
Note :
Jangan ngemis, cari yang sama-sama butuh saja
DawnLover
.
.
.
“Ikhlaskan saja Matt, jangan menyiksa dirimu terlalu jauh” Tania menepuk bahu Matteo pelan.
Mendengar penuturan Tania, Matteo tersenyum getir, “Memangnya kau tau apa tentang lika-liku perjuangan ku, kau yang orang luar hanya mampu mengomentari saja” desah Matteo frustasi.
“Aku bukan mengomentari hanya saja aku kasihan pada dirimu. Mengapa orang seperti mu mengemis cinta. Apa kau sudah tidak laku lagi?” balas Tania sembari berusaha membuka cemilan yang sudah ia beli di minimarket tadi.
Matteo melirik kesal Tania yang berkata dengan santai dan entengnya, dia bilang seorang Matteo sudah tidak laku lagi?.
“Aku itu laku. Hanya saja cintaku berlabuh tidak pada orang yang tepat” elak Matteo yang membuat Tania terkekeh kecil.
“Hem terserahmu. Claudia sudah bahagia, maka kau pun harus bahagia. Lanjutkan kehidupan mu yang sebelumnya sudah kau tunda”.
Mendengar itu, Matteo hanya tersenyum tipis lalu mencomot cemilan yang ada di tangan Tania, “Hem, itu sudah pasti. Kau sendiri bagaimana?”.
Tania menoleh Matteo, “Aku” tanya Tania sembari menunjuk dirinya sendiri. Matteo hanya menggangguk saja.
“Tidak ada” jawabnya singkat, padat dan tidak jelas.
“Tidak ada bagaimana?” tanya Matteo kembali.
“Iya, tidak ada cerita, tidak ada cinta”.
Matteo menyergitkan keningnya kemudian lalu tersenyum mengejek, “Bilang saja kau tidak laku”.
Mendengar itu, Matteo langsung mengangguk mengerti tentang bagaimana sifat seorang Tania.
“Oh iya, mulai hari ini ciptakan kebahagiaanmu sendiri, jangan mau kalah sama keadaan dan terpuruk dalam kesedihan. Sudah cukup berbahagialah” ucap Tania dengan tulus. Ia perlahan berdiri mendekati nuansa danau yang tenang yang tersaji tepat di hadapan matanya.
Matteo hanya mengangguk saja tentang perkataan Tania barusan, ia tidak menepis karena apa yang di katakan Tania itu memang benar adanya.
Matteo perlahan mengikuti Tania yang berdiri di pinggir danau dan menatap nanar jauh ke arah depan, “Aku berharap di lain waktu atau di kemudian hari nanti, aku ingin kekasih yang tidak pernah pergi. Aku sudah begitu lelah dengan hal tengik yang biasa di sebut orang perpisahan. Aku sudah tidak ada tenaga lagi untuk mencoba dari awal lagi. Mencoba percaya lagi. Aku sudah letih dengan segala hal busuk perihal jatuh cinta lagi”.
.
.
.
Di sisi lain, baik Claudia maupun Daniel masih tidak bisa tidur untuk menyambangi dunia mimpi mereka. Seakan kantuk tidak kunjung singgah pada dua orang tersebut, pada hal di tengah-tengah mereka Leonore sudah tertidur dengan pulas dan nyenyaknya. Mungkin karena kecapean serta belum tidur siang tadi sehingga anak gemoi itu cepat sekali tidurnya.
“Apa kau sudah tidur?” tanya Daniel tanpa menoleh ke arah Claudia yang sedang berusaha untuk mencoba tertidur.
“Sudah” jawab Claudia asal. Mendengar penuturan Claudia, membuat Daniel tersenyum geli dengan tingkah Claudia. Karena bagaimana bisa orang tidur menjawab omongan orang lain. Itu tidur atau hanya sekedar menutup mata.
“Aku tidak bisa tidur” ujar Daniel kemudian, tubuhnya langsung menoleh ke samping menatap Claudia.
“Tidurlah. Apa kau tidak lelah seharian ini” ucap Claudia masih dalam keadaan memejamkan kedua mata.
“Kau tahu sayang. Mungkin saat ini jika di tanya siapa yang paling bahagia. Maka aku akan menjawab itu aku, Daniel Kingston. Aku sangat teramat bahagia karena bisa bersamamu kembali. Bersamamu seperti indahnya bintang saat malam, ada ketika aku terlelap lalu lenyap ketika matahari menatap”.
Perlahan, Claudia membuka kelopak matanya “aku harap itu bualan semata. Tapi jujur aku pun bahagia bersamamu Niel”.
Kedua orang tersebut lantas bertukar pandang dengan melempar senyum satu sama lain. Tangan Daniel terulur menggenggam tangan Claudia “terima kasih karena masih mimilihku, terima kasih karena tetap bertahan meski sikapku masih sering menyebalkan”.
🌹🌹🌹