Aziela & Haikal

Aziela & Haikal
Andai Kalian Masih Ada disini



Tak terasa hari sudah mulai sore, tepatnya pukul 4 sore, Ela pun segera bergegas pulang ke rumahnya.


.


Sampai di rumah ia segera mandi, kemudian bergegas ke dapur berperang dengan alat masak dan bahan masakan yang memang sudah menjadi kegiatan favoritnya.


. DI KEDIAMAN KELUARGA SETYABUDI


Tibalah mobil mewah berwarna hitam di halaman rumah yang langsung diambil alih oleh supir untuk dimasukkan ke dalam garasi.


"Assalamualikum" Ucap lelaki yang baru keluar dari dalam mobil mewah tadi. Ya, dia adalah Haikal anak lelaki satu-satunya di rumah itu


"Waalaikumussalam" terdengar suara jawaban salam dari dapur


Karena penasaran, lelaki itu melangkah menuju dapur


"Tumben papa nemenin mama masak di dapur? Terus tumben mama masaknya banyak?" tanya lelaki tampan itu


"Papa niatnya mau bantuin masak, tapi nggak boleh sama kanjeng mama." jawab papanya dengan nada menyindir


"lagian papa cuma ngrecokin, nanti lama masaknya keburu adzan maghrib, nanti keburu tamunya datang." jawab mama tak mau kalah


"Mau ada tamu ma pa, siapa?" Haikal penasaran


"Om Ardi kal, sebenarnya dia maunya makan malam, tapi karena ini senin jadilah papa ajakin dia bukber disini, dia kan juga rajin puasa senin kamis. Dan papa yakin dia pasti sekarang puasa. Kasihan kan dia apa-apa sendiri." Jelas papa Arman diangguki mama Diah yang sibuk dengan alat masaknya


"Iya pa, Haikal juga kasihan, di masa tuanya dia harus kesepian."


Hening seketika.


"Ngomong-ngomong, Husna kapan datang dari Singapura?" tanya Haikal


"Lusa kayaknya kal, tadi ngabarin mama." jawab mama


"owh, kalau gitu Haikal bersih-bersih dulu ya, setelah itu Haikal bantu menata piring di meja makan." pamit haikal


"Iya" Jawab orangtuanya kompak


Itulah kebiasaan Haikal ketika bersama keluarga di rumah, ia sering membantu mamanya dalam beberapa pekerjaan rumah tangga walaupun sudah ada bi iin sebagai ART di sana. Keluarga ini menjunjung tinggi gotong royong, terkadang ketika hari libur mereka membersihkan rumah bersama-sama.


.DI RUMAH ELA


Setelah sholat Isya, Ela dan para sahabatnya bersantai di ruang baca. Ela sedang membaca majalah bisnis, sedangkan Sekar, Sifa, dan Atika sedang menonton televisi tepatnya Sinetron Ftv Suara Hati Istri.


"Wuih, kejam banget ya tu ibu mertua, masak mendukung anaknya untuk menikah lagi. Padahal dia kan perempuan harusnya dia juga paham dong gimana perasaan kaum hawa!" Emosi Sekar


"Benar-benar mertua nggak ada akhlak!" timpal Atika


"Amit-amit dah gue dapat mertua kayak gitu cuma harta aja yang dikejar, padahal dia dan anaknya menikmati harta menantunya yang dia tindas, dasar ibu mertua nggak tau terima kasih!" Sifa tak kalah emosi.


"Tika, Sifa, kalian nggak ada tugas?" tanya Ela


"Ada mbak, tapi udah selesai tadi sore." jawab Sifa


"Aku juga ada mbak, tapi deadline masih minggu depan, santuy aku mah." timpal Sifa


"Jangan ditunda lo, ntar nggak selesai-selesai." Nasihat Ela yang diangguki oleh Tika dan segera bergegas mengerjakan tugasnya.


"Kar, tumben kamu nggak ngajar les."


"Ya nggak papalah kar, segitu aja aku udah berterima kasih."


"Harusnya kami yang berterimakasih mbak. berkat mbak, aku, Tika, dan mbak Sekar bisa berteduh di rumah yang layak, mendapatkan makanan bergizi, pendidikan yang layak, dan kasih sayang pengganti orang tua kami." ucap sifa dengan haru diangguki oleh Atika tanda setuju.


"Udahlah nggak usah diungkit, jadi melow gini kan suasananya. Lanjut aja gih nonton tv sambil emosiannya, seru tau dengarnya." ucap Ela sambil tersenyum. Mereka pun hening kembali melanjutkan aktivitasnya tadi, hanya suara televisi yang mengisi keheningan mereka.


"Ngomong-ngomong, Sifa sama Atika fokus kuliah aja ya, mbak nggak mau kuliah kalian terbengkalai gara-gara mikirin kerjaan. InsyaaAllah mbak sanggup kok bayar uang kuliah kalian." kata Ela memecah keheningan


"Tapi mbak....." Sifa dan atika hendak menyanggah


"Enggak ada tapi-tapian, mbak kerja itu juga buat kalian." Ela tidak menerima bantahan


Sifa dan Atika menghampiri Ela dengan mata yang berkaca-kaca dan mereka saling berpelukan, Sekar pun melihatnya terharu, pasalnya sahabat yang telah menolongnya itu rela membanting tulang untuk menolong orang lain, yang bahkan tidak ada hubungan darah dengannya sama sekali.


"Gue juga mau ikut berpelukan, biar mirip teletubis kita berempat." Sekar berusaha menetralkan suasana


Merekapun berpelukan dengan penuh kasih sayang. Bagaimana tidak selama tiga tahun mereka hidup bersama, sudah menganggap sebagai saudaranya sendiri.


.


Sementara di kediaman keluarga Setyabudi, setelah ibadah sholat isya mereka lanjut mengobrol di ruang keluarga bersama tamunya sambil menikmati secangkir teh dan beberapa toples cemilan.


"Man, kedatanganku kesini bukan hanya untuk silaturahmi saja, tapi ada hal penting yang harus aku sampaikan kepada keluargamu." Kata Ardi mulai serius


"Ada apa mas? Sepertinya sangat penting."


Pak Arman penasaran


Ardi menarik nafasnya panjang dan bersiap menjelaskan


"Aku sudah semakin tua Man, usia ku sudah menginjak 50 tahun. Anak-anakku lebih disayangi Allah, ya walaupun hatiku yakin dan masih memiliki harapan anak pertama ku masih hidup mungkin. Aku ingin menyerahkan semua rumah sakit ku di dalam negeri maupun luar negeri dan semua hartaku kepada Haikal putramu ini saat nanti aku sudah tiada. Aku yakin dia anak yang pandai, jujur, dan bertanggungjawab, aku juga sudah menganggap Haikal seperti putraku sendiri. Dan ada juga sebuah restoran warisan dari orangtuaku, restoran itu satu-satunya peninggalan mendiang orangtuaku dan dari situlah aku bisa menjadi sesukses ini. Tolong dijaga ya kal!" lelaki yang berprofesi sebagai seorang dokter itu membuat Pak Arman, Bu Diah, dan Haikal tercengang.


"Om, kenapa om bicara seperti itu, om harus semangat demi tante Rianti, Nanti kalau tante Rianti sembuh dan mencari om, bagaimana?" tanya Haikal sambil memberi semangat


"Nak, om sudah tua, om juga pasrah kepada Yang Diatas tentang kondisi istri om. Rianti juga terlihat tidak memiliki semangat hidup lagi disana." Ardi menangis tersedu


"Apa kondisi mbak Rianti memburuk mas?" Tanya Diah


"Iya Di, dia berkali-kali berusaha mencelakai dirinya sendiri. Beberapa minggu yang lalu ia hampir gantung diri." Tangis Ardi semakin pecah


"Sekarang aku akan menghabiskan masa tuaku dan sisa hidupku ini untuk menolong orang lain, dangan kemampuanku menjadi seorang dokter. Aku akan setia menunggu Rianti, hanya dia yang aku punya sekarang, kami dulu sudah berjanji untuk susah senang bersama."


"Mas, mas Ardi masih ada aku sahabatmu dan keluargaku. Kami menganggapmu lebih dari saudara disini mas. Dulu kita berjuang bersama sampai kita bisa sesukses ini, maka ketika mas sedih dan kesepian sudah menjadi tugasku dan keluargaku untuk menemani dan menghibur mas."


"Terima Kasih ya man, kalau begitu aku pulang karena besok aku harus ke rumah sakit pagi-pagi, ada jadwal operasi. Kalian jangan lupa istirahat ya!" ucapnya sambil menghapus air matanya dan tersenyum


"Iya mas, hati-hati ya." balas Pak Arman sambil berjalan mengikuti Pak Ardi dari belakang


"Assalamualaikum" pak Ardi bersalaman kepada ketiganya dan berjalan ke arah mobil


"Waalaikumussalam." jawab Pak Ardhi beserta keluarganya.


Di dalam mobil Ardi kembali menangis


'Andai kalian masih ada disini' batin Ardi