Aziela & Haikal

Aziela & Haikal
Kalian itu Keluargaku



Keesokan harinya seperti biasa Ela bangun sebelum subuh kemudian membangukan sang suami untuk mandi dan sholat subuh berjamaah. Pukul 5.15 Ela bergegas ke dapur untuk membuat sarapan.


"Selamat pagi ni Roh, Ipah." Sapa Ela kepada asisten rumah tangga nya


"Pagi Bu, Ibu mau ambil sarapan? Tapi saya baru mau masak." Kata bi Roh


"Nggak kok, saya mau bantu masak. Kalian buatlah sarapan untuk kalian sendiri, biar saya yang buat sarapan untuk mas Haikal dan saya." Ucap Ela


"Duh jadi nggak enak deh Bu." Sahut Ipah


"Kan saya udah bilang kalau kita di rumah ini semua adalah keluarga. Jadi nggak usah sungkan, Ok!" Jelas Ela


 "Oke oke eh oke. Duh." Kata Ipah menepuk jidatnya dengan khas latahnya yang membuat Ela terkekeh


Ela pun segera mengambil roti tawar kemudian memanggang nya di alat pemanggang. Sambil menunggu roti matang ia mulai memasak telur mata sapi.


Selesai memasak Ela langsung menyajikan makanan di meja makan terlihat dua buah roti panggang isi keju slice dengan telur mata sapi di atasnya yang ditaburi daun parsley. Tak lupa ia menyajikan teh hijau kesukaan suami nya dan jus jeruk untuknya.


Setelah semuanya siap Ela naik ke lantai atas menuju kamarnya dan langsung memanggil suaminya untuk diajak sarapan bersama. Merekapun turun dengan Ela yang bergelayut manja di lengan sang suami, dan tangan Haikal memeluk pinggang Ela. Ya, hari ini Haikal sudah mulai bekerja, sebenarnya ia ingin mengajak istri nya bulan madu tetapi Ela menolak, lebih baik uang nya ditabung untuk masa depan. Apa dia nggak tahu sekaya apa suaminya gerutu Haikal pada saat itu. Tapi apalah daya Haikal hanya bisa menurut, toh bulan madu dan liburan bisa dilakukan kapan saja, ia juga tengah sibuk dengan pengurusan dua perusahaan sekarang.


"Mas, Kamu udah dapat sekretaris pengganti aku?” Tanya Ela pada Haikal karena sejak menikah mereka sudah sepakat bahwa Ela akan stay di rumah, tetapi ia tetap akan mengurus toko kue nya dan Green resto milik orangtuanya yang telah diserahkan sepenuhnya pada Ela dan Haikal.


“Tadi Ridho Whatsapp aku katanya sih udah dapat pengganti kamu.” Jawab Haikal sambil menikmati sarapan paginya


“Cowok apa cewek?” Tanya Ela lagi


“Cowok yang, emang kenapa kalau cewek kamu cemburu?” goda Haikal kepada sang Istri


“Apaan sih enggaklah, Cuma Tanya emang nggak boleh.” Kata Ela sambil mengerucutkan bibir nya. Haikal yang melihat itu pun menjadi gemas


“Tuh bibir minta dicium, masih kurang semalam?” Kata Haikal sambil mengerlingkan matanya kea rah Ela


Wajah Ela langsung merona, ia mengembalikan bibirnya seperti semula. Setelah menikmati sarapan pagi bersama, Ela mengantar sang suami ke depan rumah sambil membawakan tas kerjanya. Ternyata di depan rumah Ridho telah bersiap dengan mobil hitam milik Haikal.


“Mas berangkat ya, hati-hati di rumah jangan capek-capek. Kalau mau ke resto suruh antar Udin. Dan nanti siang jangan lupa mas tunggu di kantor.” Kata Haikal


“Udah ceramah nya? aku hitung pagi ini kamu udah ngomong itu tiga kali lho mas. Aku bukan anak kecil, kamu ngomong sekali aja aku udah ngerti mas.” Kesal Ela


Haikal pun hanya tersenyum dan mengecup kening sang istri, Ela pun mencium tangan Haikal. Setelah mobil Haikal melesat Ela masuk ke dalam rumah dan bersiap pergi ke Green resto karena telah janjian dengan ketiga


sahabatnya.


.


Di Green Resto, Ela terlihat sangat cantik dengan balutan makeup natural tentunya. Ia berada di ruangan baru nya, terlihat terdapat sofa, meja dan kursi kerja, kamar mandi serta kamar untuk beristirahat di dalamnya.


Tok Tok Tok


“Masuk” Kata Ela dari dalam


“Langusung suruh masuk aja mbak.” Perintah Ela yang diangguki oleh pegawainya


Tak lama ketiga wanita yang tak lain adalah sekar, Sifa dan Atika itupun masuk ke dalam ruangan Ela dan mendudukkan bokongnya di sofa empuk berwarna putih.


“Wah ruangan lo gede juga ya El, nyaman lagi.” Kata Sekar


Ela hanya tersenyum menanggapi dan ikut bergabung di sofa bersama ketiga sahabatnya.


“Gimana? les privat mu masih berjalan kan Kar?” Tanya Ela memastikan


“Sepi El, anak sekarang lebih suka privat di bimbel online jadi udah jarang bahkan nggak pernah. So gue tiap harinya bantuin bisnis laundry mereka.” Jawab Sekar sambil kepalanya menoleh kea rah Atkia dan Sekar


“Tapi laundry lancar kan?” Tanya Ela


“Alhamdulillah lancar mbak, apalagi pas weekday kan tetangga kita banyak wanita karier dan anak kosan.” Jawab Syifa


Merekapun hanyut dalam obrolan seputar kehidupannya sehari-hari


“Sebenarnya ada yang mau aku omongin nih.” Kata Ela saat mereka sedang menikmati cemilan yang disediakan, mereka pun terdiam


“Aku mau kasih modal buat kalian, ini untuk Tika kamu pengen buka bengkel kan pakai uang itu buat mengembangkan hobi kamu tentang mesin. Ini buat Syifa besarin usaha laundry kamu, dan ini buat Sekar pakai sebaik-baiknya ya aku nggak tahu passion kamu jadi terserah kamu mau buka usaha atau cari


kerja apa.” Kata Ela sambil menyerahkan amplop coklat berisi setumpuk uang tunai


“El ini berlebihan, kita udah numpang hidup sama lo, dan lo masih ngasih modal usaha buat kita. Jangan El kita nggak enak.” Kata Sekar yang diangguki oleh Atika dan Syifa


“Itu rezeki buat kalian, aku berterimakasih kepada kalian karena selama ini kalian mau menemani hidupku, lagipula ini uang aku sendiri kok bukan uang suami maupun orangtuaku.” Sahut Ela lembut


“Mbak makasih ya, kita janji akan memanfaatkan uang ini dengan baik. Kita janji nggak akan mengecewakan mbak Ela, makasih ya mbak udah mau nampung dan membiayai hidup kita.” Kata Syifa sambil meneteskan air matanya.


Merekapun hanyut dalam air mata entah kesedihan atau kebahagiaan,


“Kalian itu keluargaku, tanpa kalian aku juga nggak akan bisa setegar ini. Dengan adanya kalian hidup mbak jadi nggak kesepian. Kuliah yang benar ya dan lo Kar jangan pacaran mulu, manfaatin uang itu ya.” Kata Ela kepada kriga sahabatnya


“Iya El, gue bakal manfaatin uang ini buat buka bimbel, karena itu yang gue bisa.” Ucap Sekar


Merekapun kembali berbincang – bincang dengan segelas kopi di depannya dan beberapa cemilan yang tersaji. Tak terasa terdengar adzan Dzuhur, mereka segera melaksanakan sholat dzuhur dan membubarkan diri ke tempat masing-masing.


Ela pun begegas pergi ke kantor suaminya dengan membawa makan siang dari restorannya. Di dalam mobil Ela menahan tawanya karena si udin sang supir sedang bernyanyi ria dengan suara fals nya. bukanlah suara yang Ela tertawakan tetapi lagunya yang berjudul “udin sedunia”, udin bernyanyi udin.


 


bersambung