
Kurang lebih 30 menit Haikal dan Aziela tiba di sebuah restoran mewah yang menyediakan berbagai menu nusantara dan mancanegara.
Meeting berjalan dengan lancar dan hanya membutuhkan waktu 1 jam saja untuk membahas proyek kedua perusahaan tersebut. Kini mereka menikmati berbagai hidangan yang telah mereka pilih masing-masing.
"Senang bekerja sama dengan anda, Tuan muda Haikal." Tuan Danu tersenyum sambil menjabat tangan Haikal
"Terima kasih tuan Danu."
Akhirnya merekapun membubarkan diri.
"Saya akan mengantarmu pulang Ziela." Haikal buka suara
"Nggak usah pak, saya bisa pulang sendiri naik taksi atau ojek online, lagipun saya harus mengambil motor saya yang masih di kantor." jawab Ela
"Saya nggak terima bantahan loh Ziela, ini perintah. Lagian motormu, kamu tinggal disana nggak akan hilang." kekeh Haikal
"Yaudah deh pak, saya mau." Jawab Ela terpaksa
Ela masuk ke dalam mobil Haikal, Haikal langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ela. Hening suasana dalam mobil tersebut, Kedua insan tersebut merasakan canggung sebab mereka tidak biasa berdua dengan lawan jenis yang bukan mahram.
"Kamu tinggal sama siapa?" Haikal memecah keheningan dan mencoba mencairkan suasana.
"Bersama ketiga sahabat saya pak." Jawab Ela
"Orang tua kamu? Atau keluarga?" tanyanya lagi
"Saya yatim piatu pak, saya besar di panti asuhan jadi nggak tau keluarga saya masih ada atau tidak."
"Maaf ya saya nggak tahu" Haikal merasa tidak enak
"Iya pak, nggak papa." Jawab Ela
Haikal menepikan mobilnya ke sebuah masjid yang berada di pinggir jalan.
"Kita mampir sholat Isya' dulu ya zi."
'Zi? Dia memanggilku zi? yaudah deh masih namaku juga.' batin Ela
"Iya pak, takutnya nanti lupa kalau di rumah." Jawab Ela
Merekapun sholat isya' di masjid tersebut sekitar 15 menit. Kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
Krucuk krucuk
Perut Ela tiba-tiba berbunyi, dan dapat didengar Haikal,
'Duh kenapa ni perut nggak bisa diajak kompromi sih, aku kan malu. Lagian kenapa aku tadi cuma makan sedikit.' ucap Ela dalam hati
"Kamu sudah lapar? Padahal belum ada 30 menit kita makan." Kata Haikal
"Hehe, i iya pak, tadi saya cuma makan sedikit karena tadi belum lapar." jawab Ela malu
"Mau makan apa? Kita mampir dulu." Haikal bertanya
"Udah sekalian aja, mumpung di luar. Mau makan apa?"
"Jangan deh pak, nanti istri bapak marah lagi kalau tahu bapak jalan sama perempuan lain." Jawab Ela
"Istri? Istri yang mana? Saya belum menikah Ziela. Jangankan menikah dekat sama perempuan yang bukan keluarga aja belum pernah. Dan ini pertama kali saya jalan sama perempuan. Darimana kamu menyimpulkan kalau saya sudah menikah?" Kata Haikal sambil menahan tawanya. Ia tak menyangka bahwa ada orang yang berpikiran kalau ia telah menikah. Apakah wajahnya terlihat seperti bapak-bapak?
"Ya, buktinya bapak dipanggil daddy oleh Ruby, berarti bapak sudah menikah dan memiliki anak dong." jawab Ela
Haikal tak bisa lagi menahan tawanya, rupanya sekretarisnya selama ini salah paham terhadap panggilan Ruby kepadamya.
"Itu hanya sebuah panggilan Zi, Ruby itu anak dari adik saya Husna, yang pernah datang ke kantor. Ruby menganggap saya sebagai ayahnya karena ayahnya telah meninggal satu tahun lalu saat Ruby berusia 4 tahun. Saya mengizinkannya memanggil daddy supaya dia bisa merasakan kehadiran sosok ayah. Jadi saya itu belum pernah menikah apalagi punya anak, saya masih perjaka." Jelas Haikal
"Owh gitu ya pak, maaf ya saya kira bapak sudah menikah." jawab Ela
"Jadi mau makan apa nih? Mumpung masih di luar, nanti sampai rumah tinggal istirahat."
"Gimana kalau bakso? Saya ada langganan bakso nggak jauh dari sini. Di taman bunga dekat perempatan. Tapi di pinggir jalan, nggak papa kan pak?"
"Nggak papa." Jawab Haikal, ia sebenarnya belum pernah makan dipinggir jalan, tapi ia akan mencobanya.
Sekitar 5 menit mereka sampai di tempat penjual bakso tersebut. Terlihat banyak anak muda yang berkencan, dikarenakan taman bunga tersebut memang tempat anak muda berkencan terlebih lagi ini adalah malam sabtu. Mereka turun dan memesan bakso.
"Bapak makan juga ya?" tawar Ela
Haikal hanya menganggukan kepalanya
"Bapak mau minumnya apa?" tanya Ela
"Samain aja kayak kamu." jawab Haikal
"Bang! Bakso 2 porsi, minumnya jeruk hangat 2" pesan Ela
"ok neng ditunggu ya."
Tak lama dua porsi bakso pun siap disantap. Haikal tampak memandangi bakso itu. Ia tak biasa makan bakso dipinggir jalan bahkan tak pernah. Jika ia ingin memakan bakso maka ia akan membeli di restoran.
"makan aja pak enak kok, di kasih kecap, saus, dan sambal. Kalau cuma dipandangi terus nggak bakal tau rasanya." kata Ela
Haikal menuruti kata Ela, ia mulai menuang bumbu pelengkap bakso itu lalu menyantapnya, ia merasakan makanan itu begitu nikmat, lebih nikmat dari bakso yang pernah ia makan di restoran.
"Oya pak, kalau saya boleh tahu kenapa ayahnya Ruby bisa meninggal?"
"Adik ipar saya meninggal karena kecelakaan sewaktu meninjau proyek perusahaan. Dulu dia memegang perusahaan saya yang ada di Singapura. Ia menikahi Husna yang saat itu berusia 19 tahun, mereka sahabat dari kecil."
"Kasihan ya pak, maaf saya bertanya masalah pribadi"
"Nggak papa. Ya begitulah, maut tidak ada yang tahu kapan datangnya."
Setelah menghabiskan makanannya mereka bergegas meninggalkan tempat itu. Haikal mengantar Ela pulang sampai rumahnya.