
Note :
Memandang, mendengar, dan berbicara tentangnya menjadi suatu hal yang menarik. Dan itu tak berubah sedikitpun setelah hari yang ku lalui berganti minggu dan minggu berganti bulan.
DawnLover
.
.
.
Saat ini Daniel sedang menggendong Leonore menju ke ruangannya. Daniel berjalan tegap dan berwibawa melewati setiap sekat ruangan karyawan yang di ujungnya terdapat lift. Setiap karyawan yang melihatnya baik itu pria maupun wanita tersenyum dan menunduk hormat pada sang atasan. Sebagian juga para karyawan wanita yang menatap Daniel dengan tatapan kagum nan memuja, ada juga yang berbisik-bisik dengan teman sesama kerjanya ketika pimpinan perusahaan itu lewat.
“Iiiii pak CEO ganteng banget sii” “OMG berasa lihat sugar daddy kalau pak Niel gendong itu anak perempuan” “Siapa anak kecil itu?” “Mau banget dong jadi pendamping hidup pak Niel”
Seperti itulah kalimat yang sayup-sayup di dengar oleh gadis kecil yang imut yang sedang berada dalam gendongan daddy nya. Leonore yang mendengar setiap bisik-bisik dari karyawan daddy nya langsung melirik sang daddy dengan tatapan tajam takut daddy nya ini tebar pesona atau kesenangan karena mendengar bisik-bisik dari karyawannya. Sedangkan Daniel hanya fokus berjalan menatap ke arah depan seakan tidak menghiraukan sama sekali tentang bisik-bisik dari karyawannya. Sejenak Leonore tersenyum tipis kepada daddy nya karena merasa daddy nya tidak terpengaruh. Lalu Leonore langsung menatap jengah tak suka kepada para karyawan wanita yang sedang memandang daddy nya dengan tatapan tak suka. Nore langsung menunjuk satu-satu kemudian mengibaskan tangannya pertanda ia menyuruh untuk mundur di sertai dengan tatapan mata Leonore yang melotot tajam serta bibir yang mencebik pertanda ia sinis dan tak suka.
Melihat itu, para karyawan wanita itu melongo melihat tingkah bocah yang mau berusia 3 tahun itu tapi tak lama kemudian mereka langsung menunduk ketika mendengar suara asisten pribadi dari atasannya yang bernama Jo “Hei hei kalian di sini di bayar untuk bekerja, bukan melamun apa lagi melongo. Dan ya, perlu kalian ingat anak kecil yang di gendong Tuan Daniel adalah anak kandungnya”
Para karyawan yang baru mendengar itu di buat kaget dengan apa yang di sampaikan oleh Jo. Namun mereka tak ingin banyak bertanya, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing yang sempat tertunda karena kedatangan atasan mereka, Daniel Kingston.
Setelah sampai di ruang kerja, Daniel menurunkan Leonore di sofa ruangannya. Daniel memandang wajah Nore yang saat ini sedang berwajah masam dan di tekuk pula. Gadis kecil itu menyilangkan kedua tangannya di dada dan memalingkan wajahnya pada sang daddy.
Sejenak Daniel menyerngitkan kening karena mengetahui malaikat kecilnya merasa tidak suka dan sedang kesal.
“Baby girl, what happened? Apa Nore tidak menyukai ruangan kerja daddy, hem?” tanya Daniel sembari mengelus pelan pucuk kepala Leonore.
“No, Nore cuka kok. Cuma tidak cuka cama kalyawan pelempuan yang kita lewati tadi” jawab Nore langsung memandang sang ayah dengan tatapan menyelidik.
“Kenapa tidak menyukai mereka girl”
“kalna meleka tadi memandang daddy sangat lama, bahkan dengan tatapan memuja. Aku tidak cuka hummm” ujar Nore langsung mencebikkan bibirnya.
“Hahaha, benarkah?” tanya Niel kembali yang sepertinya sengaja menggoda putri cantiknya ini.
“Hiiisss apa daddy cenang dan bangga kalna di kagumi tante-tante tadi?”
“Tentu saja tidak sayang. Jangan khawatir daddy tak akan tergoda” ucap Daniel memberi penjelasan pada Leonore yang merajuk.
“Ku pikil cuka. Awas aja kalau cuka nanti Nore aduin mommy” putus Nore mengancam daddy nya.
Mendengar itu, Daniel tersenyum tipis karena ucapan Leonore seakan menggelitik sudut hatinya yang sudah lama terisi dan tertulis nama Claudia.
Tok tok tok..
Suara pintu diketok dari luar sehingga membuat Daniel tidak melanjutkan menjawab ancaman Nore untuknya.
“Masuk”
Tak lama pintu di buka dan menampilkan sang asisten yang sedang membawa berkas untuk di serahkan kepada Daniel.
Jo menunduk hormat pada Daniel dan langsung menyerahkan berkas tersebut “Tuan , ini beberapa berkas kontrak perjanjian kerja sama dengan perusahaan A yang tuan minta kemarin”
“Terimakasih Jo” Daniel langsung mengambil berkas tersembut dan membukanya sekilas.
“Sepertinya harus aku lihat dulu detailnya” gumam Niel dengan suara yang masih di dengar oleh Jo dan juga Nore.
“Jo, tolong temani Leonore sebentar di sini. Aku akan ke meja kerjaku sebentar untuk menganalisis kontrak kerjanya” titah Daniel pada Jo.
“Baik tuan”
“Siap daddy. Tenang caja. Nore anaknya anteng kok heheh” jawab Nore mantap pada daddy Niel.
Melihat Daniel yang sudah menjauh, Jo berinisiatif duduk di samping Nore dan ingin bertanya asal untuk mencairkan suasana agar gadis kecil itu tidak merasa bosan karena menunggu sang daddy.
“Emm Nore, uncle boleh tanya sesuatu”
“Of course uncle, cilahkan” jawab Nore dengan mengangguk pertanda setuju dan mempersilahkan Jo untuk bertanya.
“Nore kan anak perempuan, pasti suka mainan boneka barbie ya?” tanya Jo asal.
“Tidak juga cih” jawab Nore seraya berpikir sejenak.
“Lalu Nore suka mainan apa?” tanya Jo jadi penasaran. Tidak mungkin Leonore suka mainan robot dan mobil-mobillan kan, karena jika di lihat dari penampilan, Nore ini anaknya sangat feminim.
“Aku suka main saham uncle” jawab Nore serius
“Ha? Saham?” Jo melongo mendengar jawaban frontal yang terkesan tidak masuk akal itu. Yang benar saja ya kali anak kecil mainannya saham.
“Tentu caja uncle” Nore melihat Jo yang sepertinya sedang diam mematung seakan memikirkan sesuatu.
“Em, selain saham, Nore suka apa lagi?” tanya Jo sepertinya semakin penasaran dengan kesukaan dari anak atasannya ini.
“Nore cuka gaming sama nonton akun gocip” jawabnya dengan senyuman manis, senyuman yang mengalahkan kembang gula kapas.
Dan lagi-lagi jawaban itu membuat Jo terdiam seribu bahasa.
Sedangkan Nore yang kembali melihat Jo terdiam mengangkat kedua bahunya pertanda bingung di sertai dengan bola mata yang memutar.
.
.
.
Saat ini Claudia bersama dengan Matteo di sebuah Café ternama.
“Kau selalu cantik saja jika di pandang dari sudut manapun Cia” ucap Matteo yang sedang duduk di hadapan Claudia.
Mendengar itu, Claudia yang sedang menopang dagu langsung membetulkan posisi duduknya lalu mengejek Matteo “Kau juga sama, selalu jomblo terus sejak pertama kita bertemu” ucap Clau yang langsung tertawa terbahak-bahak.
“Heleh heleh, kau salah Cia. Aku ini bukan jomblo tapi single. Kalau jomblo kan karena tidak laku, sedangkan single itu pilihan” sahut Matteo dengan percaya diri.
Mendengar itu, Claudia memutar bola matanya malas.
“Hem terserahlah. Baiklah katakan untuk apa menemuiku”
“Aku ingin menata rinduku padamu Cia yang sudah sewindu ini” jawab Matteo menatap Claudia dengan tatapan teduh.
.
.
.
.
Seperti biasa kakak² sayang jangan lupa di like, comment, vote, rate dan favoritkan yaaaa🤩🤩🤩👏
Selamat berhari Selasa💋💋