
Note :
Hidup bukan hanya tentang mengejar, mendapatkan dan memiliki. Tapi hidup juga tentang melepaskan, mengikhlaskan dan menerima kenyataan.
DawnLover
***
“Apa kau tega menjadi penghancur keluarga kecil itu. Sudah lebih baik berhenti saja. Berhenti berharap sesuatu yang tidak pasti.”
Dessy langsung menepis tangan Gerry yang sedang merangkul bahunya.
Ya, orang itu adalah Dessy yang diam-diam mengikuti Daniel berharap ada celah untuknya untuk bisa kembali masuk ke dalam kehidupan pria kaya dan tampan itu.
“Kau bilang apa. Aku berhenti?” desis Dessy menatap tajam Gerry dengan suara pelan.
“Kau tahu betul Ger, aku tidak bisa berhenti sebelum mendapatkan apa yang aku inginkan.”
“Apa kau tidak lelah dengan jalan hidupmu itu?” tanya Gerry tak habis pikir bagaimana cara kerja otak sepupunya itu.
“Aku bahkan dari dulu sudah lelah Ger. Aku bosan menjadi lemah. Setidaknya jika aku tidak bisa mendapatkan Daniel. Maka Claudia dan anak sialan itu tidak boleh memiliki Daniel pula” Dessy menatap jauh Daniel dan Claudia yang sedang asik mengantri pesanan ice cream, di wajahnya tercetak jelas senyum miring.
Dessy langsung berlalu meninggalkan Gerry, ia menggunakan masker beserta topi olahraga. Perlahan tapi pasti ia mendekati Daniel dan Claudia.
Ketika Daniel sedang asik bermain dengan Leonore, Claudia yang hanya duduk mengamati interaksi ayah dan anak itu tiba-tiba ingin membuang air kecil. Ia lalu pamit sebentar ke Daniel untuk ke toilet.
“Apa perlu aku temani sayang?” tanya Daniel
“Tidak perlu Mas, aku sendiri saja. Kau temani saja Leonore bermain” balas Claudia yang memang tidak ingin di antar. Toh dirinya hanya ke toilet, itu pun tidak akan lama.
Setelah meminta izin, Claudia langsung melangkahkan kakinya menuju toilet umum.
Entah dia sadari atau tidak, Dessy diam-diam mengikutinya dari jarak jauh.
Di toilet, Claudia langsung menuntaskan hajatnya setelah itu ia berlalu keluar. Claudia yang termasuk perempuan yang melihat kaca harus berkaca, tentu saja ia berhenti di depan kaca dan sedikit membenarkan tatanan rambut yang ia gerai. Tak lupa ia mencuci tangannya di aliran air wastafel.
Klekk,,,
Toilet di sebelah tempat ia membuang hajatnya tadi keluar seorang perempuan dengan baju olahraga berwarna hitam di sertai topi dan masker menutup wajahnya. Dan tentu saja perempuan itu adalah Dessy. Namun sepertinya penampilannya ini tidak di kenali oleh Claudia. Sehingga perempuan itu hanya acuh saja.
Claudia melihat perempuan tersebut sekilas lewat pantulan cermin, setelah itu ia kembali fokus mengeringkan tangannya menggunakan tissue yang ia bawa di tasnya. Rupanya di toilet wanita tersebut hanya mereka berdua saja, tidak ada orang lain.
Ketika hendak pergi keluar dari toilet, Dessy bersuara terlebih dahulu.
Claudia langsung berbalik dan menyerahkan tissue mini, “Ini. Silahkan. Ambil saja sepertinya isinya tidak banyak juga” jawab Claudia ramah.
“Terimakasih” jawab Dessy tak kala ramahnya, bahkan lekungan matanya terlihat tersenyu.
Claudia hanya mengangguk saja hendak keluar lagi. Namun langkahnya langsung berhenti ketika mendengar perkataan perempuan yang tidak ia ketahui namanya itu.
“Kau begitu ramah. Aku hanya meminta sedikit namun kau memberikan semuanya. Apa jika aku meminta suamimu kau mau memberikannya padaku secara Cuma-Cuma tidak?” ujar Dessy santai tanpa mengalihkan pandangannya pada kaca di depannya saat ini.
Claudia langsung berbalik bertanya “Apa kau tadi meminta suamiku?”
Dessy yang mendengar penuturan itu, langsung tersenyum di balik maskernya dan melangkah pelan mendekati Claudia.
“Apa kau mengizinkannya?” tanya Dessy yang sekarang posisinya sedang berhadapan dengan Claudia.
“Ku pikir hanya perempuan murahan yang meminta suami orang” balas Claudia datar. Sepertinya perkataan perempuan di hadapannya ini membuat moodnya langsung buruk apa lagi penampilannya yang sedikit mencurigakan.
“Hahahaa aku hanya bercanda. Kenapa kau sangat serius” tawa Dessy bahkan memegang lengan Claudia walau sebenarnya ia sedang emosi setengah mati karena Claudia secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya perempuan murahan.
Hendak pergi meninggalkan Claudia yang terdiam dengan wajah yang sudah mulai tidak bersahabat rupanya tangannya di pegang oleh Claudia.
“Mau merusak hubungan orang lagi rupanya. Deeesyyy” ucap Claudia pelan dan dingin. Sepertinya Claudia cukup peka siapa yang sedang mengajaknya mengobrol saat ini.
Ucapan itu tentu saja membuat Dessy yang tadinya sedikit bahagia karena sedikit membuat wajah Claudia cemas. Sekarang malah Claudia yang membuatnya cemas bercampur kaget. Apa penyamarannya sudah di ketahui oleh Claudia?
Ia langsung menarik tangannya kasar dari pegangan Claudia. Tatapan kedua perempuan tersebut beradu saling menatap tajam.
“Kalau dirimu memang perempuan yang waras pasti tahu bagaimana rasanya kekasih atau suamimu di rebut. Kau kan perempuan. Cantik juga. Jadi tidak perlu menggoda suami orang. Masih banyak laki-laki di luar sana. Atau memang bakatmu itu seorang penggoda?” ujar Claudia dengan nada sinis sembari membersihkan tangannya yang sempat memegang tangan Dessy barusan. Seakan bersentuhan dengan Dessy itu sama halnya memegang virus atau kuman.
“Apa maksudmu” tanya Dessy yang masih berpura-pura seakan tidak mengetahui maksud perkataan dari Claudia.
“Kalau memang tidak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan, jangan mengambil apa yang menjadi milik orang lain” ujar Claudia begitu santainya bahkan ia menyilangkan kedua tangannya saat ini melihat bagaimana ekspresi musuhnya.
Dessy tidak menjawab, pikirannya buntu mendapat sindiran tajam penuh duri dari rivalnya. Claudia sepertinya sudah mengetahui siapa dirinya. Di tambah ucapannya yang sangat menohok dan tajam membuat Dessy langsung terdiam. Ia mengepalkan kedua tangannya berusaha mengendalikkan emosi yang sudah memuncak.
Claudia yang melihat itu tertawa renyah kemudian mendekati Dessy “Iri itu pertanda tidak mampu. Gatal ke suami orang itu pertanda tidak laku” bisik Claudia dengan nada mengejek Dessy.
Setelah mengucapkan itu ia langsung berlalu keluar dari toilet seraya tersenyum senang karena berhasil membuat Dessy bungkam seribu bahasa.
“Kauuuuu… Arghhhh” teriak Dessy yang tidak terima dengan perkataan menohok Claudia.
“Sekarang kau senang. Tapi, tunggu saja saatnya bahagiamu itu hanya sementara. Dan ku pastikan kau akan menangis darah” teriak Dessy seperti oranng kesetanan di dalam toilet.