
Saat ini keluarga Brawijaya dan keluarga Setyabudi tengah dirundung kesedihan, terlebih mama Rianti yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
"Dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya. sembuhkan istri saya dok, berapa pun biayanya saya nggak peduli yang terpenting istri saya bisa sembuh." Pinta Haikal kepada dokter Zein, sampai ia lupa bahwa rumah sakit ini adalah milik sang mertua yang telah dilimpahkan kepadanya dan istri sehingga tak membayar untuk waktu yang lama pun tak masalah.
"Kanker yang diidap oleh nona Ela masih stadium dua, obat yang selama ini nona konsumsi tidak bisa menyembuhkan penyakit yang diderita nya obat itu bekerja untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah penyebaran kanker lebih luas. Karena yang diderita oleh nona Ela adalah leukemia akut jenis AML maka kemoterapi saja tidak cukup untuk melebur sel kanker ini ." Jelas dokter Zein
"Dan hanya ada satu cara yaitu dengan melakukan transplantasi sumsum tulang belakang, kita membutuhkan pendonor yang cocok untuk nona, dengan melakukan tindakan ini kemungkinan sembuhnya cukup besar sekitar 70 - 80 persen dan untuk kemungkinan kambuhnya pun cukup kecil bahkan jarang." Katanya lagi
"Lakukan Zein, tolong lakukan yang terbaik untuk putriku. Aku memohon kepadamu bukan sebagai dokter atau atasanmu, aku memohon kepadamu sebagai keluarga dari pasienmu. Aku bersedia menjadi pendonor untuk putriku." pinta papa Ardi memohon dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi
"Baiklah saya akan berusaha semaksimal mungkin dokter Ardi. Saya akan melakukan pengecekan terhadap anda dan juga nyonya Rianti. Kita akan bandingkan mana yang paling cocok dan kondisi tubuhnya paling baik." Jawab dokter Zein
.
Di ruangan VVIP bernuansa putih dengan satu kamar pasien dua kamar untuk keluarga dan sofa panjang lengkap dengan beberapa fasilitas lain, Haikal sedang duduk menggenggam tangan sang istri yang tertempel infus dan beberapa alat di bagian tubuhnya. Tak lama ia pun tertidur karena memang hari sudah larut.
Tangan Ela bergerak pelan, ia mulai mengerjapkan matanya berusaha untuk mengembalikan kesadaran sepenuhnya. Ia melihat ke sekeliling ruangan itu dan matanya tertuju kepada seorang lelaki yang tengah tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya ia letakkan diatas ranjang yang Ela tempati.
Ela mengusap kepala lelaki itu yang tak lain adalah suaminya sendiri. Haikal yang merasakan kepalanya diusap pun langsung bangun dari tidurnya.
"Sayang kamu udah bangun?" Tanya Haikal dengan senyum manisnya, terlihat wajahnya sembab dan layu.
Ela pun hanya tersenyum dan mengangguk,
"Minum." Ucap Ela lirih hampir tak terdengar
Dengan cekatan Haikal pun mengambilkan air putih yang berada di atas nakas samping ranjang pasien, lalu membantu Ela untuk minum.
"Kamu kenapa nggak pernah bilang sama mas kalau kamu sakit sayang?" Tanyanya lembut sambil mengelus kepala sang istri yang tertutup jilbab instan
"Aku nggak mau ngrepotin kamu mas, kasih sayang dan cinta yang kamu berikan kepadaku udah cukup mengurangi sakit yang aku derita. Lagian selama ini aku juga nggak merasakan sakit selama rutin mengonsumsi obat, kemarin aku kehabisan obat jadi sakitnya tiba-tiba datang." Jelas Ela dengan suara yang masih lirih
"Sayang mas nggak merasa kamu repotin, ini udah menjadi kewajiban mas untuk melindungi kamu dan menemani mu saat susah maupun senang." Kata Haikal dengan Air mata yang sudah membasahi pipinya
"Jangan nangis dong mas, kalau kamu begini siapa yang bakal menemani dan memberi semangat kepadaku." Kata Ela yang tangannya terulur menghapus air mata di wajah sang suami
Haikal pun menghentikan tangisnya dan mengecup kening Ela dengan penuh cinta. Setelah beberapa saat menemani Ela berjaga mereka pun tidur dengan Haikal yang memilih tidur di sofa yang bisa dijadikan tempat tidur yang luas.
.
Pagi harinya suami, orang tua serta kedua mertua Ela berkumpul di ruang rawat milik Ela. Semalam mereka juga menginap di sana menggunakan tempat tidur yang telah disediakan.
Saat ini Ela tengah memakan sarapan buburnya dengan disuapi sang mama, sedangkan mama Dyah memilih untuk mengupaskan buah untuk sang menantu.
Para lelaki pun baru selesai melaksanakan sarapannya dan saat ini sedang menunggu kedatangan dokter Zain untuk mengetahui bagaimana kelanjutan dari rencana operasi sambil memeriksa E-Mail yang ada di ponsel masing-masing.
Suara pintu terdengar diketuk dari luar, Haikal pun membukakan pintu dan langsung masuklah ketiga sahabat Sekar yang langsung berlari memeluk Ela.
Mereka menangis dalam pelukan Ela,
"Kalian mau Mbak cepat koit? nggak bisa napas nih aku." Kata Ela yang dipeluk erat oleh ketiga sahabatnya
"Sorry El, Lo kagak papa kan? Mana yang sakit ngomong sama gue? Gue panggil dokter ya?" tanya Sekar bertubi-tubi
Semua yang melihat tingkah Sekar pun hanya geleng-geleng,
"Aku nggak papa kok." Kata Ela dengan senyum yang menghiasi wajah pucatnya.
"Mbak Ela kenapa nggak pernah ngomong sama kita kalau Mbak sakit? apalagi sakit parah, Mbak Ela pasti membutuhkan dukungan dari kita." Kata Sifa sambil menangis karena dari ketiga sahabatnya Sifa lah yang paling mudah terharu
"Iya kenapa Mbak Ela nggak pernah bilang sama kita, kita pasti akan membantu semampu kami." Ucap Atika dengan wajah sedih nya
Ela menanggapinya dengan senyuman
"Mbak nggak mau membuat kalian kepikiran, Mbak yakin kalau Mbak bilang Mbak sakit pasti kalian akan memilih untuk berhenti kuliah. Mbak nggak mau mengorbankan masa depan kalian cuma karena Mbak sakit." Kata Ela yang membuat mereka semakin sesenggukan.
"Lo masih mikirin kita El padahal keadaan Lo sewaktu-waktu bisa mengancam nyawa lo sendiri. Hati Lo terbuat dari apa El?" Kata Sekar lalu memeluk Ela pelan
"Kalian cukup memberikan semangat dan doa untukku, InsyaaAllah kalau Allah masih mengizinkan Mbak akan tetap bersama kalian. Kalian percaya kan bahwa rencana Allah itu yang terbaik." Jelas Ela
Mereka tetap di dalam ruangan Ela untuk menemaninya, tak lama asisten Haikal yaitu Ridho datang untuk memberikan berkas penting yang harus ditanda tangani oleh Haikal karena merupakan proyek cukup penting.
'Omayygat, nih cowok ganteng banget sih. Lebih segalanya dari Rendi kayaknya, kalau nggak lagi suasana sedih udah gue embat nih. tapi nggak papa itu kayaknya asistennya pak Haikal jadi gue bisa minta tolong ke Ela kalau dia udah sembuh.' Kata Sekar dalam hati
"Woy Mbak Sekar, diem-diem Bae dari tadi." Kata Atika sambil menepuk bahu Sekar
Mereka pun langsung menoleh ke arah Sekar yang membuatnya menjadi salah tingkah.
'Tuh cewek kenapa kayaknya ngeliatin gue.' kata Ridho dalam hati ketika ia merasa Sekar benar-benar memperhatikannya.
Bersambung
Dapat salam hangat dari authorπππ
Boleh dong ditambah like comment dan vote biar author tambah semangat. πππ
Jangan lupa bintang 5 juga yaπ