Aziela & Haikal

Aziela & Haikal
Menyerahkan



Pagi yang dingin karena hujan yang membasahi bumi pukul tengah malam tadi terasa sampai ke tulang-tulang dan pastilah membuat sebagian manusia masih setia dengan selimut dan kawan-kawannya.


Di salah satu kamar, seorang wanita mulai mengerjapkan mata bulatnya yang ditumbuhi bulu mata lentik nan panjang. Ya, dia adaah Aziela Safitri yang mulai terbangun dari tidur singkatnya yang mungkin hanya terhitung satu


setengah jam.


Ela melirik ke jam waker yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya, waktu menunjukkan pukul 4 pagi dan sebentar lagi subuh akan datang. Ia melirik ke samping kanan ranjang terlihat seorang lelaki yang baru menjadi suami nya beberapa jam yang lalu tengah tertidur memeluk Ela dengan Erat, senyuman terbit dari wajahnya dan seketika ia mengingat kejadian tadi malam yang membuat pipinya merah bak buah tomat yang baru matang.


Aziela mengelus tangan sang suami yang tengah merangkul perutnya ia berniat membangunkan Haikal, tak lama lelaki tampan itu mulai terusik dan membuka matanya sedikit demi sedikit lalu melihat ke arah tangan yang sedang


mengelus tangannya seketika bulan sabit terbit di wajah tampannya.


“Selamat pagi sayangku” Sapa Haikal pada sang istri dan mendaratkan bibirnya di pipi kanan sang istri serta mengecup sekilas bibir pink natural Aziela.


“Selamat pagi mas, bangun yuk bentar lagi subuh.” Balas Aziela dengan senyuman yang tak kalah manis


Setelah saling pandang dan peluk sejenak Haikal mulai duduk diikuti sang istri, saat Aziela menurunkan kakinya dari atas ranjang ia merasakan nyeri di bagian kewanitaannya Haikal yang melihat raut wajah sang istri pun nampak khawatir.


“Kamu kenapa sayang?” Tanya Haikal sambil memegang pundak sang istri


“Itu ku sakit mas, mungkin karena baru pertama kali kita berhubungan jadi agak nyeri rasanya.” Jelas Aziela sambil menunjuk bagian bawahnya


Haikal yang mendapatkan penjelasan itupun langsung merasa bersalah karena telah membuat sang istri merasakan kesakitan.


“Maafin mas ya sayang, apa mas terlalu kasar semalam?” Kata Haikal, Ela yang mendapatkan pertanyaan itu pun langsung merona


“Nggak kok mas, aku nggak papa emang itu kan udah menjadi kewajiban aku sebagai seorang istri jadi kamu nggak salah karena itu juga sebagian dari ibadah kan.” Timpal Aziela yang dibalas dengan pelukan hangat dari Haikal


Setelah percakapan singkat itu Haikal mengajak sang istri untuk mandi bersama yang awalnya ditolak oleh Ela, tetapi bukan Haikal namanya jika permintaannya tidak dituruti akhirnya Ela pun pasrah menuruti permintaan suaminya.


Mereka pun menunaikan sholat subuh berjamaah dilanjut tadarus bersama. Ketika matahari mulai naik sepasang kekasih halal itupun memutuskan untuk berjalan pagi keliling komplek perumahan sambil bercerita satu sama lain. Tampak rona kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya, setelah berjalan sekitar 45 menit mereka memutuskan untuk kembali ke rumah dan menunaikan sarapan bersama kedua orangtuanya.


Saat ini Ela bersama suami dan orangtua nya tengah berkumpul di ruang keluarga sesuai perintah papa Ardi.


“Kalian tahu apa yang ingin papa dan mama bicarakan dengan kalian?” Tanya Papa Ardi kepada putri dan menantu kesayangannya


Haikal dan Aziela pun spontan memberi jawaban dengan menggeleng, sementara mama Rianti yang sudah tahu persoalan apa yang akan dibicarakan pun nampak tenang.


“Papa udah tua usia papa sudah kepala lima, jadi papa ingin menyerahkan beberapa asset papa untuk kalian.” Kata papa Ardi yang membuat Haikal dan Ela langsung menatap kea rah kedua orangtua di hadapannya


“Kal, sebenarnya papa punya perusahaan yah memang tidak terlalu besar seperti perusahaanmu atau perusahaan papamu tapi lumayanlah bisa membantu ekonomi para karyawan dan mengurangi pengangguran. Nama perusahaannya Brawijaya Corp kamu pasti pernah mendengarnya kan? Papa udah lama tidak mengurusnya semua nya papa percayakan kepada anak dari tangan kanan papa.”


“Iya kamu benar, perusahaan itu mempunyai beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang Kesehatan, farmasi, Keuangan, restoran serta makanan dan minuman.” Jelas papa Ardi


“Termasuk rumah sakit dan green resto milik papa?” Tanya Haikal lagi


“Ya, rumah sakit dan green resto termasuk bagian dari Brawijaya Corp. Karena papa udah tua dan papa merasa capek mengurus itu semua maka Brawijaya Corp akan papa serahkan ke kalian berdua karena Ela adalah anak


papa satu-satunya dan kamu Haikal juga menantu papa satu-satunya maka papa akan menyerahkan ke kalian.” Kata papa Ardi yang membuat Haikal terkejut


“Pa, Papa serius? Haikal nggak pantas menerima bagian itu, Ahli waris papa adalah Aziela jadi Haikal nggak berhak menerima ini semua.” Sangkal Haikal terhadap perkataan papa Ardi


“Papa sudah pernah membicarakan ini semua kepada istrimu berkali-kali tapi dia selalu menolak , dan setelah lamaranmu Ela bilang sama papa untuk menyerahkan ini kepadamu seperti yang papa pernah bilang sama kamu


waktu itu. Memang ahli waris papa adalah Ela tapi karena dia tidak bersedia maka papa menyerahkan semuanya atas nama mu besarkan perusahaan itu dan kelolalah bersama istrimu, bahagiakan istri dan anak-anakmu kelak dengan harta papa.” pinta papa Ardi pada Haikal


Haikal dibuat bingung dengan permintaan sang papa mertua, Ela yang melihat raut kebingungan dari wajah sang suami pun langsung mengelus lengan sang suami. Haikal yang merasa lengannya dipegang pun meoleh dan


mendapati istrinya yang tersenyum manis ke arahnya.


“Ela Cuma mau menjadi istri yang baik mas yang selalu ada ketika suami berangkat dan pulang kerja. Mas terima ya.” Kata Ela berusaha membantu membujuk suaminya


Haikal perlahan menghembuskan nafasnya


“Ok, Haikal terima tapi dengan satu syarat.” Kata Haikal


“Apa itu?” Tanya papa Ardi


“Saham terbesar di perusahaan itu kan saham milik papa? jadi kita balik namakan saham itu menjadi nama Aziela bukan nama Haikal. Haikal juga akan menanamkan beberapa saham disana dan Haikal akan berusaha mengembangkan perusahaan itu jadi Aziela masih mempunyai bagian dari perusahaan itu.” Jelas Haikal yang


disetujui oleh semua yang berkumpul di ruang keluarga


“Berarti papa mau pensiun jadi dokter?” Tanya Ela pada sang papa


“Nggak sayang, papa tetap akan menjadi dokter bedah di rumah sakit pusat jadi nggak akan terlalu sibuk, papa sama mama juga berencana mau membeli tanah sebelah mau papa jadikan kebun.” Jelas Papa Ardi


“Udah ah, ngomongin kerjaan mulu mending kalian cepat kasih mama papa cucu biar mama nggak kesepian.” Kata Mama Rianti yang berhasil membuat Haikal dan Aziela tersipu


Setelah perbincangan di ruang keluarga mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Ela dan Haikal segera menuju kamar untuk membereskan beberapa barang dan pakaian karena hari ini mereka akan menginap di rumah orang


tua Haikal sebelum mereka pindah rumah.