
Note :
Kadang aku bingung, mengapa Tuhan mempertemukan dua insan kemudian menjadikan jarak sebagai salah satu permasalahannya. Tapi setelah di pikir, kita tidak hidup di zaman dimana kerinduan mesti di sampaikan melalui surat yang di tulis dengan pena ataupun mesin ketik klasik.
Kerinduan kita hanya perlu jempol untuk mengetik di layar ponsel. Kita saling menyemangati ketika pagi datang dan saling mendoakan ketika malam tiba. Ku pikir itu sudah lebih dari cukup.
DawnLover
.
.
Saat ini Claudia dan Leonore sedang menunggu pesanan makanan untuk daddy Leonore, Daniel.
Sejenak, Claudia menggigit bibir bawahnya dan memukul kepalanya. “Astaga Clau, apa yang kamu lakukan” Claudia merutuki omongannya tadi ketika ia menyahuti pembicaraan antara Leonore dan Daniel.
“Harusnya, aku diam saja tadi. Kenapa pula aku menyahuti obrolan mereka, huffft” lirih Claudia dengan suara pelan.
Leonore langsung menatap Claudia “Apa mommy menyesal?”
“E-eh tentu saja tidak” gugup Claudia yang langsung merutuki dirinya.
Leonore hanya ber-oh ria saja menanggapi perkataan mommy nya.
“Aku harus bagaimana nanti, hufffffttt semoga semua baik-baik saja”.
.
.
.
Di sinilah Claudia dan Leonore sekarang, mereka berada di lobi yang langsung di sambut hangat oleh asisten pribadi Daniel, Jo. “Selamat datang nyonya, tuan Daniel menunggu di ruangannya”.
Claudia hanya diam saja, ia memandang sekeliling, tidak banyak yang terlalu berubah. Menyadari sang mommy hanya diam saja, Nore langsung memegang tangan sang mommy dan tersenyum manis “Ayo mom, daddy cudah menunggu”.
“E-eh iya” Claudia dan Nore langsung mengikuti Jo.
Ketika melewati beberapa sekat ruangan karyawan, para karyawan tersebut langsung tersenyum dan menunduk hormat. Sedangkan reaksi Claudia hanya datar saja. Berbeda dengan Nore yang langsung tersenyum dan melambai-lambai kepada karyawan yang melihat mereka “This is my mommy” ucapnya dengan angkuh dan percaya diri.
Claudia dan Jo yang mendengar itu, hanya tersenyum tipis menanggapi ocehan Leonore.
“Nyonya, silahkan masuk” ucap Jo pada Claudia.
“Terimakasih Jo”
Claudia langsung membuka pintu ruangan Daniel yang terbuat dari kaca aluminium.
Daniel yang mendengar itu langsung tersenyum dan menyambut sang puteri. “Nore, sudah sampai?” tanya Daniel basa-basi yang langsung menggendong sang putri.
“Ck, tentu caja cudah campai dad. Kalau belum campai tentu Nore dan mom tidak akan di cini” cebik Leonore.
“Hahaahaha iya iya santai sayang” Daniel tertawa renyah karena celotehan sang putri. Sedangkan Leonore langsung cengengesan tak jelas.
Daniel lalu melirik Claudia yang masih setia berdiri di samping pintu sambil memegang paper bag merek resto ternama. “Ehemmm, silahkan duduk Clau”
“E-eh iya. Ini makan siang untuk mu” Claudia langsung memberi paper bag tersebut pada Niel.
“Terimakasih Clau. Maaf jadi merepotkanmu”
“Em iya, tak masalah”.
Claudia dan Daniel duduk dengan canggung karena saling berhadapan, sedangkan Leonore malah cengengesan melihat tingkah kedua orang tuanya.
“Dad, ayo makanlah. Mommy tadi memecan ceafood kecukaan daddy” ucap Leonore karena Daniel hanya terdiam saja sambil sesekali mencuri pandang pada Claudia. Sedangkan Claudia sedang memandang ke arah jendela kaca di ruangan Daniel sembari menenangkan gejolak hatinya yang saat ini sedang berdegup kencang.
“Mom, ayo kita makan juga, tadi kan kita cudah beli bulgel” ucap Nore membuyarkan lamunan Claudia.
“I-iya, mom nanti saja. Nore sama daddy duluan saja makannya” balas Claudia.
Mendengar itu Daniel tersenyum mengembang dan langsung membuka paper bag yang berisi makanan tadi.
Ada perasaan menghangat ketika Daniel melihat kotak makanan yang di pesan oleh Claudia padanya. Itu adalah makanan kesukaan dirinya, bahkan Claudia sering memasak makanan ini untuknya ketika status mereka masih menjalin hubungan pacaran, hingga mereka menikah Claudia selalu menyempatkan waktunya untuk memasak makanan kesukaan dirinya. Namun sayang, sekarang semuanya berbeda ada jarak yang memisahkan keduanya. Tapi meskipun begitu, untuk keadaan saat ini, Daniel teramat bersyukur.
“Ini sudah lebih dari cukup” batin Daniel.
Daniel langsung memakan makan siangnya, sesekali ia menyuapi makananya ke mulut malaikat kecilnya, Leonore si gemoy.Kedua orang itu asik melempar tawa satu sama lain. Melihat interaksi antara Nore dan Daniel, tanpa sadar Claudia mengukir senyum tipis, sangat tipis bahkan hampir tak terlihat
“Jangan pernah menunda untuk makan siang Niel, perhatikan kesehatanmu” ucap Claudia sembari mengambil satu cup minuman manis di atas meja yang sempat mereka pesan tadi ketika ia memesan makanan untuk Daniel.
Mendengar itu, Daniel langsung berhenti mengunyah makannya dan menatap Claudia.
“Apa? Yang aku katakan memang benar kan?” ketus Claudia bersikap galak, namun dalam hatinya sekarang sedang bergejolak sangat hebat “Oh mulut, kau ini memang benar-benar tidak bisa bersahabat sama sekali. Harusnya kau diam saja” batin Claudia menjerit.
“Cieee mommy mah kalau pelhatian cama daddy bilang daong hihi” cetus Leonore yang langsung membuat semburat merah di wajah Claudia. Sedangkan Daniel hanya senyum-senyum saja sesekali mengangguk apa yang di katakan Claudia.
Karena kesal, Claudia langsung memakan burgernya dengan suapan yang besar. Dan lagi-lagi Daniel dan Leonore terkikik geli melihat tingakah Claudia.
“Segala sesuatu akan terlihat indah dari kejauhan, itu sebabnya aku sekarang memilih melihatmu dari kejauhan. Aku tak mengharapkanmu kembali untuk mencintaiku lagi. Cukup sepreti saja, biarkan garis dan waktu yang akan menyampaikan aksara rinduku padamu” batin Daniel.
Daniel tersenyum mengembang melihat Claudia dan Leonore secara bergantian.