
Note :
Kita cuma manusia biasa dengan latar berbeda-beda. Punya hati yang bisa sakit. Menyimpan masa lalu kelam dan rahasia masing-masing.
.
.
“Bisakah kau melihat cinta yang sesungguhnya di antara diriku dan dan Daniel” lanjut Matteo lagi bahkan dengan sedikit bentakan mungkin karena gejolak di hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Claudia cukup kaget dengan sikap Matteo kali ini, ia berkedip berkali-kali untuk menetralisir kebingungannya.
“Akkhh sial” umpat Matteo mengusap wajahnya frustasi, ia langsung memijat pelipisnya yang terasa sedikit pening.
“I’m sorry Cia, aku tidak bisa mengendalikan emosiku” sesal Matteo langsung yang sepertinya mengetahui sikap dirinya tadi yang terlalu berlebihan pada Claudia.
Sedangkan Claudia hanya diam memantung, bingung hendak harus merespon apa tentang sikap Matteo barusan.
“Okay, tidak masalah” jawab Claudia singkat. Ia lebih memilih menyeruput minuman yang sudah mereka pesan tadi untuk menghilangkan sedikit dahaga di tenggorokan, dan berharap dahaga di hati pun bisa terobati juga.
“Cia, kamu marah?” tanya Matteo dengan suara pelan. Sungguh Matt sangat takut jika seandainya Claudia menjadi marah dan malah terkesan menjauhinya hanya karena sikapnya barusan.
“No, aku tidak marah” jawab Claudia jujur pada Matteo.
“Lalu apa?”
“Aku hanya kaget. Ya, hanya kaget saja” balas Claudia mengangguk-anggukkan kepalanya.
Matteo langsung menggenggam tangan Claudia yang sedang diam anteng di atas meja.
“E,eeh” Claudia kaget karena kedua tangannya di genggam oleh Matteo. Ingin menarik tangannya, namun sayang Matteo sudah lebih dulu menahan kedua tangan agar kedua tangan tersebut saling bersahutan.
Claudia yang langsung melototkan matanya pada Matteo sedangkan Matteo hanya menggelengkan kepalanya lemah.
Melihat itu, Claudia hanya menghela nafasnya resah.
“Cia, jangan membuat aku berada di tengah ketidakpastian, dimana kamu memang tidak mendorongku pergi. Tetapi kamu juga tidak berjuang untuk menjagaku tetap di sini” sendu Matteo menatap Claudia yang saat ini juga sedang menatap ke arahnya. Matteo merasa frustasi tentang bagaimana tentang kelanjutan mereka.
Claudia yang hendak berbicara malah terpotong dengan suara anak kecil yang sangat familiar baginya.
“Mommy” pekik Leonore yang berada tak jauh di posisi duduk Matteo dan Claudia. Gadis mungil itu sedang berdiri di dampingi oleh Daniel yang memegang sebelah tangan Leonore, dan Jo asistennya yang berada di belakang Daniel dan Leonore yang nampak kesusahan karena sedang membawa beberapa makanan yang di pesan oleh Leonore ketika mereka menempuh perjalanan menuju café yang sepertinya menjadi tujuan Daniel, Jo serta Leonore untuk makan siang.
Mendengar itu, Claudia langsung menarik paksa tangannya dari genggaman Matteo dan sedikit kikuk seakan ketahuan dan kepergok pada sang anak.
Leonore yang langsung mengajak Daniel untuk mendekati Claudia dan juga Matteo.
“Ayo dad, kita hampili mommy sama uncle Teo” Leonore langsung menarik tangan Daniel karena Daniel sepertinya enggan mendekati kedua insan yang sedang duduk dan terlibat pembicaraan serius.
Ketika sudah sampai dan bergabung di meja Claudia dan Matteo, Daniel lebih dulu buka suara supaya tidak ada kesalahpahaman di antara mereka semua.
“Maaf, aku tidak tahu kalau kalian sedang berada di sini” ucap Daniel jujur, karena ia sendiri tidak tahu kalau Clau dan Matteo sedang ada di sini.
“I-iya tidak masalah” jawab Claudia seadanya.
Sedangkan Matteo tidak menjawab, ia lebih fokus pada Leonore yang saat ini sedang duduk di pangkuannya dan beralih menyeruput minuman milkshake milik Matteo.
“Hei girl, itu milik uncle” gemas Matteo yang langsung mencubit kedua pipi chubby Leonore.
Tentu saja anak balita itu langsung mengaduh kesakitan pada cubitan pelan Matteo.
“Auhhh cakitttttt uncleee” gerutu Leonore yang melototkan matanya pada Matteo. Sedangkan Matteo hanya terkekeh melihat kelakuan Leonore yang tak pernah berubah.
“Nore, jangan terlalu banyak minum minuman itu, itu tidak bagus. Kemarilah” Claudia yang langsung beralih memangku Leonore, sedangkan bocah itu hanya cengengesan saja karena sang mommy sedang menahan kesal padanya sembari mengelap wajahnya yang sedikit agak cemong memakan makanan yang penuh creammy.
Brukkk…
“Astaga, ini semua pesanan siapa” Claudia melongo melihat berapa banyak kresek jajanan yang menurut Claudia tidak sehat untuk anak seumuran Leonore.
Claudia bisa melihat ada berapa banyak tusuk sosis dan baso bakar, puding sedot, donat, telur gulung, mie sosis, kembang gula kapas ukuran jumbo serta dua cup ice cream merek Mixue.
Jo yang sepertinya melihat kekesalan dan kemarahan Claudia langsung menunjuk Leonore yang sedang duduk anteng di pangkuan Claudia.
Claudia langsung memandang Leonore dengan tatapan tajam setajam silet, sedangkan yang di tatap sudah mengatupkan kedua tangannya pertanda memohon maaf kepada sang baginda ratu dan memasang wajah semanis mungkin berharap dengan begitu hati Claudia akan luluh. “Kalau batuk bagaimana Nore kalau makan ice cream terus, itu berminyak semua jajanannya” omel Claudia pada Nore kecil.
“Solly mom” jawab Nore tapi tidak di sertai dengan wajah penyesalan.
“Siapa yang mengizinkan kamu membeli jajan itu hemm” tanya Claudia lagi.
“Tentu caja daddy dan uncle Jo” jawabnya dengan lantang bahkan menunjuk kedua orang tersebut. Sedangkan yang di tunjuk malah kaget apa lagi Jo sampai menggeleng-gelengkan kepalanya kepada Claudia yang berarti bukan saya nyonya, sungguh bukan saya yang memberi izin kepada nona Leonore untuk membeli jajanan itu.
Claudia langsung menatap Daniel dengan tatapan tajam seakan menuntut jawaban.
Daniel langsung menghela nafas ketika melihat Leonore yang mengedipkan sebelah matanya padanya di sertai dengan wajah memelas. “Hemmm, iya aku yang mengizinkannya. Tapi hanya sekali ini saja”
“Harusnya kau tidak boleh mengizinkannya, nanti kalau dia batuk bagaimana, dia sakit bagaimana dan bagaimana kallll” ucapan Claudia langsunng terpotong oleh ucapan Daniel yang mendominasi
“Iya, iya aku minta maaf Clau, aku tak akan menuruti lagi kalau Nore meminta di beli jajan yang tidak sehat lagi” ucap Daniel di buat dengan wajah menyesal. Leonore yang melihat itu hanya tersenyum ke arah daddy nya dan mengangkat satu jempolnya untuk Daniel.
Jo dan Matteo yang melihat interaksi itu hanya geleng-geleng pelan karena kelakuan Leonore.
“Hufffft sepertinya pembicaraan kami tidak akan berlanjut karena kedatangan tamu tidak di undang” gerutu batin Matteo.
Mendengar itu Claudia hanya menghela nafas “Lain kali jangan selalu menuruti keinginan putrimu yang banyak akal bulus ini” tegas Claudia yang langsung mencubit gemas pipi Lenore.
“itu putrimu juga Clau” elak Daniel pada Claudia.
Kedua orang itu langsung bersitatap ketika mengatakan itu, sepertinya ada perasaan canggung jadinya.
“Eheem” Matteo langsung berdehem keras supaya tatapan kedua mantan suami istri ini putus, ia tidak suka dengan pandangan ini. Membuatnya jengah saja.
Claudia dan Daniel langsung memutuskan kontak matanya.
“Clau, berhubung kau ada di sini, aku pergi duluan karena ada urusan mendadak. Aku titip Nore” ucap Daniel pada Claudia.
“Loh tidak mau pesan makan dulu?” tanya Claudia
“Benal dad, bukannya tujuan kita ke cini untuk makan ciang” Leonore ikut menanggapi.
“Tidak apa girl, mungkin nanti saja daddy makan siangnya kalau urusannya sudah selesai” ucap Daniel yang langsung bangkit dari tempat duduknya. Melihat itu, Jo juga langsung berdiri dan siap mengikuti kepergian Daniel.
Akhirnya, Daniel dan Jo pergi dari café tersebut walau Leonore sedikit merengek karena di tinggalkan daddy nya namun Claudia berusaha memberikan pengertian pada malaikat kecilnya.
.
.
Ketika berada di dalam mobil, Jo yang sedang mengemudikan mobil melirik Daniel sejenak di pantulan spion mobil, “Apa tuan sengaja menghindari mereka, apa tuan sudah tidak berusaha mengambil hati nona Claudia kembali?”
Daniel melirik sekilas Jo yang sedang mengemudikan mobil “Jangan banyak bertanya, fokus saja bawa mobil” tandasnya pada Jo.
“Karena sekarang aku sadar posisi. Aku yang bertapak di tanah tidak mungkin akan bisa menggapai langit itu lagi” batin Daniel
.
.
.
Seperti biasa yaaa🤗🤗🤩 mohon di bantu untuk like, comment, vote, dan favoritkan💋💋💋