
Haikal dan Ela duduk saling berhadapan sehingga Haikal lebih leluasa dan bebas memandangi Ela seperti saat ini. Ela yang merasa diperhatikannya hanya menunduk.
“Kenapa kamu menunduk gitu? pipi kamu tuh merah kayak tomat.” Kata Haikal tersenyum manis kepada Ela
“Apaan sih mas, Mas jangan ngeliatin aku kayak gitu dong. Ingat kita belum halal jadi udah masuk zina mata tuh.” Kata Ela
“Iya maaf sayang, InsyaaAllah bentar lagi Mas akan halalin kamu.”
Ela yang mendengar Haikal memanggilnya ‘sayang’ pun semakin merona pipinya.
“Boleh kan mas panggil kamu sayang, habisnya nama kamu kepanjangan sih, jadi disingkat jadi sayang aja.”
“Apaan sih mas, kan nama panggilan aku nggak kepanjangan Cuma tiga huruf Ela ‘ E L A’. Mas aja yang sering memanggil ku Aziela lah atau kadang Ziela.”
“Hei sayang, mas mau berbeda dari orang lain dong, makanya dulu mas memanggilmu Aziela atau Ziela. Dan sekarang mas manggil kamu sayang.” Seru Haikal
“Ya udah deh, terserah mas.” Kata Ela
“O iya sayang, apa kamu sebelumnya udah tahu rencana para orangtua itu untuk menjodohkan kita?” Tanay nya pad Ela
“Iya aku udah tahu dan aku tahunya kemarin sebelum aku ngasih jawaban ke kamu.” Jawab Ela
“Apa? jadi kamu ikut rencana mereka.” Tanya Haikal dengan nada agak kesal
Ela hanya menjawab dengan anggukan.
Flashback On
Setelah membereskan meja makan bersama mama nya, Ela bergegas pergi ke taman menyusul papanya yang sedang sibuk dengan Koran dan buku nya, bu Rianti pun mengikuti dari belakang.
“Papa lagi baca apa?” Tanya Ela yang langsung duduk di kursi panjang di samping kanan papa nya sedangkan bu Rianti duduk di samping kiri suaminya
“Eh, Papa lagi baca berita sayang, nih berita olahraga dan juga berita bisnis.” Jawab Pak Ardi sambil memperlihatkan Koran yang dibaca nya pada Ela
“Pah, Ela mau bertanya boleh?” Tanya Ela kepada sang papa
“Tanya apa sayang?” sahut Papanya
“Emm, Papa beneran mau menjodohkan Ela dengan anak sahabat papa?” tanya Ela hati-hati
“Iya, kamu mau kan?” pak Ardi menanyai Ela balik
“Tapi Pah, Ela tiga hari yang lalu di lamar oleh seorang pria dan Ela sudah meminta petunjuk kepada Allah.” Jelas Ela pada Papanya
“Dan apa hasilnya?” tanya Pak Ardi pura-pura tidak tahu
“Allah memberikan petunjuk dan memantapkan hati Ela untuk menerimanya.” Jawab Ela sambil menundukkan kepalanya
“Baguslah kalau begitu.” sahut papanya
“Terus sama perjodohannya gimana pah? Apa papa akan membatalkannya?” Tanya Ela kebingungan
“Ela sayang, dengerin Papa, kamu ingat tadi waktu sarapan Papa bilang kalau kamu mungkin sudah tahu bahkan kenal sama anak sahabat papa?” Jelas Pak Ardi
Ela menjawab dengan menganggukkan kepalanya
“Dan kamu tahu siapa yang bakal papa jodohin sama kamu?”
Ela pun menggeleng
“Dia adalah bos kamu sayang, dia adalah Haikal pria yang melamar kamu kemarin. Sebenarnya papa nggak mau menjodoh – jodohkan kamu, Papa akan membiarkan kamu memilih masa depanmu sendiri. Papa bukan orangtua kolot yang mengekang anaknya.” Jelas Papa Ardi
“Berarti Mas ngatain orangtua kita kolot dong? kita kan bisa nikah karena perjodohan.” Sahut Mama Rianti
“Nah dengan pengecualian itu, Mas malah bersyukur karena perjodohan itu mas bisa ketemu dengan wanita sebaik dan secantik kamu yang membuat mas jatuh cinta terlalu dalam denganmu dan nggak sanggup kehilangan kamu.” Kata Papa Ardi yang membuat mama Rianti tersipu
“Ih Mas apaan sih gombal mulu, malu dong sama anak.” Sahut Mama Rianti
“Nggak papa lah sayang ini akan menjadi pembelajaran buat Ela nanti.” Timpal Papa Ardi
“Ihh papa apaan sih.” Seru Ela
“Tapi El, kamu harus tutp mulut dari Haikal ya.” Perintah Mama Rianti pada Ela
“Maksud mama?” Tanya Ela
“Kita kerjain dia, Kamu bilang aja belum bisa menerima lamaran dia dan jangan bilang kalau yang mau dijodohkan itu kalian berdua, biar jadi surprise.” Kata mama Rianti sambil menahan tawanya
Ela pun meninggalkan kedua orangtua nya yang sedang asyik bermesraan itu ke kamarnya.
Flashback Off
“Jadi kamu ikut ngerjain mas sayang?” Tanya Haikal pura-pura kesal
“Maaf mas, tapi mas senang kan?” Tanya balik Ela pada Haikal
“Iya, Mas nggak nyangka banget kalau kamu bentar lagi bakal jadi istri nya mas.” Ujar Haikal sambil tersenyum
“O iya, sejak kapan mas cinta sama aku?” Tanya Ela penasaran
“Sejak pertama kali kita ketemu. Waktu kamu nabrak mas di lobi kantor pas mau interview, makanya Mas milih kamu jadi sekretaris mas selain pakaian kamu yang tertutup dan sopan tentu ada alasan hati, hehehe." Jelas Haikal di iringi tawa kecil
“Jadi ceritanya mas waktu itu Hub Min Awal Nadzrah sama Ela?” Tanya Ela lagi
“Ha?” Haikal kebingungan degan pertanyaan Ela
“Iya jadi mas jatuh cinta pada pandangan pertama gitu sama Ela?” Ujar Ela mengulangi pertanyaannya
“Iya bisa dibilang gitu lah sayang. Kalau kamu kapan mulai mencintai mas? Kini Haikal balik bertanya
“Ela nggak tahu pasti, tapi nggak tahu kenapa kalau berada di dekat mas Ela nyaman dan hati Ela kayak mau copot, pas Ela search di internet katanya itu tanda nya jatuh cinta.” Jelas Ela
“Makasih sayang udah mau menerima cinta Mas.” Sahut Haikal
Ela pun menjawab dengan senyum manisnya yang membuat Haikal ingin terbang.
“Udah yuk kita kembali ke para orangtua, nanti mereka nyariin lagi.” Ajak Haikal
Mereka pun kembali ke private room, sesampainya di sana mereka langsung membahas langkah ke depan hubungan Ela dan Haikal.
“Gimana kalau 1 bulan lagi pernikahannya?” Tanya Papa Arman memberikan saran
“Nggak Pa, itu terlalu lama.” Sahut Haikal
“Ya udah, 2 minggu?” Tawar Papa Ardi
“Nggak om, Haikal mau 3 hari yang akan datang.” Jawab Haikal
mantap
“Nggak bisa dong Kal, kita harus mempersiapkan pestanya dengan matang, kamu kira tinggal menjentikkan jari langsung siap semuanya.” Protes Mama Diah
“Pesta kan bisa belakangan Ma.” Sahut Haikal
“Kalau menurut kamu gimana nak?” Tanya Mama Rianti kepada Ela
“Ela sih ngikut aja gimana baiknya ma, tapi kalau menurut Ela nggak usah mengadakan pesta deh.” Pinta Ela
“Lo, nggak bisa gitu dong El, kamu putri papa satu-satunya dan diacara itu papa juga akan memperkenalkan kalian berdua sebagai ahli waris papa nantinya.” Sahut Papa Ardi
“Nggak perlu lah pa, Ela mau sederhana aja, ngundang keluarga dan teman dekat udah lebih dari cukup, Untuk pengganti pestanya, gimana kalau kita berbagi rezeki aja sama orang yang lebih membutuhkan, panti asuhan atau rumah singgah mungkin?” Jelas Ela bijak
Semua yang mendengar perkataan Ela hanya diam Nampak berpikir dan kagum pada gadis itu, pasalnya kebanyakan wanita memimpikan pernikahan yang mewah bak seorang putri raja.
“Kamu yakin sayang?” Tanya Haikal, semua orang tersenyum mendengar panggilan ‘sayang’ Haikal pada Ela
“InsyaaAllah Ela yakin, kita juga harus berbagi kebahagiaan kepada orang lain terutama orang yang lebih membutuhkan, lagipula itu akan lebih bermanfaat bagi mereka.” Kata Ela
“MasyaaAllah putri papa hatinya mulia sekali.” Ujar Papa Ardi
“Papa jangan terlalu memuji Ela nanti bisa-bisa terbang.” Canda Ela
“Ya sudah, nanti kita pikirkan lagi, kita makan dulu.” Sahut Mama Diah
“Tunggu, jadi kapan akadnya?” Sela Haikal disaat semuanya bersiap makan
“O iya lupa, gimana kalau kita ambil tengahnya 5 hari yang akan datang?” Kata Papa Ardi
“Setuju.” Ujar mereka menyetujui
Bersambung