Aziela & Haikal

Aziela & Haikal
Operasi



Bagi Ela waktu jalan begitu cepat, hingga sekarang tibalah ia untuk masuk ke ruang operasi bersama sang papa. Sementara Haikal dan yang lainnya menunggu Ela di luar ruang operasi.


Lampu operasi mulai menyala, pikiran Haikal pun sudah tidak tenang dari semalam. Akhirnya ia memutuskan sholat Dhuha di musjid rumah sakit, ia melaksanakan Dhuha 8 rakaat 4 kali salam. Tak lupa ia berdoa.


'Ya Allah hamba mohon lancarkanlah operasi istri hamba, kembalikan kesehatan nya seperti semula ya Allah, dan berikan kesehatan juga kepada papa mertua hamba beliau sudah saya anggap seperti papa saya sendiri. Ya Allah izinkan kami untuk hidup bahagia bersama-sama.' doa nya dalam hati


Haikal kemudian mengambil handphone nya yang ia letakkan di dekat tempat ia sholat, ia langsung membuka Al Qur'an digital yang telah terinstal di ponsel pintar tersebut. Ayat demi ayat ia baca hingga tak terasa 1 jam sudah ia berada di masjid rumah sakit itu. Ia pun bangkit dari duduknya dan kembali menyusul keluarganya yang berada di depan ruang operasi.


2 jam berlalu tetapi belum ada tanda-tanda operasi telah selesai, ketiga sahabat Ela datang dari kantin rumah sakit dengan membawa makan siang.


"Tante om pak makan dulu ya, dari pagi kan kalian belum makan apa pun" Kata Sekar


"Tante nggak lapar Kar." Timpal mama Rianti


"Tante juga." Sahut mama Diah yang diangguki oleh papa Arman


Sementara Haikal jangan ditanya, ia hanya diam hanyut dalam pikiran dan kekhawatiran nya.


"Kalian ini kenapa sih? Kalau kalian pada kayak gini Tika yakin Mbak Ela akan sedih. Kalau Mbak Ela tahu kalian nggak mau makan karena mengkhawatirkan nya pasti Mbak Ela nggak bakal mau di operasi. Dan kalau kalian sakit siapa yang bakal nemenin Mbak Ela nanti." Kata Atika menggebu-gebu


Haikal yang duduk agak jauh dari mereka langsung menoleh dan bangkit menghampiri keluarganya.


"Ayo kita makan, jangan buat Aziela sedih dan merasa bersalah." Ajak Haikal kepada semuanya akhirnya mereka menyantap makanan itu dengan terpaksa.


Tak lama adzan Dzuhur berkumandang mereka bergegas pergi ke masjid untuk melaksanakan kewajiban kecuali Atika yang sedang kedatangan tamu.


2 jam setelah sholat Dzuhur akhirnya lampu ruang operasi padam. Dokter Zein keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana dok operasinya?"


"Alhamdulilah tuan Haikal, operasinya berjalan dengan lancar dan sukses. Baik nona Ela maupun dokter Ardi mereka baik-baik saja."


Semua bisa bernafas lega mendengar jawaban dari dokter spesialis kanker itu, tak lupa mereka mengucapkan syukur berkali-kali. Terutama Haikal yang langsung sujud syukur mendengar penuturan itu.


Ela dan Papa Ardi langsung dipindahkan ke ruang rawat VVIP, Haikal dan keluarga masih setia menemani kedua anak dan bapak itu.


Menurut penuturan dokter Ela akan sadar sekitar beberapa jam lagi, sedangkan papa Ardi baru saja sadar satu jam yang lalu dan memutuskan untuk istirahat di ruangannya yang masih ada di rumah sakit itu karena tidak ingin mengganggu istirahat sang putri.


Sore hari tepatnya pukul 4 Ela akhirnya membuka mata, saat matanya berkeliling ruangan itu tentu saja yang pertama kali ia lihat adalah Haikal, suami tercinta nya yang sedang sibuk dengan laptop kesayangannya.


Ela hanya memandang sang suami yang tengah sibuk itu, dalam hatinya ia bersyukur Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup.


Haikal yang merasa diperhatikan langsung menoleh, hanya ada satu rasa yang memenuhi hati dan pikirannya yaitu bahagia bisa melihat istrinya kembali tersenyum.


Haikal berjalan mendekati sang istri


"Assalamualaikum sayangku." bisiknya di telinga Ela lalu mengecup kening istrinya


"Waalaikumsalam cintaku." jawab Ela dengan suara yang hampir tak terdengar oleh Haikal, ia pun tersenyum mendengarnya.


"Mau minum?" Tanya Haikal, Ela pun mengangguk


Dengan sigap ia mengambilkan minum dan membantu istrinya untuk minum. Haikal langsung memanggil dokter, setelah dokter memeriksa nya Haikal langsung menyuapi istrinya dengan makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


Setelah selesai makan Ela dianjurkan untukmu tidur kembali, Haikal pun setia menemani istrinya berbaring di sampingnya sambil mengelus kepala sang istri.


Tak lama mereka pun terlelap.


.


"Kenapa sih dia nggak mati aja, menghalangi langkahku yang telah tersusun rapi aja. Aku harus atur strategi awal." Geram perempuan itu.


.


Mama Diah dan papa Arman masuk ke kamar rawat Ela untuk mengantarkan pakaian ganti dan makanan untuk sang putra, saat masuk mereka melihat pemandangan yang belum pernah mereka lihat yaitu sepasang suami istri yang tengah tidur berpelukan dengan lelap nya.


"Kayaknya kita datang di waktu yang nggak tepat deh ma." Kata Papa Arman


"Ya begitulah, dasar anak muda." Sahut mama Diah


Mereka pun memilih menunggu kedua nya bangun dengan menunggu di sofa.


"Mama kayak nggak pernah muda aja sih." Goda papa Arman


"Mama emang pernah muda, tapi papa nggak pernah tuh berlaku romantis kayak Haikal. Dari dulu mikirnya cuma kerja mulu. Heran deh mama, papa tuh harus belajar darinya." Omel mama Diah kepada suaminya


"Setidaknya kan mama bisa shopping sepuasnya, coba kalau papa nggak bekerja dengan keras pasti mama juga bakal ngomel-ngomel. Emang mama mau cuma makan cinta dan gombalan papa tiap hari?" Timpal papa Arman tak kalah mengomel, ya dari muda mereka memang terkenal dengan sebutan pasangan cerewet.


"Setidaknya kan seimbang pa, liat tuh anak mama udah mandiri, kaya, romantis lagi. paket komplit deh. Andai dia bukan anak mama pasti udah mama pelet dia biar mau jadi suami mama." Kata mama Diah, papa Arman pun hanya melirik sinis dan kesal.


Haikal yang mendengar suara ribut-ribut di ruangan itu langsung terbangun. Ia melihat orangtuanya sedang beradu argumen satu sama lain.


"Mama sama papa bisa diam nggak sih, kalian tuh ganggu istirahat istriku." Sergah Haikal dengan suara biasa saja tapi terlihat menakutkan.


Mereka pun akhirnya terdiam,


"Mama mu ni sukanya membandingkan orang lain." Adu papa Arman kepada anaknya


"Papa mu tuh yang nggak bisa introspeksi diri." Mama Diah tak mau kalah


"Udah deh cukup." Suara Haikal lumayan keras


"Baru kemarin Haikal lihat kalian rukun-rukun aja, adem ayem eh sekarang udah mulai lagi. Ingat keadaan dong menantu kalian sedang sakit." lanjutnya


Mereka terdiam, tanpa disadari Ela sudah terbangun sejak suaminya turun dari ranjang tadi. Ia juga melihat bagaimana Haikal berusaha menghentikan perdebatan penuh lucu dari sang mertua.


"Ehem." Ela berdehem


Mereka menengok ke sumber suara,


"Sayang." Satu kata yang terucap dari mulut Haikal


"Tuh kalian lihat kan? gara-gara mendengar berisik istriku jadi bangun." Ucap Haikal sambil melihat orangtuanya


"Nggak kok mas aku malah senang kalau ramai." Kata Ela


"Tuh denger, nggak kayak kamu sukanya sepi-sepi, main Sono ke kuburan." ledek mama Diah yang ditertawakan oleh papa Arman


Haikal pun hanya menggaruk tengkuknya dan duduk di sofa dengan papa Arman sedangkan mama Diah langsung menghampiri menantu kesayangannya.


Bersambung