setelah mengatakan hal demikian, pria itu beranjak pergi dan masuk ke mobilnya.


Tania menatap tajam Matteo yang sedang diam saja karena ucapan pria tadi, langsung mernarik lengan baju Matteo dan bergegas meninggalkan tempat tersebut.


“Kau ikut dengan ku” ucap Tania menyeret paksa Matteo. Walau sedikit bingung, Matteo hanya menurut saja mengikuti Tania yang menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


Setelah mereka berdua masuk, mobil tersebut langsung melaju membelah kemacetan di ibu kota.


.


.


Saat ini Matteo sedang duduk di kursi dipinggir danau sunter yang terletak di Jakarta Utara. Menatap nanar ke arah danau yang begitu tenang dan sunyi.


“Ini, minumlah. Kau terlalu banyak meminum minuman bersoda” Tania menyodorkan sebuah air mineral pada Matteo. Ia lalu duduk di samping pria itu dan menghela nafas pelan melihat kondisi Matteo yang sedikit prihatin dan acak-acakkan.


“Kau sangat mencintai Claudia ya sehingga kau frustasi sebegitunya ketika ia kembali pada tambatan hatinya” ucap Tania pelan mulai membuka obrolan.


Matteo yang mendengar penuturan Tania yang lembut langsung memukul pelan kepala Tania.


“Jangan sok tau” ujar Matteo singkat.


“Ikhlaskan saja Matt, jangan menyiksa dirimu terlalu jauh” Tania menepuk bahu Matteo pelan.


***


Hai guys😃😃 jangan lupa bantu like, comment, vote, rate, subcribe, favoritkan dan lempar sekuntum bunga mawar merah untuk author ya🌹🌹🌹 biar makin semongko update bab selanjutnya hihi😁😁😁😁