Aziela & Haikal

Aziela & Haikal
Sekretaris Baru



Menempuh perjalanan sekitar 18 menit akhirnya Ela pun sampai di HS Group, perusahaan milik sang suami yaitu Haikal. Ela pun turun dari mobil dan berjalan menuju resepsionis, saat masuk ke dalam gedung megah tersebut banyak karyawan yang menatapnya, baik tatapan kekaguman maupun tatapan kebencian.


"Mbak saya mau bertemu mas Haikal, apa dia ada meeting hari ini?" tanya Ela kepada kedua resepsionis yang sudah Ela kenal itu, sebenarnya Ela tidak perlu meminta izin dari resepsionis untuk menemui suaminya tetapi ia tetap menghargai mereka.


"Bapak ada buk, silahkan langsung ke ruangan nya saja." Ujar salah satu resepsionis yang bernama Lita tersebut


Saat Ela hendak meninggalkan meja resepsionis ia pun mendapat cibiran


"Heh, dasar mau pamer ya karena sudah berhasil menggoda presdir. Tampilannya aja berhijab sok muslimah tapi dalamnya ternyata penggoda." Kata resepsionis satunya yang bernama Ina secara terang - terangan


"Kamu boleh hina saya sesuka hatimu tapi jangan salahkan hijab saya!" Tegas Ela lalu meninggalkan kedua resepsionis tersebut, Ina pun hanya menatap kepergian Ela sinis


"In, kamu nggak takut apa kalau bu Ela ngadu sama pak Haikal, bisa - bisa dipecat dan nggak dapat pekerjaan kamu." Tegur Lita


"Dia tuh bukan pengadu gue yakin itu, gue akan bully dia habis-habisan beraninya dia merebut pak Haikal." Kata Ina


"Eh, emang kamu siapanya presdir teman bukan, saudara bukan, pacar juga bukan. Kita tuh cuma pegawai biasa dan lagian mana mau pak Haikal sama kamu." Tegur Lita lagi, Ina pun hanya diam dan tersenyum sinis.


.


Ting


Suara lift terdengar, saat ini Ela telah keluar dari lift lantai 18 dimana ruangan suami nya berada. Saat berada di depan meja resepsionis Ela melihat ransel berwarna pink dengan sedikit corak hitam, di atas meja ia juga melihat pulpen, box file, gunting, perforator, tempat pensil, bahkan laptop semua berwarna pink baik pink soft maupun pink terang.


'Kata mas Haikal sekretaris barunya laki-laki tapi ini kok pink semua, apa jangan-jangan mas Haikal bohong ya biar bisa main di belakangku atau jangan-jangan ganti sekretaris perempuan?' tanya Ela menerka-nerka dalam hatinya, tanpa pikir panjang ia pun langsunng mengetuk pintu ruangan Haikal dan terdengar suara yang mengizinkannya masuk.


"Sayang, kamu udah datang." Kata Haikal yang melihat istrinya membuka pintu, ia langsung menghampiri Ela langsung memeluk dan mencium kening sang istri, sedangkan Ela pun mencium punggung tangan sang suami.


"Kita lanjut nanti setelah makan siang." Kata Haikal kepada Ridho dan sekretaris nya


Setelah Ridho dan sekretaris baru keluar, Haikal pun mengajak Ela untuk duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangannya, Ela pun kebingungan seperti sedang mencari-cari seseorang.


"Ada apa sayang?" tanya Haikal yang menyadari keanehan raut wajah sang istri


"Disini nggak ada wanita lain kan mas?" tanya Ela kepada sang suami


"Ya enggaklah disini cuma ada kita berdua, emang kenapa sih? kok kamu mikirnya jadi aneh gitu." Sahut Haikal


"Itu mas, aku tadi lihat benda - benda cewek di meja sekretarismu. kata kamu sekretaris penggantiku cowok." Kata Ela


"Loh emang beneran sekretarisku sekarang cowok, cuma cowok yang agak feminim." Jelas Haikal


"Maksud nya?"


"Cowok yang ke cewek-cewekan sayang, covernya sih cowok beneran tapi isinya ternyata cewek. Mas tadi juga sempat kaget pas pertama kali lihat di meja nya ada barang pink semua ditambah lagi dianya pakai kemeja pink, tapi beruntungnya tingkah laku nya nggak feminim sih cuma beberapa aja yang feminim." Jelas Haikal pada sang istri, Ela pun menghembuskan nafas lega dan tersenyum ke arah Haikal


"Kamu kenapa yangg, kelihatannya kok langsung lega gitu cemburu ya? Khawatir kalau suami mu yang tampan ini bakal selingkuh?" Tanya nya pada Ela


"Iya gitulah, wanita mana sih yang nggak takut kalau suaminya main di belakang. Maaf ya mas aku tadi udah berprasangka buruk sama kamu." Kata Ela


"Nggak papa sayang itu juga hal yang wajar kalau istri khawatir terhadap suaminya, tapi kamu harus ingat bahwa mas nggak akan pernah menghianati kamu dan akan setia sama kamu. Kamu tahu kenapa?" Tanya Haikal yang dijawab gelengan dari sang istri


"Karena kamu adalah wanita sempurna di mata mas udah cantik, baik, nurut dan menghargai suami. Apalagi kalau di atas ranj-" Lanjutnya yang langsung dibungkam oleh tangan Ela


"Pasti nggak jauh-jauh pembahasan nya tentang itu." Kata Ela cemberut, Haikal yang melihat bibir istrinya manyun pun langsung mengecupnya dan hal itu membuat Ela tersenyum.


"Mas lapar nih yangg, kamu bawain mas apa?" Tanya Haikal


"Aku bawain kamu Charsiu Ayam sama sup iga, tadi aku bawa dari resto soalnya nggak sempat pulang." Jawab Ela


"Iya nggak papa, tapi suapin." Kata Haikal, Ela pun menuruti permintaan sang suami yaitu menyuapinya sampai makanan itu habis


Setelah makan siang Haikal kembali melanjutkan pekerjaannya ditemani sang istri tercinta karena Haikal melarang Ela untuk pulang sebagai moodbooster katanya, tak lama Ridho dan sekretaris baru itu masuk setelah menerima telepon dari presdir Haikal.


"Sayang kenalin ini sekretaris baru mas, namanya Aldo Syahputra panggil aja dia Aldo. Dan Aldo ini adalah istri saya Aziela panggil dia bu Ela." jelas Haikal kepada Ela dan Aldo


Ela pun hanya tersenyum begitu juga Aldo, kemudian mereka melanjutkan pekerjaannya sedangkan Ela duduk manis di sofa dengan laptop di depannya karena ia sedang mengecek laporan keuangan toko kue dan green resto yang saat ini menjadi miliknya.


Tak terasa satu jam duduk di sofa Ela pun tertidur karena kelelahan, bagaimana tidak seharian ini pekerjaannya


sangat banyak ditambah tadi malam begadang karena menunaikan kewajibannya terhadap sang sang suami. Haikal yang menyadari hal itupun langsung mendekati istrinya dan menggendong ala bridal menuju kamar yang berada di ruangannya.


“OMO, Boss Haikal romantis banget ya. Udah ganteng perhatian lagi.” Ujar Aldo dengan hebohnya.


“Ya begitulah si boss sayang banget sama bu bos.” Timpal Ridho dengan gaya cool nya


“Saya sempat berprasangka buruk lho pak sama bu bos, saya kira bu bos itu kayak perempuan penggoda gitu makanya pak bos jadi kepincut. Tapi begitu saya ketemu ternyata orangnya baik dan kelihatannya sholihah gitu.” Cerocos Aldo, sedangkan Ridho pun hanya diam menyadari keadaan


 “Pak Ridho, heh kok malah diam sih diajak ngobrol juga. Ini nggak gibah kok kan ngomonginnya yang baik-baik, nanti kalau dosa saya bilang ke malaikat disuruh kasih ke saya aja dosanya.” lanjutnya


“Emang bisa begitu?” bukan Ridho yang menimpali melainkan suara bariton di belakangnya


“Bis-“ tanpa melanjutkan perkataannya ia menoleh ke belakang, dan alangkah terkejutnya dia ternyata Haikal telah berdiri di belakangnya dengan tangan yang bersedekap. Aldo pun menatap Haikal dengan cengiran penuh ketakutan.


“Berani sekali kamu membicarakan istri saya, saya menggajimu di sini bukan untuk membicarakan orang lain apalagi membicarakan istri bosmu sendiri.” Kata Haikal dingin dan tegas


“Maaf bos, saya khilaf.” timpalnya sambil menyengir dan mengangkat kedua jarinya.


“Sekali lagi saya lihat kamu membicarakan istri saya, siap-siap potong gaji.” Kata Haikal lagi


Merekapun kembali menyelesaikan pekerjaannya hingga adzan ashar tiba. Haikal langsung membangunkan istrinya dan melaksanakan sholat berjamaah di kamar dalam ruangan tersebut, setelah itu mereka bergegas untuk pulang ke rumah.


 


 


Bersambung