
Note :
Dunia lagi sensitif sama pendapat, punya arus masing-masing boleh tapi jangan memaksakan arus sendiri pada orang lain.
DawnLover
.
.
.
1 bulan kemudian
Semua berjalan begitu baik, kehidupan keluarga kecil Daniel nampaknya sudah mulai baik, mereka pun menjalankan kegiatan dan aktivitas mereka sebagaimana biasanya, Daniel dan Claudia bekerja di kantor sedangkan untuk Leonore sendiri ia mengikuti preschool yang selalu di temani oleh pengasuhnya.
Seperti hari ini, Leonore di turunkan di depan sekolahnya “Baby girl, semangat ya untuk hari ini” ucap Claudia sembari meninggalkan jejak sayangnya di kening Leonore begitu pun dengan Daniel.
“Jangan nakal ya. Daddy dan Mommy akan menunggumu mengunjungi kantor kalau mau” ucap Daniel sembari mengusap kepala Nore dengan sayang.
“Oke Dad, oke Mom” jawab anak gembul itu dengan antusias. Setelah memeluk Claudia dan Daniel, Leonore berjalan masuk menuju tempat bermain sekaligus belajarnya bersama dengan nanny nya.
“Sayang, sepertinya Nore membutuhkan sosok adik agar dia tidak sendirian” bisik Daniel yang saat ini sedang merangkul pinggang sang istri.
“Hemmm, benarkah? Nanti kita lihat saja” jawab Claudia menepuk lengan Daniel pelan. Kedua orang tersebut langsung melaju menuju kantor.
.
.
Leonore berlari antusias menemui pengasuhnya yang sudah menunggunya di depan pintu, “Nanny, ayo pulang” ucapnya langsung menggandeng tangan pengasuh dengan semangat empat lima.
“Non, apa kita akan langsung menuju ke kantor Daddy sekarang?” tanya pengasuhnya ketika mereka sudah sampai di dalam mobil. Ya, mereka di jemput oleh supir yang di khususkan untuk mengantar Leonore kemana pun.
“Emm,, bolehkah kita ke pucat pelbelanjaan cebental, Nole haus dan ingin mampil juga melihat cecuatu ehehehe” cengir Nore menatap sang pengasuh.
“Tapi jangan lama-lama yah Non, saya takut di marahi Tuan Besar” ucap sang pengasuh, meski Daniel dan Claudia tidak melarang Leonore pergi kemana saja, namun kadang anak kecil yang belum genap 3 tahun itu suka lupa waktu kalau sudah asik sendiri dengan dunianya.
“Nanny tenang caja, kita tidak akan lama kok. Kita hanya mampil cebental caja. Cetelah itu kita bica pulang” Leonore meyakinkan sang pengasuh bahwa mereka tak akan lama. Akhirnya sang pengasuh menganggukkan kepala dan memberi tahu sang supir supaya mereka mampir ke pusat perbelanjaan.
Melihat itu, Nore bersorak girang dalam hati seraya menarik senyum tipis di ujung bibirnya yang tipis. “Tidak lama, hanya kicaran cetengah hali aja hihihi” batin Nore.
.
.
Setelah sang supir menurunkan mereka di lobi, Leonore dan pengasuhnya langsung masuk ke dalam menuju tempat jualan minuman yang menyediakan minuman brewed tea asal Taiwan. Walau itu tidak boleh di minum terlalu sering oleh anak kecil, namun Leonore tetap saja membelinya dengan diam-diam tanpa sepengatuhuan dari Daniel dan Claudia, ia di bantu oleh pengasuh. Sang pengasuh langsung memesan dua cup minuman white grape green tea dan jasmine green tea.
“Non, jangan pergi kemana-mana takut ilang. Saya takut di marahi Tuan dan Nyonya” ucap sang pengasuh langsung memegang tangan Leonore karena sepertinya bocah gembul itu sedang melirik ke arah kiri dan kanan mencari sesuatu.
“Iiiii nanny tenang caja, Nore tidak akan ilang. Pelcayalah pada Nore” jawab Nore menunjuk dirinya. Melihat itu, sang pengasuh hanya tersenyum dan mengangguk kepala.
Tak lama, pesanan mereka sudah siap, sang pengasuh langsung bergegas dari tempat itu dan mencari tempat duduk untuk mereka berdua tak lupa ia tetap memegang tangan gembul Leonore takut anak dari atasannya itu hilang.
“Non, minumlah” sang pengasuh langsung menyodorkan satu cup minuman yang sudah di pesan tadi.
“Telimakacih nanny” ucapnya langsung meminum minumannya “Uuhhh segarnya”.
“Ia, ia. Tapi cebelum itu nanti kita belkeliling cebental ya” pinta Leonore dengan wajah melasnya.
“Tapi jangan lama Non, hanya berkeleling saja ya, tidak membeli” sang pengasuh mencoba mengingatkan takut anak dari atasannya itu lupa waktu lagi.
“Ciappp. Nore janji” jawab Nore mengangkat tangan kanannya membentuk huruf V.
Ketika mengelilingi pusat perbelanjaan, Nore melirik toko aksesoris, ia langsung antusias berlari menuju toko tersebut tanpa memberi tahu sang pengasuh.
“Duh Non jangan lari. Nanti jatuh” ucap sang pengasuh langsung ikut berlari mengikuti Leonore.
Dukkk…
Leonore menabrak seorang wanita berpakaian feminim dengan gaya rambut pendek sebahu, menggunakan kaca mata hitam.
“Aduh cakit” keluh Nore memegang keningnya karena sepertinya menabrak tas selempang dari wanita yang sepertinya seumuran dengan Mommy nya.
“Ya Allah Non, Non gak apa-apa?” cemas sang pengasuh langsung menarik Leonore ke sisinya, ketika melihat anak asuhnya, sang pengasuh langsung takut “Ya Allah kepalamu lecet Non, Tuan pasti akan marah” takut sang pengasuh menghadapi kemarahan Tuannya.
“Nore tidak apa-apa nanny, cungguh. Ini pun tidak cakit” jawab Nore memegang keningnya yang sedikit memerah saja, ia berusaha menenangkan sang pengasuhnya yang sedang takut dan cemas.
“Ehem… permisi” jawab perempuan itu membuyarkan obrolan Leonore dengan pengasuhnya. Sepertinya ia tidak di anggap bahkan seperti tidak kelihatan. Ia melepaskan kaca matanya dan menatap Leonore dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya. “Oh sayang, maafkan aunty, apa kau terluka” ucapnya dengan suara lembut sembari memegang kepala Leonore.
“Maaf mba, Nona kecil tidak sengaja tadi menabrak mba. Saya mohon maaf sekali lagi” ujar sang pengasuh karena Leonore malah diam dan dengan wajah datar menatap perempuan yang sedang memegang kepalanya.
“Nore tidak apa-apa. Maaf kalena tidak cengaja menablak onti. Dan ya, Nore tidak cuka kepala Nore di pegang oleh olang acing” ucap Nore dengan dingin, setelah mengatakan itu ia menepis tangan perempuan itu dengan kasar. Leonore langsung berlalu meninggalkan perempuan itu yang sepertinya terpaku dan tercengang dengan sikap dingin Leonore.
Leonore sejenak menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang “Nanny ayo pulang” teriak Leonore membuyarkan sang pengasuh yang sepertinya juga sedikit kaget karena sikap Leonore yang berubah dingin ketika berbicara dengan wanita asing tersebut. Biasanya Nore anaknya sangat ramah dan welcome, tidak seperti sikap yang ia tunjukkan pada wanita yang baru ia temui tadi.
“Sekali lagi saya mohon maaf ya mba, saya permisi” ucap sang pengasuh dan langsung bergegas meninggalkan perempuam berambut pendek itu.
“Non, tunggu Non” ujar pengasuh Leonore sedikit berlari untuk mengejar langkah sang anak asuh.
“Non, apa kita pulang sekarang?” tanya sang pengasuh setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan sang anak asuh dan memegang salah satu tangan Nore.
“Iya, kita pulang caja. Tapi kita pulangnya ke kantol Mommy ya” jawabnya seperti biasa.
“Siap Non, saya hubungi supirnya sebentar ya” jawab sang pengasuh dan langsung di angguki oleh Leonore.
Mereka menunggu sang supir di lobi pintu masuk, sembari menunggu sang pengasuh kembali bertanya pada Leonore karena sepertinya mood anak itu jadi tidak baik setelah bertemu dengan wanita asing tadi.
“Non, apa kepalanya masih sakit?”
Leonore mendongkak kepalanya ke atas menatap sang pengasuh, “Tidak cakit kok” jawabnya dengan senyuman hangat.
“Oh… Oh iya Non, tadi kenapa Nona seperti sedikit ketus pada perempuan yang Nona tabrak tadi?” jawab sang pengasuh dengan lembut, berusaha tidak membuat mood Leonore semakin buruk.
“Oh yang itu. Nore hanya tidak menyukainya saja” jawabnya dengan tatapan serius, seakan memang sangat tidak menyukai perempuan itu.
Sementara di sisi lain, perempuan tersebut mengepalkan satu tangannya yang telah di tepis oleh Leonore tadi, “Anak sialan, beraninya menatapku dengan tatapan dinginnya, dan beraninya pula dia menepis tangan mulus ku ini” gertaknya menahan emosi.
***
Seperti biasa kakak² sayang🤗🤗 jangan lupa bantu author melalui like, comment, vote, rate, favoritkan serta gift juga ya biar author makin semangat update 😍😍😍