Baby Girl CEO Genius

Baby Girl CEO Genius
Eps 46 Sebuah Siklus



Note :


Dua pasang mata yang selalu memperhatikan


Dua bibir yang saling melempar senyuman


Dua hati yang selalu berseberangan


Dua tubuh yang meminta berdekatan


Dua hati yang berteriak karena di paksa oleh keadaan kita


Tapi, yang ku percaya. Biasanya setelah ada tawa


Maka akan datang tangis begitupun sebaliknya


.


.


.


“Tentu saja aku tahu dari sikapnya. Sebenarnya dirimu pun sama halnya dengan Daniel. Kalian masih menyukai satu sama lain hanya saja enggan memulai dari awal lagi seperti ada keraguan dari pribadi kalian masing-masing” jelas Tania panjang lebar sambil menggeleng pelan.


Claudia yang mendengar itu malah tidak terima dengan perkataan Tania “Cih kau itu terlalu sok tahu Tania, memangnya kamu sudah tahu isi hati Daniel begitu pun dengan diriku hanya karena kau melihat dari sisi sikap saja. Ibaratnya itu apa yang di lihat mata belum tentu benar” balas Claudia.


“Hem terserah kau saja. Tapi ingat, jangan terlalu menutup diri dan menyangkal perasaanmu” ujar Tania sembari berdiri “Aku ke ruangan ku dulu. Kalau mau bercerita datang saja padaku, aku siap memberimu saran. Apa lagi jika berhubungan dengan percintaan” lanjut Tania percaya diri dengan perkataannya.


“Ck, yang benar saja pacaran saja kau belum pernah. Lantas bagaimana bisa dirimu memberi saran tentang sebuah hubungan percintaan” ejek Claudia yang di balas dengan Tania yang menjulurkan lidah padanya.


Setelah kepergian Tania, nanny dari Leonore masuk ke ruangan Claudia dengan napas yang tersengal-sengal seperti kecapean habis lari marathon.


“Bu, maaf saya baru sampe. Saya kehilangan jejak nona kecil pas di lobi” jelas nanny pada Claudia dengan kepala tertunduk takut di marahi majikannya.


“Iya, tidak masalah. Maaf kau jadi kewalahan karena Leonore yang terlampau gesit” ucap Claudia memandang Leonore yang sedang terkikik menutup mulutnya.


“I’m sorry mom, sorry nanny” cicit Nore dengan senyuman yang menghiasi di wajah ayunya.


“Hem, lain kali tidak boleh begitu ya. Kasihan nanny mu baby girl” ucap Claudia mendekati Nore sembari mengelap bibir putri kecilnya yang sedikit belepotan.


.


.


Sedangkan di kantor milik Daniel sendiri, Daniel sedang memijit keningnya yang sepertinya sedikit pusing sesekali melirik layar ponselnya apakah ada notifikasi pesan atau tidak.


“Astaga, apa yang aku lakukan. Harusanya aku tidak mengirim pesan itu” lirih Daniel yang sepertinya sedang merutuki tindakan absurdnya karena mengirim pesan pada Claudia.


“Apa dia marah. Ah siialll memikirkan ini kepalaku terasa mau pecah” ucap Daniel yang setengah frustasi.


Tak lama, pintu ruangannya terbuka menampilkan Jo sang asisten sambil membawa beberapa proposal di tangannya.


“Tuan, ini proposal yang harus di tanda tangan, tuan bisa mengeceknya terlebih dahulu”


“Hem, letakkan saja di meja” jawab Daniel yang masih fokus dengan ponselnya.


Jo yang melihat itu hanya menghela nafas panjang karena sejak pagi Daniel tidak fokus bekerja di karenakan nama seseorang yang sedang berkeliaran di pikiran atasannya.


“Tuan, sebaiknya utarakan saja apa perasaanmu sekarang pada nona Claudia. Selebihnya biarkan nona yang memutuskannya” ucap Jo memberi saran pada Daniel.


“Ck, tau apa kau itu. Semuanya tidak semudah yang kau pikirkan Jo” hela nafas Daniel terdengar frustasi.


“Lalu apa tuan akan seperti ini terus. Keluarlah dari siklus yang berputar ini tuan. Saya yakin nona Claudia pun pasti memiliki perasaan yang sama hanya saja mungkin nona sedang abu-abu tentang perasaannya saat ini. Tuan hanya perlu meyakinkan nona saja. Bukan kah tuan juga sudah berubah dan menyesali kesalahan di masa lalu apa lagi tuan dan nona sudah berdamai kan dengan masa lalu itu. Lalu apa lagi yang tuan cemaskan. Jangan menunggu bola datang kepadamu tuan. Tapi hampirilah bola tersebut”


.


.


.


Seperti biasa ya kakak🤗😁, jangan lupa like, comment, vote, favoritkan sertakan gift biar author makin semangat up..


Selamat bermalam minggu juga


Salam dari kota kembang🌹🌹🕊️